
“Kamu mau bawa barang-barang saya ke mana, Shaka?” rengek Mima setengah putus asa saat mereka sudah tiba di Lorong penghubung yang berdinding kaca, sisi kiri dan kanan menampilkan landscape bandara dan suasana tanah Minangkabau dari ketinggian.
“Kamu baca nggak papan petunjuk hitam yang tulisannya warna hijau tadi?” Shaka melirik sebentar dan tersenyum tipis, senyum yang membuat lorong jembatan penyebrangan orang itu malah terasa mencengkam untuk Mima.
Sejak tadi mereka melewati sign board yang mengarahkan ke stasiun, tempat Shaka bekerja, habitatnya si makhluk ghoib ini, Mima tau.
Di ujung lorong ada tiga pilihan untuk turun, tentu saja Mima tidak bisa memilih akan turun dengan pilihan yang mana, karena Shaka langsung berdiri di depan lift dan masuk sesaat setelahnya. Mima memilih ikut masuk daripada barang-barangnya tergadai bersama Shaka.
“Kondektur Shaka, Fara itu teman saya!” Ditengah keputus asaanya, Mima ingin menyetrum Shaka dengan sebuah fakta. Biar dia tidak semakin semena-mena.
“Iya, saya tau. Fara dan Bang Gilang sudah cerita,” jawabnya santai.
Hanya berselang satu dialog, lift kemudian terbuka. Dan mereka sudah tiba di stasiun yang Shaka maksud.
Stasiun di bandara ini baru beroperasi beberapa tahun, Mima belum pernah mencobanya, dia lebih senang repot-repot berhenti di stasiun kota dan naik taksi ke bandara, namun itu dulu saat bisa menikmati perjalanan. Kini dia hanya ingin pulang dan memulai hari barunya dengan tenang.
Shaka berbohong tentang jadwal kereta ke kota tinggal lima menit, buktinya setelah mereka tiba di ruangan berdinding kaca, terdapat meja loket yang masih ada antrian.
“Shaka, saya sungguh tidak sedang ingin ke kota, dan saya tidak naik kereta. R” Mima mulai melunak dengan harapan Shaka berbaik hati melepas kopernya.
“Kenapa?”
"Karena rumah saya dekat sini, saya hanya perlu naik taksi."
Ya kerena saya nggak mau tersorot jahat mengganggu lelaki yang akan menikah dengan sahabat saya! Gitu aja masa ga tau sih!
Kalimat itu tersendat di kerongkongan dan harus masuk kembali ke benak Mima manakala Shaka dengan santai sambil berbicara entah apa dengan teman-temannya di sana, memindai barcode dari tanda pengenal miliknya, lolos mental detektor dan di sinilah mereka, di dalam gerbong hijau yang hanya terisi beberapa penumpang.
“Oke, kita sudah sampai di kereta, kamu silakan kembali ke tempat kerja kamu.” Mima berada di titik pasrah terendah. Dia sudah di kereta, ingin berontak sudah tidak ada guna, petugas sudah mengumumkan keberangkatan.
“Sudah hampir jam lima, jam kerjaku sudah selesai sejak tadi,” jawab Shaka sambil memasukkan barang Mima ke tempat barang yang ada bagian atas.
“Kamu mau di samping jendela atau di samping jalan sini?” Shaka memberi pilihan. Tanpa menjawab Mima menggeser posisinya di samping jendela, posisi yang dia harap bisa memperbaiki sisa waktunya hari ini.
“Kalau saya maunya di samping kamu!” Imbuh Shaka kemudian sambil ikut duduk di sebelah Mima. Tidak pelak membuat mata Mima membola.
Ingin rasanya tersipu merah merona, tapi Mima tau posisinya.
Dari tempat mereka duduk, terdengar suara kondektur di luar meniupkan peluit Panjang kepada masinis. Masinis yang telah melihat kondektur meniup peluit Panjang, segera membalasnya dengan membunyikan klakson sebagai tanda telah aman untuk memberangkatkan kereta api.
