REMEDIAL

REMEDIAL
Sandiku Namamu


__ADS_3

Angin malam menggelitik leher Mima, berhasil membuat semua rambut kecil yang ada di tubuhnya merinding hebat. Seperti mengalami dejavu, dan dia mengingat peristiwa itu dengan baik. Sekali lagi malam ini, Shaka mengulang adegan yang persis sama seolah dia adalah aktor yang sudah membaca script dengan teliti.


Meski pertanyaan kian liar tidak lagi mau mengantri di kepala, Mima sudah tidak peduli nyata atau mimpi yang pernah dan sedang dia alami saat ini. dia memilih tersenyum sekali lagi. Senyuman yang lebih dari sekedar ucapan terimakasih.


Sesuai adegan berikutnya yang sudah Mima prediksi, Shaka menurunkan barang milik Mima dengan hati-hati, yang berbeda tentu saja perasaan Mima. Kalau waktu itu rasanya dia ingin mengutuk, teriak dan memaki-maki Shaka,  malam ini debar di dadanya dia jaga sebaik-baiknya agar tidak terdengar oleh Shaka.


 Di lahan tanah yang luas dikelilingi rerumputan dan tanaman-tanamam yang terawat dengan baik  Suara jangkrik-jangkrik  mencuri perhatian mereka berdua, sesaat Mima dan Shaka saling berpandangan dan senyum canggung melintang diantara keduanya.


“Malah senyum-senyum,” goda Shaka setelah hening menguasai beberapa jeda.


“Kenapa  malah berhenti di sini sih? Rumah kamu di mana?” tanya Mima yang sebenarnya juga diam-diam sangat ingin diberi pertanyaan.


“Jadi rumah kamu di sini?” Shaka menunjuk bangunan putih yang memiliki beberapa anak tangga di depannya.


Mima mengangguk,  “Tadi saya yang nanya duluan ya, rumah kamu di mana?” ulang Mima.


“Aku mulai ragu apa benar di dunia ini tidak ada kebetulan-kebetulan itu?”


“Maksud kamu?”


“Rumah kamu di sini? Tapi aku tidak ingat apa kita pernah bertemu sebelum ini!”


“Sejak lulus sekolah saya merantau ke Jakarta, hanya pulang sesekali,” urai Mima, “memangnya tempat tinggal ayah kamu di mana sih?”


Mima yang mulai merasa tidak nyaman mengobrol di pinggir jalan, mengajak Shaka masuk menuju teras rumahnya yang tidak tampak seperti rumah kosong. Itu karena setiap hari Tek Na selalu membersihkannya.


“Kita bukan teman masa kecil atau…?” Shaka duduk di antara anak tangga, Mima satu jenjang di atasnya.


“Saya tidak punya teman dekat di masa lalu, apa lagi lelaki,” potong Mima, karena dia tau persis di mana mereka bertemu sebelumnya, dan itu bukan saat mereka masih kecil.


“Oh iya saya lupa, kita bukan teman masa lalu, kalau sepasang masa depan masih mungkin, kan?” tutur Shaka pelan-pelan.


Sesaat dunia seperti sedang memainkan jarum jam, kadang berdetik begitu cepat lalu terasa sengaja melambatkan dirinya untuk berdetak. Mendengar penuturan Shaka, lambung Mima bekerja lebih berat, memberi efek tubuhnya bergetar hebat. Matanya membola, besar membulat mengalahkan mata burung hantu yang baru akan memulai harinya.


Keringat dingin bergerombolan keluar membasahi bagian-bagian tak terlihat.


“Jadi sebenarnya rumah kamu di mana?” Mima berharap semoga Shaka tidak menyadari tingkahnya yang mendadak kalang kabut.


“jangan kaget ya, Aku dan Mama tinggal di komplek Padusunan Lestari, nggak jauh dari MAN Padusunan.”


Kali ini dia tidak hanya terkejut, suhu tubuh Mima memanas dari dalam, namun telapak tangannya sedingin angin malam itu.


Daerah yang Shaka sebut, biasa Mima tempuh hanya dengan mengayuh sepeda dengan jarak tempuh lima belas menit saja. komplek perumahan yang tidak jauh dari sekolahnya.


Itu artinya mereka cukup dekat selama ini hanya saja tidak mengenal satu sama lain? Mima mencoba mengingat kemudian memastikan bahwa Shaka memang bukan bagian dari masa kecilnya.


“Bagaimana bisa sedekat itu? Maksud saya… kamu sudah lama tinggal di daerah sana?”


