REMEDIAL

REMEDIAL
Bandara dan pertemuan manis di dalamnya


__ADS_3

Setelah memastikan wanita paruh baya yang tadi dibantu telah aman di dalam taksinya, seorang lelaki yang masih berseragam kondektur lengkap itu kembali ke stasiun. Ada sesuatu yang terasa sangat ganjal di kepalanya. Dia menoleh sekali lagi ke belakang, entah untuk memastikan apa, yang jelas beberapa detik belakangan hatinya mendadak tidak tenang.


Kehilangan fokusnya, Shaka  yang seharusnya kembali ke dormitori karena jam kerjanya telah usai, malah melangkah masuk ke gerbong kereta api yang perjalanannya dia pimpin tadi.


“Ha, ka kama lai?” (Mau  ke mana lagi?) Seorang rekan kerja yang menggantikan tugas kondektur Shaka mendadak terhenti ketika baru akan mengenakan topinya karena melihat rekannya yang masih ada di gerbong kereta.


“Ha?”  jawab Shaka bingung seperti orang linglung, kenapa juga dia kembali ke gerbong? padahal jam kerjanya telah usai dan seharusnya dia bersiap untuk pulang.


Ada putaran waktu di kepalanya yang belum mau pergi, mengkristal membentuk sebuah wajah asing nan menganggu. Shaka terdiam sejenak  mencoba berpikir dengan tenang.


Alih-alih menemukan jawabannya, dia malah melangkah ke gerbong hijau, tentu ruangan itu sudah penuh, dia mengitari sampai barisan bangku paling belakang berharap gadis itu masih ada di bangkunya tadi. Masih belum jelas apa yang sebenarnya dia cari, sementara rekan kerjanya mengernyit heran sembari mengkuti langkahnya dari belakang.


Tanda suara beruapa peluit panjang dari petugas telah berbunyi, sebagai isyarat bahwa kereta api sudah siap untuk diberangkatkan, Shaka menoleh sejenak mendengar suara itu dan sadar bahwa dia masih di dalam badan kereta namun  masih mematung berdiri diantara barisan bangku penumpang yang berwarna hijau.


“Kamu sebenarnya nyari siapa dan mau ke mana?” ulang rekan kerjanya lagi.


“Entah lah,” jawabnya ragu.


“’Aneh, kesambet apa sih barusan?”


Kesambet? Ya Shaka tiba-tiba meras dirinya memang sedang tidak baik-baik saja. Semacam kemasukan suatu perasaan dari seseorang yang tadi baru dilihatnya. Angannya menerawang jauh, menyerap bayangan perempuan dengan hijab berwarna dan Shaka masih ingat namanya.


“Mima?” gumamnya hampir tidak terdengar.


“Mama? Mama siapa? kamu kangen Ibumu di Jakarta?”


“Aku mau ke bandara,” kata Shaka spontan tanpa menggubris rasa penasaran temannya.


“Bandara? cutimu kan masih bulan depan, mau ngapain ke bandara? Numpang toilet? di stasiun nggak ada air?” seloroh rekan kerjanya yang mulai yakin bahwa memang sedang ada gangguan dengan kewarasan temannya.


Shaka tidak menjawab, lebih tepatnya dia juga tidak punya jawaban. Ya kalaupun nanti di bandara dia tidak punya tujuan mungkin memang benar akan ke kamar mandi saja.


Laju kereta tidak bisa membuat alunan lamunannya berhenti, namun sudah sedikit lebih normal daripada beberapa detik sebelumnya, meski setiap beberapa detik pula dia tersenyum geli tidak percaya dengan langkah yang akan pilih.


“Mima Ayumna?” ulangnya sembari mengulum bibir.


“Semoga kamu beneran ada di bandara sana,” besitnya optimis.


"Ya terus kalau ada saya mau apa?"


***

__ADS_1


Seorang wanita duduk di bangku ruang tunggu, menunggu pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta sambil mengurai satu persatu hal-hal pelik yang baru saja terjadi dalam hidupnya. Tidak akan ada orang yang mempercayai perjalanan itu.


Terlalu nyata untuk disebut mimpi, namun terlalu mustahil untuk menjadi nyata, tapi atas dasar apa dia akan meminta kondektur itu percaya semua cerita yang dialami selama remedial?


