REMEDIAL

REMEDIAL
Farhana


__ADS_3

Lelaki itu diam-diam terus memperhatikan Mima sampai langkahnya benar-benar berhenti tepat di depan tubuh Mima yang  hampir sama tinggi dengannya.


Gilang sudah memperhatikan Mima sejak gadis itu masih berstatus mahasiswa, namun dirinya dengan Mima hampir tidak pernah saling bicara, meski seringkali Gilang sering  bisa sekedar mengobrol dengannya.


Entah kenapa, sebelum kepulangannya hari itu, Mima terlalu tak terjangkau, senyuman yang hampir tidak pernah ada di wajahnya membuat dia bukan orang yang mudah didekati.


Insiden tentang Mima beberapa bulan yang lalu membuat Gilang mencari tau lebih dalam tentang gadis yang dulunya berambut pendek sebahu. Berbekal informasi tentang Mima yang dia dapat, setelah Mima Kembali ke kantor, Gilang memberanikan diri pertama kali menyapanya seabagaimana rekan kerja.


Mima Ayumna Lenkara berambut pendek sebahu, dengan leher jenjang dan raut wajah yang hampir tidak pernah ada senyuman, wujud itu saja sudah sangat cantik di mata Gilang, apalagi setelah kembalinya dia setelah cuti panjang, Mima dengan pashmina hitam seadanya, tidak pernah gagal tampil memesona dan di mata Gilang nilaina semakin bertambah. semakin membuat dosen sastra itu tidak ingin berlama-lama lagi memulai usahanya.


Tadir baik menyertainya saat pertama kali menyapa Mima dan gadis itu menjawab dengan sopan, ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan, merasa mendapat tanggapan, Gilang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sampai hari ini.


“Ketemu lagi,” katanya sambil mengamati wajah Mima yang putih bersih dibalik hijabnya yang berwarna gelap, polesan tipis di wajahnya tampak seperti baru selesai touch up, segar sekali.


Mima hanya tersenyum dan mengangguk kecil, sudah malam, tapi aroma parfum Gilang masih tercium dengan radius jarak mereka yang tidak terlalu dekat, Mima menghirupnya seperti membaui lilin aromatherapy.


“Sebenarnya sengaja sih.” Gilang mengaku.


Mima menautkan alisnya.


“Kamu masih ada acara?” tanya Gilang lagi.


“Saya mau mencari sesuatu.” Mima berharap jawabannya bisa menjadi penolakan halus, dia tidak mungkin pergi mencari outfit bersama lelaki ini.


“Di bawah, ada cafe yang kopinya enak banget, kalau nggak keberatan saya mau mengajak kamu ke sana, sebagai permintaan maaf atas sikap Sya tadi.”


Mima bahkan sudah lupa sikap Sya yang mana yang butuh permintaan maaf secara khusus. Menurut Mima semua anak kecil memang seperti itu, meski tidak terlalu suka anak-anak, tapi dia tidak merasa terluka sehingga harus dibayar dengan secangkir kopi.


Bisa aja usaha bapakmu, Sya!


Ekspresi Mima tampak sedang memikirkan penawaran Gilang.


“Kita nggak berdua kok, ada adik saya, calon suaminya, ada Sya juga nanti.”


“Sya nggak ada salah, Pak Gilang. Responnya normal-normal saja kok. Lagi pula, saya tidak minum kopi.”


Jangankan kopi, obat tablet yang bisa sekali telan saja seperti alien mengerikan bagi Mima.


“Kalau begitu yang kamu minum saja, kamu suka apa? Teh? Es krim?”


Setelah beberapa pertimbangan di kepalanya, Mima menerima penawaran Gilang. Senyum lelaki 30 tahunan awal itu tidak dia sembunyikan. Gilang mempersilakan Mima berjalan mendahuluinya.


