REMEDIAL

REMEDIAL
Kalamai


__ADS_3

Mima berjalan menuju pintu yang terhubung dengan halaman belakang. Pekarangan belakang rumah Tek Na masih cukup luas, sudah terang dikelilingi lampu hias dari kaleng bekas, belum lagi lampu warna-warni yang tadi Shaka pasang. Tungku tradisional menyala di tengah, kuali besar di atasnya, seorang lelaki yang sedang mengaduk adonan tepung ketan yang sudah mulai mengental itu.


Shaka menyadari kehadiran Mima dan tersenyum menyambutnya. Tidak ada suara, Mima mengamati buih-buih kecil yang menggelembung dan Meletus bergantian di permukaan adonan.


“Gantian sini, aku yang aduk!”


“Ini berat, Ay.” Memang benar, Shaka sampai menyeka keringat di keningnya, tapi dia senang melakukannya.


“Pelan-pelan aja, sini pinjam dayungnya, aku mau coba!”


“Mana bisa pelan-pelan nanti dia menggumpal.”


“Yaudah bisa kok laju-laju juga!” Mima masih ngeyel.


“Terlalu aduk juga akan membuat adonanya terpelanting nantinya.”


“Sok tau banget sih?” Mima mulai kesal.


Suara takbir melatari proses mengaduk kelamai di halaman belakang, Mima tidak pernah Lelah mendebat Shaka dengan pertanyaan-pertanyaan di luar nalar, kadang Shaka jawab dengan sabar, kalau kehabisan kata Shaka jawab dengan candaan dan mereka akan terpingkal seperti gelembung-gelembung kecil di permukaan adonan.


Begitu seterusnya sampai dirasa galamai sudah matang sempurna.


“Duduk situ! Sambal nunggu Kalamainya dingin, nanti Tek Na pulang baru kita pindahin ke piring.”


Mereka duduk menghampar di rumput gajah,  Shaka meluruskan kaki, lumayan juga ternyata mengaduk kalamai sendiri. Mima mengambilkan air putih dan memberikan pada Shaka.


“Makannya jangan sok tau, cape kan?” Dia kemudian ikut duduk di sebelah Shaka.


“Lebih cape nasihati orang yang lagi jatuh cinta!”

__ADS_1


Mima yang duduk di samping Shaka mendorong bahu lelaki itu.


“Makasih air putihnya, terus begini sampai masa depan ya.” Suara Shaka masih ngos-nngosan, belum hilang Lelah mendayung kalamai.


“Sama-sama, Shaka, tapi jangan banyak berharap, di hati aku Cuma ada satu kandidat.”


“Hahahaha.” Shaka tertawa kencang, geli mendengar jawaban Mima.


“Keras kepala boleh, bodoh ya jangan, Ay! Sepintar apapun, secinta apapun kamu sama dia,  cukup jadikan dia warna yang mungkin membuat remedialmu lebih ceria. Kan kamu udah tau di masa depan dia nikahnya sama siapa? Udah waktunya sadar, kalau Dheo Dezola itu  cuma sing-gah, cukup kamu kasi kopi, jangan kasih hati! karena dia akan segera pergi, nggak akan betah.”


“Shaka, sok tau boleh, sok tau banget ya jangan! Apalagi Percaya diri berlebihan, memangnya kamu itu siapa sampai klaim jadi suami masa depan aku, dasar Kalamay!”


“Kalamay? Manis dan bikin kamu lengket? Hahaha. Ya, aku memang ngga sempurna sih,” Shaka menyugar rambut depannya yang basah karena keringat, Mima mengamati dan menikmati wajah manis makhluk di sampingnya.


“Meski nggak sempurna, tapi dalam hidupmu aku cukup berguna, untuk bikin kamu merasa kangen terus misalnya,” ungkap Shaka penuh percaya diri.


“Enggak … enggak … enggak mungkin!”


“Nggak masuk akal, Shaka, Bulshit!”


“Eh tapi serius tau, aku masih ingat tuh … kamu selalu bilang ke aku.” Shaka menyandarkan kedua telapak tangannya ke rumput, tubunya setengah berbaring, kepalanya menadah ke langit.


“Apa?”


“Kalau aku lagi sibuk kerja, kamu suka uring-uringan nggak jelas, nge-whatsap aku berulang-ulang kali sampai aku baca, lalu aku telpon tanyain, kamu kenapa? Aku suka setiap kali kamu jawab …” Dia menggantungkan kalimatnya dan menggantungkan senyum geli menghadap Mima.


“Ih jawab apa?” Meski tidak percaya, tapi Mima penasaran dengan dirinya versi masa depan Bersama Shaka.


“Kamu selalu  bilang, Aku baik-baik saja, cuma pengen ketemu dan dipeluk lama, sudah itu saja. Mas.”  Shaka menirukan gaya bicara Mima yang datar tapi sebenarnya banyak drama.

__ADS_1


“Hueks, ngayal kamu!” perut Mima terkocok mendengar pernyataan Shaka, bahkan virus bucin kepada Dheo tidak pernah membuatnya sampai mengucapkan hal itu.


“Geli, kan? Sama? Aku juga agak geli gimana gitu dengernya waktu itu, tapi kok indah ya kalau diingat-ingat, hahaha.” Shaka terpingkal melihat ekspresi Mima.


“Em, di masa depan, aku punya anak berapa?”


“Nah, aku nggak tau kalau itu!”


“Ya Tuhan, aku udah seperti bocah gampang banget dikibulin kamu!”


Shaka menggigit bibir bawahnya, gemas mengamati wajah Mima yang kesal dengan cerita-ceritanya.


"Ya semua memang berawal dari nyimak cerita-cerita aku sampai akhirnya kamu memang bagian dari cerita itu."


“Semua cuma akal-akalan kamu aja itu supaya bisa menghalangi aku sama Dheo, kan?”


“Sebenarnya engga sih, aku marah kalau kamu cabut sama Dheo, itu karena dia memperlambat proses remedial kamu, bukan karena cemburu, jangan ke GR-an, ngga ada rasa cemburu sama sekali.”


“Kenapa?”


“Ya, karena sekarang memang belum waktunya aku jatuh cinta sama kamu, sekali lagi aku ulang, ya … Kamu yang duluan jatuh cinta sama aku, hahaha.”


Mima tidak sungkan lagi memukul lengan Shaka dengan jurus pukulan seribu bayangan, karena dia kesal dan tidak terima dituduh mencintai terlebih dahulu, apalagi Shaka bukan orang yang dia mau, dia tau itu hanya bualan Shaka, tapi kesal dan ingin rasanya merobek-robek mulut si kalamai ini.


Shaka tertawa puas hati.


Tapi aku nggak akan  kasi tau kamu, bahwa setelah aku tau perasaan itu, aku bisa membalasnya jauh dari apa yang kamu mau, keras kepalamu adalah alasan kenapa hatiku tidak menerima siapapun sebelum kita bertemu.


“Iya … iya, Ay, udah .. udah, besok mau lebaran loh, Maaf, ya … Maaf. Minal Aidin Wal faizin, Aku siap nafkahi kamu lahir batin!”  Shaka berdiri dan berlari masuk duluan ke rumah Tek Na, sebelum Mima kesurupan dan menghabisinya.

__ADS_1


“Kondektur Ghoib!” teriak Mima.


__ADS_2