REMEDIAL

REMEDIAL
Suami dari masa depan


__ADS_3

Langit ramah merah menjingga, Mima memakai piyama hitam usai mandi sore tadi, rambut pendeknya dikuncir satu ke belakang, melengkung ke tengkuknya,  sekarang dia baru saja menyenderkan gagang sapu dan serokan, panjang dia berbincang dengan pikiran selama membersihkan dedaunan, bertanya-tanya, kenapa lelaki penghuni rumah kebun itu belum juga pulang padahal surya sebentar lagi jatuh ke peraduan.


Saat Mima sudah naik ke tangga menuju teras rumah, derit rantai sepeda beralun dengan suara shalawat tarhim dari surau.


Baju osis lelaki itu sudah keluar dari keliman celana abu-abu, wajahnya tampak lelah tapi senyuman di wajahnya masih baik-baik saja, sama sekali tidak tampak kesal, pada stang sepeda ada satu kresek berukuran sedang, susah payah dia mengeluarkannya, kemudian diambilnya salah satu plastik bening kecil yang berisi sebuah kain warna hitam.


“Eshaka,” panggil Mima pelan, sekarang dia merasa tidak enak hati karena mendengar saran Dheo yang tadi menyuruh Shaka membawa pulang sepedanya.


“Hei, panggilan yang manis, tapi di masa depan kamu manggil aku Sayang loh,” goda Shaka, dia juga senang melihat wajah segar Mima usai mandi sore.


Bahkan senja tidak lebih indah dari garis wajah Mima.


“Serius, aku mau minta maaf, udah nyuruh kamu bawa pulang sepedaku.”


“Sebenarnya aku kesal, tapi lumayan juga dari pada harus jalan kaki kan? aku jadi bisa keliling pakai sepeda ini.”


“Ke mana?”


“Nih!” Shaka mengulur kresek itu untuk Mima, gadis itu menjengah isi kresek yang ternyata dua  bungkusan daun pisang, bersamanya juga terdapat beberapa plastik bening yang berisi lauk.


“Nasi sek?” Mima tampak antusias.


“Udah lama ngga makan ini ‘kan? aku shalat magrib dulu, abis itu kita makan sama-sama, ya?”


Mima mengangguk cepat, perutnya tiba-tiba terasa lapar membau aroma nasi yang dibungkus dengan daun pisang yang sudah disalai itu,  tidak ada yang terlalu spesial selain karena makanan itu hanya ada di Pariaman.


“Oh ya, ini satu lagi.” Shaka menyerahkan plastik bening pipih yang berisi kain hitam tadi.


Mima membolak-balikkan benda itu.


“Itu ciput, dalaman jilbab. Jadi kalau pergi sekolah kamu nggak lagi pakai jipon, jilbab poni. Nggak ada imut-imutnya, Ay.”


“Heh? Yaudah, Makasih. Besok aku pakai,” jawab Mima ketus sambil masuk ke dalam.


***


Nasi sek masih dengan daun pisangnya terhidang di atas meja bersama gulai ikan, balado jengkol dan teri, juga ada sala lauak pemberian Tek Na tadi siang.


“Bakwan bundar?” tebak Shaka saat melihat bentuk sala lauak.


“Sala lauak namanya, ini Cuma ada di sini, cobain deh.” Mima meletakkan beberapa sala ke dalam piring Shaka.


Tercium bau khas dau kunyit dari tepung goreng yang berbentuk gumpalan sebesar ibu jari berwarna coklat keemasan, bahan dasarnya adalah daging ikan yang dihaluskan bersama tepung terigu. Shaka mengucap basmallah sebelum memasukkan satu sala ke dalam mulutnya.


“Kamu keliling pakai sepeda?” Mima membuka cerita di sela makan malam mereka.

__ADS_1


Shaka mengangguk, “Iya, ke pasar rakyat, seru juga.”


“Oh.” Mima memasukkan makanan ke mulutnya begitu saja, Shaka menggeleng heran memperhatikan cara Mima makan.


“Seru jalan-jalan sama masa lalu?” sindir Shaka.


“Ketemu Pak Fauzi di simpang tabuik.” Bibir Mima menyonyong.


“Allah ... belum apa-apa  udah membuka kesan burukmu sendiri, kamu lupa ya? Pak Fauzi adalah tombak suskses perjalanan remedial ini.”


Siuk nafas Mima terdengar berat.


“Sekalian remedial semuanya ngga bisa ya?”


“Bukan bisa atau enggaknya sih, tapi yakin di masa depan kamu ngga akan nyesal?”


“Kenapa aku nyesal?”


“Iya sih, kenapa kamu harus nyesal ya, tadi pas digombalin waktu kelas Pak Selamet aja kamu seneng banget, kan?”


