
Semanis apapun caramu pamit, perpisahan tetap terasa pahit
-- Mima
***
Lutut Mima lemas melihat pintu depan yang terbuka, lampu tidak menyala, sudah hampir jam dua, keadaan rumah tidak berubah sejak dia pergi tadi siang. Pandangannya ia alihkan ke rumah kebun, sama sepi dan gelapnya. Hampir saja tubuh dengan gaun putih itu terduduk di lantai andai tidak mendengar seroang lelaki terbatuk dari dalam rumahnya.
Cepat-cepat dia masuk dan menyalakan lampu, lega, Shaka masih di atas kursi meringkuk tidak berdaya. Mima lega melihat tubuh itu masih bergerak petanda nafasnya masih ada. Dengan air mata yang sudah merata di seluruh wajah, Mima bersimpuh di lantai, memeriksa kondisi Shaka seadanya.
Bukan waktunya menangis, kondisi Shaka terlalu buruk untuk mendengar curahan hatinya, Mima menyeka air mata yang tidak mau berhenti itu, dibangunkannya Shaka yang tampak semakin tak berdaya.
“Shaka, bangun! Kita harus ke rumah sakit sekarang, tidak peduli kamu manusia dari dimensi manapun, tidak peduli kamu ini wujud atau Ghoib, kamu sekarang sakit, ayo kita ke IGD!” cerca Mima panik.
Shaka mengerjap sebentar, kemudian terkejut melihat Mima di sampingnya, rasa kaget sampai membuatnya refleks bangun dan duduk.
“Ini jam berapa? Kamu?” katanya memperhatikan kondisi Mima yang lusuh dan sembab.
“Kamu kenapa? Kamu sakit apa? Separah ini, aku ambilkan obat lagi, ya. Aku gerus biar lebih cepet reaksinya.” Mima mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya, lagi-lagi benda oren andalannya.
“Udah … udah, Ay. Ngga akan ngaruh meski kamu kasi satu box, sehat engga, lewat iya karena overdosis, kan nggak lucu overdosis bodrexin, kesannya mau bunuh diri tapi takut mati, gitu.”
Mima memegang obatnya, apa yang salah dengan bodreksin? tidak ada yang salah, justru karena terbiasa hidup dengan obat ini, dirinya takut dan selamat dari godaan ekstasi.
“Oh manusia dari masa depan tidak perlu minum obat?”
“Bukan tentang manusia dari masa depan atau zaman purba, tapi obatnya itu loh.”
Shaka meringis karena tidak bisa menahan tawa melihat tablet-tablet bulat oren di tangan Mima. Mima akhirnya memasukkan Kembali pil andalan itu ke dalam tasnya.
“Kamu sakit apa?”
“Aku sehat, ini cuma efek dari perjalanan, semakin sedikit waktunya aku akan ditekan dengan energi yang semakin besar sampai aku pulang.”
“Aku nggak ngerti.”
“Kamu kenapa diantar pulang jam segini? Kalian enggak anu, kan?”
“Aku pulang sendiri.”
“Ayumna!?”
“Iya aku pulang sendiri pakai travel setelah …” Air mata Mima mulai membanjiri wajahnya lagi ketika mulai menceritakan runtut kejadian yang dialaminya bersama Dheo.
Tangan Shaka mengepal mendengar Mima menuturkan semuanya sambil menangis.
“Dheo tiba-tiba berubah seperti bukan dirinya, dia buas, dia mengerikan,” ungkap Mima.
“Dia ngga berubah, Mima, kamu aja yang belum kenal dia,” bantah Shaka.
__ADS_1
“Entah aku harus bersyukur atau gimana pas ada cewek masuk ke ruangan itu dan menyuruhku pergi, sepertinya itu istrinya Dheo yang sekarang, wajahnya sangat familiar,” ungkap Mima sesegukan, “Aku masih sempat lihat di kaca pintu itu apa yang mereka lakukan, apa aku menumbalkan perempuan itu? Harusnya aku selamatin dia juga kan?”
“Harusnya sih gitu, tapi sayangnya memang nggak ada yang bisa kamu ubah, kamu lupa kalau kamu adalah cameo dalam hidupnya Dheo? Ini memang seharusnya terjadi, malam itu ya memang seperti itu kejadiannya, kamu dikirim ke sini buat liat itu semua.”
“Jadi kamu menangisi apa? Cemburu dengan perempuan itu?”
Mima memukul lengan Shaka dan menarik nafasnya yang mulai tersendat.
“Kamu masih pikir aku cemburu? Gila!” umpatnya.
“Ya, jadi kenapa, menangisi Dheo sampai separah ini?”
“Ya menangisi kebodohan sendiri lah!” cebik Mima masih terisak-isak.
“Jangankan satu tahun di sini, sepuluh tahunpun kamu bertahan, ngga akan ada yang bisa berubah, Ayumna.”
Mima menelungkupkan wajahnya ke busa alas duduk kursi kayu itu, malu menjadi bintang utama dalam serial kebodohan hidupnya. Takdir mengajaknya melihat-lihat luka dan cacat nilai yang selama hidup tidak dia sadari.
“Shalat dulu sana, belum isya ‘kan?”
Mima mengangguk, hampir saja dia lupa kewajiban itu padahal tidak pernah lagi meninggalkannya sejak contreng pertama.
