
POV Ahsan Eshaka
___________________
Angin berkejaran meniup debu-debu aspal saat aku mengayuh kencang sepeda yang kupinjam, sebelum membelok ke padang rumput yang menandakan sudah tiba di halaman depan rumahku. Ah padahal kemarin aku masih senang menyebut ini rumah ayah, walau hanya ada Mama di dalam sana.
Karena untukku dan Mama, rumah kami masih di Jakarta, kami ke sini dengan alasan aku terikat tugas negara. Namun beberapa jam yang lalu, aku memutuskan untuk menyebut ini rumahku juga. Ini ayah tinggalkan untukku dan Mama, ayah pandai memilihkan rumah yang berdekatan dengan Ayumna.
Mama langsung keluar mendengr decit rem sepeda yang sepertinya sudah lama tidak diberi pelumas ini. Di dalam kepalanya, pastilah mama ingin bertanya…
“Loh sepedad siapa? mobil kamu mana?” tanya wanita yang masih mengenakan mukena kuning muda kesayangannya, wajah cantiknya masih ada sisa wudhu, sepertinya baru selesai shalat isya.
“Ada di stasiun, Ma. Tadi lewat stasiun yang beda, terus mampir ke rumah Ayumna dipinjemin ini.” Aku mengamit tangannya, Mama memberi sedikit celah mempersilakanku masuk ke dalam rumah.
“Ayumna siapa ini, Mas?” Mama mengejarku yang berjalan menuju dapur rumah kami.
Dibanding dengan rumah di Jakarta, rumah Ayah ini jauh lebih sederhana. Aku pernah ingin merenovasi keseluruhan untuk Mama mengingat tanah ayah masih sangat luas, tapi Mama menolaknya. Aku mengerti, halaman dan bangunan memang kadang menyatu dengan serat-serat kenangan.
“Calon menantu Mama,” jawabku enteng setelah meneguk segelas air putih dingin dari kulkas, kesegarannya sampai ke kepala dan seperti menyalakan tombol on sehingga dengan begitu terang memproyeksikan senyuman Mima.
“Hei!” Mama menepuk pundakku keras, aku sampai mengusap-usapnya. Mama beneran kaget atas jawaban spontanku tadi.
Sudah dua bulan setelah tragedi batal bermenantu, aku tidak tau benar apakah Mama sudah benar-benar sembuh dari kehilangan? Karena perempuan bernama Tiara itu, menurut Mama adalah calon istri ideal untukku.
“Sakit, Ma,” keluhku manja.
“Kamu sih, jangan bercanda soal itu, Shaka.”
Mamaku yang cantik, maaf kalau bikin Mama kaget dan mengungkit sedikit trauma, tapi aku nggak lagi bercanda sih, Ma.
Tiara itu gadis cantik anak dari teman Mama, meski mengenalnya secara singkat, aku setuju-setuju saja untuk menikah dengannya. Dia berpendidikan, sopan dan pandai menyesuaikan diri dengan Ibu Ratuku. Aku pikir minimal aku tidak akan repot mengurusi konflik menantu-mertua kelak, konflik yang paling aku hindari dalam pernikahanku.
Tiara sangat sopan, sopan bukan hanya dalam artian sikap, tapi juga tutur kata, gesture tubuh dan pemikiran. Dia aktif di organisasi besar kewanitaan yang mewakili provinsi sumatera barat. Semacam putri Indonesia dari Sumatra barat, begitulah aku tidak terlalu mengerti.
Pemikirannya sangat terbuka, berbicara dengannya membuat pandanganku tentang dunia menjadi amat luas. Jadi aku pikir walaupun tidak cinta, paling tidak dia teman bicara yang baik seumur hidup kelak.
“Tiara?” tanya Mama ragu.
Benar kan?, ternyata masih gadis itu yang ada di hatinya.
Aku mendelik kemudian menatap lurus ke arah wanita berusia hampir 50 tahunan itu.
“Mama.” Aku tekan intonasiku untuk mengingatkan Mama. Yang batal menikah aku, tapi yang gagal move on sebenarnya Mama.
