
Sudah satu bulan sejak ketibaanya di Jakarta, Menata kembali kehidupannya yang sempat terjeda selama lebih dari satu bulan lamanya. Teman-teman dan pimpinannya sangat bersyukur bahkan menunjukkan bukti rasa syukur mereka dengan mengadakan acara kecil-kecilan di divisi, Mima selamat dari nestapa malam di hotel itu. Di kantornya, Mima tercatat dengan status cuti tidak berbayar.
Mima sangat bersyukur dia bisa kembali bekerja, walau belum memikirkan dengan seksama apa rencana hidup berikutnya, punya tempat tinggal untuk berlindung dari terik matahari dan dinginnya malam, punya tempat kerja untuk menopang kegiatan ekonominya, dan yang paling penting bisa belajar beribadah dan mempertahankan nilai-nilai yang sudah dia dapat selama remedial, tanpa gangguan manusia maupun pikirannya sendiri, itu sudah sangat cukup baginya sekarang.
Dia belum tau apa yang akan dia lakukan selanjutnya di kota yang dulu sangat dia sukai karena terik dan bisingnya, seolah dia yang punya bakat menyendiri sejak lama dan bisa menghilang ditelan dalam hiruk pikuk kota.
Namun sekarang Mima tidak ingin sembunyi lagi, beberapa hari dia merenung, sekarang dia resah ketika memilih menyendiri, dia butuh teman, apakah definisi dari hidup normal sudah mengalami pergeseran makna? Sepi dan sendiri bukanlagi yang paling menenangkan untuknya.
Dia pernah mencoba, saat menyudut di kamar kosnya, menanti ketenangan yang hadir dari kesendirian, yang ada dia malah tertekan, menangis hampir setiap hari, meringkuk berjam-jam karena kesepian.
Namun semua bukan tanpa alasan, dari design kamarnya yang kaku dia seperti melihat sosok dirinya yang dulu, angkuh dan tinggi hati. Satu lagi, dia merindukan orang-orang yang dulu kehadirannya tidak terlalu bisa dinikmati, dia rindu Bapak dan Ibunya, rindu nenek, dan dia merindukan pertemuannya dengan Shaka.
Sudah hampir satu bulan sejak perpisahan di bandara, Mima tidak pernah menghubungi atau mencari tau keberadaan kondektur itu lagi. Pernah ingin, namun ada yang menahannya, dengan harapan akan dipertemukan kembali tanpa harus dia mengaturnya.
Pada waktu-waktu yang ada, Mima mengurai ingatan bahwa dia lupa bertanya pada Shaka, paling tidak tentang statusnya saat ini. Bagaimanapun juga pengalaman selama remedial tidak cukup ilmiah untuk dijadikan rujukan utama. Siapa yang tau, Shaka yang sekarang sudah ada yang punya, atau kemungkinan apapun yang akan menyulitkan posisinya. Sehingga pilihan menghindar dan tidak memupuk harapan adalah yang paling tepat untuk saat ini. Kartu nama itu, masih tersimpan rapi di dompet Mima.
Dan resikonya adalah, dilema. Kenangan-kenangan yang Shaka ciptakan kerap berdatangan memutar slide-slide pertemuan waktu itu, rindu percakapan panjang di teras rumah, rindu wajahnya yang kerap muncul di jendela dapur, rindu ekspresinya menahan marah. Visi remedial Shaka tuntas, membuat kenangan, ya hanya sebatas itu.
Keinginan untuk bertemu dengannya tidak pernah sebesar hari ini, banyak hal-hal kecil mengharukan yang Shaka lakukan, namun tidak cukup menggetarkan kalbu Mima kala itu.
“Visimu untuk memperbaiki hidupmu sendiri, sedangkan tujuanku hanya untuk membuat hal-hal manis, karena setelah pertemuan kita nanti, kita tidak punya banyak kenangan.”
Potongan dialog si malaikat subuh masih teringat satu persatu.
Namun untuk menghubungi dan menemuinya saat ini, ada sejumlah pertanyaan yang tak terjawab, sejumlah emosi yang tidak bisa diduga.
