REMEDIAL

REMEDIAL
Ingin Hidup Lama


__ADS_3

Di antara remang dan terangnya malam Ramadhan ke 21, purnama sudah lewat, meski bentuk bulan masih bulat. Shaka mengusap kain sarung wadimor yang dia pakai, kemudian tersenyum melihat seorang gadis turun dari teras rumahnya memakai mukena, kain bawahan dan sajadah disampir pada lengan kanannya,  gadis itu mengenakan sendal dan berjalan menuju Shaka.


“Haniang se,” (Sepi aja) ucap Mima setelah mengamati sekelilingnya yang memang hening, sepi, tak seperti malam-malam awal Ramadhan yang riuh dan ramai.


“Iya nih, apa udah pada mudik?” jawab Shaka.


"Tek Na tadi sore ke Padang belanja baju sama gorden buat lebaran."


Tidak ada pembicaraan yang berarti sepanjang jalan, kiri dan kanan jalan yang dilalui dihiasi nyala lentera dari kaleng bekas yang sengaja di hias di depan rumah-rumah warga.


“Shaka,” panggil Mima, Shaka berjalan lebih cepat di depannya, lelaki itu berhenti lalu menoleh.


“Kamu pake parfum apa sih? baunya menyengat banget tau, malaikat subuh, ya?”


Shaka tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Kalau tidak ingat dia sudah berwudhu ingin sekali menarik hidung Mima.


“Hahaha, aku ngga pakai wewangian, ya. emang di sekitar kamu lagi ada malaikat aja mungkin.”


“Heh!” Mima ketakutan refleks mengejar langkah Shaka, suasana tidak banyak berubah sampai mereka tiba di surau Tabiang.


“Ay, nanti kamu pulang sendirian, ya.”


“Lah?” protes Mima.


“Ini malam ganjil, aku mau I’tikaf. Kapan lagi bisa punya waktu mengulang Ramadhan begini.”


“Gitu?”


“Iya, nanti pas pulang kamu rendam aja sendiri tiga buah kurma ke gelas yang biasa aku pakai, airnya tau kan semana? Buat kamu sahur besok, jangan telat loh.” Shaka mengingatkan, meski dia tau pasti ada Dheo yang akan menelpon Mima di jam-jam sahur dengan klaim pacaran syariah mereka.


Mima tidak menjawab, Shaka juga bergegas masuk mengisi shaff pria yang kurang dari satu baris, padahal di Ramadhan pertama surau ini terisi penuh dan berdesakan.


Mima menuju ke shaf wanita yang hanya ada tiga orang tua, dan dirinya. digesernya sedikit pembatas shaf yang terbuat dari rotan itu untuk mengamati barisan pria yang ternyata juga tersisa para orang tua. Dulu sewaktu neneknya masih ada, Nenek tidak pernah meninggalkan shalat sunaah satu ini sampai Ramadhan benar-benar pergi.


***


Setelah rakaat terakhir shalat Witir, lama Mima menunggu para orang tua di shafnya berdoa dengan khusyu. Setelah salah satu diantara mereka selesai, Mima bergegas mendekati dan mencium tangan wanita yang dia perkirakan seusia neneknya.


“Em, dima rumah amak?” (dimana rumah Ibu) tanyanya sopan.


“Nantongga, agau anak sia?” (Di jalan Nantongga, kamu anak siapa?


“Awak cucu Mak Tuo Maradih simpang,” (Aku cucu Nenek Maradih yang tinggal di simpang). Begitu mendiang nenek Mima dikenal di sana.


"Ohh, sajuak hati beliau mancaliak cucunyo rajin sumbayang." (Oh, sejuk hati beliau melihat cucunya rajin salat)


Mima mengaminkan ucapan itu, tapi tempat tinggalnya dan orang tua tadi berlawanan, Mima menemui dua wanita lainnya dan tidak ada yang searah dengannya, tidak mungkin dia minta antar pulang.


Sudah lewat dari pukul sembilan malam, suasanan di jalan semakin sepi, tidak terdengar lagi suara ledakan petasan dari anak-anak sekitar, hanya dahan-dahan pohon kelapa bergoyang meski angin tidak terlalu kencang.

__ADS_1


Mima bergedik, jalan ke rumahnya memang tidak terlalu jauh, tapi tentu cukup mencemaskan kalau dia pulang sendirian, ini semua karena Shaka yang mengatakan bahwa dirinya diikuti malaikat.


Alih-alih memakai sendal untuk pulang, Mima malah kembali ke dalam, di shaf wanita yang hanya tinggal dia sendirian. Di depan sana sudah mulai terdengar suara petugas membuka kajian i’tikaf malam pertama, membacakan rencana kegiatan sampai sembilan malam berikutnya.


Mima tau, bahkan hafal di luar kepala, keisitemewaan sepuluh malam terakhir di bulan ini, namun tentu saja belum pernah merasakan langsung kemuliaan itu. Malam ini karena rasa takut untuk berjalan kaki pulang sendiri, Mima memutuskan untuk mengikuti kegiatan i’tikaf di masjid.


Masih lekat di ingatan Mima, ramadhan-ramadhan sebelumnya, tidak ada yang istimewa bagi Mima, dia hanya tidak sabar untuk segera mengakhiri proses menahan lapar dan dahaga, karena tentu saja Mima berpuasa hanya untuk memenuhi perintah nenekyna.


Saat teman-teman seusianya dulu berlomba-lomba membeli pakaian baru dan bagus,  Mima cukup bahagia dengan kebaya hitam yang Nenek jahitkan, selebihnya Mima merasa tidak perlu, karena hampir semua pakaian yang dia punya berwarna hitam, jadi apapun yang akan dia kenakan nanti tidak akan ada yang melihat perbedaanya, selain itu juga karena sepanjang lebaran dia hanya mendekam di rumah seperti hari-hari biasa.