Kalau aku punya alasan spesifik untuk membatalkan pernikahan, mungkin Mama nggak akan seberat ini menerima kenyataanya. Atau kalau si Tiara yang memang nggak sopan dan menolakku terang-terangan, mungkin akan lebih cepat penyembuhannya.
Kegagalan pernikahan kami waktu itu sebenarnya karena masalah adat, Tiara yang gadis minang asli yang walaupun kuliah di rantau tapi keluarganya masih bersuku dan menjalankan kesukuan cukup kental. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk menentang.
Ayah dan Ibunya juga sudah sangat menerimaku, tapi menjelang hari pertunangan kami, Paman Tiara, atau yang dia panggil (Ninik Mamak) belum kunjung memberikan restu, aku tidak terlalu mengerti alur restu ini sebenarnya, tapi aku cukup menghargai keputusan keluarga mereka dan tidak menggugat apapun juga, walau pembatalan terjadi setelah semua dipersiapkan dengan sempurna.
Semua batal, tapi mental mama yang efeknya paling fatal.
“Mama mau aku segera menikah atau mau aku menikah dengan Tiara?”
__ADS_1
“Sudah… sudah, jangan diungkit-ungkit lagi, Mama maunya kamu senang, kamu bahagia menjalani hidup, hanya itu. Mama pengen lihat kamu bahagia, tapi Mama bisa nggak ya?”
Mulai deh, belakangan Mama sering banget bilang takut nggak bisa melihat aku menikah, memiliki keluarga bahagia. Aku berdiri di belakang Mama dan memeluknya erat.
“Gimana aku nggak bahagia kalau setiap hari dilimpahkan do’a-do’a dari Mama. Selain banyak doakan aku.” Aku membenamkan kepalaku di pundak Mama.
“Aku mandi dulu ya, Ma, abis shalat aku ke kamar Mama.”
Mama mengernyit dan memegang pundakku, memberi tatapan curiga.
“Aku harus bersih, tampan dan gagah dulu kan? biar lebih serius memohon restunya.”
“Shaka…” Mama mendelik, sepertinya gelagatku terbaca, kalau sudah begini, mana mau perempuan manis dan ayu ini sabar menunggu lebih lama.
***
Aku sudah selesai dengan urusanku, seperti yang kami janjikan tadi, aku langsung menuju ke kamar Mama. Kulihat Mama sedang serius di depan lemari besar yang terbuka. Banyak lipatan kain dan album foto di lantai.
“Mama udah makan?” tanyaku mengambil posisi di sebelahnya dan mengangkat satu album foto klasik, dokumentasi keluarga milik Ayah dan Mama.
“Sudah, Mas, tadi lauknya sudah habis, kalau kamu mau makan, nanti beli pecel ayam aja di simpang, mama nitip sate kerang ya.” sepertinya Mama benar-benar ingin mengenang kekasihnya, sate kerang adalah makanan kesukaan Ayah.
“Mama lagi ngapain? udah malam, beres-beresnya besok lagi, ya.”
“Lagi sortir ini,” Beliau menunjuk ke tumpukan pakaian yang sudah dipisahkan. “Kayanya baju-baju Ayah ini sudah cocok sama kamu, beberapa lagi mau mama kasi ke guru-guru ngaji saja, biar Ayah dapat kiriman pahala dari amal mereka.”
Aku mengambil tumpukan lipatan yang Mama pisahkan, lalu tersenyum. Bertahun-tahun sejak kepergian Ayah, baru sekarang Mama mau membuka-buka lemari ini lagi.
“Mas Shaka!” Mama menepuk pahaku pelan, aku yang sedang membuka album foto Ayah, seketika berhenti untuk merespon panggilannya.
“Lihat di album foto yang kamu pegang itu, tak banyak kebersamaan Mama dan Ayah yang bisa kamu lihat kan?”
Aku sudah berada di tengah-tengah album, setelah beberapa foto pernikahan, selebihnya foto Ayah di sekolah bersama siswanya dan foto Mama bersamaku di Jakarta. Hanya ada beberapa lembar foto kami bertiga, bahkan saat aku wisuda, hanya ada foto aku dan Mama.
“Waktu itu entah Mama pikir kami bisa bersama selama-lamanya, mama selalu berpikir kami akan punya waktu cadangan setelah sama-sama berjuang di bidang masing-masing.”
