REMEDIAL

REMEDIAL
Misi Contreng III


__ADS_3

Mima mendirikan shalat Isya, sejak rakaat pertama nafasnya terasa agak sesak, rambut-rambut kecil di tubuhnya meremang, matanya begitu berat dan semakiin lama rasa sakitnya semakin dahsyat hingga selesai shalat.


Mima tidak berkata apa-apa, hanya memegang dadanya, tidak juga bertanya kenapa tiba-tiba dia merasakan sakit seperti ini. Saliva terasa membeku, tercekat sulit dia dorong ke tenggorokan. Hanya teringat kalimat Shaka beberapa waktu yang lalu.


“Perjalanan ini mungkin ada efeknya."


Dia tidak beranjak dari tikar salat, air matanya meluncur tanpa permisi saat mendengar kumandang takbir bersahut-sahutan, terbayang kenangan bersama Nenek, Mima dan nenek selalu merayakan hari raya dengan kesunyian, Mima suka itu, Mima rindu Neneknya.


“Ay … Ayumna, ke rumah Tek Na, yuk!”


Mima bisa mendengar suara Shaka mengetuk pintu kamar, tapi lidahnya masih kelu untuk menjawab panggilan itu. Dia hanya melihat ke arah pintu.


“Ay.”


“Shaka.” Mima berusah menyahut


“Aku tunggu di depan, ya, bantuin Tek Na pasang lentera.”


Mima  berusaha bangkit, tapi hanya mampu sampai ke tempat tidur, untung ransel tempat dia meletakkan obat jeruk berada tidak jauh darinya, diminumnya dua tablet sekaligus.


Matanya membola karena rasa sakit yang mendera, setelah menelan dua buah obat jeruk dengan satu botol air mineral, rasa sakitnya perlahan reda, hingga dua puluh menit berlalu.


“Ay, belum selesai?” Suara Shaka terdengar kemballi. “Ayumna, ini misi kita contreng satu lagi, Ay.”


Mendengar berita itu rasa sakitnya menguap, misi yang mana? Penasaran Mima segera keluar, dia masih memakai mukena.


“Loh, aku pikir udah siap-siap, kenapa keringatan begitu?” Shaka mengamati wajah pucat Mima yang basah.


Mima  menggeleng, dia lebih tertarik untuk melihat kertas usang dan lusuh itu.


“Alhamdulillah, padahal aku belum khatam, aku bacanya lama banget, pelan-pelan banget,” kata Mima.


“Perintah tugasnya adalah membaca Al Qur'an, membaca dari hati, membaca karena kamu merasa butuh bacaan ini.


Gema takbir masih  menjadi suara latar dua manusia yang sama-sama tersenyum berhadapan, sebentar lagi mereka akan menyelesaikan misi dan menyongsong kehidupan yang sebenarnya, meski keduanya punya harapan hidup yang berbeda,


“Aku semakin nggak sabar buat bawa pulang nilai remedial dan kuliah di Oxford, aku udah siap melanjutkan mimpiku itu,” kata Mima penuh harap.


“Dan aku, tidak sabar untuk segera bertemu kamu,” balas Shaka dengan harapan yang lebih besar.


“Apaan sih!” Mima mendorong dada Shaka, “Sebentar lagi ada takbir keliling, biasanya lewat di depan, arakan dari surau-surau sekecamatan. Kamu nggak mau liat?”


“Pengen sih, tapi kamu pasti risih di tengah keramaian, makannya aku ajakin bantuin Tek Na ngaduk kalamay aja tuh di belakang.


“Bukan risih, tapi merasa jadi pusat perhatian."


"Iya, aku tau kok."


Shaka senang Ketika Mima bisa menjalankan tugas-tugas kehidupannya saat tidak dipengaruhi virus cinta dari Dheo. Memisahkan Dheo dari pikiran Mima sama lelahnya seperti mengupas kuaci satu kerajang.


Adegan saling pandang terjeda karena nada dering ponsel Mima.


“Jadi ngga ke tempat Tek Na”

__ADS_1


“Iya, kamu duluan, ya. Aku nyusul.”


Sebelum Shaka berlalu, Mima menutup pintu dia tau itu panggilan dari siapa.


“Halo, Dhe,” sahutnya setelah tersambung dengan panggilan yang dia beri nama Future Husband.


“Sayang, aku kangen,” ucap Dheo.


“Em, sama, kamu apa kabar?”


“Saudaraku ramai pada pulang kampung, aku sibuk bantuin Ibuku, ini lagi bakar lemang, aku tinggal curi-curi waktu mau denger suara kamu.”


“Oh, berarti Suli ada di sana?”


“Cie, cemburu ya?”


“Jawab dong!”


“Kenapa? Kamu cemburu?”


Bahkan setelah kamu menikah saja aku tidak pernah merasa tersaingi, Dheo. Ambisi lebih besar daripada rasa cemburuku.


“Enggak!”


“Dasar keras hati, ngaku aja susah banget sih?”


“Kamu kapan pulang ke sini?” rengek Mima.


“Lebaran ke tiga, kita jalan, ya? Nonton? Ke Padang?”


