REMEDIAL

REMEDIAL
Terima Rapor


__ADS_3

Ternyata kemarahan itu lebih bisa dihadapi, karena diammu jauh lebih ngeri. 


-- Mima


Rapor semester pertama dibagikan saat kegiatan belajar mengajar aktif usai liburan Idul Fitri, sebagaimana mestinya, Mima Ayumna Lenkara adalah peringkat pertama di  kelas bahkan nilai tertinggi di madrasah. Kalau dulu Mima merasa itu adalah hal yang membuatnya puas meski ada nilai C di dalamnya, tapi tidak untuk hari ini.


Dia benci dengan pencapaian yang membuatnya di masa depan tampak selalu superior di mata lelaki, sekarang Mima tiba di titik dia tidak suka hidup penuh ambisi.


Nilai akademik ditunjang ambisi dan sikap perfeksionis membuat dirinya tidak pernah masuk dalam daftar keinginan lelaki manapun, padahal dia selalu menahan diri untuk tidak mendebat lawan jenis yang dia anggap terlalu lemah berpendapat. Adu argument dengan perempuan ini akan selalu berakhir diam karena Mima menganggap lawan bicaranya tidak cukup penting untuk diajak diskusi.


Mima akan pura-pura puas dengan senyumnya yang sarkas, selalu seperti itu. Pencapaian demi pencapaian membuatnya semakin sulit digapai dari segi intelektual dan belum ada laki-laki yang membuatnya nyaman, meski sebenarnya Mima hanya butuh seseorang yang mau mendengarkan bagaimana dia melewati hari-hari yang sepi.


Sekarang Mima merasa kecerdasan akademik justru membuat kepribadiannya sangat lemah, IQnya mungkin tinggi tapi Q Q nya yang lain sudah turun level kerak bumi. Dia tidak pernah menjadi cinta pertama siapapun sampai usia 26 tahun. Kesepian punya dampak buruk untuk ketahanan hatinya.


Semua lelaki yang pernah dekat dengannya terlalu membosankan, terlalu mudah Mima bantah dengan satu argument saja. Terlalu menurut apapun yang Mima katakan dan inginkan, pernah ada yang berusaha mengimbangi tapi sangat kaku dan berusaha keras agar terlihat lebih tinggi.


Sementara Dheo, meski nilai akademiknya tidak di atas Mima, tapi pengetahuannya luas tentang banya hal, pergaulannya, cara Dheo bicara di depan banyak orang, Dheo selalu percaya diri, sungguh itu sangat menunjang parasnya yang biasa-biasa saja.


Sejak dulu, Mima hanya bisa memeperhatikannya dari kejauhan, melihatnya berdiri, bicara banyak hal dan memimpin banyak kegiatan di sekolah membuat Mima mengaguminya semakin dalam. Banyak perempuan yang ingin menjadi orang istimewa di samping Dheo.


Dheo suka menulis, dari itu dia suka membaca dan membuat pikiranya terbuka dan asik diajak bicara apa saja, sejak sekolah Dheo memang mudah dekat dengan siapa saja, dia berteman baik dengan lelaki maupun perempuan.


Sampai di masa depan, meski sudah menikah Dheo masih rajin membalas setiap pesan Mima di instagramnya. Sebenarnya Mima tidak menyangka akan mendapatkan respon dari lelaki yang dia taksir sejak MA, namun Bukannya sadar diri, Mima justru merasa semakin nyaman.


Belum ada yang bisa mengimbangi pembicaraanya seperi Dheo mengimbanginya, begitu kata Mima. Oh atau dia memang hatinya sudah tidak lagi terbuka untuk siapapun juga?


Di mata Mima, Dheo masih yang paling dia inginkan, untuk itu tidak terpengaruh meski Shaka mengklaim sebagai suami masa depannya, Mima yakin tidak mungkin jatuh cinta dengan lelaki seperti itu. Shaka memang manis, tapi dia tidak cukup super untuk bisa membuat Mima menuruti ucapannya.

__ADS_1


Ha? Apa? Menuruti ucapannya? Bukanhkah selama remedial ini Shaka membuatku menurutinya meski aku tidak suka?


“Selamat ya, Mim! Kamu juara satu lagi, pacarnya siapa sih ini, pinter banget!” Dheo menepuk kepala Mima dari bangku belakang, Mima menoleh dan tersenyum datar.


