
...Bismillah, Halo semua. Alhamdulillah bisa update, tapi disarankan untuk tidak bolak balik cek update karena mungkin memang agak slow, Qadarullah ada tanggungjawab yang gabisa aku tinggal. Aku ga bisa janjikan apa-apa, Yang jelas tidak ada niat mengabaikan apalagi meninggalkan Shaka eh Mima dah pembaca semua maksudnya. Alhamdulillah Remedial sudah lulus kontrak dan sudah kontrak sama penerbit juga, novel ini akan selesai di sini, InsyaAllah. tapi mungkin versi cetaknya akan selesai lebih dahulu, jadi kuharap teman² masih sabar menikmati perjalanan waktu Mima dan teman-teman....
...*****************************************...
Dapur rumah Mima tidak pernah sepi dari aktivitas sejak Ramadhan pertama, penggorengan dan teman-temannya selalu beradu denting tepat setiap pukul tiga pagi, Mima sudah terjaga tapi belum beranjak dari kasur besarnya, karena dia tau Shaka akan memanggilnya setelah selesai masak atau sekedar menghangatkan makanan dari Tek Na.
Benar saja, tidak lama setelah aroma daun jeruk dari dendeng basah yang Shaka olah, terdengar ketukan pintu dan suara Shaka membangunkannya.
“Aku udah bangun.” Tanpa menunggu ketukan kedua, Mima membuka pintu sambil menguncir rambut pendeknya.
“Yuk sahur!”
Shaka duluan menuju dapur, meletakkan air nabez di meja untuknya dan Mima, lalu membereskan perkakas bekas memasak ke tempat pencuci piring.
Mima menenggak habis air rendaman kurma miliknya dan sebentar dia teringat sesuatu.
“Mau ke mana? belum makan kok,” kata Shaka, dia baru saja duduk untuk minum air miliknya.
“Ambil HP dulu!”
Shaka pikir, setelah kejadian Razia balap liar kemarin, Mima bisa berpikir ulang untuk melanjutkan hubungannya dengan Dheo, bukankah normalnya perempuan akan merasa sakit hati bekas ditinggalkan begitu saja di arena terlarang yang berujung diangkut ke kantor polisi dengan mobil patroli.
Sejak kejadian itu, Dheo memang tidak terlihat, keberadaanya seperti ditelan waktu, tidak berjejak, akun sosial medianya juga ditutup, entah karena malu atau ada alasan lain.
Kata pihak sekolah, Dheo ada masalah dan dibawa pulang ke pesisir, tempat keluarganya, tapi semalam sore tak sengaja Shaka mendengar Mima berbicara via telpon, waktu itu Shaka sedang menimba air di sumur samping rumah kebun, Mima baru selesai mandi dan berdiri di tengah jendelanya kamarnya yang terbuka lebar.
“Oh, susah ya jaringan di sana? Aku pikir kamu marah sama aku.” Shaka memasang telinganya agar bisa mendengar obrolan itu.
Ada kalimat-kalimat yang tidak terlalu jelas, sesekali gadis itu tertawa dan tersenyum salah tingkah kemudian kembali berbicara.
“Aku ngerti posisi kamu, Dhe. Lagian aku juga enggak kenapa-kenapa, dah jangan khawatir, salam buat Amak, ya.”
Namun tidak lama setelah mengucapkan itu terjadi jeda yang cukup lama, Shaka jadi bingung, Dheo ngomong apa lagi? Seiring dengan itu ekspresi Mima jadi berubah, yang tadinya secerah langit sore, mendadak seperti akan terjadi badai hebat.
“Iya, aku masih dengar.” Itu yang keluar dari mulut Mima kemudian.
__ADS_1
“Jadi itu alasan kamu pulang ke kampung?”
“Tapi kan kita masih sekolah? Perjodohan gimana maksud kamu?”
Mata Shaka sempat membola, ingin sekali rasanya menggelinding ke bawah jendela itu agar bisa mendengar lebih jelas dialog mereka.
“Ya sudah, aku pegang janji kamu, loh! Kamu cepet balik ke sini, ya. Kita bicara dan susun masa depan kita.”
Shaka sudah ingin masuk,tidak mau lagi mendengar kata-kata yang lebih menyakitkan dari ini, mengetahui Mima berharap sebegitu besar dan bodohnya kepada Dheo membuatnya semakin tidak berarti apa-apa di sana, bagaimana cara membangun kenangan dengan orang tidak merasakan kehadirannya?
Tapi lagi-lagi rasa sakit sembuh begitu saja begitu mengingat tugas-tugasnya, Shaka tidak bisa membalas apapun pada Mima.
Ini cuma masalah waktu, pasti Mima akan sadar bahwa Shaka tidak hanya tampan tapi juga menenangkan. Hehe. Apa gadis itu kepalanya harus dibentur benda keras dulu biar dia sadar, bahwa yang selalu meluangkan waktu akan menang daripada yang hanya datang ketika waktu luang?
