REMEDIAL

REMEDIAL
Jadilah bridesmaidku


__ADS_3

Mima tidak tau kenapa dia harus menangis, dia malu harus merasakan sakit di atas kebahagiaan orang lain, orang yang tidak bersalah dengannya. Oke Shaka menyebalkan karena kerap mencarinya dan mengirimkan pesan, tapi dia lebih menyebalkan karena mengkonversikan hal itu sebagai bulir-bulir harapan.


Hidup berdampingan dengan rasa cinta begitu rumit, alih-alih mulus yang Mima rasakan justru sakit. Apakah demikian resiko membuka hubungan sesama manusia? Menyendiri yang selalu dianggap sebagai makhluk sepi justru jauh lebih menyenangkan untuk Mima.


Sepanjang jalan menuju kontrakan dingin, Mima mengutuk pedih yang semakin menjadi-jadi. Dia ingin pergi ke dimensi itu lagi, ingin remedial lagi.


Keinginannya disambut gelegar petir, langit tiba-tiba terang seketika lalu gelap lagi seperti ada yang memainkan sakelar lampu dunia di atas sana. Mima merinding.


“Jangan hujan, Plis. Jangan buat adegan hidupku semakin pantas dikasihani!” Mima menengadah pandangan ke langit, satu satu rintik jatuh ke telapak tangannya.


“Kenapa hujan dan kesedihan nggak pernah gagal jadi scene paling dramatis dalam sebuah adegan sih?” Mima bergegas memesan taksinya sebelum tubuhnya benar-benar basah.


Tidak sampai dua menit, Alpphard putih nan gagah berhenti tepat di depannya, Mima mengernyit, pertama, kenapa taksinya cepat sekali? Kedua, keterangan di aplikasi menginformasikan mobilnya adalah Astra putih bukan mobil mewah ini, ketiga kenapa mobil ini dilengkapi hiasan bunga dan kain tile di depannya, seperti mobil pengantin.


Semula dia ingin memeriksa sekali lagi aplikasinya, tapi rintik air sudah mulai anarkis membasahi tangannya, hanya tinggal hitungan detik hujan akan mengguyurnya.


Setengah ragu Mima membuka pintu mobil, untung dia pernah naik mobil jenis ini sebelumnya, sehingga dia tau cara membuka benda itu adalah dengan menggesernya ke samping.


“Aaaaa!” Mima Ayumna lenkara teriak sekencang-kencangnya saat sang supir yang berada di dalam mobil memutar badan ke belakang dan tersenyum menoleh ke arahnya.


“Cepetan naik, Ay, sebentar lagi hujan lebat loh!” ucapnya santai.


“Kon… kondektur Shaka.”


“Bukan, Bu, saya bukan kondektur, saya sopir sekarang, silakan naik, Bu!” selorohnya, namun bagi Mima sama sekali tidak lucu.


Jantung Mima tidak mau dikondisikan, berdegup meresahkan. Matanya sempat dia besarkan sebelum menutup kembali pintu mobil itu dengan keras.


“Ya Tuhan, dia kenapa sih? Apakah dia benar-benar ghoib, Tuhan? Kasihan Fara, menikah dengan manusia yang tidak nyata.” Mima membatu, memegang dadanya erat, dia benar-benar takut jantungnya lepas saking terkejutnya.  Padahal dia lebih pantas dikasihani dari pada Fara yang jelas-jelas sebentar lagi akan hidup Bahagia bersama suaminya.

__ADS_1


Mima menjauh dari awak mobil yang yang cukup Panjang itu, bukannya pergi, mobil itu justru mundur ke belakang mengikuti Langkah Mima. Beberapa menit setelahnya, mobil yang sesuai dengan pesanan Mima berhenti hingga mobil besar itu tidak bisa mundur lagi.


Tanpa banyak bertanya, Mima langsung melesat masuk ke dalam armada penyelamat tuan putri dari bajak laut yang kejam.


“Terimakasih, Pak!” ucap Mima ngos-ngosan seperti dia barusan dikejar makhluk astral .


“Kok terimakasih, Bu? Maaf sebelumnya, ini pesanan atas nama Ibu Mima, kan?” Supir menatap heran dari kaca depan  mobilnya.


