REMEDIAL

REMEDIAL
Duduk Gembira


__ADS_3

Jangankan ke club malam, kondangan yang ada dangdutan saja aku cuma bertahan sepuluh menit -- Mima


Matahari hampir tenggelam dan dua sejoli itu baru tersadar mereka sudah memadu kasih terlalu lama di bawah payung parasol warna-warni itu. Ribuan Langkah kaki melewati mereka, tapi dianggap hanya numpang lewat saja.


“Dhe, udah jam berapa nih?” Mima melirik Daniel Wellington di pergelangan tangan kirinya.


“Jam lima,” jawab Dheo tanpa rasa bersalah.


“Kereta terakhir tinggal sepuluh menit lagi!” Mima membereskan tas dan barang-barangnya untuk segera berlari mengejar kereta.


“Dah kita nginap di kostan temen aku aja, mau gimana lagi? Orangnya nggak ada kok, belum pulang dari kampung.”


“Em, masih ada waktu sepuluh menit.” Mima berdiri dan setengah berlari. Dheo mau tidak mau menyusulnya.


Dengan taksi mereka menuju stasiun Sibinuang, dan kereta terakhir sudah berangkat lima belas menit yang lalu.


“Tuh kan aku bilang juga apa,” kata Dheo, Mima melirik curiga.


Sore itu Mima punya cukup uang untuk menyewa hotel di sekitar sana, tapi sisi dirinya yang waras, tujuan remedial dan … sekelebat bayangan kondektur itu menunggunya dengan melipat tangan di dada, membuat Mima waras beberapa detik.


“Kita nginap di stasiun aja,” usulnya.


“What?”


“Iya, Dhe. Aku ngga punya uang buat bayar hotel, kalau bayar taksi buat balik ke temen kamu lagi besok ga punya uang buat taksi dan kereta pulang,” kata Mima mencari alasan.


Dheo tampak berpikir, sisa uangnya sudah dia gunakan untuk mentraktir teh pucuk tadi, jadi dia memang tidak punya cukup modal untuk melancarkan  modus kepada Mima lagi.


Menginap si stasiun memang mungkin beresiko, tapi menginap di hotel jelas bukan solusi. Mima ingin menghubungi Shaka, tapi Dheo tidak satu menitpun berjarak dari sisinya.

__ADS_1


***


"Aku nginap di stasiun, enggak kemana-mana dan enggak melakukan hal yang kamu pikirkan itu juga."


"Sungguh? Terimakasih, Ay," katanya, tampak kelegaan di mata itu.


“Kita ke rumah sakit aja ya?” Mima semakin panik melihat kondisi Shaka.


Shaka hanya mampu menggeleng, seolah didera kesakitan yang luar biasa.


Sementara ponsel Mima terus berdering, rentetan chat masuk tanpa jeda.


“Aku jemput kamu sekarang!” Begitu bunyi chat yang paling bawah.


Mima jadi serba salah, dia tidak ingin meninggalkan Shaka dalam kondisi seperti ini, tapi dia sudah janji untuk ikut Dheo, Mima putus asa dengan remedialnya. Menerima kegagalan rasanya juga sakit dan terasa direndahkan.


“Aku sebentar aja, kok. Ngga akan lama,” ucap Mima sambil mengetik pesan agar Dheo menunggunya di simpang.


Mima sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pergi, Shaka menahan pergelangan tangannya. Mima bisa merasakan telapak tangan Shaka yang dingin.


“Yaudah kalau mau pergi bawa ini.” Shaka menoyodorkan satu botol air mineral dalam kemasan.


“Buat apa?”


“Di club ngga ada es teh manis.”


Bola mata Mima membola, dia saja tidak tau kalau perayaan ulang tahun ini akan dirayakan di club malam.


“Club apaan?”

__ADS_1


“Udah bawa aja ya.”


Demi bisa secepatnya pergi agar Dheo tidak nekat jemput di depan rumahnya, Mima meraih botol itu dan meninggalkan Shaka. Berulang kali dia menoleh ke belakang dan melihat Shaka meringis menahan kesakitan, tapi logikanya tetap menang dan menuntun langkah Mima keluar.


***


“Club banget nih?” tanya Mima saat mereka tiba di depan pintu besar yang dilapisi lampu neon dominasi hijau, biru dan merah.


Mereka bersama beberapa pasangan lain dan seorang panitia acara yang sedang berbicara dengan petugas di depan pintu bar.


“Kamu kan belum punya KTP, Dhe,” Mima menarik-narik lengan Dheo, merinding. 26 tahun hidup sebagai manusia sepi, club dan segala kebisingan di dalamnya sudah tentu tempat yang paling Mima benci, kenapa orang yang dia sayang dan dia inginkan dalam hidup justru membawanya ke sini?


Dia mengamati sekeliling, banyak orang memakai  pakaian yang sama dengan warna yang Mima gunakan, putih. Hanya saja Mima memilih midi dress yang menutupi lututnya, mengenakan high heels yang tidak terlalu tinggi dan rambutnya dia biarkan tergerai indah di bahu. Sementara orang-orang di sana menggunakan pakaian sebagaimana pantasnya ke club malam.


Entah kenapa pemilik acara memilih warna yang bertolak belakang dengan aktivitas mereka ini, diantara mereka sepertinya Dheo adalah tamu termuda, kaos polos abu-abu yang dia lapisi kemeja putih dengan lengan yang dilipiat hingga dua pertiga membuatnya malam ini terlihat lebih dewasa.


“Tuh bisa masuk!” Dheo mengisyaratkan tangannya di pinggang agar Mima menggandengnya, lalu dia mengusap telapak tangan gadis itu seolah mengatakan “Aman."


Meski hidup di Ibu kota dengan hiruk pikuk dan pergaulan yang bebas, Mima tidak pernah tau rasanya berada di club malam. Jangankan diskotek, kondangan yang ada dangdutan saja bagi Mima sangat memekakkan telinga dan dia hanya bisa bertahan lima hingga sepuluh menit di sana.


Gendang telinganya langsung menolak suara keras dari house music yang langsung terdengar, matanya silau, kepalanya mendadak sakit dengan sorot lampu warna-warni, belum lagi asap rokok dan bau alkhohol yang membuat perutnya mulai merasa dikocok.


“Nanti juga nyaman kok,” ucap Dheo menenangkan, dan sama sekali tidak membantu.


Mima memperhatikan Dheo menyapa teman-teman lingkarannya, ini mengejutkan untuk Mima. Tapi lagi-lagi otaknya yang sok tau berusaha menalarkan kalau ini hanya cara Dheo menghargai undangan.


Dheo mengajak Mima duduk di salah satu di antara beberapa meja yang sudah disewa sahabatnya, semua yang berada di meja itu berpasangan. Entah memang pasangan sungguhan atau yang baru mereka dapatkan di sana.


Meski duduk badan dan kepala mereka bergoyang mengikuti up-beat musik yang dimainkan DJ di depan sana. Untuk Mima Dugem ternyata bukan hanya singkatan dari Dunia gemerlap tapi juga Duduk-duduk gembira.

__ADS_1


__ADS_2