Saat teman-teman bersuka ria menyusun rencana mudik atau berwisata saat lebaran, Miam tetap senang membaca buku di dalam kamarnya, kecuali Nenek mengajaknya ke Padang atau ke Bukittinggi sekedar mengunjungi kerabat jauh, itu pun tidak setiap tahun.


Kalau ada kerabatnya yang datang, justru hatinya akan gusar, karena harus membantu nenek mencuci piring dan gelas yang tidak sedikit, belum lagi dia tidak suka ada orang keluar masuk kamarnya dengan bebas, jiwa anti ramai-ramai club itu benar-benar terancam saat rumahnya jadi tempat kunjungan.


Tidak ada kemeriahan dalam setiap ramadhan dalam hidup Mima. Tidak ada perasaan berbeda saat menyambut lebaran tiba.


Namun ada rasa yang aneh malam ini, angin lembut berhembus dari  jendela surau yang terbuka, menyapu kulit wajah Mima dan terasa begitu segar menyejukkan, Mima penasaran, apakah benar teori tentang malam yang lebih mulia dari seribu bulan.


Benarkah kemuliaan itu berlaku sama untuk semua insan?


Sejuk terus masuk, menjadi kesegaran terbaik yang dipompa jantungnya saat itu, hingga membuat air matanya mengalir tanpa alasan, membasahi lembar pertama surat An-Nisa, batas bacaan yang sudah dia baca sebelumnya saat di sekolah.


***


Malam itu juga Mima tidak ingin memejamkan mata, dia menyimak semua tausiyah yang disampaikan di depan, kemudian kembali membaca lembar demi lembar mushafnya.


Mima berdiri, merenggangkan otot-ototnya, dari celah pembatas, dilihatnya jamaah laki-laki sedang menghidangkan sahur, Shaka membawa nampan-nampan untuk mereka makan bersama.


Mima berjalan menuju tempat air minum dan berharap ada jatah untuknya, tiba-tiba dia jadi ingin menenggak kesegaran air nabez buatan Shaka.


Masih dengan mukenanya, Mima mengambil gelas plastik sekali pakai dan menuang air dari dispenser, tubuh tingginya sedikit berbungkuk menghadap tembok.


“Amak, sudah ada makanan?” ucap seorang lelaki dari belakang Mima.


Amak siapa? Gue dikira amak-amak?


Saat Mima menoleh, lelaki itu terkejut hampir saja nampan di tangannya terlepas dan jatuh.


“Shaka! Kamu pikir aku amak-amak, ha?”


Shaka masih kaget, sebelah tanganya memegang dada.


“Mak Tuo Ayumna?” Dia sengaja mengejek Mima, padahal dia masih terkejut melihat Mima ada di sana.


Mima kesal langsung menginjak telapak kaki Shaka.


“Astaghfirullah!” Shaka mengaduh, selain diinjak dengan keras Mima juga menekan-nekan tumitnya pada punggung kaki Shaka.


“Ay, perih!”

__ADS_1


“Biarin!” sungutnya kesal setelah Shaka berhasil menarik telapak kakinya yang tidak bersalah.


“Kamu ikut i’tikaf? MasyaAllah, istri masa depan Abang,” suara Shaka pelan agar tidak ada orang yang mendengar.


Mima memegang perutnya, dia tidak bisa menahan bunyi yang keluar dari dalam sana seolah ada pengeras suara, benar-benar membuatnya malu.


“Waduh, laper, Neng?”


“Masa apak-apak di sana ngga ada satu orangpun yang nawarin aku makanan buat sahur.”


“Karena ngga ada yang tau ada makhluk Tuhan paling mungil ikut itikaf di sini, katanya memang di sini sepi dan hampir gak pernah ada ibu-ibu yang itikaf di masjid apalagi anak sekolah,” ungkap Shaka.


“Aku ngga berani pulang tadi malam.”


“Kenapa?”


“Ya gara-gara kamu bilang aku diikuti malaikat.”


“Hei, bukannya di manapun kita memang selalu ada malaikat yang bertugas ya?”


“Kalau Raqib dan Atid aku tau, tapi kan belum siap kalau harus ketemu izrail, aku masih mau hidup sampai msa depan, sampai masa depannya lagi, yang panjang, yang lama.”


“Sampai bisa hidup sama Dheo maksudnya?” sindir Shaka. Mima kehabisan kata untuk melawannya.


“Ini bawa ke sana makananya, nanti aku antar air kurmaku yang tadi malam aku buat.”


“Kamu bikin dua?”


“Cuma satu, mana aku tau kamu ngga pulang.”


“Ya kenapa kamu kasi ke aku?”


“Oh yaudah, nggak mau?”


Mima jadi kepikiran, sungkan kalau Shaka memberikan air yang hanya sedikit itu, tapi tenggorokannya yang lumayan seret benar-benar mengharap lebih dari sekedar air putih, dan minuman kurma itu benar-benar menggiurkan.


“Eh, ma ... ma ... mau,” ucapnya mengabaikan malu.


“Yaudah tunggu di sana!”


Kenikmatan malam itu sungguh sangat istimewa bagi Mima, malah membiak ke malam-malam berikutnya, sepuluh malam yang sempurna, sepanjang hidup seorang Mima Ayumna Lenkara.


Dia tidak tau persis pada malam yang mana amalannya diterima, satu yang paling sering dia ulang dalam pinta-pintanya yang panjang.


“Ya Allah, aku ingin hidup lama,” katanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2