
Bola matanya nyaris jatuh menggelinding menahan bingung atas pernyataanku. Selagi Ayumna menatapku lurus, aku sedikit memalingkan wajahku yang kurasa sedang berekspresi cukup serius. Di kepalaku berkeliaran sebuah rencana baru sambil mengembalikan sepedanya miliknya.
“Ekhem.” Aku pura-pura berdehem sebelum melanjutkan kalimat. “Iya, siap-siap aja sih. anggap saja kita teman lama di Jakarta dan sedang ketemu di kampung tanpa disengaja. Sebuah kebetulan yang harus dirayakan dengan sepiring kalamai, mungkin?”
Ayumna lalu menjulurkan telapak tangannya ke arah luar tenda dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Menadah hujan yang mulai reda, sepertinya sambil mempertimbangkan apakah sudah memungkinkan untuk melangkah pulang.
“Sudah teduh. Saya pulang duluan,” katanya menatap ke arah luar, dengan cahaya lampu-lampu jalan, rintik-rintik kecil masih tampak berkilauan. Tidak lagi deras, namun derainya masih cukup rapat untuk ditempuh dengan berjalan kaki sendirian.
“Bener nih, nggak mau dibonceng aja.” Kalau kuperhatikan dengan seksama, dia tidak sepenuhnya ingin menolak, ada serat keraguan di wajahnya. Malah seperti ingin menerima penawaranku. Namun dia tetap menggeleng perlahan, Apa sungguh karena takut ketahuan gurunya?
“Yasudah, nggak apa-apa kalau nggak bersedia. Pulang lah, sebelum hujannya lebih lebat lagi. Tapi besok, jangan lupa siap-siap, ya,” ulangku sekali lagi, sambil menahan senyum.
“Siap-siap gimana sih? Aku nggak bisa bikin kalamai, kamu mau? Kalau iya, nanti aku pesankan aja. Pukul berapa kamu mau mengantar sepedanya?” tanyanya sambil menyibakkan ujung pashima yang terjuntai.
Rintik hujan mengetuk bebatuan semakin lambat, diiringi angin yang berhembus kian lembut. Suasana yang sangat menyenangkan.
Jadi bukan salahku jika ada rasa yang mulanya mengendap, malah ingin meluap-luap, Wajahnya, wajah polos Ayumna. Sejak tadi, aku tidak ingin berpaling dari mengamatinya. Sampai dialog singkat diantara kami berakhir dan dia benar-benar berjalan menempuh sisa-sisa gerimis.
***
Pintu kamar terbuka lebar, aku masih sibuk meluruskan peci hitam di kepala yang sebenarnya sejak tadi sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Yang bergeser ternyata adalah rasa percaya diriku, membuatku hampir satu jam belum juga keluar dari kamar ini, padahal sudah ditunggu Mama.
Seraut perasaan ragu mulai berlompat ke permukaan saat Mama berdiri di belakangku, kekhawatiran wanita itu tidak bisa tertutup oleh polesan make up tipisnya.
“Kamu yakin? Ini di Kampung, bukan di Jakarta, Mas. Kamu nggak bisa seperti ini. Pikirkan sekali lagi. Keluarga kita, Shaka. Bisa malu kalau nanti di sana tidak sesuai harapanmu.”
Tadi malam, sepulangnya membeli pecal ayam, aku bicara banyak dengan Mama. Tentang foto seorang gadis yang ada di album ayah.
Mama kaget, jelas, setelah kuceritakan pertemuan kami yang tak biasa. Sepanjang mendengar ceritaku, sayang sekali, aku tidak menemukan reaksi positif darinya.
“Dan kamu percaya begitu saja dengan omongan penumpang seperti itu? di zaman seperti sekarang ini, Shaka. Setiap orang bebas mengarang cerita untuk kepentingan tertentu.” Ini Cuma salah satu dari potongan keraguan Mama sejak tadi malam.
“Heran, nggak pernah-pernahnya kamu se pengen ini kalau soal beginian.”