“Tanpa digombalin pun aku memang seneng sama Dheo,” ungkap Mima jujur. “Kamu tau nggak, setelah kami berpisah aku selalu berdoa supaya ketemu lagi dan berjodoh sama dia.


“Yakin berdoa? Kamu makan aja enggak  baca doa tuh barusan,” sindir Shaka lagi.


Mima tersedak, makanan yang masuk tercekik di kerongkongan.


“Biasakan Bismillah, Ay. Masa untuk hal yang setiap hari kita lakukan aja kamu enggan berdoa.”


Mima menenggak air putih  sambil menatap Shaka yang masih santai mengunyah bagiannya.


“Bismillahifiawalihi waakhirihi,” rapal Mima pelan dan melanjutkan makannya. Shaka tersenyum puas.


“Tapi itu yang aku suka dari kamu.”


Mima mengawasi kalimat Shaka.


“Kamu itu dari luar tampak sangat keras, tapi sebenarnya sangat terbuka akan ilmu, pemikiranmu seksi meski tidak semua orang bisa nyambung kalau kamu ajak diskusi,” papar Shaka.


Mima masih memantau tujuan dari kalimat lelaki itu, Mima tidak yakin kalau Shaka sekedar ingin memuji.


“Sering dianggap aneh dan gila juga sih,” celetuk Mima, karena hal itu juga dia tidak punya lingkaran pertemanan akrab.


“Haha, karena orang masih awam sama ilmu yang kamu dalami, kamu juga sih, apa-apanya dipikir sampai ke dasar, Mau nembak gebetan aja kamu harus menelaah dulu definisi cinta mulai dari era Yunani, kan?”


Mima tersenyum miring karena pernyataan Shaka sangat benar, untuk menelaah rasa suka saja dia harus mengeluarkan energi yang cukup besar, itulah kenapa jatuh cinta adalah hal merepotkan bagi Mima dan dia tidak mudah melakukannya.

__ADS_1


“Kamu perempuan cerdas yang sudah terbiasa dengan literatur berat,  Bahkan saat anak Hukum nggak benar-benar baca Two Treatises of Governmentnya John Locke dan Leviathan-nya Thomas Hobbes, itu sudah jadi cemilanmu sehari-hari. Maka aku yakin, Mapel Fiqih bukan hambatan yang berarti. Tolong, bersungguh-sungguhlah!” pinta Shaka.


Mima masih diam.


“Dan kamu tau, remedial ini bukan sekedar teori. Karena Kamu adalah manusia yang selalu menyangkal realitas dan mengabaikan perintah Tuhan, itu yang harus kamu perbaiki.”


“Bukan menyangkal, aku hanya terbiasa mempertanyakan semua hal sampai ke akarnya, termasuk masalah Agama dan peribadahan, itu bagian dari filsafat.”


“Tapi bukan berarti kamu ngga percaya keberadaan Allah sebagai satu-satunya ‘Illah ‘kan?”


Mima tersentak, beberapa waktu sebelum memutuskan memilih beasiswa program magister jurusan theologi, dirinya memang sempat meragukan eksistensi Zat Maha Abadi itu.


“Aku bukan Atheis!” tegas Mima, iya ... ada bayangan nenek dan kedua orang tuanya yang buru-buru menyadarkan pikiran bebas tidak terbatas itu.


“Memang bukan, Ay. Kamu dilahirkan sebagai seroang muslim, makannya dikasi kesempatan hidup buat jadi mulismah yang baik.”


Mima melanjutkan kunyahan tanpa menanggapi ocehan Shaka, tapi  Shaka tau Mima mencerna kalimat itu sebaik dia mencerna makanannya.


“Aku masih penasaran, di mana kamu mulai ikut ke perjalanan ini?”


“Saat kamu tidur di kereta kita.”


Mima mendengarkan cerita Shaka dengan seksama.


“Oh ya? Terus kamu beneran suami masa depanku?”


Shaka mengangkat kedua  bahunya serentak.


“Enggak tau juga sih, kamu loh yang nanti ngomong begitu ke aku. Aku taunya juga dari kamu."


“Heh, mana mungkin aku naksir sama lelaki merepotkan begini?”


“Haha, masa? Tapi ... di masa depan aku memang tidak terlalu menyenangkan sih, nanti kamu jangan marah-marah loh, ya.”


Mima mengernyit, ucapan Shaka sekilas seperti sebuah imajinasi yang mengada-ada, tapi dia masih penasaran untuk terus menggali informasi dari sana.


"Aku bukan perempuan yang suka marah-marah!" tukas Mima.


“Iya sih, Makannya harus tepat waktu loh ya remedialnya, biar bisa ketemu aku, kita kenalan.”


“Memangnya ketemu di mana?” selidik Mima lagi.


“Di perjalanan yang sangat kamu inginkan.”


***

__ADS_1


Maaf ya kalau bikin pusing, sebaiknya siarpin aspirin. Hehe.


__ADS_2