REMEDIAL

REMEDIAL
Sesi Introgasi


__ADS_3

AHSAN ESHAKA


Petang sedang melepas ratusan penumpang di stasiun pemberhentian pertama, saat angin dari pintu kereta terbuka, cukup kencang sampai mampu menerpa ujung kerudung Ayumna, matanya yang bulat dan jernih, masih menatap ke luar jendela, tangannya lembut menyampir kain itu ke bahu yang ringkih, ringkih tidak selamanya tentang kurus, ringkih seolah dia baru saja memikul beban yang berat sekali.


Tubuhnya turun dan naik menarik nafas pelan nan anggun, lega pun lembut, seolah dia tidak ingin aku sampai melihat dirinya sedang menikmati serat-serat angin yang berhasil masuk.


Angin memang pengasih, selepas jam kerjaku tadi, dengan alasan “mencari angin” aku naik ke area bandara dan akhirnya bertemu gadis ini sedang repot dengan handphone di sebelah tangannya.


Aku tidak perlu berlama-lama untuk memastikan bahwa itu memang Ayumna, dia tidak sadar aku mendekat jadi sekalian saja aku melakukan beberapa cara agar bisa punya kesempatan berbicara dengannya.


Entah apa isi koper dan box hitam yang bertuliskan nama  Mima di atasnya, yang jelas aku diuntungkan karena mau tidak mau pemiliknya mengejarku juga, susah payah menyamai langkah yang sengaja aku besar-besarkan hingga kam tiba di dalam kereta, aku bilangnya menuju kota, padahal aku juga tidak tau akan ke mana. Kalau dia nekat teriak maling saja, habislah aku!


Satu fakta kutemukan tentang dia sore ini, Ayumna adalah perempuan tenang, yang tidak akan gegabah teriak-teriak di tempat umum.


Ayumna mungkin tidak menyadarinya, petang ini di gerbong yang sama dengan tempat kami bertemu pertama kali, kami bertemu lagi. Menyecap kasih bumi yang masih mengizinkan kami berlomba memahami.


Mungkin “pertama kali” bagiku dan gadis ini sedikit berbeda, karena pertama kali di mana aku bertemu dengannya sebagai penumpang di gerbongku, kala itu Ayumna bilang dia sudah pernah bertemu denganku sebelumnya, oh tidak hanya itu, bahkan masih ada malu bercampur konsentrat rindu bila mengingat kalimatnya.


Aku yakin sih dia mungkin  mengigau, tapi anehnya aku ingin setuju waktu dia bilang “Kamu Shaka,kan Suami masa depan saya!”.


Di mana kah pertemuan kami sebelum ini? bagaimanakah sosok Shaka yang dia kenal sebelum ini? sehingga bisa mengatakan demikian?


Aku tidak pernah bertemu dengan Ayumna sebelumnya, tapi aku pernah berkali-kali melihat fotonya, seseorang pernah menceritakan nama itu padaku. Tapi saat aku ingin mencari tau lebih jauh tentangnya, dia mendadak sama sekali tidak ingin bertemu.


Tidak mudah terhubung dengan gadis ini asal kalian tau, semua akun yang dicurigai milikku pasti habis diblokir olehnya. Setiap kali tak sengaja bertemu, dia pucat, lemas, terakhir bahkan aku diteriaki seolah dia sedang bertemu hantu. Ya, dia tadi bilang begitu.


Sore ini akhirnya aku tau, meski dia tidak mengaku waktu aku bilang sedang cemburu, diagnonis sementara mengakatakan bahwa dia sudah salah memahami potongan-potongan kejadian pertemuan kami. Manusia-manusia di zaman super cepat agak malas berpikir, atau bagaimana sih? Bisa begitu mudah termakan kemungkinan yang diciptakan sendiri.


Kalaupun tidak ingin bertanya langsung dengan orangnya, minimal bisa mencari segala informasi hanya dengan modal username saja kan?


Oh, aku lupa, itu sih aku!


Tapi harus kuakui, aku suka melihat gonjang-ganjing emosi Ayumna yang tertumpah untukku sore ini.


Pintu kereta tertutup setelah memastikan semua penumpang di pemberhentian pertama telah turun dengan selamat. Tinggal Ayumna dan aku, memenuhi gerbong ini dengan ragam pertanyaan satu sama lain. Semua harus terjawab sebelum kami tiba di pemberhentian akhir.


“Aku ketemu kamu sama Fara di butik malam itu,” katanya pelan.

__ADS_1


Tuhan, kalau aku telisik dari semua informasi tentangnya yang ada di dunia ini, Ayumna ini calon penerima beasiswa Oxofrd, terkenal sangat cerdas, kritis di kampusnya. Tapi… apa tadi? Aku dan Fara berada di satu butik yang sama, lalu menurut dia kami sudah pasti akan menikah?


Maaf Ay, tapi aku harus tertawa dulu sebentar, aku pikir kamu punya bukti yang cukup valid sehingga salah faham segini jauhnya.


“Lalu memangnya hanya aku dan Fara yang datang ke WO yang sama malam itu?”


“Saya nggak sememalukan itu! Kamu bilang pertunangan kamu hari Sabtu, hari yang sama dengan acara Fara, lalu ya… puncaknya waktu kamu benar-benar ada di rumah Fara malam itu, di atas panggung, berdiri sama Fara,” urainya pilu.


Aku tidak tau ini pilu karena kehilangan harapan akan suami masa depan, atau karena Fara adalah sahabatnya, atau karena keduanya?


