REMEDIAL

REMEDIAL
Investasi Jangka Panjang


__ADS_3

“Hitam, Abu-abu, pink ataupun biru, semuanya cocok sama kamu.” Belum sempat Bu Salsa menjawab, sebuah suara berat dari arah pintu masuk menyahut pertanyaan Mima dengan memberikan pujian.


Mima menegang,suara lelaki itu cukup familiar.


Setelah melemparkan pujiannya dari depan pintu kaca dengna kusen kuning terang khas lembaga mereka, Gilang melangkah masuk menghampiri Bu Salsa dan Mima. Mima seketika menunduk dan memasukkan kembali hijab birunya ke dalam ziplock.


“Tuh kan, ibu bilang juga apa, Neng. Cantik, bener kan, Pak Gilang?” ulang Bu Salsa.


“Terimakasih, Bu Salsa, Pak Gilang,” tutur Mima.


Mima kembali berpura-pura sibuk dengan meja kerjanya, bukannya dia tidak senang dipuji, tapi entah kenapa dosen sastra itu bukan orang yang Mima ingin dengar pujiannya.


“Mba Mima ada acara nggak sabtu besok?” tanya Gilang berbasa-basi.


Sabtu besok, satu hal yang Mima ingat tentang sabtu esok hanya tentang undangan dari Shaka semalam. Tiba-tiba ingin rasanya dia meremas jilbab yang sudah rapi terliipat. di dalam kemasan.


Mima menggeleng pada Gilang.


“Kalau gitu saya mengundang kamu sama Bu Salsa juga ya, acara pertunangan adik saya,” tawar Gilang.


Mima mendongak setengah tidak percaya, acara pertunangan bukanlah sebuah resepsi pernikahan yang biasanya dibuat semacam hajatan besar. Yang masuk ke daftar tamu undangan acara pertunangan ini bukahkan sangat terbatas? Kenapa Mima diundang?


“Adikmu yang baru pulang dari Oxford itu?” tanya Bu Salsa.


Waw, Oxoford.


Mima menelan ludahnya saat Bu Salsa menyebutkan salah satu tempat yang paling ingin dia datangi dulu, yang sekarang dia simpan rapat-rapat ambisi itu.


“Iya, Bu. Acaranya family saja, tapi saya pengen Mima datang, dan mumpung ada Bu Salsa siapa tau berkelapangan juga, biar temanin Mima di sana.”


Hei, gue belum bilang akan datang, kan?


Tanpa perlu disaring pun orang yang mendengar tawaran Gilang juga sudah tau bahwa dia ingin lebih dekat dengan Mima menggunakan jalur acara keluarga.


“Bisa, Mim?” ulang Dirga yang terdengar sedikit berharap.


Mima baru ingin membuka mulutnya untuk meminta maaf dan menolak tawaran itu, lagi-lagi Bu Salsa selangkah lebih maju.


“Kalau sudah diundang langsung, wajib datang loh, Neng, kalau tidak ada acara yang lebih penting dan mendesak,” kata Bu Salsa yang berlaku sebagai kompor setiap kali Gilang datang ke ruangan itu.

__ADS_1


Tidak ada yang lebih penting? jelas jadwal membaca buku, sekedar rebahan atau menikmati sisa patah hati itu adalah agenda yang lebih penting bagi Mima Mima dari pada keluar rumah tanpa perjalanan tertentu.


“Eh, Tapi saya nggak maksa kok,” ucap Gilang lagi.


Duh jadi nggak ena, kan. Bu  Salsa kenapa harus ngomong gitu sih?


“InsyaAllah, Pak.”


Sebenarnya Mima ingin tau langsung dari Gilang, apa alasannya mengundang Mima. Oke mereka sudah kenal cukup lama, tapi kan baru berkomunikasi satu bulan ini saja. Belum cukup dekat bahkan untuk disebut sebagai teman sekalipun.


Gilang tidak bisa menyembunyikan senyumannya.


“Wah, Alhamdulillah. Saya tunggu loh ya. Sebenarnya ini di rumah calon adik ipar saya, tapi rumah kami cukup dekat, kami bertetangga, jadi permintaan orang tua si lelaki untuk diadakan di rumahnya.”


Mima mengangguk sekedarnya.


“By the way, Mbanya nggak nanya nih acaranya di mana?” Gilang tertawa kecil.


“Oh iya… iya, di mana acaranya, Pak Gilang?” tanya Mima lagi, dia baru ingat Gilang tidak memberikannya kartu undangan yang bisa dia lihat denah lokasi acara.