***


Butuh lima menit untuk Mima memutuskan apakah dia akan balik bertanya atau menjawab pertanyaan Gilang sekedarnya saja. Gilang sepertinya juga sudah kehabisan daftar pertanyaannya.


“Maaf ya kalau saya mengganggu waktu kamu,” katanya sungkan.


Mima terkejut mendengar pernyataan pria itu. Beberapa waktu belakangan ini, dia jadi mudah peka dan sungkan terhadap orang lain.


“Eh, saya yang minta maaf kalau terkesan ketus,” akunya.


“Nggak apa-apa, kalau kamu lebih banyak diam, berarti aku yang nggak menciptakan alur yang membuat kamu nyaman.” Gilang kemudian meniup sebentar kopi dari bibir cangkirnya sebelum menyeruput dengan begitu khidmat.


Saat bibir cangkir sudah berada diantaranya bibirnya sendiri, mata Gilang masih memperhatikan wajah Mima, semillir angin di ruangan itu mendadak terasa begitu dingin. Americano yang dia pesan juga tiba-tiba terasa sangat creamy, padahal Mima hanya tersenyum sangat tipis. Saking tipisnya hanya bisa dilihat dengan lensa mikroskop dengan perbesaran 100 kali.


Cangkir kopinya diletakkan kembali pada tatakan semula, “Dan kamu udah mau duduk diam di sini sama saya aja, saya sudah sangat suka cita,” sambungnya pula.

__ADS_1


Akal sehat Mima berkata pria ini memang sedang berusaha, namun Mima tetap tidak berminat terlibat perasaan apapun pada rekan kerjanya ini.


“Itu ada dalam buku sajak atau puisi Pak Gilang yang ke berapa?” Mima mengalihkan fokus pembicaraan mereka. “Atau sudah diucapkan ke berapa wanita, setidaknya dalam satu pekan ini?”


Gilang menyandarkan pundaknya ke kursi lalu tertawa kecil mendengar tanggapan Mima. “Boleh juga idenya, nanti saya tulis dek, sajak-sajak khusus jatuh cinta," celetuk Gilang semakin menjurus.


“Pasti banyak yang mau beli karyanya." Mima merespon sekedarnya, "Saya sebenarnya ada keperluan penting datang ke mall ini, Pak Gilang,” ungkap Mima setelah sebelumnya menyeruput teh hangat dan memberi ruang pada rongga dadanya untuk sedikit lebih tenang.


“Membeli buku tadi?” tebak Gilang.


“Itu salah satunya.”


“Oh, jadi saya mengganggu?”


“Sedikit,” ucap Mima dengan nada bercanda, dia sebenarnya tidak benar-benar terganggu. Meski perasaanya tidak berkembang selama berada di dekat Gilang, tapi untuk sekelas dosen sastra, Gilang sama sekali tidak membosankan, malah terkesan blak-blakan.


“Anyway, saya beneran mau minta maaf atas sikap anak saya.” Gilang menggeser posisi gelas ke pinggir agar tidak menghalangi pandangannya terhadap Mima.


“Berapa kali saya bilang, I am totally okay, Sya anak kecil,  jadi itu normal saja, kan?” tukas Mima.


Tentu tidak bagi Gilang, dia berharap Sya, anaknya bisa bersikap manis dan belajar menerima Mima.


“Eh. Sebentar, ya.” Gerakan tangan Gilang meminta izin menerima panggilan dari ponselnya. Mima mengangguk mempersilakan dan kembali fokus ke teh vanilla pesanannya.


Kemudian Gilang berdiri dan melambaikan tangannya ke arah pintu masuk resto, Mima tidak terlalu ingin tau aktivitas itu, dia tidak menoleh sama sekali.


“Itu dia, Sya, dan Bibinya.” Gilang menjelaskan kepada Mima. Sekali lagi Mima hanya meresponnya dengan anggukan kecil. Dia tidak berminat untuk beramah tamah dengan keluarga Gilang.


