
Tadi malam Mima sudah berusaha menolak ajakan Tek Na yang mengajaknya serta ke rumah kerabat mereka yang berada di Tanah Datar, jauh dan ramai, Mima tidak suka.
Namun Tek Na sedikit memaksa, berat hati, Mima akhirnya bersedia ikut Eteknya dengan catatan mereka akan Kembali ke Pariaman pada lebaran ke tiga, Shaka tentu ikut bersama mereka.
Perjalanan hampir empat jam terbayar saat mereka tiba di jalan utama Desa Pariangan, Mima tersihir dengan pesona alam bagai permadani hijau, membentang memanjakan matanya.
Rumah-rumah Gadang khas Sumatra Barat yang berada di wilayah perkampungan Nagari Pariangan juga tidak biasa. Meski padat, rumah penduduk yang dibangun bertingkat-tingkat mengikuti kontur atau pola dari lereng gunung, terlihat rapi dan sedap dipandang mata. Meski masih sama-sama di Sumatera Barat, Pariangan sungguh memiliki pesona berbeda.
Setelah jam makan siang, Mima tidak ingin melewatkan kesempatan menyusuri jalan-jalan desa yang tidak terlalu ramai, selain karena dia menghindari padatnya rumah kerabat tadi.
Setiap beberapa langkah, selalu terlihat bangunan dengan atap gonjong yang runcing (sebutan atap rumah gadang). Meskipun terlihat tua, rumah-rumah tersebut masih terlihat apik dan khas karena motif-motif minang. mengikuti pola lereng Gunung Marapi, sehingga terdapat ratusan anak tangga yang tersusun rapi dan indah dipandang mata.
“Nggak salah kalau dapat julukan desa terindah di dunia, nyesal kalau kamu nggak ikut kan?” Shaka ikut berdecak kagum mengamati setiap sisi gradasi alam yang memukau.
“Tidak ada satupun yang tidak indah di sini.” Mima ikut mengagumi.
“Sayang istana pagaruyuang tutup, ya.”Sebelum tiba di Pariangan, mereka melewati daerah Batu Sangkar, biasanya Istana Pagaruyuang dibuka untuk wisatawan, tapi mungkin karena lebaran pertama jadi ditutup sementara.
“Fotoin aku di sini, dong!” pinta Mima, dia berdiri di salah satu sisi bukit yang menampakkan gunung, sungai, panorama sawah sengkedan yang menghijau, kebun jagung, dan lainnya yang tersusun apik.
"Berdua, yuk!” ajak Shaka.
“Boleh, pakai HP kamu!”
“Kamu nggak mau menyimpan kenangan kita, gitu?”
“No!” tukas Mima tegas, masih terngiang kalimat Dheo yang melarangnya terlau dekat dengan Shaka, kalau sampai Dheo melihat foto mereka berdua, bagi Mima itu sama saja cari perkara.
“Hem, yaudah.”
Mereka berfoto menggunakan ponsel Shaka seperti saat mereka sedang berada di lembah Anai beberapa waktu yang lalu, Pariangan tidak kalah indah, juga berhasil mendokumentasikan kenangan indah, meski hanya Shaka yang akan menyimpannya.
“Bagus fotonya!” ucap Mima saat melihat hasil tangkapan mereka di HP Shaka.
“Aku kirim ke kamu!”
“Eh, jangan! Aku kan bisa ke sini kapanpun, ini daerahku, sedangkan kamu entah kapan kan?, makannya biarkan fotonya di HP kamu aja.”
Wajah Shaka berubah, diam mengamati Mima yang sumringah.
“Kamu benar, Mim.”
“Lah, kamu marah?”
__ADS_1
Shaka menggeleng, matanya memilih memandang ke arah lain.
“Kalau kamu udah manggil aku Mima, biasanya aku ada salah. Yaudah Maaf, Aku khilaf.”
“Kamu cuma punya seratus khilaf, aku masih punya seribu Maaf.”
“Makasih, Mas Kondektur!”
Menjelang magrib udara semakin dingin, obrolan Mima dan Shakapun membeku, tidak ada pembicaraan yang berarti sampai mereka Kembali ke Pariaman saat lebaran ke tiga.
***
Sejak tiba di rumah, Mima sudah Kembali bersiap-siap untuk berangkat ke stasiun, tentu saja karena sudah membuat janji temu bersama pacarnya di sana. Tadi subuh, Dheo bilang dari Pasaman akan langsung menuju ke Padang pagi-pagi sekali.
Mima memeriksa kembali dirinya dan barang yang akan dia bawa, setelah dirasa cukup, saatnya menutup jendela. Dilihatnya Shaka sedang menyiram tanaman pot setelah dua hari ditinggal liburan. Shaka dengan telaten memberi kesegaran untuk tanaman-tanaman itu dengan selang.
“Shaka, aku mau ke Padang, tolong bilangin ke Tek Na, ya.”