Mima dengan ponselnya kembali duduk dan menikmati sahurnya pagi itu tanpa suara, ekspresinya yang gelisah begitu ketara, nasi yang hanya dua sendok makan sudah tiga puluh menit tidak juga selesai dia kunyah, tangan kanan menyuap dengan begitu lambat sementara tangan kiri mengetik pesan dengan kekuatan sebaliknya.
Shaka hanya mengamati dengan tatapan pasrah, orang kalau sudah jatuh cinta selain merusak akal juga bisa jadi bebal, bukan Cuma Mima, dirinya juga sama saja, tidak bisa membantah dan marah dengan apa yang Mima lakukan terhadapnya.
“Seenggaknya habiskan nasi itu, aku nahan kantuk luar biasa masakin buat sahur kita,” celetuk Shaka.
“Lihat deh!” katanya menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya, Shaka fokus melihat nama kontak di sudut atas.
Future Husband
“Cantik nggak?” tanya Mima, padahal Shaka belum sempat memperhatikan foto itu.
“Cantik lah, tapi kan, cantikan kamu.”
Mima meletakkan ponselnya dan memakan sisa nasi di piring, lalu menyudahi makannya subuh itu.
“Bener cantikan aku, kan?”
“Bener, terutama di mata aku.” Shaka sungguh-sungguh, tidak ada keraguan saat memuji Mima.
Mima tersipu malu, “Tapi bukan itu maksudku, em, dia Suli, Dheo bilang, orang tuanya dan orang tua Suli sudah mengikat janji untuk mereka.”
__ADS_1
Oh jadi itu yang menyebabkan kehadiran badai, sekarang bukan hanya Mima, Shaka juga merasakan dampaknya, Mima masih peduli dan sangat mengharapkan kehadiran Dheo bahkan menulis nama Dheo dengan harapan juga do’a doa yang tidak sembarang.
Future Husband
Itu artinya Mima acuh dengan perasaan Shaka, itu artinya Mima tidak tau kalau “Ay.” yang selalu Shaka sebut bukanlah untuk “Ayumna.” melainkan untuk “Ayang-Ayangku." Begitu dia bilang.
“Kamu masih sangat peduli padanya, aku pikir setelah dia meninggalkanmu kemarin subuh, eh ralat ... abis ngacir dan lupa sama kamu, kamu bisa berpikir lelaki seperti apa Dheo itu,” lirih Shaka hampir tidak terdengar.
“Semalam sore dia bilang, dia nggak mau dijodohkan dan mengajak aku komitmen serius setelah lulus sekolah, kita di sini sampai kapan, Shaka? Kenapa misi aku belum contreng juga? Udah hampir sepuluh hari kita puasa dan aku nggak pernah bolong.”
Ternyata Mima memang tidak mendengar ucapan Shaka tadi, dia malah membicarakan hal lain tentang Dheo, membuat Shaka semakin bernafsu ingin membenturkan kepala gadis itu ke meja makan, tentu saja itu hanya suara hatinya yang normal, sementara jiwa bucin akan selalu memaafkan.
Dia juga heran kenapa misi puasa Mima belum contreng, meski tidak sempurna, tapi Shaka ingat tiga hari yang lalu tanpa bayang-bayang Dheo, walau tidak sempurna, tapi Shaka bisa melihat Mima menjalankan ibadah yang satu ini dengan begitu tenang.
Sebelum sore saat Dheo menghubunginya bahkan Shaka mendengar Pak Fauzi memuji Mima saat membaca Al Qur’an di mushala. Jelas Mima tidak melakukan itu untuk menarik perhatian siapapun, karena Dheo tidak ada di sana.
“Masa sih belum contreng, Ay? coba ambil salinan misinya!”
Mima masih ingat terakhir kali melihat benda itu di atas sudut bacanya semalam, dia ingin berdiri untuk mengambilnya, tapi tiba-tiba lembaran itu seolah bercahaya di atas radio usang nenek di dapur itu.
“Kamu yang mindahin ke sini?” tanyanya pada Shaka, Shaka menaikkan bahunya, memang bukan dia.
“Nggak penting siapa yang mindahin, lihat contrengnya.”
Mima takjub, seolah ada cahaya yang bersinar terang menyilaukan mata dari sebuah tanda ceklis pada kertas usang itu, sungguh menyilaukan sampai Mima harus menutup mata menggunakan lengannya.
“Sudah dicontreng?” Selain terkejut, Mima juga merinding parah, dia tidak ingat amalannya yang mana yang diridhai dan tercatat sebagai pahala?
Dan mungkin ikhlas memang sesamar itu, saat dia tidak merasa berat, saat dia tidak menagih apa-apa dari sebuah peribadahan, mungkin di saat itu semua yang dia lakukan justru punya nilai.
“Alhamdulillah.” Shaka yakin pasti memang sudah contreng hanya saja mereka tidak menyadarinya.
Shaka melirik tanggalan di kalender kertas harian yang menempel di kulkas kemudian mencocokkan dengan tanggalan hijriah di ponselnya.
“Kita udah di Ramadhan ke 20, Ay!” serunya optimis.
__ADS_1