REMEDIAL

REMEDIAL
Filosofi Kereta Api


__ADS_3

Mima tersenyum antusias saat membuka kaca jendela mobil, mereka berhenti tepat di samping pagar pembatas air terjun perkasa nan eksotis. Lembah anai, salah satu diantara tujuh air terjun yang berhulu di atas gunung singgalang, Alam memamerkan pesona gagah nan indah ini tepat di ruas jalan raya Padang Bukittinggi.


Mima dan Shaka keluar bersama, menaiki anak tangga dan berhenti di puncak pagar pembatas, Shaka mengamati gadis itu memegang erat pagar besi, dada Mima membusung, matanya terpejam dan mulai menghirup dalam kesejukan yang alam sajikan, menyerap semua energi baik yang sedang dia butuhkan. Kebisingan jalan mulai reda diganti silir yang lembut membelai kulit pipi mereka.


“Kamu dan air yang tertuang dari tebing tinggi itu, seketika jadi pesona yang paling sejuk di mata aku.” Shaka mengeluarkan ponselnya dan membidik foto Mima dari samping.


“Ih curang!” protes Mima setelah sadar.


“Ayo foto berdua,” pinta Shaka.


“Boleh, sini HP kamu.” Mima menyodorkan telapak tangannya.


“Gantian kek, biar di HP kamu ada foto kita.”


“Nggak ah,” tolak Mima.


“Kenapa? Takut Dheo marah?”  sindir Shaka


“Pake punya kamu aja pokoknya. Shaka, ada pelangi, kita foto di bawah aja, yuk, biar lebih dekat.”


“Boleh.”


Kemudian mereka turun dari pembatas agar bisa lebih dekat dengan sumber kesejukan itu. Deretan area hamparan perbukitan hijau di kaki gunung Singgalang menjadi dinding alam, seakan ingin menyimpan pesona air terjun lembah Anai. Terlihat juga rangkaian rel kereta tua berkelok melintas di atas jalan raya, rel yang sudah lama sekali tidak dilintasi lokomotifnya, kombinasi keindahan surga yang jarang ditemui di tengah kota.


“Sepi, ya?” ungkap Mima, memang hampir tidak ada pengunjung di sana.


Setelah berfoto dari jarak dekat, Shaka mencuci wajah, kesejukan menyerap masuk ke pori-pori kulitnya, kemudian mereka memilih duduk menikmati air terjun dari rel kereta tua.


“Siapa juga yang mau berpetualang puasa-puasa gini, Ay,” sahut Shaka, “tukang foto keliling juga ngga ada , kan bisa fotoin kita biar lebih bagus fotonya.” Shaka mengamati satu persatu foto yang sudah dia ambil, tidak ada foto yang bagus, Mima sangat kaku, dia memang tidak terlalu suka berfoto.


“Iya sih, biasanya kalau akhir pekan atau liburan, macet banget tau, belum tentu bisa lewat. Kamu udah pernah ke sini ngga sih?” tanya Mima.


“Ini pertama kali, tapi aku tau kalau air terjun Anai merupakan aliran dari telaga Dewi yang dipercaya sebagai tempat mandi para dewi kayangan,” ungkap Shaka dengan begitu polosnya.


“Hahaha, terus?” Mima tertarik karena Shaka ternyata tau legenda masyarakat di sana.


“Iya, ini Jaka tarub sedang menunggu para dewi turun mandi, mau bawa pulang selendangnya, nama aku sebenarnya Jaka, cuma lagi menyamar jadi Shaka.”

__ADS_1


“Hahahaha, Shaka Tarub gitu?” tawa Mima begitu lepas, “Nggak nyangka sih kamu tau kepercayaan itu, tapi setahuku, Jaka Tarub bukan pencuri apalagi penguntit seperti ini, hahaha. Jaka Tarub ngga nyuri, selendangnya Nawang Wulan terbang waktu Mas Jaka lagi mimpi. Lagian jauh amat dari Lembah Anai ke Ngawi, hahaha.”


“Dari pada ngobrolin mitos, mending aku jelasin Faktanya, jalanan ini terbangun dari kerja paksa masyarakat Indonesia zaman kolonial Belanda, baca deh bukunya Elizabet E Graves, dia bilang waktu itu masyarakat pribumi harus menyisihkan batu – batuan besar, supaya daerah ini  bisa dijadikan jalan dan rel kereta kek gini.”


“Kamu baca buku jenis apa aja sih? dari filsafat, sejarah sampai legenda juga nyambung aja, gemesh deh, tapi sayang naksirnya kok sama Dheo sih?”


“Heh, emang kenapa kalau aku suka sama Dheo?” protes Mima tapi masih tertawa.


“Ya ngga apa-apa sih, normal. Justru aku yang tanya, serius ya, kenapa kamu suka sama Dheo bahkan saat Dheo sudah punya kehidupan sendiri?”


“Kalau dulu karena Dheo itu pintar, aku suka laki-laki yang pintar, dia luwes, pergaulannya luas dan … sekarang semakin suka karena ngobrol sama Dheo mengasyikkan, kalau memuji beneran bikin deg-deg gan, aku suka cara Dheo menuliskan cerita, aku makin jatuh hati setelah baca semua karya dia. kamu baca deh."


