REMEDIAL

REMEDIAL
Musala


__ADS_3

Sambil menormalkan kembali detak jantungnya, Mima berjalan cepat mencari pintu keluar gedung itu, dia ingin melupakan niat sebelumnya untuk mencari hijab dan baju.


“Sudah paling bener, belanja di marketplace, jauh lebih aman kan? setidaknya aku nggak harus berpas-pasan dengan orang-orang tidak diinginkan,” cicitnya.


Pikirannya berlompatan, mencari di mana perasaanya harus dia posisikan. Terlalu dini untuk menangisi patah hati, sulit mencari siapa yang menyakiti dalam cerita ini.


Dibukanya kartu nama yang selama ini mengekorinya, mungkin karena benda itu pula, dia masih terhubung dengan nama yang tertera di sana. Mima menemukan benda itu dengan mudah dari tasnya.


Setelah memandang ke kiri dan kanan, akhirnya keberadaan tempat sampah dia temukan. Mima menuju tempat sampah yang ada di bagian depan kids station. Dia ingin membuang secarik kertas, berikut semua ingatan tentang orang yang namanya tertera di sana.


Tentang lelaki yang tidak jelas dari mana asal usulnya, dan kenapa juga dia yang harus ada dalam perjalanan itu, perjalanan yang sampai sekarang tidak ingin Mima sebut sebagai mimpi.


Tapi terlalu sakit untuk diterima sebagai sesuatu yang nyata. Jangankan mengetahui perasaanya, Shaka bahkan tidak mengenalinya sama sekali. Entah apa hubungannya Shaka dengan perjalanan itu.


“Berati semua yang kamu lakukan dan ucapkan dalam perjalanan itu semuanya cuma ‘pemanis’?” batin Mima, dia mengangkat sebelah bibir atasnya membentuk senyuman skeptis.


“Belum pernah ada sejarah orang ketemu jodoh jalur mimpi, Mima!” Kalau bisa, ingin rasanya dia menoyor kepalanya sendiri.


“Atau benar dia pernah bilang tujuannya hanya untuk menciptakan kenangan, karena di masa depan tidak akan punya banyak kenangan denganku?” Mima mengulang apa yang terlintas di benaknya kala itu.


“Repot-repot sekali anda, Kondektur ghoib!”


Mima meremas kertas tidak berdosa itu dengan begitu dramatis, membuangnya ke tempat sampah kecil, seolah sedang membuang benda itu ke jurang dan sangat berharap nama itu benar-benar tenggelam dan tidak akan pernah naik lagi naik ke permukaan otaknya.


Mima tidak ingin Shaka menjadi bagian dari ambisinya, tidak boleh. Ambisi telah merusak banyak kata baik yang ada di hati. Dia harus melakukan segala cara untuk menerima apa yang telah tertakdir, sepahit apapun.


“Apa mungkin akan beda cerita kalau waktu itu kehadiranmu tidak aku jadikan sia-sia?” sesalnya.


Setelah memastikan kertas itu sudah berada pada tempat seharusnya, Mima mulai memikirkan untuk meninjau ulang perasaanya. Meski langkahnya semakin gontai, dikuat-kuatkannya agar cepat selesai urusannya di mall sore ini.


“Mima!”

__ADS_1


Hawa panas kembali menelusup ke rongga pendengaran saat namanya dipanggil seorang lelaki.


“Apakah kartu nama itu juga bisa bicara dan ghoib seperti tuannya?” batin Mima.


Detik berikutnya baru Mima bisa mencerna, itu bukan suara Shaka, dan Shaka tidak memanggilnya seperti itu.


“Papa!” terdengar rengekan seorang anak perempuan membuat Mima menoleh.


“Pak Gilang!” Mima menghembuskan nafas sambil melototkan mata. Sepertinya besok dia harus benar-benar memikirkan matang-matang ide berkeliaran di mall sendirian, demi menghindar berpas-pasan dengan orang-orang yang tidak diharapkan.


