
Semoga masih ada satu yang tersisa, dari seribu stokmaaf yang kamu punya
***-- Mima ***
***
“Aku minum, ya? Dikit.” Jarak wajah Dheo sangat dekat saat bicara ke Mima, harus dekat karena dentuman musik sangat keras. Mima menatapnya kecewa, tapi di dalam ruang redup dan tidak jelas ini wajahnya tampak begitu tampan dan seksi.
Mima mengutuk matanya karena tidak sengaja melihat rekan di depannya berciuman tanpa malu, dengan ciuman panas bahkan tangannya liar mencari celah-celah baju pasangannya.
“Dhe, cewek Lo nggak minum?” tanya seorang teman kepada Dheo.
Mima menggeleng cepat dan memberi isyarat kalau dia tidak minum semua yang ada di atas meja ini. Meski tidak tau apa mereknya, dari bentuk, warna dan tempat minuman ini berada, Mima tau itu Alkhohol.
“Gue pesenin lemon, ya.” Lelaki itu menyalakan korek api dan mengangkat tangannya ke atas, ternyata itu adalah cara tamu di sana memanggil waitress, beberapa detik kemudian seorang pelayan datang menghampiri meja. Mima tidak terlalu jelas apa yang dipesan olehnya.
“Cakep juga pacarmu? Kirain beneran datang sendiri?” tanya lelaki itu pada Dheo yang menuangkan lagi satu sloki minuman ke mulutnya.
“Yoi!” jawab Dheo yang terdengar sok asik.
“Pertama kali ke club?” Sekarang perempuan di samping lelaki itu yang bertanya, mungkin gesture canggung Mima terbaca jelas oleh mereka.
“Sans aja, have fun!”
“Danu ngajakin Kita semua nginap di Daima malam ini, Bro! besok pagi mau konvoy ke bukit tinggi, Lo ikut dong?” tanya lelaki tadi. Danu adalah nama si sahabat yang berulang tahun.
Dheo kemudian menatap Mima sambil menjawab penawaran temannya.
“Aku terserah dia aja sih!”
Mima belum sempat menjawab saat pelayan meletakkan minuman baru di meja mereka.
“Itu lemon kok, minum aja!” Atas dasar perasaan sungkan dan takut dianggap geeky, Mima mengangkat gelas itu, namun belum sampai ke mulutnya, bau alcohol begitu ketara, Mima meletakkan kembali ke meja.
“Ngga akan bikin mabuk kali,” kata si perempuan tadi dengan tawa kecil saat melihat gelagat Mima.
__ADS_1
Ini bukan tentang bikin mabuk atau tidak, Mima tidak sesuci itu juga, tapi ini tentang ketidak mampuannya meminum minuman asing, jangankan rasa yang keras pada alkhohol, seteguk kopi hitam saja tidak mampu ditelannya.
Mima mencoba mencari sesuatu dari tasnya, ketemu! Air mineral pemberian Shaka, sejak saat itu pikirannya Kembali ke rumah, penyesalan menyeruak meninggalkan Shaka dalam keadaan sakit yang tidak biasa, meninggalkan Shaka setelah memberikannya dua tablet rasa jeruk tanpa digerus.
Ahsan Eshaka …
Wajah pucat itu seolah tersenyum saat Mima mennggumam
“Yhaaa dia bawa bekel!” ucap si perempuan, Mima tidak peduli, tapi Dheo tampak tidak senang karena dianggap paling cupu malam ini.
“Mim, udah dong!” Dheo menahan tangan Mima yang sedang menuang botol mineral ke mulutnya.
“Kalau haus nanti aja di luar minumnya," imbuh Dheo sebal.
***
Danu bicara banyak dari depan sana bersama DJ di sampingnya, semcam ucapan terimakasih dan kata sambutan dari pemilik acara. Kemudian meminta DJ memainkan sebuah lagu dan mengajak semua tamunya untuk turun ke dance floor dan berjoged sepuasnya.
Rasanya Mima hampir gila, sudah ratusan kali mengajak Dheo pergi dari sana, ratusan kali juga Dheo mengatakan.