Mereka masih di kelas, menunggu jam pelajaran berakhir, Mima melirik bangku kosong di samping Dheo, Shaka tidak ada di sana, tadi pagi Shaka bilang Namanya tidak akan ada di pembagian rapor makannya dia tidak perlu ke sekolah.


Sejak Mima pulang dari Padang, Shaka tidak mengacuhkannya, mereka hanya berkomunikasi seadanya. Mima tidak masalah jika Shaka marah, yang jadi pikiran Mima adalah kondektur itu tidak terlihat marah, eksepresinya biasa dan santai seolah Mima tidak ada di depan matanya, tidak bawel seperti biasa Itu justru lebih buruk dari kemarahan Shaka tempo hari.


Sampai tadi malam, Mima menurunkan sedikit egonya lalu memanggil Shaka yang baru pulang dari shalat isya.


“Shaka!”


Lelaki itu menghampiri Mima di teras rumahnya, hanya dengan gerakan alis yang seolah mengatakan “Apa?” , tanpa sapa, apalagi suara.


“Kamu marah sama aku karena aku telat pulang kemarin?”


“Engga, kok. Lupa, ya? Aku punya seribu maaf, kamu bisa ambil sekaligus semuanya kalau mau.” Begitu, lalu lelaki itu masuk ke rumahnya.


“Kamu nggak ke sekolah?” tanya Mima.


“Hari ini penerimaan rapor, raporku mana ada.” Hanya itu dan Kembali menyapu halaman.


***


Sekarang Mima Berdebar, membuka lembaran kertas di dalam sampul hijau tua itu, langsung ke lembar penilaian terakhir, berharap nilai yang menyebabkan dia terseret ke sini sudah berubah menjadi A. Saat menerima email beasiswa yang gagal itu saja Mima tidak segugup ini.


Tiba-tiba Mima terkenang malam di mana dia begitu percaya diri dan sudah nge-book satu kamar di hotel besar untuk merayakan kelulusannya. Oxford, Fakultas Theology, bertemu Dheo dan memamerkan pencapaiannya, semua impiannya malam itu yang yang tinggal satu langkah seketika buram dan membuatnya jatuh, bukan ... bukan, tapi terperosok.

__ADS_1


Dan hari ini lebih buruk dari kemarin, Mima berdebar dan gugup tidak karuan. Kepercayaan dirinya sudah sirna setelah malam itu.


“Masih C?” keluhnya, pada detik ini dia merasa semakin menjadi manusia yang gagal. Selama ini pencapaiannya semu, jati diri Mima adalah insan yang payah, seperti nilai C yang sengaja pak Fauzi tulis dengan tinta merah.


“Manga, Mim?” (Kenapa Mima?) tanya Farha.


“Nilai Fiqihku masih C aja, Far,” cebik Mima.


Farhana meraih rapor temannya dan memperhatikan satu persatu kolom nilai.


“Ndeh … ciek se nyo nan C, nan lain sadonyon 99 mah, lai ndak bersyukur juo?” (Duh, Cuma satu aja kok yang C, nilai lainnya kan 99, nggak bersyukur juga kamu?)


“Merendah untuk meroket, ya?” imbuh Farha.


Pasti menurut Farha Mima sedang menyombongkan diri dan tidak tau bersyukur, tapi Mima merasa tidak perlu menjelaskan apapun.


Mima takut,  bukan Cuma tentang Kembali ke masa depan, tapi Kembali ke rumah sekarang. Shaka pasti kecewa.


Tunggu ... Sejak kapan aku memikirkan perasaan orang lain?


Mima menutup Kembali buku laporan itu dan ingin menemui Pak Fauzi untuk menanyakan apa lagi yang harus dia lakukan. Mima merasa sudah berusha keras, bahkan Salinan lembar misi hanya tertinggal satu tugas.


Barangkali Pak Fauzi berbaik hati mau menjelaskan apa yang bisa dilakukannya untuk mengubah nilai itu dan bisa segera membawa perubahan itu ke masa depan. Bisa segera pulang, bisa melanjutkan kuliah dan kehidupan Bersama Dheo dengan perasaan dan hubungan yang sudah berhasil dia dapatkan sekarang.


“Pak Fauzi tidak masuk hari ini,” ungkap salah seorang guru.


Mima membuang nafas beratnya, enggan menggeret langkahnya pulang ke rumah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2