REMEDIAL

REMEDIAL
VITAMIN C


__ADS_3

Tuhan, cukup vitamin aja yang C nilaiku jangan.


-- Mima 


Mima Ayumna Lenkara, parkir sepeda dengan hati-hati, dia harus menghindari Shaka kalau perlu membuat Shaka amnesia agar tidak menanyakan nilai rapornya. Melangkah pelan-pelan sampai dia menyadari usahanya percuma, karena Shaka sudah berdiri menunggunya di depan tangga teras rumah, melipat kedua tangan di dada, manis tanpa senyum berlebihan, persis saat pertama kali Mima melihatnya di dalam kereta dimensi masa.


“Astaghfirullahaladzim, ngagetin aja sih?”  Mima jadi salah tingkah. S toemoga Shaka tidak  melihat ekspresi gugupnya.


Dasar Ghoib!


“Gimana rapornya?” tanya Shaka to the point.


Mima melangkah melewati Shaka begitu saja, hampir tujuh hari tidak banyak kata yang keluar dari mulut lelaki ini, hari ini Shaka bicara untuk menanyakan nilai rapornya. Apakah Shaka sudah tidak sabar untuk Kembali ke masa depan? Apa dia sudah Lelah melihat tingkah Mima di sini?


Mima berjalan seolah Shaka tadi tidak menegurnya, setengah hatinya benar-benar gugup, sisanya dia takut Shaka pasti akan menganggapnya payah.


“Ayumna!” Shaka menyusul langkah Mima ke dalam dan menarik tas punggung gadis itu sehingga tubuh Mima tertarik ke belakang dan berhenti melangkah.


“Lihat sendiri!” Mima menyerahkan rapornya, masuk dan membanting pintu kamar, sungguh jantungnya berdegup sekencang suara bantingan daun pintu ke kusen kayu.


Setibanya di kamar, Dheo menelponnya, kali ini Mima mengabaikan panggilan itu karena perasaanya masih sangat kacau dan Dheo tidak akan paham.


“Ay, kamu BT ya nilainya masih C?” Suara Shaka lembut terdengar dari balik pintu, hati Mima ikut sejuk, kebimbangannya sedikit berkurang.


“Ngga apa-apa, ya. Remedial kamu bukan tentang nilai akademik aja, kok, ya … tapi kalau nilai akademik aja babak belur begini gimana nilai lainnya ya,” sindirnya telak.


Mima tidak menjawab, masih menunggu kalimat berikutnya, namun yang terdengar Langkah kaki Shaka menjauh dari kamar. Ketika dia keluar untuk memastikan, Shaka memang sudah tidak ada.


***


Sejak kejadian di sudut bioskop kemarin, Mima merasa Dheo semakin  posesif, lebih banyak menuntut dan mereka jadi lebih sering terlibat aktvitias fisik, baik secara langsung maupun melalui teks dan telpon. Mima baru tau sisi diri Dheo yang satu itu, entah sejak kapan Dheo jadi mirip Om-Om yang selalu membutuhkan sentuhan dalamsebuah hubungan. Awalnya Mima pikir hanya sebatas rasa penasaran dan ingin mencoba, tapi setelah malam di bioskop kemarin lelaki itu cukup pro juga.


“Kamu sayang kan sama aku?” Ini pertanyaan andalan Dheo saat sedang merayu Mima, semacam ultimatum agar Mima memenuhi permintaanya.


“Kamu percaya kan kita akan sama-sama sampai nanti?” lanjutnya jika Mima masih mempertimbangkan ini itu saat Dheo meminta.


“Tapi, Dhe …”

__ADS_1


“Ya udah, aku nggak maksa kok, tapi mungkin kita cukup sampai di sini saja.” Mima tau betul kalimat semacam itu adalah titik paling hina jika perempuan masih mengharap secercah ketulusan di sana.


“Ngga gitu, Dhe. Iya … iya .. nanti aku kirim, ya.” Meski logikanya menolak, namun hati dan ucapannya terlalu bucin untuk bisa mengelak, percakapan semacam itu berujung dimenangkan Dheo, selalu dimenangkan Dheo.


Selanjutnya Dheo akan tersenyum dan mengirimkan emotikon love setelah menerima foto yang Mima kirim. Foto lekuk-lekuk tubuh tertentu.


Hubungan yang semakin jauh dan menurut Mima cukup beracun, tapi dia belum mau berhenti, ambisinya masih belum mati.


