REMEDIAL

REMEDIAL
Selamat bertugas, Mas Kondektur!


__ADS_3

Senin dini hari, saat suasana sekitar rumah masih sangat gelap, tapi lampu dapur kami sudah menyala. Istriku sedang sibuk dengan adonan biang roti, menyiapkan sarapan dan bekal untukku bawa hari ini.


Setelah shampir dua bulan menikah, hari ini akhirnya, kami bisa membuat rencana bulan madu. Aku bahkan tidak bisa mengambil cuti menikah sepenuhnya waktu itu, karena hanya satu hari setelah resepsi, harus segera masuk karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Sampai nanti jabatan baruku diresmikan, kami sepakat untuk tinggal di rumah Ayumna. Mama sama sekali tidak keberatan, karena setiap hari kami pasti mengunjunginya. Tapi sayangnya, sampai saat ini baik aku juga Ayumna belum berhasil membujuk Mama untuk kembai ke Jakarta, jika aku resmi diangkat nanti.


“Kamu pulang lebih awal kan, Shaka?” istriku mengonfirmasi, Ayumna sangat menantikan hari ini. Dia ingin merencakan perjalanan bulan madu kami sebaik mungkin.


“InsyaAllah, harusnya iya, Ay. Semua pemberkasan sudah selesai. Tempat tinggal kita di Jakarta juga sudah oke.


Dia tersenyum optimis mendengar jawabanku dan tampak lebih bersemangat memasukkan loyang ke dalam pemanggang.


“Alhamdulillah, kamu pulang jam berapa? Jadi nanti aku di rumah Mama nggak perlu sampai malam lagi.” Sudah hampir dua pekan kujemput Ayumna di rumah Mama setiap pukul sepuluh malam sepulang dari stasiun.


“Jam kantor biasa, Ay. InsyaAllah.”


“Yes!”


“Girang banget sih?”


“Aku nggak sabar, tau, nungguin tanggal 17.” Tanggal 17 Juni tepat dua bulan pernikahan kami dan hari ulang tahun Ayumna. Kamu merencakan keberangkatan bulan  madu di tanggal 17 Juni nanti.


“Aku tuh... nggak sabar banget pengen menikmati perjalanan bareng kamu, Shaka,” tuturnya, kini duduk di hadapanku, menarik pergelangan tanganku di atas meja makan kami.


Diskusi ini seperti sudah dinantikannya sangat lama.


Aku mengangguk berusaha memberi jawaban yang menyenangkan untuknya. “Iya, Sayang. Aku juga.”


“Kira-kira, Sayang… kira-kira aja sih. Kamu akan bica cuti berapa hari sebelum kita pindah tugas ke Jakarta?”


“Kita lihat nanti sore ya, Sayang. Tumben kamu nggak sabaran begini? Kan keputusannya masih sore nanti, Ay.”


“Iya, maaf ya, Shaka. Jadi terkesan mendesak begini.”


“Nggak perlu minta maaf, Ayumna. Aku ngerti kok, London pernah jadi kota impian kamu, pernah kamu perjuangkan dalam hidupmu. Oxford pernah jadi ambisi kamu. Kita akan ke sana. Kamu akan menelusuri kampus, perpustakaan dan sudut-sudut kota sepuasnya, bareng aku.”

__ADS_1


Sejurus kemudian senyuman di bibir istriku terbit mendahului sinar matahari pagi ini, merekah menggambarkan antusiasme yang tinggi. Pemandangan pagi yang sangat aku sukai. Senyum itu menyumbang hampir 90 persen energiku untuk memulai hari.


“Kita akan susun jadwal perjalanan dan merencakannya serinci mungkin, kita akan punya banyak koleksi kenangan yang indah sepanjang perjalanannya nanti,” ucapnya dengan binar yang semakin menyala pada dua bola matanya yang hitam pekat.


“InsyaAllah.”


‘bip’


Terdengar suara  indikator dari pemanggang, aroma gandum dan butter menguar membangkitkan selera. Ayumna bergegas menghidangkan roti buatannya, sebagian untuk kami makan sebagai sarapan pagi. Beberapa potong lain sebagai bekalku berangkat ke kantor hari ini.


***


Ayumna menggamit tanganku saat kuantar dia sampai di depan rumah Mama, dia melepasku berangkat kerja dengan senyum yang masih melekat sejak subuh tadi, senyum yang yakin bahwa hari ini suaminya akan membawa kabar yang amat baik.


