REMEDIAL

REMEDIAL
Begini kah rasanya?


__ADS_3

Setelah perbincangan siang tadi hingga sore ini, Ayumna jadi sedikit sekali bicara. Pada waktu normal, dia memang bukan perempuan yang cerewet, tapi hari ini rasanya air wajah itu kering hampir tanpa ekspresi.


Jika diberi pilihan, rasanya aku lebih mampu menghadapi perdebatan dari pada perang batinnya perempuan seperti ini.


Dengan cekatan, Ayumna mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas dapur kami, sepertinya dia akan memasak sesuatu untuk makan malam.


Dari ambang pintu, kuamati gerak-geriknya yang lambat adan teratur. Beberapa wadah berisi bahan makanan diletakkan di atas meja dapur beralaskan marmer.


Meski tidak yakin caraku ini akan bekerja dengan baik, namun kupilih untuk menghampiri dan merengkuh pinggang rampingnya dari belakang. Beberapa detik tanpa penolakan, kutempelkan bibir pada ceruk lehernya. Hangat, aroma tubuh yang sangat familiar dan aku sukai.


“Shaka, aku mau masak.”


“Kamu masih marah ya sama aku?” bisikku selembut mungkin.


Ayuma hanya menggeleng lemah. “Kamu ikut aku aja, ke Jakarta. Nanti setelah diklat kita bisa langsung bulan madu.”


Ayumna menggeleng lagi. “Aku Cuma pengen perjalanan yang istimewa,  dari keberangkatan sampai kepulangan. Apa masih akan special kalau disambil dengan kerjaan?”


“Iya… iya, Sayang. Baik. Setelah ini kita rencanakan kembali sebaik-baiknya.” Demi apapun, aku tidak berani membubuhi kata 'janji' pada kalimatku kali ini.


Takut sekali rasanya jika harus mengecewakan perempuan ini lagi.


“Kamu mau masak?” tanyaku.


“Iya.” jawabnya, dengan pisau besar, Ayumna membelah kubis menjadi dua bagian.


“Kita makan malam di luar, gimana? sebagai tanda permintaan maaf aku.”


“Kamu nggak salah, kenapa minta maaf segala. Lagian kalau kamu salahpun. Stok maafku juga masih banyak buat kamu.”


“Wah, ada stoknya segala? Harus aku hemat-hemat nih, kalau-kalau nanti bikin kesalahan yang besar bisa diakumulasi, kan?”


Seolah membaca wajah usilku, Ayumna memanjangkan tangannya, jemarinya yang lentik sangat hafal mencari bagian perutku untuk dicubitnya, cubitan kecil tapi menimbulkan rasa gatal dan perih yang dapat menimbulkan trauma.


“Kamu, ya…”


Senyuman istriku muncul lagi, menyapa persemayaman jiwa yang kekeringan sejak siang tadi. Mengurai, menterjemah definisi kebahagiaan di dalam rumah ini.


“Selepas magrib kita pergi, ya,” pesanku.


***


Atas kesepakatan bersama, kami memilih sebuah kafe di tengah kota untuk makan malam ini. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kesepakatan dengan Ayumna, pada dasarnya dia adalah gadis yang sangat penurut, kami duduk di bangku nomor tujuh tepat di samping jendela kaca lebar yang menampilkan riuhnya jalan raya, kulepas jaketku untuk kemudian disampirkan ke sandaran kursi.


“Eh, kamu bukannya tadi pake kemeja putih, ya?” tanyanya yang menyadari perubahan warna pakaianku.


“Iya, tapi karena lihat kamu pake hitam, jadi aku ganti lagi.”


“Hem,” gumamnya.

__ADS_1


“Soalnya udah lama banget kamu udah nggak menggunakan warna gelap lagi, Ay. Kenapa harus pakai outfit hitam malam ini?”


“Entah lah, pengen aja.”


“Iya, nggak apa-apa, jadi kita kompak deh. Sini foto dulu.”


“Tapi aku nggak suka, ah. Besok-besok, kalau mau pakai outfit kembaran, jangan warna hitam,” protesnya.


Tadinya aku ingin melayangkan keberatan dan protes karena Ayumna selalu saja mencari makna dari segala sesuatu. Termasuk makna di balik warna. Tapi mengingat maaf Ayumna ada stoknya, sebaiknya malam ini aku manut dulu saja. Dari pada stok maaf semakin menipis.


 Selain makanan, aku juga memesan secangkir kopi tradisional, sedangkan istriku hanya memesan makanan dengan segelas air putih.


“Kamu nggak suka kopi ya, Sayang?” Aku suka bagian mencari tau hal-hal kecil tentang Ayumna. Ada hal yang kuketahui sendirinya dari hasil observasi, ada juga yang melalui metode wawancara singkat seperti yang sedang terjadi saat ini.


“Tidak suka rasa pahit,” jawabnya.


"Hem, pantesan Tuhan kasi kamu suami yang manis." Oke, candaanku terdengar sangat garing.


"Apaan, ih!"


“Terus, terus kamu nggak suka apa lagi?”


Dalam obrolan ringan dibalut pertanyaan-pertanyaan kecil, kami saling terpaku, merenda rindu dan menyesap habis manisnya kebersamaan yang terhidang untuk kami malam ini.