“Edelwis Estate, deket kan? nanti saya share lock aja kalau udah deket harinya. Atau kamu mau saya jemput aja?”


“Keselek, Mba Meta?” tanya Gilang serius kepada perempuan yang berada di balik layar monitor PCnya.


“Pak Gilang, nggak ada jam? Betah banget main di SDM, ini jam kerja loh, Pak,”  sahut perempuan dengan tandan ama Meta di mejanya itu.


Tanpa mengindahkan sindiran Meta, Gilang berpamitan pada Bu Salsa dan Mima.


“Gimana, Mima, mau saya jemput nggak?” katanya sebelum benar-benar berbalik badan.


"Nggak usah, Pak, rumah saya nggak terlalu jauh dari Edelwis. Naik Ojek nggak apa-apa kan?" tanya Mima ragu mengingat perumahan yang disebut Gilang adalah lokasi yang sering muncul di iklan properti di televisi.


"Loh, memangnya rumah kamu di mana?"


"Rukita Lavender, Pak," sebut Mima.


Untuk sekedar kostan, tempat yang Mima sebutkan sudah termasuk hunian elit tingkat kost-kostan. Sejak tinggal di Jakarta, Mima tinggal di sana. Waktu itu pertimbangannya karena hanya sepuluh menit jika berjalan kaki ke kampus, sekarang masih sama,  Mima masih beraktivitas di kampus yang sama dengan profesi yang berbeda, dia belum pernah memikirkan untuk pindah dari tempat itu.


"Lah, deket banget dong, saya baru tau loh!" seru Gilang.

__ADS_1


Ya nggak penting juga Pak Gilang baru tau dulu atau sekarang kan?


"Ktia tetangga loh, Mima. Tahun depan saya mau mencalonkan diri jadi RT deh biar bisa nagih uang keamanan ke kamu," canda Gilang, sepertinya dia lupa bahwa tadi dia sudah bilang akan segera keluar.


"He, uang kost saya sudah include uang keamanan RT, Pak, jadi nanti mintanya ke Ibu Kost saya aja," jawab Mima serius.


"Haha, ternyata kamu bisa bercanda juga, Mima. Syukurlah."


Ha? Syukurlah katanya? 


***


Seperginya Gilang dari ruangan mereka, Bu Salsa tidak henti-hentinya memberi nasihat dengan kalimat super persuasif, sangat sarat akan hasutan, seolah sudah menerawang sebuah kebahagiaan bila Mima menanggapi serius kode dari Gilang.


“Dari kacamata manusia sih, Pak Gilang itu tidak ada celahnya deh, Mim,” celetuk Bu Salsa yang belum menyerah.


Bu salsa mengatakan sebuah fakta, Mima menyetujui pernyataan itu dari dalam hatinya.


“Saya setuju sih, Bu!” sahut Mima.


“Nah!” Bu Salsa menjentikkan tangannya.


“Setuju kalau Pak Gilang memang sekeren itu, tapi sayangnya saya sudah punya calon suami masa depan, Bu,” gumam Mima hampir tidak terdengar sambil menerawang ke langit-langit ruangan bernuansa putih bersih itu.


“Lah? iya? Alhamdulillah. Ya udah paling bener berarti sikap kamu menutup celah, udah punya calon suami ternyata, Ibu jadi kepo sama orangnya. Kalian sudah tunangan juga?”


Mima menggeleng.


“Dianya sih sudah,” tutur Mima pelan.


“Ha, gimana?” Bu Salsa jadi berdiri dan memanjangkan lehernya lagi.


“Iya, dia sudah mau tunangan disaat saya baru saja menginvestasikan perasaan,” tutur Mima getir dan pelan.


Mima mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke atas mejanya, matanya menatap hampa ujung pena yang ada gantungan namanya itu sambil menggigit bibir bawahnya. Kondisi yang cukup aneh untuk dipikirkan. Hatinya terluka tanpa ada yang menggoresnya.


Untuk apa Shaka datang? untuk apa Shaka ikut ke perjalanan remedialku? menggangguku hampir setiap waktu hingga aku terjebak suasana dan sibuk mencari keberadaanya di dimensi nyata? Apakah aku terlambat pulang sehingga Shaka yang aku temui adalah calon suami orang? Atau, ada Ahsan Eshaka lain yang sungguh akan menjadi suamiku di masa depan?


____________________________________

__ADS_1


__ADS_2