
“Aku nggak minta kamu membenci dia, Ayumna. Aku cuma mau kamu berhenti menyakiti diri kamu sendiri.” Shaka menahan ransel hitam Mima agar tidak nekat ikut Dheo party ke Padang.
“Ini sama sekali bukan urusan kamu, aku udah berusaha memperbaiki hidupku, aku tau esensi remedial itu untuk merombak ulang kehidupan masa laluku yang mati. Tapi lihat dong, usaha aku sia-sia, udah satu semester nilai aku masih C juga.”
Mima kekeh membereskan keperluannya, setelah dari Padang dia akan mengajak Dheo terbang ke Jakarta. Entah bagaimana caranya nanti. penolakan Pak Fauzi untuk remedial membuatnya merasa benar-benar tidak berguna.
“Biar basah sekalian,” ketusnya kesal. Untuk Mima ini tidak adil, Pak Fauzi sangat berlebihan.
“Aku tau, tapi tidak dengan ikut Dheo lagi, yang kemarin belum cukup kah?”
Mima terdiam, aktifitasnya langsung serentak berhenti, apa yang Shaka pikirkan tentang yang terjadi kemarin?
“Maksud kamu yang kemarin?”
“Kalian menghabiskan malam bersama di Padang,” katanya getir, membuang pandangan, tak ingin menatap netra bening di seberangnya, Shaka terlihat seperti menahan sakit. Benar saja, tidak lama setelahnya dia memegang kepala, lebib tepatnya meremas, darah segar mengalir dari hidungnya.
“Kamu berpikir terlalu buruk sehingga pikiran busuk itu menghantam dirimu sendiri, llihat kan kamu sakit karena berpikir terlalu keras.” Mima mengeluarkan sapu tangan dari tas dan memberikannya pada Shaka.
Shaka memaksakan diri untuk tegak dan berbaring di atas busa kursi kayu yang ada di ruang tamu, Mima mengambilkan air putih dan stok obat rasa jeruk dari dalam tasnya.
“Minum dulu,” katanya menyodorkan gelas air putih, kulit wajah Shaka yang sedikit gelap sekarang terlihat pucat, bahkan berpendar di mata Mima, Mima menggusal matanya, padahal dia tidak rabun sama sekali.
“Ini obatnya.” Mima mengeluarkan dua tablet jeruk dari bungkusannya.
“Nggak ada obat lain, Shaka!” katanya saat melihat Shaka yang tampak enggan menerima obat itu. Terlihat sangat menyakitkan sampai Shaka tidak bisa mengucapkan apapun untuk beberapa detik, dia hanya memegang kepalanya dan meremas-meras rambutnya.
Mima sudah tau, kalau bicara terlalu banyak dengan Shaka saat mau berangkat, dia pasti terancam tidak jadi pergi, lihat saja, siapa yang tega meninggalkannya dalam keadaan tidak berdaya seperti saat ini.
“Aku nggak melakukan hal seperti yang ada dalam pikiran kamu.” Mima berharap semoga dengan pernyataan itu Shaka bisa tenang, tapi tampaknya kondektur itu sedang tidak bisa mencerna dengan baik kalimat Mima.
__ADS_1
***
Siang hari beberapa waktu yang lalu saat layar bioskop sudah Kembali menayangkan iklan, segelintir orang keluar dari ruangan, Mima dan Dheo juga, dengan pakaian yang sedikit berantakan.
Nafas Dheo jelas masih memburu, Mima sendiri kosong, tidak tau harus bersikap apa. Malu, dia sedang dipertontonkan masa lalunya yang memang amat buruk, hidupnya selama ini memang tidak pernah 'hidup', tapi dia belum pernah berzina, dan dia tidak pernah berpikir untuk melakukannya.
Namun tadi itu rasa apa? Kenapa dia tidak bisa menghindar? Kosong dan tidak memikirkan cara-cara untuk memukul, atau minimal lari dari sana.
“Sayang, kamu beneran nggak penasaran?” tanya Dheo setengah menggoda saat mereka mengitari tepi laut kota Padang yang lenggang.
“Kesannya aku murahan banget ya, Dhe?”Sebenarnya dia menahan malu yang luar biasa.
“Aku nggak berpikir seperti itu. Menurut aku kamu tetap perempuan baik-baik, ya … yang tadi itu mungkin sisi lain. Tapi aku senang,” ucapnya mengedipkan mata.
“Apa dengan melakukan itu kita akan tetap sama-sama? Sampai masa depan nanti, Dhe?” Pertanyaan bodoh keluar begitu saja.
Aku udah, Dhe. Kamu aja yang belum.
“Kenapa sih sejak awal kita dekat, kamu mengkhawatirkan masa depan terus? Seperti kamu tau kalau di masa depan aku akan ninggalin kamu.” Dheo menggenggam tangan Mima, tatapannya ke arah ombak yang tidak hanya menghantam tebing cukup keras, namun juga menghantam ucapannya sendiri.
Si gadis dengan over all dan sepatu kets hitam masih menimbang-nimbang berapa persen kebenaran yang ada dalam kalimat itu? Cukupkah untuk dia bawa mengubah masa depan saat dia kembali nanti?
“Sulit buat aku mengenal orang baru, apalagi membuka hati. Aku nyaman dengan hubungan kita sekarang, jelas aku pengen seperti ini sampai masa depan.”
Dheo menahan tangan Mima, sehingga gadis itu berhenti melangkah, dia memegang sepasang pundak yang kurus itu dan menatap Mima tajam.
“Nah, kenapa enggak kita lakukan hal kecil yang membuat kita terikat?”
“Terikat kehancuran maksud kamu?” Entah dari mana keberanian itu datang untuk mengucapkannya, sekilas Mima menyesali karena takut Dheo akan tersinggung.
__ADS_1
Benar saja Dheo melepas genggamannya dan berjalan ke depan meninggalkan Mima.
“Dheo, jangan kaya bocah bisa nggak?”
Lah dia kan emang masih bocah ya
“Dhe … Dheo,” teriak Mima karena Dheo berjalan semakin cepat sepertinya dia begitu kesal.
“Sayang!” Mima berhasil menarik tangan Dheo, dia tau dari depan Dheo tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu sayang aku?” tanya Dheo.
Mima mengangguk pasrah.
Dikit lagi, Mima. Tahan, ya.
“Yaudah, ayo duduk situ, aku traktir teh pucuk.” Dheo menunjuk salah satu warung pinggir laut yang menyediakan bangku plastik hijau lengkap dengan payung super lebar warna-warni, setelah membeli dua botol teh pucuk dingin, mereka berdua duduk berhadapan. Dheo meminum tehnya seteguk lalu berdiri.
Dheo memutar sekrup agar payung itu menutupi separuh tubuh mereka, hingga tersisa hanya batas pinggang ke bawah, Mima bingung memperhatikan dinamika tingkah pacarnya ini.
“Nah, aman!” tukasnya.
“Aman … aman untuk apa ya?” Mima bingung, ini justru jadi gelap dan pandangannya terhalang, yang bisa dilihatnya hanya wajah Dheo yang masih sama penuh rasa penasaran, seperti baru membeli mainan baru tapi belum puas memainkannya.
Dheo mengambil satu ciuman di bibir Mima.
“Untuk ini, dong, Sayang.” godanya.
Apa si Dheo ini minum teh pucuk sama ulat-ulatnya ya, makannya jadi kegatelan begini.
__ADS_1