“Papa, Ayo! Nanti Aunty Ra pulang, Sya ingin lihat gaun, Sya ingin lihat gaun,” rengek anak kecil yang menarik-narik tangan Gilang. Perhatian Mima beralih ke putri cantik berusia sekitar 5 tahunan itu.


Dulu, Mima bukanlah orang yang terlalu senang dengan anak-anak, pada waktu-waktu tertentu dia bahkan sangat risih jika melihat situasi anak kecil yang tantrum sedangkan orang tuanya diam saja.


“Sebentar ya, Nak,” pujuk Gilang dengan lembut.


Oh, Anaknya Pak Gilang. Cantik banget.


Mima melihat dirinya yang memang masih berseragam formal.


“Saya lagi cari buku aja, Pak!”


“Wah, buku?” Gilang tampak antusias.


Tapi tidak mungkin Mima akan memberi tau buku yang ada di tangannya, tidak berminat juga memberi tau kepada Gilang tujuan sebenarnya dia datang ke mall ini.


“Pak Gilang?” Mima mengalihkan perhatian Gilang dari buku yang dia bawa.


“Saya tadi abis jemput Sya, kapan hari sudah janjian mau main, rumah kami nggak jauh dari sini juga, Mim. Tapi tadi Sya Video call sama tantenya yang sedang fitting gaun pengantin, dia jadi maksa pengen ikut,” jelas Gilang, sesekali melihat ke arah puterinya yang masih merengek.


“Cepat, Papa! Tante ini siapa sih? gangguin Sya aja, Sya mau ke Aunty, Pa!” Suara Sya semakin meninggi.

__ADS_1


Mima membolakan matanya, Sya terang-terangan menunjukkan ketidaksukaanya pada Mima.


Sebegitu seram kah auraku, Sya? Sampai kamu se gak suka itu?


“Sya!” tegas Gilang, “Kamu nggak boleh seperti itu, Tante Mima ini teman Papa, Sya nggak sopan sama teman Papa!”


“Sya mau Aunty pokoknya!” rengek Sya tidak peduli dengan nasihat ayahnya.


“Mima, sorry… saya antarkan Sya ke tantenya dulu ya, kebetulan di sekitar sini juga.”


“Silakan, Pak, saya juga mau ke musala.”  Mima mempersilakan.


“Sya say sorry dulu ke Tante Mima,” perintah Gilang.


“Nggak mau, Sya mau Aunty!” rengek Sya.


“Eh, nggak apa-apa, Pak, Sya belum mengerti, dia sedang tidak sabar ingin ke Auntynya,” bela Mima.


Jangankan Shaka, Sya yang anak kecil saja tidak nyaman berada di dekatnya.


“Maafkan Sya ya, Mima, kami permisi dulu.”


Mima tersenyum sedikit dan mengangguk. Setelah Gilang mengalah dan terseret  oleh anaknya menjauh dari hadapan Mima, gadis itu pun menghirup nafas dalam-dalam sambil menenteng paper bag kecil miliknya.


***


Semilir angin dari penyejuk ruangan membelai kening Mima yang baru menyelesaikan salat magribnya, tidak ingin perjalanan penuh drama malam ini sia-sia, Mima akan melanjutkan tujuannya, sudah ada satu butik yang tadi ditandainya, dia akan segera menuju ke sana dan pulang, kamar kost dingin itu pasti sudah bertanya-tanya kenapa Mima pulang terlambat.


Namun baru saja kakinya melangkah menyusuri jalan keluar musala yang ada di dalam mall itu, dari jarak beberapa langkah bisa mima kenali seseorang yang duduk sedang mengenakan sepatunya.


Dengan rambutnya yang masih setengah basah, lengan kemejanya digulung hampir ke siku, lelaki itu mengangkat kepala, lalu matanya persis lurus bersobok dengan mata bulat Mima yang memang sedang memperhatikannya.

__ADS_1


Pupus sudah harapan untuk melarikan diri ke belakang lagi, mau tidak mau Mima terdiam saat lelaki itu tersenyum menghampirinya.


__ADS_2