“Ceritanya panjang, tapi singkatnya Ayah dan Mamaku waktu baru menikah itu jarak jauh karena pekerjaan, Ayah di sini sedangkan Mama dinas di Jakarta dan aku ikut Mama, waktu aku udah kerja baru Mama di sini nemenin Ayah sampai Ayah meninggal, nah pas Ayah meninggal Mama balik lagi ke Jakarta malah aku yang ditugaskan di sini. Baru lima tahun terakhir aku tugas dan menempati kediaman Ayah.”


Mima mengangguk, di kepalanya serat-serat pertanyaan masih bersimpul, tapi sepertinya tercekat di kerongkongan, dia tidak berani bertanya lagi.


“Kamu kaget ya? Apalagi aku. Lagi kerja, tiba-tiba ada penumpang senyum-senyum, terus dengan serius bilang mengenalku, malah mengklaim bahwa aku ini…”


“STOP…DIAM!” Mima merapatkan giginya geram, malu mengingat hari konyol itu. Heran kenapa Shaka sangat suka mengulangnya.

__ADS_1


“Beberapa pekan lamanya, aku tidak benar-benar menikmati hidup, kamu tau? Aku yakin kita tidak sepenuhnya asing, tapi saat aku butuh bantuanmu eh ralat, butuh tanggungjawabmu untuk bercerita, ternyata diblokir berkali-kali.”  Shaka memutar lehernya ke belakang, sedikit mendongak untuk bisa melirik Mima yang duduk pada anak tangga yang lebih tinggi.


“Kan tadi sudah minta maaf,” tutur Mima merasa amat malu dengan sikapnya.


“Tak apa, Aku sudah bersabar untuk menunggu hari ini, jadi aku senang kita bisa ketemu lagi.”


“Jadi di mana kita pernah bertemu sebelumnya, Ay?” Shaka menggeser posisinya menjadi bersandar pada pembatas tangga sehingga tubuhnya menyamping menatap Mima.


“Mungkin dalam mimpi yang hampir nggak ada beda dengan kenyataan. Dalam sebuah dimensi  fana tapi begitu melenakan. Aku bertemu kamu saat kita sedang remedial.” Mima meletakkan sepasang telapak tangan ke dagunya, menatap ribuan bintang yang menyaksikan mereka.


“Lalu?” Shaka menegakkan tubuhnya, Mima beralih menatap. Rasa lelah perjalanan yang panjang nan penuh drama luruh melihat keseriusan Shaka mendengarnya bercerita.


Shaka sama sekali tidak terlihat meragukan yang Mima sampaikan, tidak seperti orang yang sedang mendengar dongeng pengantar lelap.


“Apakah itu sungguh aku?” tanya Shaka ragu, “Kalau itu bukan aku, atau kalau sekarang kamu sedang salah orang apa kamu masih ingin kita bertemu?”


Deru mesin kendaraan roda empat terdengar melewati jalan itu, sorot lampunya terang menyilaukan mata mereka berdua, menjeda obrolan yang sedang seru-serunya. Sebentar lagi azan isya. Shaka tentu ingin berlama-lama, tapi tidak elok dipandang mata.


“Udah malam, kamu pasti lelah. Masuklah, aku juga harus pulang, Mama kasihan sendirian di rumah.” Shaka berdiri, menepuk-nepuk sedikit celananya.


“Pulang pake apa? Saya pesankan ojek atau taksi ya, sebagai ucapan terimakasih udah bawain barang saya sampai sini.” Mima berdiri mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.


“Oh iya, ucapan terimakasih, iya… iya.” Shaka menjentikkan jari, sebuah ide terlintas di kepalanya.


“Kamu nggak perlu pesankan ojek atau taksi, cukup masukkan nomor HP kamu ke sini.” Shaka juga turut mengeluarkan ponsel dari saku celana.


Ia bersiap mengetuk layar untuk membuka kunci.


“Eh, tunggu!” cegah Mima membuat tangan Shaka berhenti, keningnya berkerut.


“HP aku?”


Mima mengangguk.


“Em, jangan deh. Ini… ada sandi, aku buka dulu sandinya,” elak Shaka.


“Iya, tapi saya tau sandinya, boleh nggak saya coba?” pinta Mima setengah memaksa.


Setengah ragu dan sungkan, Shaka menyerahkan ponselnya pada Mima. Benar saja, layar kunci benda itu menggunakan kata sandi sebagai pengamannya. Dengan cepat dan yakin Mima mengetik beberapa huruf di sana.


Waktu itu dia tertipu dan sangat malu karena ke GR an perkara kata ponsel ini.


“Ih kok nggak bisa?” gerutu Mima, setelah percobaan ke dua mengetik kata “Namamu” dengan huruf besar dan sekali lagi dengan huruf kecil semua, tapi keduanya tidak berhasil.