“Mama.”
“Papa orang baik, Papa selalu menasihati Mama untuk pulang tanpa pernah memaksa, tapi Mama …”
“Ma, udah dong. Aku tau Mama kangen, tapi nggak boleh sedih berlarut-larut.”
Mama mengangguk dan tersenyum tipis.
“Kamu mau minta restu Mama kan?”
“Nggak jadi, Ma, nanti aja.” Sungguh tidak tepat membicarakan perasaanku yang berbunga-bunga diatas rasa rindu Mama.
“Mama restui, siapapun pilihanmu, Mas. Pesan Mama, kamu dan siapapun istrimu nanti, nggak cukup menikah saja, kalian harus bersama, tinggal bersama, hidup bersama, kamu harus bisa membawa istrimu untuk berada di sisimu apapun yang terjadi. Kalian harus punya banyak kenangan indah bersama.”
Aku terpaksa menjeda nasihat Mama karena tidak tahan ingin bertanya saat melihat foto Ayah dan siswa di kelasnya.
“Liat aja di belakang foto itu biasanya selalu Ayah tulis keterangan dan nama-namanya, udah sana, nanti keburu tutup pecel ayamnya, jangan lupa sate kerang Mama.”
__ADS_1
Sebelum pergi aku sempat membidik lembar foto itu dengan kamera ponselku.
***
Aku memarkirkan motor dan masuk ke dalam tenda pecal lele dengan langkah tergesa, padahal dari rumah tadi cukup cerah, tiba-tiba hujan deras ketika hampir tiba.
Aku terlonjak karena karena mendengar suara gadis yang sedang berdiri di balik tenda, ternyata tubuh kami hampir bertabrakan.
“Aaa!” pekiknya.
Sekarang bukan hanya dia, aku juga sama kagetnya.
“Ayumna!” kataku setelah menyadari aku hampir saja membuatnya terjatuh, “Maaf, aku buru-buru takut diguyur hujan.”
Dia tersenyum menerima permintaan maafku. Baru aku ingat, warung pecel lele ini memang lebih dekat ke rumah Ayumna daripada rumahku.
“Kamu ngapain di sini?” Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku, hati kalau sudah berdebar, memang tidak bisa mengirim sinyal yang benar.
“Beli pecel lele,” dia menunjuk tentangan yang ada di tangannya.
“Kamu sendirian?” pertanyaan bodoh ke dua, Astaga Shaka!
Mima mengangguk, anehnya walaupun pertanyaanku terdengar konyol tetap dijawab dengan normal olehnya.
“Jalan kaki?”
“Iya, kan sepeda saya dipinjam sama kamu. Tadi pas ke sini nggak hujan padahal, jadi nggak bawa payung.”
“Sebentar ya, aku pesan dulu.”
Setelah menyebutkan pesananku, aku berniat meninggalkannya, mengantar Mima pulang ke rumahnya dulu, baru nanti datang lagi mengambil pesananku.
“Maaf ya, gara-gara aku pinjam sepedanya, kamu jadi repot.”
“Enggak, memang pengen jalan kaki aja, kan deket. Tadi juga Tek Na suruh pakai motornya, tapi aku emang pengen jalan kaki aja.”
“Bentar ya, Aku ambil mantel!”
“Mau ngapain?”
“Ngantar kamu pulang.”
Ayumna menggeleng, aku ditolak?
Lama Mima tampak menatap dirinya sendiri, lalu mendekat ke sampingku dan mengatakan sesuatu.
“Nanti ketahuan guru saya.”
“Ha?”
“Saya masih merasa aneh naik motor berdua sama laki-laki,” Ayumna melipat tangannya di balik kerudung yang dia pakai, lalu menatap lurus ke depan. “Dulu sering banget ketangkap naik motor berduaan dan bikin nilai Fiqih saya C sampai sekarang. Guru saya udah nggak ada, nilai C saya sudah ngga bisa diganti, tapi setidaknya nilai kehidupan saya jangan sampai remedial lagi.”
“Yaudah, besok kamu siap-siap ya, saya kembaliin sepeda kamu.”
__ADS_1
Ayumna pasti bingung, apa yang harus dipersiapkan untuk orang yang datang mengembalikan sepeda?