
Tubuh kurusnya terbaring di ranjang yang sebelumnya hitam kini telah berganti putih, masih di dalam sebuah kamar dengan jendela terbuka. Pihak rumah sakit sudah memulangkannya kepada keluarga. Tek Na sebagai wali satu-satunya gadis ini masih menangis di samping tubuh pucatnya, tangannya dingin, tidurnya tampak begitu nyenyak, terlalu nyenyak bahkan hingga tak kunjung terjaga setelah 21 hari.
Suara ketukan pintu depan membuat Tek Na berdiri dan sejenak meninggalkan Mima. Dheo datang, hampir setiap hari sejak dia membawa Mima kembali ke pulau Sumatera Dheo selalu menjenguk teman semasa MAnya ini.
“Gimana keadaanya, Tek?” tanya Dheo pada Wanita berusia sekitar 35 tahun itu.
Tek Na tidak bisa berkata-kata, mata sembab dan merahnya cukup menjawab rasa sedih dan resah menunggu kesadaran keponakan tersayang yang sudah lima tahun tidak pernah mau pulang, Tek Na tidak menyangka Mima pulang justru dalam keadaan seperti ini.
“Shaka …” Sebuah suara teriakan terdengar dari dalam kamar Mima, baik Tek Na maupun Dheo saling pandang dan segera berlari ke arah suara.
“Mima, Tek!” seru lelaki dengan kemeja kotak-kotak berwarna navy itu.
Tek Na kaget melihat keponakannya sudah berdiri menatap ke luar jendela kamarnya. Tek Na membalikkan tubuh Mima dan langsung merangkul gadis itu. Seperti melihat sebuah keajaiban di depan matanya.
“Mima … Mima lah jago, Nak. Mima Ya Allah, Alhamdulillah, Mima lah pulang, Manga lamo bana Mima lalok, Nak?” (Mima, Mima sudah bangun, Nak. Ya Allah Alhamdulillah, Mima sudah pulang, kenapa lama banget Mima tidurnya, Nak?)
Diantara rasa lemas dan sakit, Mima bingung kenapa eteknya bicara seperti ini. Bukankah setiap hari mereka bertemu? Dari pelukan Tek Na Mima melihat seorang lelaki tersenyum. Dheo dengan tampilan yang berbeda.
Dheo yang lebih tampan, dewasa dan tersenyum seolah diantara mereka tidak pernah terjadi apa-apa.
__ADS_1
Mau apa lagi dia di sini?
“Syukurlah kamu udah sadar, Mim,” ucap Dheo sopan dan tersenyum ke arahnya.
Mima memegang kepalanya dan baru sadar dia tidak memakai kerudung.
“Tek, jilbab Mima!” ucapnya langsung melepas pelukan Tek Na dan mencari kain penutup kepalanya.
Mima heran kenapa jilbab yang biasa dia gantung di belakang pintu kamar sekarang tidak ada, gantungan itu bersih, tidak ada apapun sehingga dia harus membongkar lemarinya.
“Etek mencuci pakaian Mima di sini, ya?” omelnya pada Tek Na sambil memakai jilbab, “itu masih bersih, Tek, makannya belum dicuci,” imbuhnya.
Kemudian Mima mengajak Tek Na duduk di ranjangnya.
“Ini manga lo jadi warna putiah mah, Tek?” protesnya melihat beedsheet yang sebelumnya berwarna hitam malah menjadi warna putih seperti di kamar hotel.
“Kan Mima surang nan manggantinyo sabalun barangkek Jakarta 5 taun lalu.” Kan Mima yang menggantinya sebelum berangkat ke Jakarta 5 tahun yang lalu.
“Tek, Shaka ado pulang?” tanya Mima memelas.
__ADS_1
“Shaka sia ko?” (Shaka siapa ini?)
“Shaka, Tek, yang tinggal di rumah kebun.”
“Mima … Mima manga?” raung Tek Na (Mima … Mima kenapa?)
Tek Na merasa ada yang salah dengan sikap Mima, dia belum sepenuhnya terbangun, Mima masih dalam igaunya.
“Mima … Mima, sadar, Mima!” Tek Na menangis mengguncang bahu Mima.
Mima masih lemas dan mulai merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, dia kembali melihat ke arah Dheo, lelaki itu tampak berbeda dari terakhir mereka bertemu di parkiran sepeda. Dheo tampak begitu dewasa dan tidak ada kesan siswa MA.
“Mim, kamu sebaiknya berbaring dulu. Kamu baru bangun dari koma 21 hari. Kamu tenang, biar pulih dulu.”
Mima mulai merasa pusing dan mengikuti saran Dheo untuk berbaring. Dia kemudian meminta Tek Na mengambilkan ponselnya dan langsung mengakses kalender di sana.
“2019?” katanya tercengang. Apa ini artinya dia sudah kembali? Tapi harusnya kembali ke kota Jakarta, dan kalau dia sudah kembali, kenapa Shaka tidak ada di sini?
“Aku tertidur 21 hari?” tanyanya bingung.
__ADS_1