“Eh, maksud saya, jalan, Pak! Iya betul, saya yang pesan. Sesuai titik ya, Pak!” Jawabnya sambil mengatur nafas.


Taksi online mulai berjalan pelan, melewati mobil putih besar, ragu-ragu Mima melirik ke arah luar, sopir ghoib tadi sedang membuka jendela mobil dan menatap taksi itu lekat-lekat. Mima memastikan Shaka tidak mengejar, dan ternyata Shaka memang cukup sopan untuk tidak norak menguntit tanpa izin.


***


Yang sakit karena kejadian malam itu bukan cuma hatinya, namun fisiknya juga. Sudah tiga hari Mima izin tidak masuk kantor, hari ini dia sudah merasa lebih baik dan akan kembali bekerja.


Bukan hanya karena tidak ingin memperbanyak izin dan pemotongan gaji, namun karena Gilang berulang kali menanyakan alamatnya. Mima enggan merepotkan lelaki itu, dan lebih enggan lagi Gilang tau kontrakan dingin tempatnya tinggal.


“Hai, Bu! Alhamdulillah, girang amat Bu Salsa. Perasaan pas saya balik cuti sebulan lebih kemarin nggak gini amat, hehe.”


“Hei! Gimana nggak girang, setiap hari pak dosen nyambangin ruangan sdm, menatap hampa pada kubikal kamu ini,” seloroh Bu Salsa.


“Hahaha, kenapa jadi Bu Salsa yang mirip dosen sastra ya?”


“Ibu mah menyesuaikan saja, ada titipan tuh buat kamu, di laci meja saya.”


“Dari siapa, Bu?”


“Dari siapa lagi, dari si dia yang menantimu setiap hari!” Bu Salsa memegang dada dan melihat ke langit-langit menunjukkan orang yang sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


“Apaan sih, Bu, ih?” Mima cukup terhibur, moodnya membaik pagi ini.


“Dari Pak Gilang, Mim. Itu… paket Bridesmaids adiknya.”


Jari-jari Mima yang semula bergerak aktif di atas tuts huruf harus berhenti mendadak.


Bridesmaid untuk Fara? Itu harapannya. Harapannya terkabul, Fara memintanya menjadi bridesmaid, tapi keadaanya?


“Kamu kenal akrab dengan adiknya Pak Gilang ini?” Bu Salsa yang tidak tau menau tentang perasaan Mima saat itu dengan polosnya bertanya.


“Iya, Bu, teman lama saya,” jawab Mima lemah. Bu Salsa tidak boleh tau cerita pilu dibalik pertemanan itu.


“Lah, kok kamu nggak cerita, Ibu pikir ini si Gilang yang maksa adiknya biar ngundang kamu jadi bridesmaid demi bisa liat kamu seharian di acara adiknya nanti,” celoteh Bu Salsa Panjang lebar.


“Bisa jadi juga sih, Bu,” jawab Mima lebih pelan dari sebelumnya, tatapannya kosong menatap lembar kerja di monitor.


“Sebentar Ibu ambil ya, segera deh kamu jahit!” Bu Salsa beranjak dari tempat Mima.


“Bu!” Mima menahan lengan Bu Salsa, “biarin dulu deh, nanti aja aku ambil pas mau jahit, sekarang aku sibuk banget ngerjain kerjaan yang aku tinggal kemarin,” ungkap Mima.


“Oh gitu?”


“Boleh nitip kan, Bu?”


Padahal malam itu, Mima begitu mengharapkan hal ini. Dia akan merasa sangat senang, terhormat dan tersanjung jika Fara memilihnya sebagai salah satu peri di hari pernikahannya nanti.


“Tapi nggak gini konsepnya, Far!” batin Mima.


Jangankan untuk hadir menyaksikan Fara bersanding dengan Shaka, melihat nama mereka yang tertera di bagian depan tas bridesmaid saja Mima meragukan kesanggupannya.

__ADS_1


Apakah dia sanggup berada satu pelaminan dengan Shaka sebagai pengantin dan bridesmaid semata?


__ADS_2