REMEDIAL

REMEDIAL
Hari Baru Untuk Mima


__ADS_3

Kain tebal berwarna abu-abu yang menutupi jendela kamarnya, Mima singkap ke samping. Meninggalkan vitrase putih yang menjuntai. Langit di luar belum lagi berpenerang, lampu kamarnya sendiri sudah Mima matikan. Semua barang yang akan dia bawa sudah dia letak di teras. Tidak banyak, hanya satu koper hitam besar dan satu kotak sedang. Barang-barang lain sudah dia cicil dengan bantuan jasa ekspedisi.


Pukul setengah lima pagi, sebentar lagi taksinya tiba, ini bahkan terlalu dini untuk bermonolog dalam sebuah cerita. Mima sudah pamit dengan pemilik rumah tadi malam. Mima tidak bisa menunggu matahari terbit untuk meninggalkan Jakarta.


Kota impiannya, kota tempat dia mengekspresikan diri, kota pelarian tempat Mima mengejar obesi dan mimpi-mimpinya, hari ini akan dia tinggalkan, bersama sebuah nama yang pekan depan akan benar-benar melangsungkan pernikahan.


Hampir dua bulan lamannya Mima berusaha bangkit, namun ada sisi hidup yang tetap berharap hadirnya sebuah plot twist dalam naskah percintaanya kali ini, semacam kemungkinan lain tentang Shaka, namun harapan itu juga yang mengantarkannya pada ending seperti pagi ini, dia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.


Kain pemberian Fara tidak pernah Mima ambil dari meja Bu Salsa. Tidak ada satu orangpun yang tidak terkejut dengan keputusan besar yang Mima ambil. GIlang pikir bahkan Mima sudah menjahit pakaian yang akan dikenakan sebagai pendamping Fara.


Bu salsa apalagi, jelas perempuan itu sangat sedih, karena sudah menganggap Mima seperti anak gadisnya sendiri. Mima sempat goyah karena tidak tega dengan Bu Salsa. Namun sampai detik di mana taksinya telah tiba di depan, Mima tidak berhasil memikirkan cara lain menghindar dari kenyataan pedih yang sudah menantinya.


Menghindar dari acara resepsi mungkin mudah, tapi berapa banyak kebetulan-kebetulan lain yang katanya tidak pernah  sengaja mempertemukan mereka ke depannya kelak, selama mereka masih berada di satu kota yang sama.


Sedang pada dimensi yang berbeda saja, bisa-bisanya mereka bertemu. Apalagi di hanya di ibu kota.


Hampir dua bulan sejak malam  itu. Mima ingin sembuh dari resah yang sudah dia hafal di luar kepala. Sangat ingin bersemangat menyongsong hari barunya. Sebelum masuk ke dalam taksi, dia memastikan sekali lagi, mobil yang berhenti sudah sesuai dengan pesanannya.


“Selamat pagi, Bu!” sapa supir yang terpaksa harus Mima perhatikan begitu lama.


“Selamat pagi, Pak, ke bandara ya!” katanya setelah memastikan pengemudi itu bukan supir jadi-jadian seperti malam itu lagi.


***


Setelah hampir sembilan jam berada di area bandara dan harus bersabar dengan reschedule karena delay yang cukup lama, baru jelang pukul dua sore pesawat akhirnya terbang.


Mima terenyum tipis manakala kota Jakarta tampak semakin mengecil dari pandangannya di jendela pesawat. Terlalu drama untuk melafalkan selamat tinggal. Dia hanya berharap akan ada hari baru untuknya, walau tidak di kota itu lagi.


Ujung roda burung besi yang membawa Mima bersama puluhan manusia lain, akhirnya menyentuh bumi sumatera barat. Mima mengantuk tapi sengaja tidak tidur selama perjalanan untuk memastikan tidak ada kejadian yang aneh-aneh lagi untuk perjalanannya kali ini.


“Alhamdulillah,” ucapnya setelah pesawatnya telah berhenti sempurna.


Meski luka tidak serta merta tertinggal di kota sebelumnya,  setidaknya sekarang dia punya hari baru di tanah kelahirannya. Dia sudah berdiskusi dengan Etek dan beberapa kerabatnya di sana.

__ADS_1


Etek bersedia mengajarkan Mima mengelola kebun dan sawah peninggalan orang tuanya. Tek Na juga menceritakan tentang rumah tenun yang baru Tek Na buka. Mima tidak terlalu tertarik, namun dia membutuhkan hal-hal semacam itu demi percepatan penyembuhan hatinya.


“Mima sudah tiba, Tek!” ujar Mima bersemangat menjawab panggilan Eteknya, sesaat setelah menyalakan ponselnya.


Mima berada di antara puluhan orang mellingkari mesin yang memutar barang-barang mereka.


Sebelah tangannya menahan ponsel di telinga, sementara tangannya yang bebas stanbye untuk mengambil koper dan box yang sedang berputar di antrian barang.


Mima perlu bersiap dengan konsentrasi tinggi, karena tas dan boxnya berwarna hitam,  warna yang paling banyak samanya dengan milik penumpang lain.


Untung di rumah tadi malam Mima sempat menempeli kopernya dengan kertas HVS putih bertuliskan namanya.


“Etek, Mima ndak mau naiak kereta api do!” (Etek, Mima nggak mau naik kereta api!” rengek Mima. Eteknya menyarankan agar dia mencoba kereta api bandara.


