
Selama beberapa detik Mima tampak menimbang-nimbang makna dari ucapan Shaka, sejak tadi dia menanti-nanti pertemuan ini, apakah ini adalah kelanjutan dari kisah remedialnya?
“Maksud saya, saya masih penasaran soal ucapan kamu tadi, kamu… kamu yang tadi bilang kalau saya adalah suami masa depan kamu. Agak konyol, lucu, nggak masuk akal! tapi pasti ada alasan kenapa kamu bicara seperti itu,” urai Shaka.
"Kamu nggak mikir saya ini penumpang ODGJ atau orang yang memiliki gangguan halusinasi akut?"
Shaka memiringkan kepalanya saat menertawakan kalimat Mima, "Hey, apa kondektur Shaka memperlakukanmu seperti itu?"
“Sorry kalau itu mengganggu kamu dan malah bikin kamu repot-repot sampai ke sini. Tapi aku juga penasaran, kok kamu bisa tau aku ada di sini?”
“Nah itu! Iya justru karena itu sangat mengganggu pikiran saya, saya juga nggak tau kenapa saya malah ikut masuk ke dalam kereta dan tiba di sini, dan… dan syukurlah ternyata langkah halu saya tidak salah. Kamu beneran ada di sini.” Shaka membuka topi dan menyugar rambut bagian depannya.
Setengah tidak percaya, tapi kalimat itu lagi-lagi berhasil membuat Mima tersipu malu.
“Kalau nggak keberatan, bisa… kita ngobrol sebentar?”
Mima refleks tertunduk. Namun ketika dia sempatkan melirik sedikit, dia dapati lelaki itu sedang tersenyum dan meyakinkan dirinya untuk menerima penawaran itu, seolah memberinya keberanian untuk menuturkan apa yang dia alami dan bagaimana cara mereka bertemu sebelum hari ini.
“Boleh, sebentar ya saya ke dalam dulu,” pamit Mima, dia akan membereskan urusan rambut dan kepalanya terlebih dahulu.
***
Setelah selesai dengan urusannya, ya tentu saja Mima lebih bergegas menyelesaikan urusan itu karena ada yang sedang menunggunya di luar. Benar saja, punggung besar kondektur itu masih tegak berdiri di sana. Benarkah dia sungguh penasaran dengan apa yang akan Mima ceritakan? atau hanya sedang mengisi waktu luang karena kebetulan ada urusan di tempat ini? begitu kata otak Mima yang masih senang berprasangka.
Melihatnya dari belakang membuat Mima sedikit menyesal, kenapa waktu itu Mima tidak bertanya banyak tentang Shaka, Mima terlalu tidak mau ambil tau, sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan justru terganggu dengan kehadiran lelaki yang kerap memperhatikan gerak-geriknya, menghalanginya melakukan hal yang melampaui batas dan membuatnya secara tidak sadar mengetahui hakikat remedial yang diberikan kepadanya.
Shaka menoleh, lalu memberi isyarat kepada Mima untuk berjalan mendahuluinya, Mima menunduk sebentar sebagai tanda dia setuju mereka akan ngobrol sebelum pesawat Mima berangkat.
Hujan telah reda, langit juga berangsur terang serta merta.
__ADS_1
“Secangkir kopi mungkin bisa mengembalikan moodmu setelah delay beberapa jam,” tawar Saka.
Mima tidak suka rasa kopi, dia akan muntah jika lidahnya mencecap rasa pekat dan pahit itu sedikit saja. Tapi kali ini ceritanya ditawarkan oleh Shaka kan?
“Eh Sorry, saya bahkan belum bertanya. Kamu… suka kopi?”
“Sebenarnya tidak,” jawab Mima jujur, tentu dia sangat senang ternyata Shaka memang manusia yang penuh pengertian.
“Ehm, Oke. kalau gitu, pasti lapar, kita makan, gimana? cari resto cepat saji saja sebelum kamu berangkat,” kata Shaka yang langsung disetujui oleh gadis kurus berwajah pucat di depannya.
Mereka mengitari area bandara menuju salah satu resto kecil makanan cepat saji. Mima hanya tersenyum setiap kali mencuri pandang ke arah punggung besar di depannya. Sesekali Mima menepuk pipinya, mencubit kecil punggung tangannya untuk memastikan yang sedang ditemuinya adalah kondektur Shaka di dunia nyata, memastikan mereka sedang berada pada dimensi yang sama. Walau fana.