*Entah ambisimu yang belum mati, atau kamu memang sedang menulikan diri dari kebenaran, Mima? Cuih, kau masih bangga dengan pujian yang mengatakan Ayumna Lenkara itu cemerlang? Nyatanya menjadi budak cinta membuat otakmu berada pada sekte level bawah tanah. *


“Kamu udah beberapa hari ini susah dihubungi ya, Mim.” Protes Dheo saat Mima baru saja duduk di bangkunya. Dari sudut matanya Mima sadar Shaka mengamati aktivitas mereka.


“Maaf, ya.” Mima memutar badannya dan berhadapan dengan Dheo, selama ini dia memang agak menghindar sih, karena malas meladeni permintaan Dheo yang aneh-aneh.


“Pekan depan sahabat aku ulang tahun, bikin party di Padang, kamu temenin aku, ya?”


“Sahabat yang mana?” Mengingat Dheo ini punya banyak teman diluar lingkungan sekolah.


“Temen club.”


“Yang kemarin mengusung kamu balap liar?”


“Ya, bukan sih. Kenapa harus di Padang ya?” Setau Mima kalau sudah ke Ibu kota itu artinya menuju ke tempat hiburan yang lebih berkelas dari pada di Pariaman.


Dheo mengangkat kedua bahunya.


“Ikut, ya?”


“Aku mau ketemu Pak Fauzi, Dhe. Mau remedial dulu.”


“Ha? Remedial apa lagi? Belum puas juga dengan juara satu?”


“Nilai Fiqihku masih C.”


“Astaga, cuma satu itu aja 'kan?”


Tapi nilai itu yang aku perjuangkan agar di masa depan kamu melihat dan menyadari keberadaanku di duniamu, Dheo.

__ADS_1


“Kalau ada nilai C, khawatir ngaruh buat penerimaan beasiswa univ tertentu.”


“Oke, tapi Sabtu sore libur dong? Kita ke padang pokoknya,ya? Ahad pagi baru kita pulang.” Seenak kepalanya Dheo mengambil keputusan, sementara jantung Mima seperti dipukul palu beduk membayangkan ekspresi Shaka mendengarkan obrolan mereka.


“Anak ini kok maksa ya?” Shaka menyela, Mima menyadari tangan Shaka mengepal dan siap memukul kepala Dheo yang entah isinya apa.


“Eh?” Dheo mengernyit, “Lalu Ang boleh ikut Mima dan keluarganya liburan? Aku nggak boleh ngajak pacar sendiri?”


“Shakaaaa! Duh, akhirnya masuk juga kamu hari ini, udah kangen banget tau.” Kali ini Mima ingin berterimakasih pada teman sebangkunya, berkat Farha pertikaian yang hampir terjadi itu bisa terjeda.


“Far, temenin Aku ketemu Pak Fauzi!”


“Ya Allah, belum juga puas ngeliatin Shaka, hem. Tumben juga kamu ngajak-ngajak, biasanya juga jalan sendiri?”


Mima sudah keluar dari bangku dan menarik paksa tangan Farhana.


“Mim … Mim, sabar, Mim, tali sepatuku lepas, hei! Shaka … bentar, ya nanti kita ngobrol lagi,” celoteh Farha yang terseret.


***


“Pak, beri saya tugas remedial untuk nilai Fiqih yang masih C,” ucap Mima berani di hadapan Pak Fauzi.


Siang itu sang guru terlihat pucat, dia tersenyum teduh saat dihampiri siswinya.


“Bapak pikir kamu ndak sadar nilai Fiqih kamu C, nilai lain hampir sempurna ‘kan?”


Memang benar kata Pak Fauzi, dulu Mima sama sekali tidak peduli, tidak pernah dia perhitungkan sama sekali.


“Sekarang saya peduli, Pak. Beri saya remedial,” kekeh Mima.


“Ndak ado nan paralu dipaeloi do.” (Nggak ada yang perlu diperbaiki).


“Tapi saya butuh nilai A, Pak.”


“Maaf, Nak. Bapak tidak bisa kasi nilai A seperti guru lain, sebagai guru yang mengajarkan hukum ibadah dalam agama kita, Bapak bertanggungjawab kalau memberi nilai A padahal kamu tidak pernah menerapkannya. Kamu tau hukum shalat, kamu hafal hukum menutup aurat, tapi kamu jelas-jelas melanggarnya. Bagaimana Bapak mempertanggunngjawabkannya nanti?”


Mima mermemas telapak tangannya, apa dia segitu hina hingga tidak pantas mendapat kesempatan perbaikan, bukankah Pak Fauzi juga sama manusia? Mima merasa diperlakukan tidak adil.

__ADS_1


*Terus sampai kapan ini Gue remedialnya? Tuhan ... tolong, vitamin aja yang C, nilaiku jangan. *


__ADS_2