Mau tidak mau Mima beralih pandang saat suara langkah kecil berlarian mendekat  dan Gilang yang merentangkan tangan untuk menyambut putrinya. Mima  menarik kursi kebelakang dan bangun dari duduknya, berusaha bersikap wajar.


“Papa!” Seru Sya melompat ke pelukan Papanya, seolah mereka sudah tidak bertemu satu bulan.


Kenapa jadi ngebet banget ya ngenalin gue ke anaknya. Udah jelas-jelas anaknya nggak suka.


Respon Sya sama seperti Mima, tidak berminat, hanya saja Sya lebih jujur dan natural memperlihatkan ketidaksukaanya, namun karena Papanya memaksa, Sya mengangguk dengan terpaksa.


Belum sempat gilang menyebutkan nama Mima, adiknya yang baru tiba di meja mereka dan berdiri persis di depan Mima, seketika dia tercengang.


“Mima ya?” Adik dari Gilang itu sampai memiringkan kepalada dan menyipitkan mata untuk memastikan tebakannya benar.


“Fara!?” Mima tidak kalah kagetnya dan  membalas tatapan Fara dengan sorot yang sama.


“Mima Ayumna Lenkara, kan? alumni MAN Padusunan, anak kesayangan Pak Fauzi!” Perempuan dengan jilbab merah muda itu sampai memegang bahu Mima saat melemparkan pertanyaan-pertanyaan validasi itu.


“Iya, Farhana, ini aku, Mima!” balas Mima, selengkung senyum terbit di bibirnya.


“Kamu di Jakarta sekarang?” tanya Mima, dia tidak menyadari ekspresi dan intonasinya terlalu girang, padahal respon Fara tidak se heboh itu.


“Aku sudah lama di Jakarta, sejak lulus S2,” ungkap Fara datar.


Mulut Mima membulat dan mengangguk, dia sungguh masih sangat antusias bisa bertemu Fara malam ini. Akhirnya ada satu hikmah yang bisa dia temukan dari aktivitas mengitari mall yang tadi dia rasa sia-sia.


“Su sudah lama? Tapi kemarin kan, kita baru aja ketemu di sekolah, belajar sama-sama.” Tangan Mima bergerak memberi penjelasan mengingatkan Fara apa yang baru saja mereka lewati bersama.


Mata Fara memicing, “Kemarin? Enam tahun yang lalu maksud kamu?


“Kemarin… kemarin satu bulan yang lalu, Far.” Mima mengecilkan intonasi suaranya, kini tak lagi menggebu saat dia ingat, pertemuan yang dia maksud adalah pertemuan yang istimewa, yang hampir semua orang yang Mima temui di sana, tidak merasakan hal yang sama dengan Mima.

__ADS_1


Fara tentu saja sama seperti Tek Na, Shaka dan yang lainnya. Tidak mengingat pertemuan mereka di sana.


Bertemu orang dari masa lalu yang mengenalnya adalah salah satu hal yang menyenangkan untuk Mima. Dia menaruh segenap perhatian kepada sosok di hadapannya, dengan mata berbinar mengamati Fara dari atas sampai bawah.


Diakuinya, Fara berubah jauh, kulitnya putih bersih mendekati warna susu bubuk. Wajahnya cantik hampir tanpa polesan  berlebih, sekilas wanita itu memancarkan aura keanggunan yang luar biasa.


Dia bukan Fara yan Mima kenal dulu, Mima tidka banyak ingat potongan cerita tentang Fara sih, mereka juga tidak terlalu dekat, yang Mima ingat Fara orang yang ceria, dia tidak betah jika harus memilih Mima sebagai teman mainnya.


Yang Mima ingat juga adalah Fara yang dia temui saat remedialnya, Fara yang ekspresif, agresif dan cukup berisik. Belakangan Mima ingat cerita Bu Salsa yang mengatakan bahwa adik dari Pak GIlang adalah lulusan Oxford.