“Kamu nggak liat takbir keliling? Seru loh, keluar dong, apa nggak bosan apa di kamar terus?”


Aku udah berkali-kali bilang aku gak suka keramaian, Dheo. Cape jelasin terus.


“Enggak, aku mau bantuin Etek ngaduk kalamay dulu.”


“Sama siapa?”


“Sama Tek Na, Shaka juga.”


“Mim, Shaka itu siapa sih?”


Mima kaget, akhirnya Dheo menanyakan hal ini, dia bingung menjawabnya, dia juga tidak tau Shaka itu apa, anaknya siapa, datang dari mana, berasal dari spesies apa kenapa dia manis mengalahkan gula? Yang terakhir itu membuat Mima tersenyum, memang seperti itu sih.


“Shaka, em … siapa, ya, itu, dia … kerabatnya Tek Na kali.”


Mima benci harus berbohong, tapi Cuma itu yang terlintas di pikirannya.


“Dia nggak naksir kamu, kan? Daripada jadi kerabat yang satu angkatan, dia lebih cocok jadi wali murid tau.”


“Hush, jangan ngomong begitu, Shaka baik. Dia yang bantu remedial aku selama ini.


“Remedial apa?”

__ADS_1


“Ha? Remedial?” Lagi-lagi Mima salah ucap, kali ini bukan karena dia tidak suka berbohong, tapi dia Lelah kalau harus menjelaskan, dan pula Dheo tidak akan mudah percaya.


“Kamu yang bilang remedial, remedial apa?”


“Remedial, em … Fiqih. Remedial Fiqih.”


“Oh, pastikan dia nggak naksir sama kamu, ya. Aku kalau cemburu jadi orang jahat loh!”


“Kamu ngga boleh ngomong gitu, Dhe!”


“Maaf, tapi aku serius, Sayang …, jangan terlalu dekat dengan dia, dia bisa mengganggu masa depan kita.”


Mima lega mendengarnya, dia tidak berjuang sendiri, Dheo juga memikirkan masa depan itu.


Semoga kamu ngga menyesal kalau masa depan kamu berubah, tatanan takdir sedikit bergeser, Dhe. Kita akan  Bersama. Belajar, menjadi pasangan  yang saling mengingatkan, kamu pasti bisa bimbing aku, kita punya harapan untuk hidup Bersama, bukan begitu, Tuhan?


“Di siko Uda kironyo. Makan ciek lu, Da?” (Rupanya Uda di sini, Makan dulu yuk!) Itu suara seorang perempuan yang terdengar dari sebrang panggilan, suaranya terdengar cukup jelas.


“Suara siapa itu?” tanya Mima tidak enak hati.


Setelah suara itu, suara Dheo jadi sedikit berbisik.


“Nanti aku telpon lagi ,Bro! Bye!”


Mima kaget, panggilan terputus dari arah sana.


“Bro siapa? Brontosaurus? Bukannya situ yang buaya, tapi anehnya gue suka, hemm!”


***


Mima menuju ke rumah Eteknya, rumah Tek Na sudah rapi dengan warna gorden yang serasi dengan sofa, di atas meja tamu sudah ada barisan stoples kue kering dengan toples yang warnanya serasi dengan taplak meja, di atas meja makan tidak kalah ramai, ketupat, lemang dan kawan-kawan sudah tinggal dinikmati saja, Tek Na memang seperti perempuan minang lainnya, handal dalam hal membuat makanan enak.


Tek Na sendiri sudah rapi dan wangi, keluar dari kamarnya.


“Ka kama, Tek?” (Mau ke mana, Tek?)


“Eh, Mima. Ka pai sabanta.” (Eh, Mima. Mau pergi sebentar)


“Oh.” Mulut Mima membulat, padahal arak-arakan itu lewat di depan rumah, tapi penampilan Tek Na seperti sudah mau pergi lebaran saja, meriah. “Shaka dima?” (Shaka di mana?)


“Sadang di lakang, Mim, mangacau kalamai, caliak lah!” (Sedang di belakang,  mengaduk dodol, lihatin gih!)


Tiba-tiba Mima teringat pertanyaan Dheo, dan dia ingin mendengar jawaban versi Tek Na.


 “Etek!” panggilnya saat Tek Na sedang memilih sepatu yang akan dipakai.


“A lai?” (Apa lagi)


“Shaka … em, sia Shaka tu sabananayo?” (Shaka itu sebenarnya siapa?)


“Shaka? manga batanyo ka Etek, inyo ngekos di rumah parak 'kan?” (Shaka, kenapa nanya ke Etek? dia ngekos di rumah kebun kan?"


“Nga ngekos? Sajak bilo rumah kebun jadi kos-kosan?” (Nge kos? Sejak kapan rumah kebun jadi kos-kosan?)

__ADS_1


“Tanyoan se dinyo dih, Etek nyek lakeh.” (Tanyakan sendiri padanya ya, Etek  buru-buru)


Tek Na berlalu, Mima mengernyit bingung, menanyakan pada Shaka akan semakin membuatnya berpikir keras, yang penting dai sudah tau, Tek Na menganggap Shaka adalah anak kos di sini, nanti kalau Dheo tanya lagi Mima akan jawab begitu.


__ADS_2