“Mima Ayumna Lenkara,” ucap Shaka mengulang nama yang tadi Mima sebutkan ketika mereka berada di kereta.
Sekarang meraka sudah duduk berhadapan di salah satu meja kecil yang disediakan resto kecil itu. Resto cukup ramai, tentu saja karena penundaan di beberapa jadwal penerbangan. Sebagian besar wajah-wajah pasrah dan menghibur istri maupun anakknya, sebagiannya lagi masih berusaha ingin melayangkan protes-protes mereka atas keterlambatan yang sudah lewat dari tiga jam ini.
“Ayumna, ingatkan sesuatu pada saya tentang pertemuan kita sebelum hari ini!” tukas Shaka
“Kenapa? Kamu menemukan sesuatu setelah mengamatiku? butuh data?”
Shaka hanya mengangkat bahunya dan menaikkan alisnya.
“Ini agak bodoh dan mungkin akan dibilang halu!” sambung Mima.
“Berarti kamu menganggapku jauh-jauh ke sini hanya untuk menjadi orang bodoh dan halu?”
“Mau numpang toilet bandara, mungkin?” seloroh Mima.
“Aku punya banyak waktu, Ayumna. tapi kamu tidak, sebentar lagi kamu akan berangkat. Entah kapan lagi kita akan kembali bertemu, sementara pikiranku sangat terganggu dengan perkataanmu!” ungkap Shaka serius.
__ADS_1
Kalau aku mau, aku bisa saja membatalkan jadwal keberangkatanku, Shaka.
Benar saja, hanya beberapa detik setelah kalimat Shaka, pengumuman jadwal check in terdengar dan menyadarkan Mima.
“Tuh kan!” keluh Shaka.
Sebenarnya Mima bisa saja membatalkan jadwal penerbangannya, tidak ada yang sedang menunggunya di Jakarta kecuali hari-hari yang akan kembali hening dan sepi seperti biasanya. Mima juga belum memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Namun batal berangkat hanya karena ingin berlama-lama dengan kondektur ini di bandara tentu juga bukan pilihan bijak, meski masih ada sejuta tanya di kepalanya tentang pertemuan mereka, meski ada ratusan ribu kata yang sudah siap dia ucapkan untuk diceritakan kepada Shaka, meski ada ribuan bungkus rindu yang sudah dia vacum menjadi seberkas asa di matanya, semua belum jadi alasan yang cukup kuat untuknya tetap tinggal, Mima berdiri menyampirkan tasnya di lengan.
Ini bukan kali pertama mereka berpisah, tapi kali ini Mima bisa lebih pasrah.
“Nggak bisa diringkas aja gitu?” tanya Shaka pasrah.
“Kalau kamu pengen banget tau, aku sederhanakan saja ya, singkatnya kamu pernah datang dalam hidupku, mengajarkan banyak hal, memperbaiki banyak persepsiku yang keliru tentang hidup, dan tentu saja meninggalkan banyak kenangan yang membuatku sangat ingin bertemu denganmu hari ini. Kita sudah bertemu, mungkin ini cukup,” urai Mima panjang lebar.
Shaka mencoba memahami setiap rentetan kalimat Mima.
“Tidak mudah memang untuk dimengerti, aku juga perlu mempelajarinya lagi, tapi semua yang pernah aku lalui, peristiwa itu terlalu istimewa, bahkan terlalu nyata untuk disebut mimpi. Terimakasih ya, waktunya, Kondektur Shaka. Senang sekali kita bisa bertemu!”
“Ini kartu nama saya,” Shaka mengeluarkan sesuatu dari dompet miliknya, “Bulan depan saya pulang ke Jakarta, kalau kamu sudah tiba di Jakarta, hubungi saya, ya. Siapa tau kita bisa ketemu lagi di sana,” pesan Shaka tulus.
Mima menerimanya dengan senang hati, senyumnya terkembang. Suara pengumuman bergema lagi menyatu dengan gericik sisa-sisa air hujan terlihat dari setiap sisi dinding di bandara international Minangkabau. Mima melangkah, mengambil arah sebelah kiri untuk menuju pintu keberangkatannya.
“Ay!” Panggil Shaka, Mima sampai memejamkan mata saking merindingnya mendengar panggilan itu sekali lagi di pendengarannya. Dia menoleh.
“Sampai jumpa!” ucap Shaka.
Mima hanya mengangkat tangan sekedarnya, Mima masih di gadis kaku, keras kepala dan bukan Mima namanya yang menunjukkan perasaan senang terlalu terang-terangan.
__ADS_1