Sinyal keluar sebagai tanda berangkat pun telah ditarik naik. Perlahan KA bandara berjalan, dengan berkali-kali masinis membunyikan klakson sebagai tanda peringatan KA akan melewati perlintasan sebidang. Suara klakson berulang kali dengan jeda waktu yang pendek menjadi tanda begitu banyaknya perlintasan sebidang yang tidak dijaga dan liar.
“Lega, akhirnya kita bisa ketemu lagi, Ayumna,” ucap Shaka sopan, pembicaraan mulai terasa normal.
“Saya nggak tau kalau acara kalian akan diadakan di sini.” Mima benar-benar menyesali langkahnya hari ini, namun dia sudah belajar cukup banyak bahwa tentang takdir, memang tidak ada yang manusia ambil andil.
“Acara kalian? Aku udah lebih dari dua bulan balik ke sini, waktu malam aku liat kamu datang ke acaranya Fara. Itu besoknya cutiku udah habis dan aku udah langsung balik ke sini.”
“Acaranya Fara?” Mima beringsut.
Ya kan itu acara anda juga, Bambang!
__ADS_1
“Iya, waktu itu aku buru-buru banget, aku bahkan nggak ketemu sama temenku.”
Mima tidak tertarik mendengar cerita apapun dari Shaka, dia lebih memilih bersiap-siap mendengar pengumuman pemberhentian yang paling dekat dengan rumahnya.
Mima menoleh ke arah jendela, panorama bentang alam Minangkabau dari dalam kereta selalu menawarkan indah yang tidak pernah ada celah.
“Ayumna!” panggil Shaka.
“Hem?” jawab Mima sekenanya.
“Kamu kenapa nggak pernah balas pesanku, bukankah kita sudah sepakat berteman?”
Mima hanya menjawab dengan sorot mata tajam dan membuang kembali pandangannya ke luar jendela, dia butuh kesejukan untuk hati dan kepala yang sedang panas-panasnya.
“Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu tau saya ada di bandara ini? Kenapa kamu bawa saya ke kereta ini?” cerca Mima kesal.
“Kamu kondektur alam mana sebenarnya? Atau kamu ini demit?”
Seseorang berseragam sama seperti Shaka berjalan menghampiri mereka dan menyapa Shaka.
“Pulang lai!” (pulang lah lagi) sapa rekannya ramah.
Shaka hanya membalas sekilas dengan meninju pelan lengan pria itu.
“Stasiun adalah rumah ke duaku, aku sama sekali nggak tau kamu ada di bandara kalau bukan karena iseng naik ke atas ya buat keliling-keliling aja sebelum pulang, Nggak sengaja liat kamu dari dinding kaca ruang ketibaan, dan mulai melakukan segala acara, sedikit memelas agar temanku si petugas di bandara tadi mengizinkan aku masuk.”
Ungkap Shaka begitu santai.
“HANTU!” sambung Mima.
Shaka malah tersenyum lebar, “Nah, justru itu, aku penasaran. Kenapa? Hantu yang semanis ini tuh hantu apa? Oh aku mirip Edward Cullen kah maksud kamu?”
Mima belum berkenan menjawab, bibirnya masih rapat.
“Atau mungkin takdir memang mempertemukan kita karena kamu masih punya hutang cerita padaku, Ay.”
“Kita sudah tidak ada cerita apapun. Kamu sudah punya cerita sendiri. Ceritaku hanya ilusi, kamu tidak perlu mengetahuinya. Shaka, STOP dan Plis. Jangan jadi orang jahat, aku juga tidak mau jadi jahat.”
Kan kamu yang ngajarin aku biar jadi orang baik
“Kita bicara apa sih? Aku kok belum ngerti ya?” Shaka mengernyit dan mulai tampak serius.
“Saya nggak mau jadi sorotan pendosa di mata manusia, saya sudah pernah seperti itu dan tidak ingin lagi menyiksa hidup saya,” ungkap Mima.
“Kamu adalah calon suami Fara, Fara adalah teman saya, saya bahkan saya menganggapnya sahabat saya. Pak Gilang, kakaknya Fara adalah rekan kerja saya.”
Hampir saja tawa Shaka meledak seisi kereta setelah mendengar Mima meracau sesuatu yang tidak dia pahami.