***
Wajahnya sudah lebihs segar, gaun putih tadi sudah berganti baju tidur hitam, identitas sejati dirinya sendiri, tidak menjadi siapapun hanya untuk diakui dan dicintai.
Wajahnya masih sembab saat menemui Shaka, lelaki itu tidak ada di kursi tempat dia berbaring tadi.
Pintu depan masih terbuka, saat Mima ingin menutupnya, ternyata Shaka duduk di lantai kayu teras rumah itu, bersandar di salah satu tiang. Meski tidak lagi meringis tapi Mima tau dia masih sakit.
“Sebaiknya kamu pulang dan tidur,” tukas Mima dari ambang pintu.
“Eh udah seger, sini duduk!” Shaka bergeser dan menepuk lantai sebagai isyarat meminta Mima duduk di sampingnya.
Mima duduk dan memperhatikan Shaka lekat.
“Kamu menggigil.”
“Iya, ini dinginnya menusuk, seluruh badanku rasanya sakit, sepertinya ngga akan sampai dua hari deh, besok pagi kalau aku udah duluan pulang, kamu tolong selesaikan remedial ini dengan baik!”
Mima terkejut, menatap Shaka tak terima.
“Mana bisa, kenapa kamu ngomong gitu? Terus aku gimana?”
Shaka tersenyum dan menepuk kepala Mima yang tertutup mukena.
“Makannya kamu harus pulang tepat waktu loh, kita harus ketemu, kenalan dan sama-sama lagi di waktu yang tepat dan seharusnya.”
“Nonsene! Aku nggak mau, aku nggak ngerti pola remedial ini, kamu kok lepas tanggungjawab sih?”
“Aku mau di sini temanin dan ingatin kamu terus, tapi tubuhku membutuhkan energi ini, aku harus tetap hidup, kita akan bertemu nanti.”
__ADS_1
“Misiku cuma membuat kenanangan manis, semoga malam ini tugasku sempurna.”
Mima mengguncang-guncang bahu Shaka, lelaki itu masih tertawa meski tubuhnya semakin didera. Hari ini banyak emosi yang Mima keluarkan di hadapan Shaka, menangis, ketakutan dan menertawakan kebodohhannya sendiri.
“Shaka, kamu masih marah, kamu pasti marah. Tapi, ayolah! Aku sudah mengakui kebodohanku, aku akan fokus remedial nilai … ah remedial apapun yang buruk dalam hidupku sebelumnya, aku tau kamu marah …” Mima mencerca Shaka, dia benar-benar takut Shaka pergi sementara Mima masih harus menjalankan misi sendirian dalam dimensi ini.
“Ayolah, Kondektur, kamu nggak bisa tinggalkan aku di dimensi ini. Mana? kamu bilang punya seribu stok maaf buat aku, aku mau ambil semua sekarang.”
Shaka berusaha menguatkan diri untuk tertawa lagi, mungkin karena mendengar Mima berucap cukup Panjang malam ini.
“Ay, justru aku yang mau kamu siapkan stok maaf untukku, bekal kalau kita ketemu nanti.”
“Kenapa?”
“Mungkin kamu harus banyak bersabar dan berbesar hati.”
“Sayangnya aku nggak mau ada kata nanti, aku mau malam ini! Nggak boleh ada yang terjadi sama kamu.”
Shaka tidak menjawab lagi, Mima memegang tangan Shaka yang semakin dingin, lelaki itu hanya tersenyum menampakkan dua lesung pipinya yang dalam.
Kenapa baru malam ini aku tenggelam di sana?
“Ay, dingin banget.” Shaka merebahkan kepalanya di pangkuan Mima, tanpa ragu diraih dan diletakkan tangan gadis itu ke keningnya.
“Pijitin, ya. Sebentar … aja.”
Mima tertegun dan mulai menggerakkan jari-jarinya membentuk pijitan kecil, dia melihat Shaka dari jarak dekat, tersenyum sesekali memejamkan mata.
“Semangat ya, Remedialnya. Kamu beruntung, diberi izin memperbaiki banyak hal dalam hidupmu. Lakukan semua karena-Nya, dan ingat … harus pulang tepat waktu loh.” Jari telunjuk Shaka mencolek ujung hidung Mima.
“Diamlah, nggak usah ngasi pesan apa-apa, kamu akan baik-baik aja, nggak akan ke mana-mana!”
Mima bersandar pada tiang, tangannya memijat kepala Shaka tapi tidak sadar matanya ikut terpejam.
***
Daun akasia dibawa angin subuh jatuh ke pipi Mima, azan subuh berkumandang syahdu membuat Mima terjaga.
“Maaf ya, aku ketiduran.” Mima menggusal matanya dan tersadar pangkuannya terasa ringan.
“Lah, udah duluan kok nggak ngebangunin sih?” matanya langsung menangkap suasana rumah kebun yang masih gelap.
Azan subuh sudah selesai, setelah beberapa menit Mima baru bisa mengingat sempurna kejadian beberapa jam yang lalu.
Dia menarik nafas dalam dan menghembuskan kedinginan, matanya berkaca-kaca menerima kenyataan bahwa Shaka sudah tidak ada di sana.
Tiba-tiba terendus wangi Acqua yang segar dan bersahaja, parfum yang biasa Shaka pakai setiap kali ke surau. Mima langsung memindai sekelilingnya, hanya ada gemerisik daun tersapu angin yang cukup kencang.
“Malaikat subuhku udah nggak ada?”
__ADS_1