REMEDIAL

REMEDIAL
Halaman Rapor Terakhir


__ADS_3

Mima sedang bercermin, menyesuaikan ciput dengan pashmina hitam yang dia kenakan, kemudian menyematkan jarum kecil di bagian atas kepala agar kain licin itu tidak mudah bergeser, memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang keluar, lalu dia mematikan ponsel yang sedang menayangkan tutorial cara memakai pashmina.


Angin menerpa lembut dari celah-celah jendela kamarnya, Mima mendorong jendela kayu itu agar terbuka, daun-daun kering beterbangan seperti kenangan tentang Shaka yang juga berserakan di kepala Mima setelah satu pekan sendiri dalam dimensi masa yang masih misteri di kepalanya.


"Enak banget jadi dia, misinya cuma bikin kenangan indah. Seindah apapun ... yang namanya kenangan kanya indah untuk dikenang doang," omel Mima dengan bayangan dirinya di cermin.


Pasmhmina yang menjulur sampai ke dada terbang menutupi wajahnya, untuk kali pertama dia menggunakan penutup kepala ini di luar jam sekolah. Mengingat kejadian malam itu bersama Dheo, Mima tau selama ini dia sama sekali tidak menjaga dirinya dari pandangan laki-laki.


Bukan hanya itu, beberapa waktu dia seakan diperlihatkan cuplikan hidupnya yang penuh kemunafikan, terlihat anggun, diam dan mahal dari luar, padahal menyimpan banyak hasrat nakal yang tidak ingin diketahui banyak orang.


Menjadi cemerlang untuk diri sendiri dan tidak punya manfaat sama sekali, bahkan untuk orang-orang yang katanya dia sayangi. Logika bagai tuhan tapi nyatanya cinta yang dia definisikan sendiri membuat semuanya mati, tak terkecuali hati.


Ya Allah, ini Cuma secuil dari semua dosa-dosaku yang Engkau suruh aku  lihat sendiri, masih banyak yang lain. Aku nggak sanggup kalau harus menyaksikannya, bahkan aku pernah meragukan Eksistensi-Mu selama aku hidup.


Ditutupnya semua jendela dan pintu rumah, Mima melangkah menuju pemakaman keluarga yang tidak jauh dari halaman rumahnya. Hari ini dia mau bertakziah mengunjungi nenek.


***


Sejak malam itu, Mima menghindari Dheo dan segala hal tentangnya. Mengingat lelaki itu membuatnya merasa menjadi perempuan paling menyedihkan. Di sekolah Mima berusaha agar Dheo tidak punya kesempatan untuk berbicara dengannya.


Dheo juga bersikap seolah malam itu tidak pernah terjadi, mendiamkan Mima, tidak menjelaskan apapun bahkan tidak menyapa Mima sama sekali. Mungkin dia marah karena malam itu Mima kabur dan dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari Mima.


“Mima.” Suara berat itu memanggil sambil mencengkram pergelangan tangan Mima di parkiran sepeda. Mima memberikan tatapan tidak suka ke arah sentuhan itu.


“Kita putus!” tukasnya.


Mima terkejut, harusnya dia yang mengucapkan itu, tapi bagi Mima kata putus terlalu sederhana untuk membalas sikap Dheo kepadanya.


Tunggu ... tunggu, harusnya itu dialog aku, bukan?


“Kenapa?” Mima sudah tau alasannya, tapi dia jadi tertantang untuk mendengarnya agar bisa semakin ikhlas dan senang hati melepaskan ambisinya ini.


“Ya nggak ada, putus aja!”


“Oh, Oke!” jawab Mima enteng dan menarik pergelangan tangannya, baginya sebuah simbol menarik semua ucapan dan sikap yang pernah dia berikan untuk lelaki ini,kemudia Mima menegakkan stang dan berkayuh menjauh dari hadapan Dheo.

__ADS_1


Akhirnya ambisi besar itu berakhir di halaman parkir.


***


Lelah tapi dia begitu lega, ada satu beban yang lepas dari kepala. Beban berat yang mengekang langkahnya memperbaiki nilai, terutama nilai kehidupan.


Mima rebah di atas kasur yang empuk, air matanya menetes tanpa diminta, tapi dia hampir tertawa. Ya, apalagi kalau bukan menertawakan Kesia-siaannya bertahun-tahun hidup mengandalkan logika tapi justru patah hanya karena seonggok rasa yang dia kira itu cinta.


“Terimakasih, Mima. Terimakasih kamu mau berhenti jadi budak cinta sebelum semuanya terlambat lagi,” ucap Mima pada dirinya sendiri.


“Bener nggak sih kalimat Shaka tentang suami masa depan itu? Katanya aku harus pulang tepat watu. Kapan waktunya? Aku harus apa lagi setelah ini?”


Selembar kertas jatuh ke menutupi wajahnya, salinan misi yang sebenarnya selama ini tidak pernah dia perhatikan. Baru dia sadar bahwa hanya menemukan kertas itu saat misi demi misi terselesaikan.


Langit di luar jendela berubah warna namun Mima mengabaikannya, kini dia duduk, gemetar tangannya memegang kertas usang itu, tiap-tiap contreng berwarna putih dan bersinar seolah ditulis dengan tinta metalik.


Kalau biasanya ada Shaka yang akan menjelaskan kejadian ini, hari ini dia coba menterjemahkan sendiri.