“Tunggu… tunggu, pada fakta yang mana kamu bisa bilang saya calon suaminya Fara. Kamu temannya Fara, kamu nggak tau siapa calon suami Fara? Kamu teman macam apa?” tuding Shaka.
Mima terdiam, terpukul, tertembak tertohok oleh kalimat Shaka.
__ADS_1
“Maksud saya teman lama sewaktu di kampung.”
“Oh teman lama, ya minimal nanya atau cari tau dong ya temannya menikah dengan siapa, liat status WA mungkin?”
“Fara nggak pernah bikin postingan tentang kamu.”
“Ya ngapain dia posting tentang saya, Astaga! Ya, oke… oke, paling tidak… paling minimal banget ini ya, kamu liat dong undangan pernikahan Fara?”
Mima menggeleng, tidak pernah sanggup. Paket bridesmaidnya saja tidak pernah dia ambil.
“Ya terus? Data dari mana itu sampai kamu berkesimpulan demikian?”
“Kamu ada di pernikahan Fara, menggunakan jas navy di atas panggung, berdua dengan Fara!” cicit Mima mulai tidak tenang.
Buncahan tawanya sudah berbentuk balon air yang tidak sabar ingin meledak melihat ekspresi dan penuturan pernyataan Mima. Mata bulat Mima yang berkaca-kaca membuatnya menyimpan lagi ledakan itu. Namun raut wajah penuh kemenangan tidak bisa dia sembunyikan.
“Saya tidak sedang mengibur anda, Pak Kodektur!” tukas Mima.
“Baik… baik, sebentar ya, saya tenangkan diri dulu!” Shaka mencoba mengambil udara di sekitar untuk meredam hormon tawa, dan tidak berhasil, dia tetap tertawa walaupun kecil.
“Ternyata benar ya, perasaan paling merepotkan di dunia itu adalah kecemburuan. Pada beberapa kasus perasaan itu mengendalikan akal manusia menuju hal yang mustahil.”
“Maksud kamu saya cemburu?”
“Saya nggak bilang gitu, tapi hanya orang yang sedang cemburu yang bisa membuat kesimpulan dengan data sembarangan, dan melibas habis semua kemungkinan lain demi memberi makan rasa curiganya. Memperpendek sumbu intelektual."
“Terserah anda!” Mima semakin bingung namun membiarkan Shaka mengungkapkan semua dengan sendirinya.
“Malam di mana Fahana bertunangan itu, harusnya juga malam pertunanganku, tapi ya… tapi bukan dengan Fara, Ayumna!”
“Lalu?” tanyanya refleks.
“Ekhem, kamu ternyata ingin tau juga ya tentang aku? Nggak apa-apa Aku senang. Aku pikir cuma aku yang penasaran tentang kamu.”
“Oke, lalu?” Mima tidak bisa bertahan akhirnya tunduk dihantam rasa kaget, penasaran dan panas yang masih menjalar. Padahal, dengan siapapun Shaka bertunangan akan sama-sama sakit, kan?
“Aku mau lanjut cerita, tapi stasiun Pariaman sebentar lagi tiba, sementara aku mau ke kota. Mau ikut aku dulu?”
Entah siapa yang memberi komando, kepalanya mengangguk pasrah menerima tawaran itu.
"Itu artinya kamu akan naik kereta terakhir nanti melewatkan senja bersamaku?"
"Senja hanya pergantian hari, tidak ada yang terlalu sakral bagi saya!" Tukas Mima sambil tersenyum lurus ke depan.
Giliran Shaka yang terkejut melihat senyum itu, kulitnya seperti sedang disetrum. Padahal senyuman itu bukan untuknya. namun ini pertama kali Mima tersenyum setelah pertemuan pertama mereka beberapa bulan yang lalu.
"Tapi senja di kereta ini punya cerita yang akan berbeda. Jangan menyesal ya." Tutur Shaka setenang senyum Mima yang membentur gerbong-gerbong hatinya.
Oh damn benarkah dia sedang senyum? dan kenapa jadi aku yang salah tingkah?
Shaka membatin pasrah
__ADS_1