Shaka mendekat ke bawah jendela, posisi jendela sekitar tiga puluh senti dari kepala Shaka.
“Apa?” katanya memastikan.
“Aku, mau ke Padang, nanti aku pulang dengan kereta terakhir, tolong bilang ya kalau Tek Na nanyain.”
“Udah janji dari kemarin, lagian, sore aku pulang, kita janjian di Padang, dia abis dari kampung bela-belain langsung mau ketemu aku, kan kasian.”
Mima tidak pernah menunggu persetujuan Shaka untuk keinginanya, dia langsung mentup jendela kamar dan meninggalkan Shaka. Di pintu depan, Shaka masih menatap gadis yang bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya itu.
Sadar Shaka memperhatikannya, Mima menoleh sebentar.
“Bye!” Kalau dia mengucapkan terlalu banyak kata, bisa-bisa Shaka punya celah untuk menguntit atau melarangnya pergi dengan dalih yang memberatkan.
***
“Sayang!” pekik Dheo setelah turun dari mobil travel yang mengantarnya, berhenti tepat di depan Gedung CGV Raya Padang. Mima memberikan senyum menyambut pacarnya, meski sudah tegak hampir dua jam lamanya.
“Kita langsung naik ke atas aja? Mau nonton kan?” ajak Dheo.
“Em, makan siang dulu aja kali, ya, aku laper.”
Mima memperhatikan Dheo tampak sedang mempertimbangkan sesuatu, hati kecilnya langsung mengerti, Dheo Dezola masih anak MA, tidak mungkin punya uang yang cukup untuk makan di tempat ini, mengajak Mima menonton saja mungkin mengorbankan uang THRnya.
“Aku yang traktir, THRku banyak nih!”
__ADS_1
Dheo setuju, mungkin karena dirinyaa juga lapar.
***
Setelah makan, mereka mengantri di loket, Dheo yang pilih, film romansa yang sudah dia tonton sebelumnya, film yang baginya memboskankan dan film yang Mima tidak terlalu suka. Kuncinya adalah film yang tidak banyak peminatnya, benar saja setelah masuk, suasana gedung cukup sepi. Seat paling sudut atas adalah yang dia pilih.
“Situ, yuk!" Dheo menemukan spot strategis menurut nalurinya.
Mima menurut saat tangannya sudah sepenuhnya digenggam Dheo, dituntun untuk duduk di tempat yang jauh dari jangkauan mata penonton lain.
Mima berusaha mengamati tayangan di layar besar, Dheo tau Mima tidak tertarik dengan film yang dia pilih, tapi memang itu tujuannya.
Mima sadar, saat Dheo meraih telapak tangannya dan dipindahkan ke paha Dheo, lelaki itu kemudian merangkul pundak Mima dan merapatkan posisi mereka.
"Dingin, Sayang?" tanya Dheo, matanya seolah fokus ke depan.
Mima mengangguk meski tau itu hanya basa-basi Dheo saja.
"Kamu suka nonton film percintaan ya?" tanya Mima.
"Kalau udah ke sini sama kamu, aku udah nggak mikirin filmnya." Dheo menyentuh dagu Mima, satu kecupan mendarat dengan mudah.
“Dhe,” lirih Mima saat Dheo dengan lembut menyentuh bibirnya yang basah, Mima tau ke mana pergerakan itu akan bermuara, yang dia tidak tau adalah ... sejak kapan dia mulai terbiasa dan bisa mengimbangi pergerakan ini? Rasanya terlalu hangat untuk dihindari.
Aktivitas itu terjadi hampir tanpa jeda, mereka mengambil nafas sekedarnya.
"Dhe, aku ngga suka filemnya," bisik Mima berbasa-basi.
"Iya aku tau, makannya aku pilih film itu biar kamu nggak fokus ke depan pas lagi seru-serunya begini." Kemudian Dheo kemballi menarik leher Mima ke wajahnya.
Begitu seterusnya sampai layar depan menampilkan daftar nama pemain dan kru, pertanda film sudah berakhir. Ciumann itu terlepas, Dheo melemparkan senyumnya sambil merapikan kembali rambut Mima. Dengan nafas memburu Mima menatap wajah itu dan semakin tidak ingin melepaskannya.
“Sayang,” bisik Dheo sambil menyelipkan rambut Mima ke belakang.
“Besok aja ya kita pulang,” pinta Dheo dengan suaranya yang berat.
“Ke … kenapa?” tanya Mima gugup.
“Kamu mau, kan?” Dheo mengarahkan tangan Mima ke arah terlarang, Mima terkejut membulatkan mata.
Gila! Begitu kira-kira suara hatinya.
“Kita akan sama-sama sampai masa depan, kan?” rayu Dheo lagi.
__ADS_1
Mima bergeming, kalimat itu benar-benar kata kunci yang bisa menembus gembok hatinya, kalau sudah mendapatkan Dheo untuk masa depannya, maka Mima tidak perlu nilai lain lagi.