REMEDIAL

REMEDIAL
Lelaki di rumah kebun


__ADS_3

Petak-petak sawah menghampar hijau di pinggir jalan kota, kebun kelapa juga tumbuh rapi selang-seling, baruak kecil berkeliaran diantara pohon karambia, masyarakat sekitar menggunakan jasa mereka untuk memetik kelapa, seorang pemuda menyandang tas bahunya di bawah terik matahari pukul dua, padahal tadi dia sudah mencari gadis itu di mana-mana tapi Mima berhasil lepas dari jangkauan matanya, hilang diantara ratusan siswa yang berhamburan saat jam pulang sekolah.


Dia harus pulang sendiri siang ini, Shaka mengakses peta digital di ponsel, beberapa arah dan lokasi sudah tidak lagi sama, sehingga dia terpaksa bertanya pada masyarakat sekitar, dihampirinya seorang lelaki yang sedang melatih baruak memanjat pohon karambia.


Belum sempat  bertanya, kendaraan roda dua dari arah belakang sengaja menggeber keras saat melewati Shaka, sepeda motor legenda berwarna hitam, kenalpot yang sudah dimodifikasi dengan jenis kenalpot motor balap sehingga suaranya sangat memekakkan telinga.


Namun bukan itu masalahnya, seorang wanita yang sejak tadi Shaka cari, ternyata duduk menyamping di sadel belakang sepeda motor itu dan sebelah tangannya sengaja melingkari perut lelaki di depan.


“Mima!” gumam Shaka.


Shaka tidak jadi bertanya, dia berjalan cepat berharap ada angkutan umum yang lewat agar dirinya bisa menguntitit Mima, belum sampai dua meter berjalan, si motor legenda hitam mengkilat tampak dari arah berlawanan dan menepi menghampiri Shaka.


Jilbab Mima sudah tidak beraturan, poni-poninya keluar dari pet jilbab. Shaka menggeleng-gelengkan kepala.


“Rambutnya, Ay!” ingat Shaka.


Mima reflek mengusap kening untuk memasukkan anak rambutnya ke balik kain.


“Em, Kondektur, aku pulangnya sama Dheo, tapi sepedaku masih di atas, tolong kamu bawa ke rumah, boleh?”


Ada kilat kekesalan di mata Shaka saat Dheo memencet klakson motornya yang cemplang. Tanpa menunggu jawaban Shaka, Mima kembali melingkarkan lengan ke perut Dheo dan mereka berlalu dari sana.


“Makasih,” ucap Mima sambil melambaikan tangan.


Shaka menendang putik kelapa yang ada di ujung kakinya, lalu bertukar haluan untuk mengambil sepeda Mima yang tertinggal di sekolah.


***


Dheo menghentikan laju kendaraan saat tiba di lampu merah simpang tabuik, sebuah tugu budaya yang menjadi icon kota berdiri gagah di tengahnya, dari spion, Diliriknya gadis yang sedang dia bonceng, Mima melonggarkan rengkuhan karena merasa malu dilihat banyak mata.


“Kok dilepas? risih, ya?” tanya Dheo.


“Ndak enak dilihat orang ramai,” jawabnya pelan.

__ADS_1


“Yaudah kita ke tempat sepi?” tawar Dheo usil.


Mima kaget terdiam.


“Canda,” ralat Dheo kemudian sambil menarik kembali tangan Mima dan meletakkan di pinggangnya.


Mima malu tapi merasa istimewa dengan perlakuan itu, sehingga dia tidak sadar sedang diperhatikan oleh pengendara di samping mereka.


“Ekhem!” Seorang pengendara sepeda motor berdehem melirik ke arah Mima dan Dheo.


“Pak Fauzi!” seru Mima lalu menarik paksa telapak tangannya yang sedang diusap Dheo. Beruntung lampu langsung berubah hijau dan Pak Fauzi melaju karena suara klakson bersautan dari belakang.


Belum apa-apa udah C nih nilai gue.


“Sorry, Mim. Aku enggak tau ada Pak Fauzi di sebelah kita.” tutur Dheo, dia juga merasa bersalah.


“Ndak apa-apa,” jawab Mima singkat.


“Jadi kita mau ke mana? jalan ya!” ajaknya.


“Lain kali deh, sekarang antarin pulang aja,” pinta Mima.


“Oh,” ucap Dheo kecewa, padahal dia sudah meminjam motor butut milik temannya demi bisa mengajak Mima jalan-jalan, Dheo juga menghemat uang jajan hari ini untuk mentraktir Mima makan nasi sek di pantai gondoriah.


***


Tanaman pandan tumbuh rapi di sebagian halaman rumah, Aglonema juga segar dan tertata, bonsai adenium pun azalea begitu cantik memikat mata, menyambut mereka yang sudah tiba di kediaman Mima.


Mima mengedarkan pandangan ke rumah kebun yang masih tertutup rapat seperti saat tadi dia tinggal, kemudian mengeluarkan ponsel untuk melihat jam digital.


“Mim, makasih.” Dheo tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya, “Kita ketemu udah lama, tapi kok berasa baru kenal sekarang, ya. Ngga tau sih, beda aja auranya,” ungkap Dheo, sebelah tangannya memegang stang motor sebelahnya lagi dia gunakan untuk meraih telapak tangan Mima.


Mima mesem sambil menarik pelan telapak tangannya, takut ada tetangga yang melihat.

__ADS_1


“Makasih juga ya, Dhe, udah ngantarin pulang,” balas Mima, jantungnya masih berdegup kencang, entah karena remasan telapak tangan atau karena takut tertangkap sedang bermesraan.


“HP kamu bagus banget.” Dheo takjub dan penasaran dengan bentuk benda pipih yang ada gambar apel tidak utuh di belakang layar.


Mima jadi ikut melirik ponselnya yang baginya biasa saja.


“Itu blackberry, ya? tapi kok beda?” selidik Dheo yang belum pernah melihat benda itu sebelumnya.


“Farha kemarin pernah bawa ke sekolah, tapi blackberry China, punya kamu yang aslinya?”


Mima menunduk malu sekaligus bingung bagaimana menjelaskan pada Dheo.


“Ada-ada aja kamu.”


Mungkin Dheo akan berpikir Mima baru saja menerima warisan dari mendiang neneknya.


“Ini nomor aku, Mim.” Dheo mengulur sepotong kertas yang dia sobek dari buku pelajaran, Mima langsung menerimanya.


Dulu, jangankan bertukar kontak, melihat sepatu Dheo di mushola sekolah saja Mima sudah sangat senang.


“Nanti aku isi pulsa deh biar kita bisa bisa smsan.”


“Oke,” balas Mima.


Apa semudah ini meremedial masa depan?


“See ya.” Dheo melambaikan tangan, mengayun kakinya pada tuas engkol motor dan melaju menjauh dari sana.


***


Langit ramah merah menjingga, Mima memakai piyama hitam usai mandi sore tadi, sekarang dia baru saja menyenderkan gagang sapu dan serokan ke tempatnya, panjang dia berbincang dengan pikiran selama membersihkan dedaunan, bertanya-tanya, kenapa lelaki penghuni rumah kebun itu belum juga pulang padahal surya sebentar lagi jatuh ke peraduan.


***

__ADS_1


Baruak      : Beruk/monyet


Karambia  : Kelapa


__ADS_2