Ponsel Shaka bergetar menandakan kesalahan sandi dan peringatan layar akan terkunci sementara jika melakukan kesalahan ke tiga.


“Kan… kan udah aku bilang, biar aku masukin dulu kata sandinya,” kata Shaka terbata-bata.


“Ternyata tidak sama ya?” keluh Mima.


“Nggak sama gimana sih maksudnya, Ay? Memangnya kamu tau kata sandi saya?” Shaka benar-benar khawatir Mima mengetahui sandinya.


“Namamu, en a em a em mu, Namamu, gitu kan?” tukas Mima sangat yakin, “gimana penulisannya, kok saya salah?”


Shaka memandang Mima takjub dan hampir tidak percaya, gadis itu sungguh mengetahui kata sandi ponselnya.

__ADS_1


“Kamu tau dari mana sih?” tanya Shaka lagi.


“Kamu pernah ngetawain aku waktu aku salah masukin sandi kamu.” Mima mencebik.


“Ayumna,” Panggil Shaka pelan, giliran tubuhnya yang dibuat merinding, “Itu memang sandi ponselku selama bertahun-tahun, waktu itu, apa si Shaka nggak bilang ke kamu kalau dia akan mengganti sandi ponselnya?”


Mima mencoba mengingat sesuatu.


“Sejak penasaran dengan kamu dan tidak berhasil kuajak ketemu, entah kenapa, sejak itu aku mengganti sandi HPku ini,” ungkap Shaka.


“Sekarang coba ketik namamu deh, namamu beneran nama kamu ya. ‘A YUM NA’ begitu.”


Mata Mima lekat memperhatikan Shaka, pendengarannya mendengar dengan seksama, potongan ingatan beberapa waktu yang lalu bisa dia kenang dengan baik, Shaka pernah bilang memang akan mengganti password dengan nama Mima, sewaktu Mima marah karena malu.


Kini ada bulir-bulir entah apa berlompatan di dada, membuat degup jantung keduanya berlarian, kacau kewalahan. Mima mulai mengetik namanya sesuai yang Shaka bilang, sandi diterima, layar ponselpun terbuka, sama halnya dengan hati mereka berdua.


Aaaaaaaaaaaaaaaa!


Mima ingin secepatnya masuk ke kamar, menelungkupkan wajah ke bantal dan berteriak kencang atas kenyataan ini. Atau bisakah dia terbang, merentangkan tangan diantara ribuan bintang di atas sana?


Shaka sungguh mengganti sandinya.


“Maaf ya kalau kurang sopan, menggunakan nama kamu sembarangan. Makannya tadi aku takut kalau kamu tau sandiku adalah namamu,” tutur Shaka salah tingkah.


“Ini nomerku!” Mima mengembalikan ponsel Shaka tanpa sanggup melihat wajah lelaki itu lagi, dia takut ketahuan mengeluarkan rona merah di pipi.


“Kok Ayumna sih?” protes Shaka setelah melihat nama kontak yang Mima tulis di sana, “Kan istri masa depan,” sambungnya tanpa ragu sambil mengganti nama kontak itu.


“Shaka, sebaiknya kamu pulang sekarang… udah pulang deh pulang.” Mima mengarahkan Shaka untuk turun dari tangga.


“Iya.. iya, aku pulang!” Setengah tertawa Shaka melangkah hingga ke ujung tangga. Matanya sekilas memandang ke bagian bawah rumah Mima.


“Ay,” panggilnya.


“Hem!”


“Itu, sepedanya kamu?”


Mima turun lagi ke halaman memandang ke arah yang Shaka maksudkan.


“Iya dong.”


“Masih bisa kan?”


“Bisa kok, sering Tek Na pakai juga.”


“Boleh aku pinjam?" tanya Shaka.


"Boleh... boleh, iya pakai sepedaku saja, daripada kamu jalan  kaki."


"Aku nggak masalah sih jalan kaki, tapi kalau pinjam sesuatu dari sini kan Setidaknya aku ada alasan lewat sini lagi, mau ngembalikan sepeda, ide bagus kan?” Shaka menaik-naikkan alisnya.


Mima menggeleng-gelengkan kepala, entah ke mana rasa lelah, sakit dan pikiran berat yang akhir-akhir ini ditanggungnya. Malam ini pertemuannya dengan Shaka cukup membayar semuanya, sisa lelah perjalananpun sudah tidak lagi terasa.


Atas izin Mima, Shaka mengeluarkan sepeda itu dengan girang, akhirnya dia harus pamit pulang mengayuh sepeda yang dijadikannya alasan untuk kembali datang.

__ADS_1


__ADS_2