“Kita pulang, yuk. Kamu belum packing sama sekali.” Istriku mengingatkan sambil tersenyum manis, menunjukkan betapa cekatannya dia mencuri hatiku hanya dengan seulas senyum.


***


Sudah hampir dua jam dalam keheningan berada di atas ranjang, saling berpunggungan. Aku yang memunggungi Ayumna saat kurasa dia sudah tidur duluan.


Pikiranku tiba-tiba dikerumuni hal-hal tidak menyenangkan. Apa seperti ini rasanya seorang suami yang ingin meninggalkan istrinya bertugas pertama kali? Selama aku pergi, Ayumna pasti merasa kesepian.


Tapi lebih dari itu, yang aku bayangkan bukan hanya tentang Ayumna yang kesepian, aku takut dia marah walau sekarang kami baik-baik saja, aku khawatir dengan sikapku, walau dia bilang punya seribu stok maaf. Aku begitu cemas membayangkan dia tidak bahagia dalam pernikahan kami.


Orang bilang, hari-hari pertama sebagai pengantin baru akan dihiasi hingar bingar perayaan cinta yang mekar, tapi, sudah dua bulan, aku bahkan belum bisa mewujudkan keinginannya yang sederhana.


Sesekali kulirik punggungnya, memastikan Ayumna memang sudah tertidur lelap. Aku menyeka dahiku yang sejak tadi dibasahi keringat dingin.


Pelan-pelan kugeser badan dan memastikan pergerakanku tidak menimbulkan suara, namun belum lagi telapak kakiku menjejak ke lantai, istriku ikut tersadar.


“Mau ke mana?” tanyanya.


Tidak ada tanda-tanda orang yang baru terbangun dari tidur, wajah cantiknya masih segar seperti semula. Atau mungkin sejak tadi dia juga tidak tidur?


“Mau ambil minum, Sayang.” Tidak jadi turun, aku duduk di sebelah Ayumna, menyeka rambut yang menutupi sebagian keningnya.


“Ay, kamu demam. Badanmu panas sekali.”


“Pusing,” keluhan keluar dari bibir kecilnya.

__ADS_1


“Minum obat, ya? Kamu punya stok obat?”


Ayuma mengangguk “Di tas aku yang tadi.”


Tanpa banyak bertanya, aku mencari hand bag yang tadi dia gunakan. Tidak sulit untuk langsung menemukan kemasan obat di dalamnya. Tapi setelah kulihat, ternyata hanya kemasan obat Pereda demam rasa jeruk untuk anak.


“Mana obatnya, Ay?”


“Iya, itu yang kamu pegang, Shaka.”


“Ini obat untuk anak-anak. Milik siapa, kenapa ada di tas kamu?”


Ayumna tertawa sambil menjelaskan padaku bahwa sejak kecil dia tidak sanggup menelan rasa yang pahit termasuk obat-obatan. Efek terparah dia akan muntah hebat dan semakin pusing. Agak aneh, tapi aku ikut tertawa sambil membantunya menggerus tablet jeruk itu.


“Aku jadi ingat sesuatu,” katanya dalam dekapanku usai prosesi minun obat yang dramatis, persis seperti bocah.


“Apa?”


“Waktu aku lagi remedial, kamu juga sering ngeledekin aku gara-gara minum obat ini,” ungkapnya sambil mencubit-cubit kecil dadaku.


“Jangan dicubit, Ay. Nanti aku pengen nyubit juga.”


“Kamu…” protesnya.


“Iya, terus… terus, apa lagi cerita remedialnya?”


“Waktu itu aku sebel banget sama kamu. Kamu sangat mengganggu tau! Tapi kamu tetap sabar, kita jalan-jalan ke banyak tempat yang indah-indah banget.”


“Cuma jalan-jalan aja?”


"Iya."


"Nggak ada ciuman gitu misalnya? ya masa aku nggak khilaf?" Aku tidak yakin dengan diriku sendiri.


“Iya kamu nggak se mesum ini waktu itu ih!” kali ini cubitannya beralih ke lenganku.


“Sakit, Ayumna… aduh!” Aku pura-pura meringis.


“Biarin deh!”


“Kamu nggak bisa tidur ya? Kepikiran apa sampe demam begini. Kepala kamu ini, pasti banyak kebisingan. Berbagi, Sayang. Kamu nggak boleh simpan semuanya sendiri.” Aku memegang kepala Ayumna dengan kedua tanganku sambil memjiat lembut.


“Nggak ada, kok. Sungguh.”


“Yaudah kalau nggak bisa tidur coba cerita lagi sini.”


Ayumna merebahkan kepalanya ke dadaku, Kuusap lembut selagi dirinya mengurai cerita. Entah kenapa, aku sangat suka tokoh Shaka pada cerita Remedialnya. Inginku berterimakasih padanya karena menciptakan banyak kenangan baik dan manis. Oh baik, aku harus berterimakasih pada diriku sendiri.


Intonasi dan volumenya semakin pelan, pelan dan hilang ditelan kantuk dan lelap hingga akhirnya senyap.

__ADS_1


Perlahan kurebahkan kembali kepalanya ke atas bantal, kuselimuti dia dengan lengan dan tubuhku. Jemari kami bertautan. Malam masih panjang, kan? Subuh masih cukup jauh, masih ada banyak waktu untuk saling mendekap.


__ADS_2