REMEDIAL

REMEDIAL
TERTANGKAP


__ADS_3

Azan subuh belum lagi berkumandang, jalan raya ramai oleh remaja dan pemuda  yang sudah janjian akan melakukan aksi balap liar. Masing-masing kubu berdiri berhadapan di bahu jalan kiri dan kanan, sepeda motor gombreng sudah berjejer enam di lintasan ilegal.


Mima di belakang Dheo,  tidak berhenti mengamati sekeliling, seolah dia hanya sedang menunggu petugas keamanan sampai di lokasi. Belum lagi beberapa kali dia menyaksikan teman-teman Dheo saling membagi obat-obat yang mencurigakan.


“Den sumbayang ciek lu!” (Aku shalat dulu) ucap Dheo sebelum memulai aksinya.


“Ndeh, ka lari, ang?” (Mau lari Lo?) cemooh pihak lawan.


“Ndak ka lari do! Onda den di siko!” (Nggak akan lari, motor gue di sini) tegas Dheo.


Dheo menggeret tangan Mima, mereka pergi ke masjid terdekat dan ikut shalat berjamaah, usai shalat mereka kembal menuju titik kumpul.


“Dhe, kenapa sebelum balapan kamu shalat?” tanya Mima.


“Mau balapan atau ngga kan emang harus shalat.” Dheo memasang jaket kulit yang dia pinjam dari temannya, berwarna coklat metalik, cocok menutupi tubuhnya yang kurus.


“Ya terus kenapa mau balapan?”


“Ngga enak sama anak-anak, Ay. Ini motor juga mereka yang pinjemin.”


“Emang shalatnya diterima kalau mau maksiat?”  tanya Mima lagi.


“Kalau aku shalat emang belum pasti diterima sih, tapi kalau engga shalat sudah pasti berdosa, kan?”


Meski Mima sudah memahami indikasi diterimanya suatu ibadah, tapi analogi Dheo tidak salah. Entah kenapa, Mima jadi semakin jatuh hati.


***


“Doain aku, Sayang.” Dheo menyalakan motornya, karena dia adalah seorang penulis, mudah untuknya membayangkan dirinya sedang berada di sirkuit balap, dia merasa dirinya berkali lipat lebih keren sekarang, apalagi jika nanti menang.


“Aku dari tadi berdoa supaya nggak ada polisi datang aja sih,” balas Mima khawatir, tidak penting Dheo menang atau kalah, yang penting kegiatan ugal-ugalan ini cepat selesai.


Sorak sorai sudah terdengar, ratusan pemuda menyuarakan kebebasan  mereka.


Seorang lelaki berpakaian serba hitam dan trendi membawa bendera besar, berdiri di depan barisan pembalap, memberi kode untuk bersiap.

__ADS_1


Tatapan Dheo fokus ke depan, jalanan yang masih gelap hanya diterangi lampu jalan dan sorot lampu kendaraan mereka, dia masih sempat menoleh ke kiri, mengedipkan sebelah mata pada Mima yang tampak sangat khawatir.


Belum lagi bendera lomba sempat diangkat, suara sirine mobil polisi nyaring terdengar, hanya beberapa detik keadaan sudah berbalik, si lelaki pembawa bendera membuang benderanya ke sembarang tempat dan langsung lari mencari sepeda motornya.


Enam orang pembalap yang sudah kadung bersiap langsung menarik gas, tentu saja untuk melarikan diri. Termasuk Dheo, dia melesat menyelamatkan diri tanpa memikirkan nasib gadis yang dia bawa tadi.


Tapi terlambat, petugas kepolisian, Satpol PP dan pemadan kebakaran sudah memblokir arah mereka. Diantara pembalap tadi ada yang nekat menerobos blokade. Dheo tidak kehabisan akal, dia sempat bersembunyi dengan menceburkan diri ke sawah bersama motor yang dia gunakan.


Mima hampir saja menangis kebingungan, diantara kebisingan massa yang coba melarikan diri, dia malah diam di tempat, tidak tau harus ke mana. Padahal dari tadi dia sudah memperingati Dheo karena takut Dheo tertangkap, tapi Dheo malah tega meninggalkannya sendirian.


Dia tidak kenal siapapun, tidak ada yang peduli dengannya, semua sibuk menyelamatkan diri masing-masing.


“A lai nan ditunggu, Supiak? Naiak lah!” (Tunggu apa lagi, Neng? Ayo naik) perintah seorang petugas satpol PP.