Kalau melihat bagaimana Fara dulu, rasanya dia bukan orang yang berambisi dan punya visi jauh seperti itu.


“Kenapa, kamu? Kenapa kamu di sini sama…” Fara menggantung pertanyaanya, kepalanya menoleh kepada Gilang dan sekali kepada Mima.


“Jadi, kamu adiknya Pak Gilang?” potong Mima.


Fara mengangguk cepat, “dan kamu?” tanya Fara pada Mima.


“Kalian kenal? Benar, Mim, ini Fara adik saya, dan Fara, ini Mima orang SDM di kantor uda.”


Mima mengamit kedua lengan Fara dan mengguncang-guncangnya.


“Fara!” Mima merengkuh tubuh Fara, gadis itu memakai wedges yang membuat tinggi tubuhnya hampir sama dengan Mima.


Giliran Gilang yang menerka-nerka, hubungan antara Mima dan Fara. Sejak lulus MA dan orang tua mereka meninggal dunia, adiknya Fara memang ikut Gilang tinggal di Jakarta, setelah itu Fara melanjutkan S2 di Oxford dan kembali lagi ke Jakarta dan tinggal bersamanya.


Sebentar lagi Gilang akan menyelesaikan tugasnya seabgai wali dari Fara, yaitu menikahi adiknya.


“Ini Mima teman aku di Ma dulu, Da,” ungkap Fara.


Mima mengangguk cepat.


“Jadi kamu yang mau tunangan hari Sabtu, selamat ya!” Mima mengusap lengan Fara dengan begitu lembut dan tulus. Entah dari mana datangnya naluri persahabatan itu.


Jika sebelumnya Mima masih mencari alasan untuk tidak menghadiri undangan Gilang, sekarang tidak lagi, dia akan memprioritaskan, dan akan bersuka cita untuk menghadiri acara itu.


“Iya, Mim. Kamu pasti sudah diundang sama Da gilang ya?”


Mima mengangguk antusias, “InsyaAllah aku akan hadir, Far, aku senang sekali bisa ketemu kamu lagi,” ungkapnya tulus.


“Terimakasih, Mim, aku tunggu!”


“Ekhem, tapi dia datang buat Uda, bukan buat kamu loh, Ra!”


“Ondeeee!” cebik Fara mendengar pernyataan abangnya, “ingat umua, Da!” (Ingat umur, Kak)


Mima masih tersenyum menghembuskan nafasnya begitu lega, moodnya kembali membaik, melonjak 100% setelah pertemuannya dengan Fara.


“Kamu memang datang ke sini bersama Da Gilang?” tanya Fara.


“Tidak, Far. Aku sebenarnya lagi pakaian yang pas buat datang ke acara kamu nanti. Kamu cape nggak? Mau temanin aku sebentar? Kalau pilih sendiri takutnya aku pilih warna hitam atau abu-abu lagi.” tanya Mima penuh harap.


“Boleh deh abis makan ya, Sya mau ikut Aunty?” Fara bertanya pada keponakannya.


“No, Aunty! Sya mau pulang aja sama papa,” jawab Sya acuh, gadis dengan dua kuncir di kepalanya itu sudah fokus ke gadgetnya.


“Nggak apa-apa, Sya biar sama aku aja. Kalian having fun deh berdua. Mumpung kamu belum perlu izin sama suami kamu kan? eh by the way calon suami kamu ke mana?”

__ADS_1


“Tadi dia ngantarin sampai depan, terus pamit pulang, ada kerjaan katanya.” Fara menggeser kursi dan duduk di sebelah  kursi Mima.


Mima menyeruput teh hangatnya penuh semangat, tidak sabar ingin berbagi banyak cerita dengan Fara. Dulu mereka mungkin tidak dekat, tapi boleh kah Mima meminta Tuhan menjadikan mereka teman mulai hari ini.


__ADS_2