Dengan beberapa penjelasan hingga senjata pamungkaskku akhirnya meluluhkan hati Mama.
“Ma. Kan aku udah bilang tadi, bahkan saat masih dalam rencana menikah dengan Tiara pun, Aku masih mencari tau tentang Ayumna. Sekarang, Aku udah ketemu dia. Susah untuk aku sebutkan alasannya. Tapi kalau nggak sama dia, sepertinya akan sulit punya keinginan seperti ini lagi.” Aku memelas, berharap belas kasihan dan pengertian Mama.
Diskusi kami tadi malam sebenarnya berakhir imbang, namun diamnya Mama kusimpulkan setuju dengan rencanaku. Dan benar saja, Meski belum sepenuhnya yakin, mama tetap bangun pagi, mempersiapkan segala sesuatu yang kami butuhkan untuk menjalankan rencana ini.
__ADS_1
Hingga, lihatlah Mamaku. Dia sudah rapi, cantik, anggun dan bersahaja. Sebagai tanda, Mama bersedia menemaniku siang ini.
“Mama nggak senang, ya?”
“Bukan begitu. Tapi ini terlalu buru-buru. Tagageh bana kalau kata Ayah.”
“Kita ke rumahnya aja dulu, Ma. Hari ini. besok kan aku ada tugas lain.”
“Kan bisa nanti sepulang tugas loh, Mas. Ini kalau ditolak, Mama pulang sendirian aja pokoknya. Malu, Shaka… malu!”
“Kita coba aja dulu ya, Ma,” jawabku yang sejujurnya jadi meragu karena pernyataan Mama.
“Huh, anak muda sekarang ini, memang suka yang aneh-aneh.” Mama bersungut sambil berdiri, merapikan roknya dan meninggalkan kamarku.
“Cepetan, udah siang!"
Kuketuk dua kali layar ponselku dan melirik jam digital yang menampilkan angka 09.30. Kubuka daftar kontak dan mencari namanya, lalu menuliskan pesan singkat di sana.
“Aku ke rumah kamu jam 10.00. Mau kembaliin sepeda.”
“Iya.”
***
“Kamu tau nggak salah satu hal yang sulit dilakukan di muka bumi ini?” tanya Mama yang sejak tadi duduk di boncengan sepeda, dengan sangat tenang, memeluk pinggangku sebelah tangan. Karena tangannya yang sebelah lagi digunakan untuk menahan clutch kecil di pangkuannya.
Meski masih menganggap rencanaku ini konyol dan bodoh, herannya, Mama tetap bersedia kubonceng dengan seped milik Mima. Malah Setiap berpas-pasan dengan penduduk yang sedang berjalan kaki, Mama tersenyum tanpa beban, menyapa seperti biasanya.
Jarak ke rumah Ayumna memang tidak terlalu jauh, tapi kalau ditempuh dengan sepeda bisa memakan waktu lima belas menit juga.
“Apa, Ma?” Aku merespon cepat.
“Salah satu hal tersulit di muka bumi, adalah ... memberi saran pada orang yang sedang jatuh hati.” Mama mencubit perutku yang terjangkau oleh tangannya.
“Awwh… sakit, Ya Allah, Mama," pekikku mengelus bekas cubitan mama.
“Dan herannya, Mama kok mau maunya juga ngikutin rencana orang terlanjur kesemsem ini!” gerutunya, tapi sekali lagi, mama sungguh tetap menyapa orang-orang yang kebetulan dikenalnya sembari tetap mengomeliku.
“Sedikit lagi tiba kok, Ma. Yang itu…” Aku berbelok sambil menunjuk bangunan rumah panggung berwarna putih yang dikelilingi pagar kayu mahoni merah hati.
__ADS_1
Tapi kenapa ini? semakin dekat, aku semakin sulit berkonsentrasi. Pikiran baik juga buruk berlalu lalang, sesekali menyarankan untuk pulang. tapi Mama benar, sulit memberi saran pada orang yang sedang jatuh hati, meski itu bisikan hatinya sendiri.