Hampir tengah malam menuju puncak acara, di meja mereka masih dengan orang yang sama, tiga pasangan termasuk Dheo dan Mima. Satu pasangan sudah tidak peduli dengan orang disampignnya, memadu kasih seolah sedang berada di nirwana. Mima mual dan jijik, tapi teman yang lain seolah biasa saja.
Seseorang datang melemparkan bungkusan kecil ke atas meja tempat Mima, Dheo dan teman-temannya. Mima kaget, refleks menatap si pemilik barang.
“Wuihh!” seru Dheo.
“Satu orang minimal satu. Ya … ya … ya …” Lelaki berjaket metalik putih menodongkan jempol dan telunjuk kiri dan kanan seolah dia sedang berbaik hati memberikan bungkusan tablet di meja itu.
Semua orang buru-buru mengambil satu butir dan menelannya bulat-bulat, Mima menunggu giliran Dheo dan benar saja lelaki itu melakukan seperti apa yang temannya lakukan.
“Dheo!” pekik Mima di telinga Dheo.
“Nih, punya kamu! Satu aja, ga enak sama yang punya acara!” ucap Dheo di telinga Mima.
“Ambil, atau aku suapin?” Dheo menyodorkan pil kecil itu kepada Mima.
__ADS_1
“Kalian make?” tanya Mima tepat di depan wajah Dheo saat tangan Dheo juga sudah berada di ambang bibir Mima.
“Sesekali aja, Sayang.” Bau alcohol menguar dari mulut lelaki itu.
“Dhe, mending kita pulang sekarang, Ayo, Dhe!” Mima berusaha menarik tangan Dheo.
“Sekali ini aja, Sayang!” Dheo merengkuh leher Mima dan memaksa gadis itu membuka mulutnya.
“Emhh,” gumam Mima sambil menggeleng.
Narkoba adalah hal yang tidak pernah Mima bayangkan separah apapun hidupnya, dia tidak pernah membayangkan ujian ini akan dia hadapi, meski hidupnya memang jauh dari kata ‘baik-baik saja’.
Di satu sisi, Mima tau hal itu sangat berbahaya, namun sisanya karena dia tidak bisa menelan pil selama hidupnya, akan semakin memalukan kalau dia meminta Dheo menggerus pil itu terlebih dahulu.
Siapa yang menelan ekstasi dengan digerus?
“Dhe, kamu tipsy? Ayo kita pulang sebelum semakin parah.”
Bukannya mendengar ucapan Mima, Dheo justru menatapnya dengan tatapan yang siap memangsa.
“Dheo, nggak gini dong!” elak Mima saat Dheo mencoba mencium lehernya dengan rakus.
Dentuman musik yang memekakkan telinga melatari aksi nekat Dheo terhadap diri Mima. Tubuh Mima ditarik paksa ke sebuah ruangan yang ada di sana. Ruangan kecil entah tempat apa. Mima ketakutan, lututnya gemetar. Dheo dalam keadaan sadar saja tidak bisa dia kuasai apalagi dalam kondisi setengah mabuk begini.
“Dheo, Plis!” Gaun putih itu sudah tersingkap sempurna.
“Sayang, anggap aja ini bukti kalau kita saling cinta, dengan cara ini kita bisa terikat sampai masa depan!” pinta Dheo memohon pada Mima yang sudah pasrah memejamkan mata.
***
Masih dengan gaun putih yang sudah kekuningan karena noda minuman dan cairan muntah, Mima bersandar di mobil travel yang dia tumpangi. Matanya sembab, kondisinya sangat menyedihkan.
Mima pulang ke Pariaman pukul satu malam itu juga, beruntung ada mobil yang bisa dipesan online malam itu. yang ada di kepalanya hanya Shaka, dia tidak peduli apakah Shaka masih akan menerimanya setelah ini, asal bisa melihat lelaki itu di rumah entah dengan senyum atau sedang marah.
Berharap masih ada sisa satu dari seribu stok maaf yang Shaka punya untuknya malam ini. Air matanya semakin banjir membayangkan eksrpesi Shaka yang meringis saat Mima meninggalkannya meringkuk sendiri di kursi.
__ADS_1
“Pak, tolong lebih cepat!” ucap Mima sambil berharap bisa langsung tiba di depan rumah.