Dengan perasaan tidak karuan, Mima pasrah ikut naik ke mobil patroli sambil tetap mencari keberadaan pacar yang tadi mengajaknya, beruntung langit belum terlalu terang, jalanan juga belum terlalu ramai meski akhir pekan, jadi tidak ada yang  mengenali keberadaan Mima duduk manis di bangku kayu mobil partoli.


***


Dheo yang tadi sempat melarikan diri akhrinya tertangkap dan ikut dibawa pihak keamanan, dengan pakaiannya yang penuh lumpur, dia akhirnya bertemu lagi dengan Mima.


Mima bingung waktu ditanya kontak keluarga, siapa yang akan datang, dia memilih untuk tidak menjawabnya, sehingga interogasinya ditunda.


“Kalau enggak mau ngasi tau keluarganya, ya sudah nggak usah pulang! Tidur di sini aja, atau nanti kami kasi tau pihak sekolah.”


Apa? Pihak sekolah? Kalau sampai Pak Fauzi tau makin hancurlah nilainya, perputaran waktu akan semakin kacau balau, kapan remedial akan selesai?


“Jangan, Pak, tolong!”


“Ini yang lain sudah tinggal dijemput, kamu mau di sini selamanya?” tanya salah satu petugas perempuan yang menginterogasi Mima.


Kemudian seorang petugas datang membawa seorang lelaki bersamanya, lelaki yang begitu dewasa dan sangat santai, masuk ke ruangan di mana Mima dan remaja perempuan lain diperiksa.


“Shaka!” Mima tertegun, dia bahkan tidak terpikir untuk menyusahkan Shaka, dari mana Shaka tau Mima ada di sini.


Petugas yang tadi membawa Shaka membisikkan sesuatu pada petugas wanita yang memeriksa Mima.

__ADS_1


“Oh ini keluarganya, ini adik anda besok-besok dikasi tau, jangan mau ikut-ikutan, nggak ada keren-kerennya punya pacar pembalap liar, tuh pacarnya kabur pas petugas datang, dia ditinggal kebingungan,” ungkap petugas.


Mima begitu malu, tercabik-cabik sekali rasanya, Shaka bisa melihat genangan air di pelupuk matanya yang bulat.


“Iya, Bu, nanti saya nasihati dia di rumah.”


“Itu pacarnya masih diproses karena sempat kabur, mungkin akan dilaporkan ke sekolah.”


“Ngga apa-apa kalau yang itu sih, dibuang ke rawa-rawa juga silakan,” ucap Shaka sangat pelan.


“Gimana?” Ternyata petugas menyadari Shaka yang berbicara pelan sekali.


“Eh, engga, Bu. Kalau yang itu terserah pihak yang berwenang saja.” Shaka mengkonfirmasi.


“Kamu ngga apa-apa, kan?” Kemudian dia mengamati wajah Mima yang sendu, gadis itu pasti terkejut, bingung dan sangat malu.


Mima menggeleng pelan lalu menunduk.


“Aku ke sini buat jemput kamu, pulang, yuk!"


Setelah berpamitan dan menandatangi beberapa perjanjian, Shaka dan Mima keluar dari kantor itu, Mima masih diam hingga mereka berada di dalam mobil travel yang Shaka pesan.


“Ka kama, Da?” (Ke mana kita, Bang) tanya supir setelah Shaka masuk dan duduk di sebelahnya, Mima di bangku belakang, masih shock dan trauma.


Shaka menoleh ke arah Mima, iba rasanya melihat wajah angkuh yang sedang berubah sendu, tapi sayangnya meski sudah jelas-jelas sedang diabaikan, ambisinya belum begitu saja padam .


Mumpung anaknya sedang tertekan, pasti mau nih kalau di ajak jalan, haha.


“Ke Air terjun Lembah Anai, Pak. Mau kan, Ay?”


Meski Shaka tau itu bukan ide yang terlalu bagus, karena siapa yang mau jalan-jalan ke air terjun di tengah hari bulan puasa begini? tapi lihatlah, Ayumnanya tersenyum tipis, petanda hatinya sudah mulai baik-baik saja.


“Gass, Pak!” ucap Shaka penuh semangat.


Kamu tidak boleh terluka dulu,belum waktunya kamu sedih. Kita harus bikin kenangan yang bikin kamu semangat buat bangun, kenangan yang indah, seindah-indahnya.

__ADS_1


__ADS_2