***
Di kantornya, tidak ada satu orang pun juga yang tega menanyakan kenapa Mima masih di Indonesia dan bukannya sedang menikmati pendidikakn di Oxford. Selain tidak cukup dekat, sepertinya para rekan kerja itu juga bersimpati atas apa yang menimpa karyawan lepas di rektorat kampus besar itu.
Lagipula mereka benar-benar melihat sosok Mima Ayumna Lenkara, rekan kerja yang baru terlahir kembali dengan penampilan dan sikapnya yang sekarang. Peralihan yang benar-benar membuatnya seperti orang baru.
“Belum pulang, Bu Mima,” tegur gilang, doktor sastra yang entah sejak kapan berdiri di samping kubikel Mima.
Langit Jakarta sangat gelap, kabut menggumpal, kelam merata, tapi karena ini hari senin di akhir bulan, tidak ada yang tergesa-gesa meninggalkan meja kerja. Setidaknya di gedung pusat administrasi kampus lantai 8 ini. Mima dan beberapa staff bidang sumber daya manusia sedang berjibaku dengan deadline masing-masing.
Tapi, Pak GIlang ini kan dosen, kalaupun dia juga lembur, seharusnya dia berada gedung fakultas, bukan di samping kubikel kecil seorang gadis.
__ADS_1
“Pak Gilang.” Mima setengah terkejut lalu menyampirkan juntaian pasminanya ke bahu.
“Lembur lagi, Bu?” selidiknya.
Mima segera memasukkan kembali potongan kertas kecil yang sedang dia pegang, Mima tidak tau, apakah memang dari dulu Pak Gilang sering menyambangi gedung tempatnya bekerja ini, yang jelas baru beberapa pekan belakangan dia sadar kehadiran doktor muda yang jadi sering mengajak Mima berinteraksi.
Kalau menurut orang-orang di ruangannya, Pak Gilang ini katanya duda dengan satu anak perempuan yang masih berusia empat tahun.
“Pak Gilang sendiri kenapa belum pulang? Nggak jemput anak, Pak?” Mima tidak tau apakah setelah ini jika dia salah informasi Pak Gilang akan mengatakannya sok tau.
“Kok tau saya punya anak? Wah diam-diam kamu sepertinya tau banyak hal ya. Atau saya sering jadi trending topic anak-anak SDM nih?” katanya penuh percaya diri, jarang ada lelaki di lingkaran Mima yang berani bicara banyak seperti Pak Gilang saat ini.
Hampir dua tahun bekerja sebagai tenaga kontrak di bawah unit sumber daya manusia, bisa dihitung dengan jari makhluk bernama lelaki yang berani mengajaknya interaksi, walau sekedar basa-basi.
“Saya bekerja di bagian yang mengurus semua SDM di kampus ini, kalau bapak lupa,” elak Mima, padahal walaupun bagiannya memiliki semua data pegawai sampai penjaga kantin, buat apa juga dia mengulik data Gilang. Dia benar-benar mendapatkan informasi itu dari kilas-kilas pergibahan di ruangan, itu saja.
“Ah iya, saya baru ingat sedang berada di lantai 8,tapi kalau kamu tau sebagian tentang diri saya, setidaknya kamu perlu mengetik atau mengklik nama saya buat tau informasi pribadi. tapi nggap apa-apa kok, saya senang-senang sjaa. by the way, sudah mau hujan lebat, saya mau menawarkan tumpangan pulang,” ucap Gilang spontan.
Sebuah penuturan yang patut diberi penghargaan mengingat tidak ada yang mendahuluinya sebelum ini. Mima sampai memicingkan mata untuk mengamati dengan seksama ekspresi Gilang.
Di usianya yang menghinjak hampir seperempat abad, Mima memang belum pernah membuka hati untuk lelaki selain Dheo. Obsesinya pada Dheo waktu itu tanpa dia sadari bukan hanya menutup, tapi juga mengurung kebebasan hatinya untuk mengenal makhluk lelaki yang lain.
Tapi meskipun telah terbuka, bukan berarti hatinya boleh dimasuki siapa saja. Mima tidak ingin membatasi interaksi dengan siapapun, tapi dia harus tetap menjaga jarak aman. Meski dari kacamata manusia normal dan track record Gilang berdasarkan observasi data pergibahan, dia adalah lelaki ‘baik-baik’.
