REMEDIAL

REMEDIAL
Hijab Biru Muda


__ADS_3

Mima berusaha melupakan kekalutannya semalam, dia harus repot-repot  menenangkan diri agar patah hatinya tidak terlalu ketara pagi ini. Mima datang ke lantai delapan gedung tempat dia melewati  hari-harinya untuk bekerja dua tahun belakangan sebagai petugas pengolah data kepegawaian pada salah satu universitas besar di Jakarta.


“Semenjak pakai hijab jadi banyak yang terang-terangan merhatiin dia gitu. Apa sengaja cari perhatian ya?” Seseorang pegawai wanita setengah berbisik mengatakan ini di depan pintu masuk ruangan personalia.


Meski perempuan itu tidak menyebutkan namanya, langkah Mima terhenti tiba-tiba, terlebih saat lawan bicaranya menendang kaki si pembuka berita itu, seperti memberikan kode saat menyadari kehadiran Mima di antara mereka.


“Hih Lo nggak percaya sih, doi kan percobaan  bundir karena nggak beasiswanya nggak lolos, padahal udah gembar gembor mau resign dari sini!” sambung perempuan itu seolah belum puas dengan pendapatnya.


Ya terus apa hubungannya dengan hijab Gue, Bu?


Melabrak orang secara langsung tentu bukan kebiasaan Mima, walau yang mereka bicarakan jelas membuat Mima rasanya ingin terjun ke jurang saja, Mima bukan manusia yang suka membuat keributan.


“Udah berapa usianya? belum pernah ada dekat sama lelaki, kan? kelewat judes kali ya, dari wajahnya aja udah keliatan. Nah mungkin juga karena terlalu terbuka, nggak ada lelaki yang mau serius sama dia, makannya sekarang coba berhijab, berhasil deh, banyak yang kaget dan melirik akhirnya,” sambung si paling merasa benar yang belum paham bahwa teman gibahnya sudah memberi kode keras bahwa mereka sedang diintai marabahaya.


“Udah, yuk!” ajak rekannya yang menyadari kehadiran Mima sejak beberapa menit mendengar obrolan tanpa sensor itu.


“Iya kan? Lo gimana? Aneh nggak sih? Sok  menggunakan kata hijrah padahal … yang begitulah. Gue denger lagi, yang kemaren nolongin dia di kamar hotel itu juga punya Affair sama dia, itu suami orang cuy, ngapain coba janjian di kamar hotel gitu.”


"Udah.. udah!"


"Taruhan sama gue, dosen sastra itu pasti datang lagi ke sini karena penasaran sama dia! dih!"


Mima ingin seperti biasa, tidak peduli dengan tanggapan manusia, tapi hari ini terlanjur sakit, dua orang itu sedang membicarakan hijabnya, sedangkan dia baru saja ingin belajar menggunakannya kembali tanpa ada niat mencuri perthatian siapapun. Apalagi Pak Gilang, Mima juga heran kenapa lelaki itu rela naik ke lantai delapan setiap hari hanya untuk menawarkan tumpangan pulang.


Mereka jelas salah jika menilai dulu Mima tidak menarik, berapa banyak lelaki yang mengundurkan diri perlahan karena sorot mata Mima yang  tajam yang tidak mau kalah. Banyak lelaki yang dengan terbuka mengulurkan perasaanya pada Mima, hanya saja tidak satupun dari mereka yang Mima rasa perlu dibalas perasaanya.


Tapi anehnya setiap ada lelaki yang berhasil menembus hati, eh semua udah ada yang punya.


Dan sekuat tenaga Mima memilih menahan hatinya, mau tidak mau dia harus melewati dua manusia yang memulai hari dengan membicarakannya itu, mau sampai jam berapa dia menguping? dia harus masuk ke ruangannya.


“Pagi, Mba Meta, Mba Anya,” sapa Mima dengan manis seolah dua orang tadi baru saja membicarakan prestasi dirinya.


Sejurus kemudian perempuan bernama Anya membungkam mulut, kalau bola matanya bukan buatan Tuhan mungkin sudah terlepas saking besarnya dia melotot menyaksikan kedatangan Mima yang berjalan sambil menyapa terlalu santai.


“Eh, Mim… Pagi, Mima, sejak kapan kamu? Maksud aku, kamu tumben agak siang datangnya? Biasanya sebelum kita-kita, kan?” katanya berusaha memperbaiki suasana, tapi hati Mima sudah terlanjur hancur.


Perempuan bernama Anya dan Meta menggigit bibir dan saling berdebat kecil, semakin gugup dan saling menyalahkan setelah pergibahan pagi mereka terkuak secara langsung di depan Mima.


