REMEDIAL

REMEDIAL
Unfollow


__ADS_3

Rasanya tidak jauh berbeda seperti malam saat dia menunggu surat elektronik pengumuman beasiswanya, sama-sama penuh harap. Bedanya kalau malam itu Mima terlalu percaya diri, sore ini dia terlalu rendah diri, cemas juga  gugup di sela-sela debar yang bersenandung kecil.


Setiba di kamar kosnya yang cukup luas dan nyaman, Ditahan-tahannya tangan untuk tidak langsung mengeluarkan ponsel dari tas. Setelah mengganti pakaiannya yang sedikit basah karena percikan hujan, Mima menyalakan diffuser dan meneteskan essential oil yang seketika mengeluarkan aroma bergamote membantunya lebih tenang.


Lama Mima menghirup kesegaran yang dikeluarkan dari minyak hangat itu, menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa sesi sebelum mulai mengajak angan-angannya kembali berpikir rasional. Bagaimanapun, dia perlu membuka lagi isi pesan di akun instagramnya itu.


“Huft, aku baca ya!” Izinnya pada diri sendiri, sambil menyilangkan kaki di atas tempat tidur dan mulai memulas layar.


Tangan dan mata seolah sudah terlatih begitu lincah mengakses kembali laman yang tadi dia buka di komputer kantornya. Maka hanya saat kolom permintaan pesan itu berhasil terbuka, ada satu nama pengirim pesan pada baris paling atas.


AhsanEshaka


Mima tidak sadar sudut bibirnya membentuk garis lengkungan ke atas, dia tidak sedang berhalusinasi. Ini kenyataan!


AhsanEshaka : “Hai, Ayumna. Akhirnya ketemu juga akun kamu. Kartu nama yang saya kasi tempo hari hilang ya? udah satu bulan saya tunggu kamu menghubungi saya.”


Mima menggigit bibir bawahnya selama menatap layar yang menampilkan pesan dari Shaka. Suatu hari yang lampau, hati Mima pernah satu kali berbunga seperti ini, untuk Dheo, waktu itu Mima berpikir jika cintanya pada Dheo berhenti, maka hatinya akan mati.


“Terimakasih, Tuhan, hatiku ternyata bukan pohon pisang yang hanya satu kali berbuah lalu tumbang .”


Kartu nama yang Shaka berikan tempo hari tentu saja tidak pernah hilang, Mima bahkan menjaganya dengan sangat baik, bukan hal mudah mempertahankan diri agar tidak keliatan mencari-cari, maka kartu nama itu dibiarkan tetap tersimpan untuk dipandangi saja setiap hari.


Kini kepalanya terangkat ke atas sedikit, kondektur itu terang-terangan mengatakan mencarinya selama satu bulan. Ingin rasanya bersorak sebagai selebrasi, tapi dia sedang sibuk memikirkan pesan balasan apa kira-kira yang harus dia tulis.


Satu yang ada dalam benaknya, dia begitu bangga pada dirinya yang memiliki kemampuan menyimpan buncahan rasa diam-diam. Seperti remaja yang belum tau bagaimana cara mengolah serangan virus berwarna merah muda, seranum itu kondisi hati Mima sesaat setelah membalas pesan dari Shaka.


AyumnaLenkara : Hai, apa kabar? Nggak hilang kok kartu namanya, hanya sedang sibuk dengan pekerjaan di kantor. Selain nickname, apa yang membuat kamu yakin bawha ini adalah akunku?


Akun itu terkunci dan Mima tidak pernah memajang foto dirinya di manapun.


AhsanEshaka : Wih… dibales! Kabarku baik. Nggak tau feeling aja sih. Feeling yang sama seperti saat aku nyari kamu di bandara waktu itu. And here we are, kita ketemu  lagi.


Mima menegang, rasanya jadi uring-uringan, ada gelombang perasaan yang bergulung-gulung di dalam perutnya. Akhirnya Mima, sosok sunyi yang mendewasa dengan keras hatinya sendiri ternyata bisa merasakan perasaan yang kali ini tidak lagi salah alamat.

__ADS_1


Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa Shaka adalah orang yang tepat? Apakah  jodoh bisa diprediksi hanya karena ada sebelah pihak yang sedang ke GR-an? Tanya Mima dalam hatinya sendiri.


AyumnaLenkara : Nice to meet you, Kondektur Shaka.


*AhsanEshaka :*Sejujurnya aku masih penasaran, waktu itu belum sempat dengar cerita kamu. Kalau kamu nggak sibuk, kapan-kapan boleh kita ketemu? Atau kalau nggak keberatan aku mau mengundang kamu datang ke rumah Ibuku.


Ke .. ke rumah? ketemu Ibunya? Secepat itu?


Mima melempar ponselnya karena terkejut, lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan.


No! kenapa jatuh hati rasanya sangat alay?