Mima melihat siku tangan kanan Gilang bertopang di dinding pembatas kubikelnya, kemudian seklilas Mima melirik ke jendela besar yang membentangkan pemandangan langit yang semakin gelap, sepertinya Gilang benar, sebentar lagi akan hujan lebat.
“Ke Cinnere jalan kaki?”
“Cakep!” sahut Mima spontan sambil menahan tawa.
“Saya nggak Lagi pantun, Bu Mima!” protes Gilang yang tidak sadar ikut membuka mulutnya karena tertawa.
"Oh bukan ya? intonasinya mirip, hehe. Saya ke cinere naik ojek, Pak, bukan jalan kaki," ungkap Mima. kostannya cukup dekat dengan kampus tempatnya bekerja.
“Kamu lucu banget ternyata, jadi makin penasaran,” tutur Gilang frontal.
“Makasih penawarannya, Pak Gilang, mungkin lain kali. Kerjaan saya masih banyak,” tolak Mima halus, padahal dia tidak ada niat lembur sampai malam.
__ADS_1
“Saya juga masih mau menyelesaikan tulisan kok.”
Menyelesaikan tulisan? Oh Aku lupa dia doktor sastra. Dia punya banyak karya yang kerennya tidak bercanda.
Dari sekian banyak kriteria lelaki idaman, Mima punya ketertarikan khusus dengan pria pria yang suka membaca, menulis dan berkata-kata.
“Terimakasih, Pak Gilang, tapi saya bisa pulang sendirian, saya mau ke toko buku juga,” tolak Mima lagi.
Gilang mendesah kecewa, tapi tidak terlalu frontal memaksa.
“Kamu menolak saya nih?” Kini Gilang menopang dagu dengan telapak tangannya, memasang wajah memelas.
“Saya memang sedang tidak bisa hari ini, tapi kalau itu dianggap penolakan ya…”
“Lain kali saya akan usaha lagi," sela Gilang.
Mima tersenyum sampai Gilang pamit dan punggungnya menghilang dibalik partisi ruangan.
“Pak Gilang itu dari dulu memperhatikan kamu, Mim. Waktu kamu sakit dia sering nanya update info tentang kamu ke sini. Ya, kita kan nggak punya penyambung informasi selama kamu di kampung, makannya dia nekat memberanikan diri pas lihat kamu masuk kerja lagi.” Bu Salsa wanita yang Mima kisar usianya sebaya dengan Tek Na itu menghampiri Mima setelah melihat Gilang pergi.
“Bu Salsa bisa aja.”
“Beneran, Sayang. Saya nggak maksud jodoh-jodohin kamu kok, tapi sepanjang yang Ibu tau, dia orang baik.”
“Makasih informasinya, Ibu,” jawab Mima santun sambil bersiap-siap membereskan pekerjaan yang masih memberantakkan mejanya. Kalau sebentar lagi sungguh akan hujan lebat, dia bisa-bisa terjebak di gedung ini.
“Ayo, Bu kita pulang!” ajak Mima sebelum mematikan PCnya. Belum lagi menekan tombol shutdown sebuah notifikasi muncul di jendela pemberitahuan sosial medianya.
“Ahsan Eshaka followed you.”
Mima urung mematikan komputer itu, sepersekian detik dia bergeming memeriksa keabsahan pemberitahuan yang barusan dia lihat. Memastikan bahwa itu bukan system yang sedang nge bugg, atau agensi misterius yang pernah diterimanya beberapa waktu yang lalu.
Pemberitahuan follower baru itu bersamaan dengan datangnya permintaan persetujuan pengiriman pesan dari akun yang sama.Pesan itu tidak langsung dibacanya.
“Mima, ayo pulang sebelum beneran hujan deras, kok belum dimatikan komputernya?” sela Bu Salsa.
“Eh iya, Bu, ayo!"
__ADS_1
Aku baca di rumah saja pesannya, kalau itu bug sistem, atau agency misterius, atau Cuma karena aku halu, harusnya nanti di rumah pesan itu sudah hilang kan?