Meski langsung masuk ke dalam ruangan tanpa membuat perhitungan, Mima sedih, potongan-potongan penilaian tentang dirinya cukup membuat moodnya buruk dan hatinya yang baru saja terkoyak semakin melebar menghadirkan rasa perih, dia baru belajar mengubah perspektifnya tentang Tuhan dan kehidupan, dia baru mau mencoba kembali ke track yang lurus menjalani kehidupan.


Perjalanan remedial sedikitnya membuat dirinya tau kebutuhan manusia akan Tuhan, tapi belum lagi dua bulan, sudah beberapa ujian membuat hatinya goyang.

__ADS_1


Hijrah? Benarkah dia sedang berhijrah seperti yang disebutkan Anya tadi? Dia tidak merasa demikian, tapi  jika manusia memandangnya sedang bertransformasi ke arah yang lebih baik atau biasa mereka kenal dengan istilah hijrah, ada benarnya sebuah kutipan pada buku yang pernah dia baca.


Tiada hijrah tanpa ujian di dalamnya.


Tangannya terkepal, matanya berkaca-kaca, namun di hadapan manusia lain, Ia memilih untuk tetap pura-pura tidak tau apa-apa. Dia menyalakan komputer dan memulai aktivitas sebagaimana biasanya.


“Halo, Mima, udah sarapan belum?” Bu Salsa baru tiba, meletakkan ransel di sandaran kursi kerjanya dan menurunkan tas yang berisi bekal sarapan, makan siang lengkap botol besar berisi minumannya, satu tas lagi biasanya berisi barang dagangannya pesanan orang-orang di kantor.


Mima menetralkan kembali ekspresinya, agar tidak ketara sedang terluka.


“Pagi, Ibu,” balas Mima sekenanya. Sisi kanan pashmina hitamnya menjuntai ke bawah, Mima menyampirkan kembali ke bahunya.


“Banyak pesanan, Bu?” tanya Mima berbasa-basi.


“Iya nih, ada katalog baru, banyak yang lucu-lucu, kamu mau lihat nggak?”


Kalau yang dimaksud yang lucu-lucu adalah hijab dengan warna-warna terang, Mima sama sekali tidak tertarik, abu-abu dan hitam dengan segala misteri di dalamnya masih menjadi tone favorite dalam hidup Mima.


“Sekali-sekali kamu itu punya yang warna pink gitu.” Bu Salsa mengeluarkan katalog hijab terbarunya.


“Kenapa, Bu, aku keliatan seperti nggak ganti jilbab ya?” celetuk Mima.


“Nggak ada yang bilang begitu, Neng. Ibu sih membayangkan kamu akan lebih ceria aja gitu dengan warna-warna lembut begini.”


“Iya deh tau… tau yang paham filasafat dan psikologi warna.”


“Coba sini mana yang warna pink, saya mau lihat.” Mima mengambil katalog buku dari tangan Bu Salsa.  Lalu menunduk saat membuka lembar demi lembar buku iklan hijab itu.


Sekilas terlihat lintasan rasa sakit di mata Mima, tapi tentu tidak ada yang sampai berani menanyakannya.


Bu Salsa, Wanita dengan hijab panjang menjulur di bawah dada itu tersenyum menyaksikannya. Sejak gadis itu kembali ke kantor setelah cuti panjangnya, mungkin Cuma Bu Salsa yang tidak ikut mencibir Mima dengan prasangka apapun.


Justru Bu Salsa senang, kembalinya Mima bukan hanya dengan penampilannya tapi perubahan kepribadiannya. Mima yang dulu hanya bicara seperlunya saja, hari ini sudah lebih membuka interaksi dengan manusia lain, terlebih Bu Salsa.


Dulu, mereka hanya dapat melihat senyuman Mima hanya saat gadis itu sering mendapat pujian kinerja dalam setiap pertemuan-pertemuan besar. Setelah itu, Mima kembali terlihat angkuh dan sombong seolah dirinya adalah manekin yang sedang dipakaikan pakaian super mahal dan diletakkan di dalam etalase kaca yang besar, tidak tersentuh.


“Bu Salsa,” panggil Mima saat dia tiba di tengah halaman lembar katalog hijab, dilihatnya seorang selebriti cantik menggunakan hijab berwarna biru muda tersenyum teduh ke arah depan.


“Iya, Neng, cantik semua kan koleksi terbarunya, kamu suka yang mana, nanti ibu kasi diskon,” tawar Bu Salsa.