“Kok Etek ndak bisa manjampuik, bia lah wak naik taksi se, ndak ba a do!” (Kalau Etek tidak bisa jemput, aku naik taksi aja. Nggak apa-apa, kok!)


Mima izin mematikakn ponselnya saat tas dan kotak hitam miliknya sudah terlihat dari kejauhan.


“Iyo… iyo, Mima naiak taksi se. Alah yo, beko wak telpon baliak!” (Iya oke, Aku naik taksi saja. Sudah dulu ya, nanti aku telpon lagi.


Namun, belum lagi benda itu sampai ke depan Mima, sebuah lengan secara semena-mena lebih dulu menggapai gagang tas dan kotak hitam milliknya, dengan sigap menurunkan dua benda itu dari antrian barang lain, seolah dia tidak membaca label nama besar yang terpampang di sana.


Kesal, Mima reflek mengumpat kecil sambil menerobos kerumunan di depannya dan tidak sabar ingin meluapkan kekesalan pada si orang sembarangan itu.


Sayangnya orang itu lah yang lebih dulu berhasil membelah kerumunan dan menunjukkan diri, tersenyum manis di hadapan Mima, senyum yang bagi Mima seperti sedang mengajak lomba tinju di tengah-tengah bandara.


Namun alih-alih ingin mengumpat habis-habisan, degup jantung Mima kembali berkhianat, bisa-bisanya berdetak cukup kencang berirama hingga membuat rasa sakitnya menjadi samar.


“Kenapa kamu selalu menjelma, dalam setiap peristiwa demi peristima ghoib dalam hidup saya?” Rasa geram bercampur putus asa tergambar di wajah dan intonasi suara Mima.


Hari ini dia berlomba dengan matahari untuk bisa tiba di bandara sebagai pembuktian bahwa dia sangat antusias memulai hari dan cerita baru untuk masa depannya. Dia akan sembuh, dia akan melupakan angan-angan tentang suami masa depan. Mima mulai menerima, semua terlalu tidak mungkin dia wujudkan, dan tidak ada takdir yang bisa ia gugat. Singkat cerita ya…dia pasrah.


Namun sekali lagi dia bukan pemilik skenario yang bisa tau setelah ini akan bertemu siapa dan siapa. Dan keterlambatan pesawatnya tadi pagi ternyata bermuara pada pertemuannya dengan Shaka kembali sore ini.

__ADS_1


Kenapa dia ada di sini? Pekan depan dia nggak jadi kawin? Apa yang kemarin mau kawin itu kembarannya? Atau orang lain yang mirip Shaka?


Mima melakukan percobaan menghibur diri ke seribu kali, meski dia tau kemungkinan yang dia maksud juga mungkin satu banding seribu kebenarannya.


Dia melupakan satu hal, Fara lahir dan besar di tanah ini, meski kakaknya ada di Jakarta, bukan tidak mungkin keluarga besar atau Ninik mamaknya meminta pesta “baralek” Fara diadakan di kampungnya.


How stupid you are, Mima! dia pasti nikah di sini. Dan alih-alih mendhindar, kamu jsutru datang menyerahkan diri untuk terluka lagi!


Sesaat Mima menyesal kenapa tidak pernah membuka undangan bridesmaid itu. Kaki kirinya sampai dihentakkan secara tak sengaja karena baru saja mengumpat dirinya sendiri.


“Ghoib?” lelaki itu melepas topi petnya, mata Mima kemudian fokus memperhatikan tangan Shaka yang menggenggam tas Mima erat seolah takut Mima akan berhasil merebutnya.


“Kalau nggak ghoib lalu kenapa kamu bisa selalu datang tiba-tiba?”


“Saya nggak tiba-tiba, coba kamu lihat papan petunjuk hijau itu!” Hanya dengan gerakan matanya, Shaka menunjuk ke satu arah.


Secara spontan Mima mengikuti pandangan yang mengarah ke papan hijau yang menunjukkan arah menuju stasiun kereta bandara.


“Itu tempat kerja saya, Ay!”


Mima ingin menutup telinganya daripada mendengar panggilan itu lagi.


“Koper saya!” pinta Mima geram.


Bukannya menyerahkan benda itu kepada pemiliknya, Shaka malah dengan santai menarik handel koper hitam, meletakkan box di atasnya dan dengan santai mendorong seolah barang itu adalah  miliknya.


Mata Mima membola, baru saja dia akan melaporkan pada petugas keamanan atau berteriak kencang agar ada yang menolongnya, namun kondektur di depannya dengan sopan menyapa semua petugas yang dia kenal di sana. Amat tidak mungkin pura-pura jadi orang gila di sana.


Sehingga mau tidak mau dengan sisa energinya, Mima mengejar langkah Shaka. Langkah Shaka yang sangat tenang, namun satu langkahnya sama dengan tiga langkah kecil Mima, sehingga Mima harus lebih cepat agar tidak ketinggalan.


“Cepet jalannya, Ay, kereta ke kota  lima menit lagi jalan, saya bantuin kamu bawa tas ya, kebetulan kita searah.” kata Shaka sambil melirik jam tangan yang sudah lima belas menis sudah lewat dari pukul empat sore.


“Saya tidak naik kereta api, Shaka. Dan tujuan saya bukan ke kota!” pekik Mima kecil di tengah kerepotan menyusul langkah Shaka.

__ADS_1


Jadi kapan hari baru untukku, Tuhan?


__ADS_2