REMEDIAL

REMEDIAL
Kereta Yang Sama


__ADS_3

Kereta, jangan  melaju terlalu cepat, ya.


-- Mima


Satu pekan sudah Mima di rumah, satu pekan bagi Tek Na, tapi sudah satu tahun untuk Mima. Sekarang tubuhnya sudah terasa lebih segar.


Dengan balutan tunik berwarna mint segar, pashmina voal motif gelombang dan sepatu kets kesayangan, Mima menggeret kopernya ke luar.


Hari ini sesuai rencananya, setelah shalat dhuha, dia akan kembali ke Jakarta. Belum tau pasti rencana ke depan, mungkin dia akan melanjutkan kontrak kerja dengan kampus, atau mengajukan beasiswa S2 dalam negeri saja, yang jelas Oxford sudah tercoret dalam daftar ambisinya.


Berada di kampung hanya membuatnya semakin kesepian, nenek tidak ada, Mima tidak bisa berkebun apalagi turun ke sawah, dia menyerahkan urusan itu sepenuhnya pada Tek Na.


“Mima akan sering-sering pulang, Tek!” Mima meneguhkan hati Etekynya yang sejak semalam masih saja tidak rela melepas kepulangannya ke rantau, Tek Na juga tidak memiliki anak, Mima sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


“Kenapa ndak mau diantar sama Dheo dan Suli ke Bandara?.” Tek Na heran, Mima lebih memilih naik kereta ketimbang diantar langsung ke bandara dengan mobil Dheo.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kediaman Mima, Dheo turun dari sana, meski sejak kemarin Mima sudah terang-terangan menolak diantar olehnya, Dheo masih menyempatkan datang pagi ini, namun dia hanya datang sendiri.

__ADS_1


“Ya udah, kalau memang kamu mau naik kereta, aku antar ke stasiun deh.” Dheo langsung menghampiri Mima dan Eteknya.


Mima menjengah ke arah mobil Dheo.


“Suli nggak bisa ikut, Mim. Anakku yang sulung lagi sakit,” ungkap Dheo, Mima mengangguk-angguk dan membuang pandangan dari wajah penulis yang sedang naik daun itu.


“Kalau kamu sungkan berangkat berdua, kita bisa pergi bareng Tek Na.”


Tek Na setuju dengan rencana Dheo dan memaksa Mima untuk menerima penawaran itu, akhirnya Mima mengalah dan mereka berangkat ke stasiun bersama.


“Mima.” Dheo menoleh ke belakang.


“Maaf ya kalau aku punya salah,” ucapnya tulus.


Mima tertegun, setelah dipikir, harusnya dia berterimakasih kalau mendengar cerita versi Dheo dan Tek Na. Dheo juga terlihat sama sekali tidak menyadari kejadian demi kejadian bodoh yang dia lakukan pada Mima.


Ya kalaupun itu benar terjadi, Dheo tidak sepenuhnya salah, tapi memang aku yang bodoh kan?

__ADS_1


“Ma … maafin aku juga, Dheo. Makasih untuk bantuan kamu … dan … Uni Suli.”


Dheo tersenyum lega, Tek Na juga ikut tersenyum mendengarnya, hingga mereka berpisah di pintu keberangkatan.


***


Lutut Mima gemetar, dia begitu berdebar mendengar bunyi peluit Panjang kereta yang menghampirinya. Mima takut kereta ini akan salah jalur dan membawanya ke dimensi yang entah apa lagi.


Seorang petugas mengayunkan tangan tanda mengisyaratkan Mima untuk masuk mengisi gerbong sesuai karcisnya.


Langkahnya sangat pelan saat menyusuri lorong di gerbong bernuansa hijau tua, cahaya matahari menelusup dari celah jendela menambah kehangatan di dalamnya,  bulu kuduk Mima meremang. Ingatan tentang pertemuannya dengan kondektur Ghoib benar-benar masih melekat sempurna.


Sama persis seperti suasana saat dia masuk ke kereta ini kemarin, hanya terisi beberapa bangku, dan Mima memilih barisan bangku yang belumada penumpang lain.


Gadis itu menjaga matanya agar tetap terjaga, mengawasi kalau-kalau ada kondektur dengan papan nama dada yang sama, yang mengklaim diri sebagai suami masa depan Mima Ayumna Lenkara.


“Kereta, jangan melaju terlalu cepat, ya,” bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2