“Bu, kalau saya beli hijab yang ini saya bisa jadi soleha seperti modelnya gini, nggak?” Mima melirik ke arah model, kemudian ke arah blezzer abu-abu dan pashmina hitam yang dikenakannya.

__ADS_1


Mima kemudian menatap layar ponselnya yang hitam dan memantulkan bayangan wajahnya. Ditatapnya lekat seapasang alis tipis hitam sedikit menukik, batang hidung yang lurus naik sedangkan ujungnya melancip, kemudian bibirnya bisa yang dibilang jenis pouty lips, bibir yang membuatnya selalu tampak cemberut meski tidak pernah bermaksud demikian.


Dengan perawakan sedemikian rupa, senyum manis di wajah Mima adalah pemandangan langka, orang mengenalnya sebagai pribadi yang angkuh, ambisius, beberapa yang pernah mencoba dekat dengannya bahkan menganggap standar Mima susah ditembus.


“Maksudnya gimana ini?” Bu Salsa bergeming, sepanjang karirnya berjualan online dan membawakan dagangan ke kantor, baru kali ini ada pertanyaan semacam itu dari custumernya.


“Iya, kalau aku beli hijab ini, persis yang ini, apakah aku akan terlihat sama soleha seperti modelnya ini? apa nggak akan terlihat pura-pura lagi?”


“Siapa yang bilang kamu sedang pura-pura, Mima?”


Mima tersenyum tulus ke arah Bu Salsa, dia tau Bu Salsa tidak sama dengan yang lainnya. Wanita itu cukup tulus sepanjang interaksi mereka.


“Bukan Ibu, aku tau kok banyak yang pada ngomongin. Yang nggak lolos beasiswa, yang katanya hijrah pura-pura, yang katanya demi menarik perhatian laki-laki, intinya Mima dan kebaikan itu bukan sesuatu yang serasi. Aku nggak drama, Bu, aku denger sendiri.”


“Kalau mereka bicara seperti itu di depan Ibu, tak tusuk telujur itu bibir-bibir mereka, siapa yang ngomong?”


Mima hanya menggelengkan kepala, tidak penting untuk mengadu pada siapapun.


“Biarin aja, Bu, makannya aku nanya, yang ini ready, nggak?”


“Oh jadi itu yang bikin mata kamu berkaca-kaca tadi pagi?” sela Bu Salsa.


Mima menggeleng lagi.


“Mima, Ibu tau kamu itu lebih pintar dari Ibu, pernah baca ribuan buku dan mempelajari ribuan cabang ilmu, tapi coba dengerin satu baris nasihat kecil ini ya.”


Mima menegakkan dagunya, bersiap menerima baris nasihat itu.


“Nggak ada perubahan tanpa ujian di dalamnya, Neng. Ibu nggak tau apa yang kamu alami sebelum ini, tapi setiap orang yang berniat untuk berubah ke arah lebih baik, ujian akan datang satu per satu ke dalam hidupnya. Untuk melihat sejauh mana kamu mau melanjutkan atau menggugurkan niat kamu untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” urai Bu Salsa.


Mima tersenyum hangat, nasihat? Kapan terakhir kali ada yang memeberinya nasihat sepanjang ini? kalau dipikir-pikir, Bu Salsa ini mirip Pak Fauzi. Guru yang memberinya pelajaran penting tentang kehidupan bahkan saat dia tidak hidup lagi.


“Makasih ya, Bu.” Mima tulus, bukan sekedar basa-basi, dia belum bisa berpanjang-panjang mengurai ungkapan terimakasihnya.


“Kebetulan yang biru ini ada satu yang ready.” Bu Salsa mengeluarkan sesuatu dari tas karton besar yang berisi pesanan pelanggan setianya, sebuah segi empat biru muda belum bertuan termasuk salah satu di dalamnya.


“Wah, ada!” Seru Mima, senang bukan main. “Belum ada yang punya kan, Bu? Buat aku ya?” katanya langsung membuka bungkusan hijab biru pertamanya.


“Berapa nih, Bu? Jadi didiskon nggak?” Mima melebarkan kain berukuran cukup lebar itu dan mengenakannya di kepala sambil bercermin pada layar monitor di depannya.


“Aku nggak suka pink, Bu, terlalu girly, biru muda aja ya, cocok kan?” Mima memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan di hadapan Ibu Salsa.

__ADS_1


“Hitam, Abu-abu, pink ataupun biru, semuanya cocok sama kamu.” Belum sempat Bu Salsa menjawab, sebuah suara berat dari arah pintu masuk menyahut pertanyaan Mima dengan memberikan pujian.


Mima menegang,suara lelaki itu cukup familiar.


__ADS_2