Aku Tarik nafas lagi, ini kesedihan yang berlapis, pantas saja waktu aku keluar, kulihat dia menyusuri jalan dan amat berat menggeret langkahnya sendiri.


“Ayumna, si gadis bergaun biru malam itu,  pertama... itu rumah Farhan sahabatku, calon suami Fara. bukan rumahnya Fara. Acara mereka diadakan di kediaman  Farhan memang. Aku hadir di sana sebagai sahabatnya Farhan, aku mendampingi Farhan, aku yang jemput Fara juga. Aku gak tau kalau kamu lihat aku di depan sama Fara, mungkin itu waktu Farhan lagi ke belakang entah makan atau apa, aku nggak terlalu ingat.”


Lalu pandangannya membelok ke arahku lagi, yes, akhirnya!


“Rumah Ibuku tidak jauh dari sana, malam itu memang seharusnya juga acara pertunanganku, tapi sesuatu telah terjadi, calon mempelainya pergi,” uraiku pelan-pelan.


“Maaf.”


“No Worries, nggak semua kehilangan pasti bikin kita sedih kok. Tapi ya, Ibuku memang agak terpukul. Itulah kenapa aku  hanya foto sama Fara, karena lama kalau menunggu si Farhan keluar. Aku sempat memastikan ke Gilang waktu lihat kamu keluar, dia bilang iya itu Mima Ayumna, tapi dia nggak bisa ngejar kamu karena anaknya manggil-manggil.”


Ayumna masih memperhatikanku dengan seksama, tidak ingin melewatkan satu katapun.


“Aku bicara terlalu banyak?” Aku berusaha menginterupsi ceritaku sendiri.


“Lanjutin!” perintahnya tanpa bergerak sedikit jua, mengerikan juga diinterogasi oleh gadis ini.


“I… iya, itu yang kamu harus tau, Ay. Makannya sore itu aku bilang kalau aku nggak jadi ngundang kamu, kamu mau nggak ketemu sama aku? Niatnya sih mau ngajakin kondangan sama-sama.”


Semua yang terjadi hanya sesederhana itu, tatapan dan keseriusan Ayumna malah berlebihan kurasa untuk penjelasan remeh temehku.Eh ternyata tidak juga, air wajahnya mulai berubah, lebih cerah tapi lebih sulit diterjemah, lagi-lagi aku salah tingkah.


“Maafkan saya,” katanya tulus, “Sebagai teman, seharusnya juga saya tidak bersikap seperti ini.”


Loh loh loh, kok sebagai teman? ngga jadi suami masa depan aja? Dari potongan cerita, pertemuan demi pertemuan, sorot mata Mima dan ekspresinya yang serius, bingung, hingga akhirnya memberikan sedikit senyuman, aku cukup yakin bahwa kami tidak hanya sepasang kebetulan.


“Rumahku  juga nggak jauh dari lokasi pesta itu, Ay. Pas aku lihat si gadis dengan gaun biru jalan sendirian malam-malam kan bahaya banget, jadi aku pinjam lagi mobil si Farhan buat ngantarin kamu pulang.” Mima harus tau mobil putih gagah nan tampan itu milik Farhan, bukan punya abang ya, Dek!

__ADS_1


“Ternyata kamu sudah pesan taksi.” Aku mengakhiri uraian pannjang nan sungguh tidak penting ini.


Ayumna mengangguk, entah apa artinya.


“Mama cukup shock karena musibah gagal nikah itu, aku bawa Mama ke kampung Ayah.”


Itu juga alasan kenapa dua bulan ini aku absen dulu dari mencari keberadaan Ayumna. Aku menemani Mama dan mengusahakan Mama betah tinggal di sini, dan Mamaku sudah jauh lebih baik, bisa menerima semuanya.


“Kampung Ayah kamu?”


“Di sini, Mamaku orang timur, Almarhum ayahku orang minang asli.”


“Jadi kamu?”


“Tapi aku tidak diakui orang minang dong, karena dari darah ayahku, secara adat kesukuan untuk diakui orang minang harus dari darah Ibu.”


Dia mengangguk lagi, sepertinya tidak ingin mendebatku tentang ini. beberapa waktu, kami berdua sibuk mengolah informasi menjadi partikel terkecil yang bisa dimasukkan dan dipahami dalam kepala masing-masing.


Oren mulai lahir dari rahim cakrawala, petugas mengumumkan kereta akan berhenti sekali lagi. Aku berdiri untuk mengambil barang Ayumna yang kuletakkan di atas.


“Katanya mau ke kota.” Orangnya protes.


“Tadi aku bercanda, ini stasiun terdekat dengan rumah kamu kan?”


"Kamu tau dari?"


"Sudah aku bilang, begitu banyak dan mudah kalau cuma nyari tempat tinggal, Ay."


Tinggal tanya Fara aja apa susahnya kan?


“Tapi tadi katamu senja di kereta ini luar biasa?”


“Simpan dulu saja penasarannya,  masih ada lain kali kan untuk kita.”


Demi apapun, Ayumna menunduk. Aku pura-pura tidak melihat dengan tetap fokus menurunkan koper dan box hitamnya. Akhirnya dia berdiri, aku bergeser mempersilakannya menggeret koper menuju pintu keluar. Aku bisa melihat ada kelegaan dari langkahnya, beberapa kali dia menoleh ke belakang, beberapa kali juga aku ketahuan sedang memperhatikannya lekat dan dalam.


Kurang dari sepuluh meter, kami sudah tiba di pinggir jalan besar tempat angkutan umum lalu-lalang.

__ADS_1


__ADS_2