Tidak ada kolom misi yang belum terisi, semua sudah tercontreng terang, Mima meraba setiap hurufnya dengan seksama, benarkah dia sudah menyelesaikan semuanya?


Sekarang dia memulas layar ponsel untuk mengakses tanggalan di sana. Dia sudah berada di bulan Juli 2014, Puzzle ingatan mulai tersusun dengan sendirinya.


“Ini … ini artinya gimana, sih? Aku harus kirim ke siapa? Harus tanya siapa? duh, kenapa aku nggak ingat buat save kontak Shaka, ya?” sesalnya.


“Kenapa harus Juni? kenapa lompatnya di tanggal ini pasti ada sebabnya.” Mima mengurut kening.


Sebuah ingatan membuatnya refleks berdiri, mencari sesuatu di laci meja baca, dia mengambil dokumen bersampul hijau muda dan langsung melirik nilai yang menjadi kunci dia bisa ada di sini.


“Juni 2014 Mima sudah lulus sekolah,  berarti harusnya aku sudah terima ijazah dan … nilai raporku!” Mima membuka buku laporan itu dan mendapati halaman terakhir.


“Masih C.” ucapnya pasrah, terduduk dan bersandar di dinding kamar, dia bingung dan takut akan terjebak selamanya di masa lalu.


“Ya Allah, Aku harus apa lagi?,” ucapnya dalam dan tulus sambil memeluk rapor itu.


***

__ADS_1


“Kenapa hening banget?” Mima mengitari pandangan ke sekeliling lapangan upacara, tidak ada aktivitas seperti biasanya, padahal hari ini tidak sedang libur, tadi di jalanan masih banyak siswa dengan seragam sekolah berlalu lalang.


Seorang petugas kebersihan terburu-buru menutup tempat sampah dan setengah berlari, Mima juga berlari mengejarnya untuk menanyakan kenapa sekolah sangat sepi.


“Pak … Pak!” panggil Mima dari jarak sekitar tiga Langkah, petugas itu berhenti.


Dari jarak dekat Mima melihat wajah petugas merah dan sembab.


“Maaf, ini kenapa sekolah kita sepi ya? kelas sepuluh dan sebelas masih sekolah kan?” tanya Mima tanpa jeda.


“Semua orang ke rumah duka, Pak Fauzi meninggal bada subuh tadi.” Petugas itu berlalu meninggalkan Mima yang masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


“Inalillahiwaninnailaihirajiun.”


Mima baru ingat sejak Pak Fauzi bilang,


“Biarkan nilai C itu jadi kenangan kalau kamu melihatnya suatu hari nanti. Kelak saat kamu melihatnya, semoga nilai ibadah dan hidupmu sudah jauh lebih baik.”


Dan setelah itu Mima tidak pernah bertemu dengan beliau lagi sampai Mima berangkat ke Jakarta, dia tidak pernah peduli dengan guru itu maupun nilai yang diberikannya, bagi Mima dulu, satu nilai C tidak masalah berada diantara semua nilai A di rapornya, ijazah dan transkip nilainya.


Namun hari ini lututnya lemas seperti tidak ditopang tulang belulang. Mima tidak tau, apakah dia terpukul karena kehilangan gurunya itu, atau justru karena kepergian itu sebelum Pak Fauzi memperbaiki nilai Fiqihnya.


“Ini lompat waktunya apa nggak terlalu jauh, ya harusnya kan sebelum ujian, atau … atau … ya atau sebelum Pak Fauzi … kalau begini aku minta remedial ke siapa lagi?”


Saat ini apakah sopan jika dia bertanya, “Terus nilai saya, gimana?”


Siapa yang harus dia temui sekarang? Apakah dia benar-benar akan terkunci di masa ini? Semua salinan misi sudah sempurna, harusnya Mima bisa membawa nilai A kembali ke masa depan, melanjutkan pendidikan dan … bertemu Shaka.


Meski ambisi tentang Oxford juga entah sejak kapan sudah tidak lagi menarik.


“Semangat loh, ya. Remedialnya harus tepat waktu.”


Kalimat itu terngiang lagi, rapor kelas dua belas sudah diterima, Mima sudah bukan siswa lagi di sini, semua nilai sudah tercetak rapi, ditandatangani, dan … tidak ada yang bisa diremedial lagi, pun yang berhak memperbaiki angka C itu telah pergi.


Mendung seketika melingkupi tubuh kurus Mima yang sedang berdiri di tengah lapangan upacara, tanpa menunggu persetujuan siapapun, hujan turun, Mima tidak ingin menepi, dia menangis di sana.

__ADS_1


“Oh Allah, aku sadar bahwa masa lalu memang tidak bisa diperbaiki, tinta takdir yang sudah tertulis tidak bisa diganti walau satu huruf, sekarang aku sadar tujuan remedial ini bukan perkara mengganti C menjadi A, tapi  ini sudah bukan tentang nilai ya Allah, aku cuma ingin jadi hamba, aku ke sini untuk melihat betapa buruknya imanku, Aku tak mungkin memperbaiki masa lalu, beri aku kesempatan untuk memulai masa depan dengan nilai yang aku dapat di sini.


Sekujur tubuh Mima basah, termasuk rapor hijau yang dia peluk. Petir menyala dengan gelegarnya, bersahutan di langit, tubuh kurusnya lunglai, dari hidungnya keluar darah segar. Mima tidak sanggup menggeret kakinya untuk melangkah dari sana, dia tumbang dan merasa seperti dunianya telah … berakhir.


__ADS_2