“Cie yang udah nggak sabar mau bulan madu, ya,” goda Mama usai kugamit tangannya untuk berpamitan.


“Iya nih, Ma. Titip Ayumna lagi ya, Ma. InsyaAllah hari ini aku pulang lebih cepat.”


***


Aku mengigit bagian dalam pipiku saat keluar dari ruang pimpinan, menatap kosong pada selembar amplop coklat yang kudapat. Kupaksakan untuk menyeret langkah kaki sendiri. Harus bilang apa ke istriku nanti?


***


Belum ada sepenggalan matahari naik, jika Ayumna dan Mama langsung masak saat kutinggal tadi, mungkin masakannya belum matang sekarang,tapi aku sudah kembali lagi ke rumah.


Benar memang, aku berjanji untuk pulang lebih cepat, tapi ini terlalu awal. Lututku gemetar sepanjang menyetir. Aku takut kalau-kalau ekspresi Ayumna yang akan aku temui sudah tak ceria lagi.


Tidak sampai lima belas menit, aku sudah tiba lagi di depan rumah Mama. Benar saja, Ayumna masih di sana, membantu Mama menyemprot tumbuh-tumbuhan potnya.


“Lha, sudah pulang!” katanya girang, meletakkan benda yang dia pegang ke atas meja dan langsung menghampiriku. Jika tidak sedang di rumah Mama, kuterka dia pasti akan melompat-lompat kegirangan.


“Iya, kita pulang sekarang, yuk. Pamit sama Mama.” Aku masih memaksakan senyum untuk menutupi resah yang menjadi-jadi.


Mendengar interaksi kami, Mama keluar dan mengernyit heran, setelah memastikan bahwa aku pulang bukan karena ada sesuatu yang ketinggala hingga akhirnya Mama mengizinkan kami pamit.

__ADS_1


***


Ayumna dengan telaten membantuku melepaskan pakaian dan perlengkapan dinas, lalu dengan rapi dan sabar diletakkan kembali di tempatnya, Setelah jasku dibawa, aku melonggarkan dasi dan membuka kancing kemeja.


“Minuman kamu, Sayang.” Segelas air putih diletakannya di atas meja ruang tamu, aku duduk di salah satu sisi sofa. Ayumna ikut duduk di sebelahku, memijat-mijat lembut lenganku, seperti perempuan yang memang sedang tidak sabar ingin mendengar kabar baik dari suaminya.


“Aku mau bicara sekarang, Ay!” kataku sambil membuang pandangan kea rah lain.


“Wah… oke, sebentar aku ambil catatanku dulu, ya. Aku udah catat beberapa hal yang perlu kita diskusikan.”


Kutahan pahanya dengan telapak tanganku sebelum dia sempat berdiri dari sofa.


“Sebentar aja kok, itu ada di dalam tas draftnya. Kamu lihat dulu aja, kalau nggak cocok bsia kita…”


“Ay,” sanggahku, tidak ingin dia semakin banyak menabur harapan. Setelah Ayumna terdiam, kukeluarkan amplop coklat yang tadi kudapat.


“Apa ini? Tiket? Kamu mau kasi kejutan?” Belum ada tanda-tanda dia mengetahui bahwa harapannya masih harus tertunda lagi.


“Iya ini tiket, tapi beserta surat tugas,” ucapku hampir tidak terdengar.


“Eh, gimana?” Ayumna mengambil jarak dan seketika menegakkan posisi duduknya.


“Diklat, Ay. Jadwal keberangkatannya dimajukan jadi tanggal 17 Juni.” Mau tidak mau aku harus mengatakan ini.


“Oh, jadi… maksud kamu kita belum bisa merencakan perjalanan kita? Emh, jadi perjalannya, itu.. ditunda lagi, begitu ya?” Jelas tergambar getir dalam kalimatnya. Sama seperti reaksiku tadi, amplop coklat itu juga ditatapnya dengan hampa.


“Kalau kamu tidak izinkan aku bisa… bilang ke...”


“Kamu tau aku tidak sebocah itu!”  tuturnya pelan, menatap lurus dan kosong ke arah dinding di depan kami.


Serba salah, itu yang sudah pasti ada dalam hatinya.


“Maafin aku ya, Sayang.”


"Aku tidak marah. Shaka. Selamat bertugas,ya. Mas Kondektur!”

__ADS_1


__ADS_2