Mama turun merapihkan pakaiannya. Sementara aku memindai halaman rumah Ayumna yang sepi. Halaman rumah itu tampak rapi seperti baru selesai dibersihkan. Di bawah panggung rumahnya, Beberapa ekor ayam sedang mematuk makanan yang disebar ke tanah, pakan itu tampak masih banyak, petanda orang yang menaburnya belum lama pergi dari sini. Tiang-tiang beton yang menyangga rumah ini cukup tinggi. Aku bisa berdiri di bawah sana dengan hanya sedikit menundukkan kepala.
Selain rumah Mima tempat kami ngobrol tadi malam, di sebelah kanannya juga ada rumah kayu yang cukup unik. Di belakang rumah itu sepertinya kebun cabe banyak tanaman lain.
Sedangkan di sebelah kiri, juga terdapat bangunan rumah yang lebih normal dan banyak terdapat di sana. bukan rumah panggung yang unik dan indah seperti tempat Ayumna tinggal.
Keheningan yang membentang sekeliling halaman, membuatku terhenyak sepersekian detik, terlebih saat pandanganku berhenti pada pintu rumahnya tertutup rapat. Bukankah tadi aku sudah mengabari bahwa akan tiba kurang dari setengah jam lagi, Pintu yang tertutup ini apakah sebuah petanda kalau…. dia tidak mungkin kabur kan? tadi dia sudah bilang iya, kok?
“Nah, kenapa bengong? Nyesal?” Mama menepuk pundakku, membuatku tak kuasa melirik balik. “Nggak ada orang? Surprize? Siapa yang Surprize sekarang kalau rumahnya sepi begini? Jangan-jangan orangnya udah balik ke Jakarta lagi,” celoteh Mama.
Aku berniat mengeluarkan ponselku untuk mengirim teks atau mungkin menelpon Ayumna, belum lagi selesai mengetik namanya, suara seorang perempuan dari sebelah rumah rumah itu, menjeda aktivitasku.
“Temannya Mima, ya?” sapanya ramah, sambil berjalan menuju ke arah kami.
Mamaku yang baru saja mengomel beberapa detik yang lalu, kembali berubah drastis, menjadi ramah dan tersenyum manis.
“Eh, iya.. Assalamualaikum,Ni.” ucapnya lembut.
“Waalaikusmalam. Ini mau mengembalikan sepeda Mima,?” Meski berbahasa Indonesia, Perempuan yang kutaksir berusia pertengahan tiga puluhan ini berbicara dengan dialeg minang yang kental.
Mama menyenggol bahuku, memberi isyarat bahwa aku yang harus menjawab.
“Em, iya… Mimanya, ada, Nte?”
Nte adalah kependekan dari “Tante”. Aku memanggil kerabat Ayah yang perempuan dengan sebutan itu. Tante Rina dipanggil dengan Nte Rin. Tante Silvi, Nte Isil. Jadi kuanggap itu adalah panggilan paling normal di sana.
“Oh, iyo … iyo, Awak Eteknyo.” Kata si Etek kepada Mama.
Mama mengangguk takzim dan menyempatkan mengulurkan tangan untuk menyalami eteknya Mima.
“Tadi Mima titip pesan. Barusan saja, anak itu pergi. Mendadak begitu perginya, buru-buru sekali sepertinya,” ungkap si Etek. “Dia titip pesan, kalau ada yang datang mengembalikan sepeda, langsung letakkan saja di bawah.” Perempuan itu menunjuk ke arah bawah panggung rumah Ayumna .
“Oh… letakkan? Letakkan…”
“Iya, di bawah sini aja, dia biasa meletakkan sepedanya di sini kok.”
Raut wajah Mama sudah mulai berubah, yang tadinya mulai jernih jadi keruh kembali.
__ADS_1
Apa Ayumna pergi buru-buru setelah aku mengabarinya tadi?