"Novel cinta begitu? ogah!" tolak Shaka.


Sepanjang Mima menceritakan Dheo, bibir Shaka maju ke depan.


“Tadi dia ngacir tuh pas ada polisi, ya gitu deh sepintar-pintarnya jadi pembalap akhirnya ketangkap, hahaha,” ejek Shaka.


“Ya siapa sih yang ngga panik, tapi belum tentu dia enggak peduli, bisa aja sesaat dia lupa, tadi dia minta maaf kok, dan aku ngga masalah.” Mima membela Dheo.


“Lah ini  bisa kembali ke masa lalu, berarti masih bisa dong diusahakan.”


“Never, Ayumna. Kamu boleh menikmati apa yang sedang terjadi, tapi ngga ada yang bisa kamu ganti.”


“Hem, terserah. Foto lagi yuk, Mana HP kamu, sini!”


Shaka menyerahkan ponselnya pada Mima, “Jadi bener kamu takut Dheo tau ada foto kita di HP kamu?”


“Aku menghindari konflik, nggak mau berantem, mau hubungan kami baik-baik aja sampai masa depan nanti.”


Shaka tersenyum miring, pasrah. Dia memilih untuk berbahagia saat ini, membidik beberapa pose berdua, kadang saling memotret bergantian.


“Eh kamu berdiri di situ deh, mulutnya menganga, aku fotoin agak jauh seolah-olah kamu lagi minum air terjunnya gitu?” Mima memberi ide pada Shaka.


“Heh, Ngga mau, kaya bapak-bapak.”


“Emang bapak-bapak kan? kamu ngga cocok lagian jadi anak MA, seperti bapak-bapak yang udah punya anak dua.” tukas Mima.

__ADS_1


“Hati-hati kalau ngomong hey, nanti kamu yang jadi Ibu dari anak-anakku loh.”


“hiyyy, pait … pait … pait …”


Tawa mereka berdua pecah di bawah keteduhan pohon-pohon yang melindungi lembah. Banyak topik menarik mengalir berganti secepat laju air.


“Eh, mumpung kita duduk di atas rel nih, aku jadi pengen tanya, diantara banyak profesi di dunia ini, kenapa kamu memilih jadi kondektur kereta api?”


Shaka mengernyit, bicara dengan Mima sejak tadi, untuk topik yang ringan saja gadis itu pandai berfilosofi. Shaka jadi bingung menjawab pertanyaan ini.


“Em, kenapa ya?” Dia terkesan memberi jeda padahal sedang menyusun jawaban yang estetik.


“Berada di dalam kereta dan berjalan di atas rel setiap hari ngajarin tentang konsistensi kan? meski punya dua rel lurus sejajar, kereta tau ke arah mana dia harus mengular, nggak mudah dipengaruhi orang lain, dan pastinya tau stasiun tujuan akhir pemberhentiannya.”


“Berarti kamu terbiasa singgah ke banyak pemberhentian berbeda?”


“Begitulah, tapi aku jamin, kamu bukan salah satunya, kamu bukan stasiun, Ay. kelak kamu adalah rumah, bukan lagi tempat singgah, namun tempat aku pulang mengadu lelah.”  Shaka menyatakannya dengan intonasi yang tidak terlalu lembut, tapi cukup membuat Mima terkejut.


“Eh, aku bercanda kali. Hahaha, ngga sedalam itu, ya jadi kondektur memang cuma karena rezekinya di situ, ikut test KAI, karena aku berparas di atas rata-rata ya lolos, dan ya udah kerja, gitu aja, aku gak se-filsuf itu kok, hahaha.”


“Aku liat-liat kamu itu terlalu percaya diri, ganteng doang, tapi ghoib!” celetuk Mima.


“Yang penting ganteng kan? haha, tapi gara-gara kamu nanya gini, aku jadi kepikiran deh.”


“Kepikiran apa?”


“Kepikiran, kira-kira apa aja yang udah aku isi pada gerbong-gerbong yang ditarik lokomotif waktuku, apakah ada ketaatan diantara dosa yang berdesakan? Masihkan ada stasiun berikutnya tempat dosa dapat kutinggalkan? adakah terowongan gelap menguji iman? ataukah aku telah dekat dengan pemberhentian akhir? Lalu aku berdoa semoga Allah tidak sedetikpun menyerahkan aku pada diriku sendiri,  karena aku nggak mau nafsuu yang menjadi masinis kereta hidup ini.”


“Aamiin,” ucap Mima, kepalanya miring dan tersenyum manis.


“Semoga rel kehidupan aku dan kamu selalu membawa kita mendekati-Nya, ya. Dan selalu ditumpangi banyak kebaikan sampai lajunya berhenti sempurna.”


Tanpa sadar sekali lagi Mima menjawab


“Aamiin.”


Matahari kian condong ke barat, mereka berdua beranjak dari sana untuk mencari tempat berbuka puasa terdekat menjelang magrib.

__ADS_1


__ADS_2