AhsanEshaka : Kalau kamu keberatan nggak apa-apa kok, Ay. Anyway, jangan lupa follow me back.


Mima membuka profil akun Ahsan Eshaka, hampir tidak ada foto diri, kecuali potretnya bersama wanita paruh baya yang anggun, kalau dari caption yang Shaka tulis, wanita itu adalah Ibunya.


Kemudian Mima menekan tombol Follow, ada sebuah kebanggaan tersendiri baginya.


AyumnaLenkara :Followed, ohya, Just call Me Ayumna.


AyumnaLenkara : Harus lengkap.


AhsanEshaka : Baiklah, Nona Ayumna, jadi gimana? Kamu sibuk nggak? Aku telpon ya.


Tunggu… tunggu sejak kapan dia santai ber aku-kamu?


Tanpa menunggu konfirmasi dari Mima, sebuah panggilan masuk, foto profil kondektur hitam manis sedang memakai seragam dinas lengkap, berkedip-kedip di layar panggilan Mima.


Mima menegakkan duduknya, merapikan rambutnya, seolah ekspresinya akan terbaca hanya dari suara.


“Maaf ya, aku telpon, kamu slowrespon banget! Lagi sibuk ya? aku nggak ganggu kan?”


Kapan kamu nggak pernah ganggu aku, Shaka. Kamu selalu mengganggu, tapi kali ini aku senang kok tenang aja.

__ADS_1


“Sedikit,” jawab Mima pendek, sambil mengatur nafasnya.


“Jujur aku masih penasaran pengen dengar cerita itu,” desak Shaka.


“Sorry,  apia kayanya nggak mungkin kalau aku main ke rumah kamu, apa nggak terlalu tergesa-gesa? Kamu cuti sampai kapan?.”


Kalau boleh bicara jujur justru sebenarnya dalam kepala Mima bukan lagi tentang agenda 'main' ke rumah, melainkan sudah membayangkan pakaian adat apa yang  akan mereka kenakan jika memang akan menikah dalam waktu dekat.


“Ya sih, tadi Aku pikir juga gitu, lagian nanti kalau kamu ke rumahku mungkin kita juga nggak bisa cerita-cerita lama, kita buat janji temu aja sebelum Sabtu gimana? Makan siang mungkin?” tawar Shaka.


“Em, asal abis itu nggak main ke rumah kamu, boleh aja sih!”  Beberapa detik kemudian Mima geli sendiri dengan kalimatnya, tapi pembicaraan lisan bukan sesuatu yang bisa dihapus lalu hilang.


“He, sebenarnya aku ngundang kamu ke rumah bukan dalam rangka main-main juga sih.” Intonasi suara Shaka berubah menjadi sedikit lebih serius.


“Oh, so?” Mima kalang kabut, dia menjawab pendek-pendek saking gugupnya. Jika tidak dalam rangka main, lalu? Apakah Shaka langsung berpikir akan memperkenalkannya kepada calon mertua.


Stay calm, Mim!


“Sebenarnya hari sabtu nanti itu acara pertunanganku. Ibu bilang suruh ngundang teman-teman di Jakarta,  aku bingung, teman-temanku di sini tinggal beberapa butir aja, and kita teman, kan? jadi sekalian aja aku ngundang kamu, tapi itu juga kalau kamu bisa sih.”


Kata orang, dalam setiap diri manusia pasti ada rasa tenang yang bisa diandalkan sewaktu-waktu mereka membutuhkan, Mima mencari itu sekarang, dia terdiam bergeming menelaah  kalimat Shaka yang terdengar seperti bunyi berdebam menghujam serampangan ke arah sistem pertahanan hatinya.


Mima tenang, tapi diprediksinya sebentar lagi akan segera meledak, dia belum punya pertahanan, sejak menerima pesan Shaka tadi dia terlalu dimanja dengan angan-angan, dia sendiri yang melambungkan firasatnya terlalu tinggi melebihi apa yang mampu dilogikakan.


Shaka memanggil-manggil, beberapa kali menunggu respon Mima selanjutnya. Mima yang hatinya mendadak panas karena diremas ekspektasinya sendiri seketika memutuskan panggilan dan memilih untuk mematikan sambungan data.


Aroma teraphy yang tadi menguar tajam kini baunya hampir habis, mungkin juga karena Mima menghirupnya dengan serakah.


Sekali lagi takdir mengajaknya bercanda, Mima tidak menangis, dia ingin tertawa, tapi di mana bagian lucunya?


“Shaka? ke rumahnya? Bertunangan?”


Kerongkongannya terasa kering,  namun ada semacam ketakutan untuk menanggak air di saat-saat seperti ini. Beberapa menit setelah merasa stabil, Mima membuka kembali laman Instagram Shaka di ponselnya.

__ADS_1


Unfollow 


Gadis itu melempar ponselnya jauh-jauh dari jangkauan mata, mengambil bantal dan mengubur kepalanya dalam-dalam.


__ADS_2