Di dadanya ada tanggungan rasa yang begitu ingin dia tunaikan, Mima ingin bilang dia rindu karena Shaka pulang duluan, Mima ingin marah pada Shaka yang tidak  mau menunggunya sebentar lagi, Mima ingin menuntut Shaka atas semua yang pernah Shaka ucapkan di perjalanan mereka. Tapi kenapa hari ini hanya dia yang mengingatnya?


“Waktu aku lagi remedial,  kamu yang bilang kita akan kenalan di perjalanan paling aku nantikan,” gumam Mima mengingat-ingat kondektur yang ditemuinya tadi.


“Ya bener sih kita udah kenalan, kamu nggak pernah spill gimana kisah kita selanjutnya. Oke, kamu bilang kamu adalah suami masa depan aku, dan itu juga benar karena  tadi aku  udah ngomong seperti itu.”


Ya, lalu kamu mau gimana lagi Ayumna? Langsung kamu suruh melamarmu, begitu?


“Oh ayolah, Mima! Terima bahwa semua perjalananmu tidak nyata, sekuat apapun kamu tidak ingin menyebutnya mimpi, kamu sekarang berada di dunia yang tidak bisa kamu atur sesukamu!” Logika Mima mengingatkan hatinya yang masih berharap pertemuan ini ada kelanjutannya.


“Aku akui, Kamu lebih tampan dari yang aku temui di sana, tapi sayang, sampai sekarang kamu masih Shaka kondektur ghoib yang bisa datang dan bisa menghilang kapan saja!”


Hujan mengguyur kota Padang, angin kencang, petir sesekali menyambar, langit tampak lebih kelam, siang hari seperti hampir malam. Hal itu yang membuat penerbangan Mima ditunda dan mungkin saja dibatalkan jika badai tidak kunjung reda.


Mima yang sudah duduk menunggu selama hampir tiga jam hanya bisa mengehela sambil melirik jam di tangannya, karena belum diberi tahu berapa jam lamanya penundaan.


Kondisi tubuhnya yang belum sehat sempurna membuatnya masih merasakan tidak nyaman, terutama bagian kepalanya sedikit pusing dan gerah. Dia akan ke kamar mandi untuk membuka sebentar jilbab dan merapikan rambutnya.


Kalau satu bulan yang lalu berada di kondisi ini, Mima pasti akan lebih mudah mengumpat, menyalahkan keadaan yang membuat perjalanannya terhambat, atau dia tidak akan segan-segan mengomeli pihak maskapai.


Kepalanya  kian berat dan gerah, ini hari-hari pertama Mima menggunakan hijab, rambutnya terasa seperti mengembang dan membuatnya semakin tidak nyaman. Mima melangkah semakin cepat sebelum sebuah panggilan menginterupsi dan membuat langkahnya terhenti.


“Ayumna!” panggil seorang lelaki yang jaraknya tidak sampai satu meter di belakang Mima.


Suara itu.


Tidak hanya suara, keharuman yang sangat familiar mulai menyeruak ke indra penciumannya, wangi yang membangkitkan kenangan setiap subuh di jendela kamarnya.


Ayolah, Mima, adegan manis di bandara hanya ada di dalam novel romance si Dheo yang pernah kamu baca, jangan halu dulu, jangan senang dulu. itu belum tentu suara …


“Kondektur Shaka,” ucapnya hampir tidak terdengar, dia tidak peduli dengan volume suaranya. Tubuhnya yang gemetar lebih butuh perhatian, dadanya kembang kempis dan itu sangat ketara.


Lelaki di depannya sungguh Ahsan Eshaka, kondektur ghoib yang menjelma tiba-tiba di hadapannya. Menyebalkan tapi Mima sangat suka.


Bagaimana Mima menggambarkan Shaka di dunia nyata, postur tubuhnya tinggi dan tegap, kulitnya tidak terlalu putih tapi sangat manis, bibir atasnya lebih kecil sedangkan bibir bawahnya sedikit bervolume dan tampak seperti tanda belah yang membuatnya terlihat semakin kharismatik, lesung pipi, ada dua lesung pipi yang sangat mampu membuat pandangan mata bisa tersedot dalam pusaran pesona. Alis matanya tebal dan sangat apik berada diantara hidungnya yang mancung.


“Dia wujud, tidak lagi ghoib!”

__ADS_1


Shaka juga tampak terengah-engah, bagian pundaknya juga tampak basah, dia merentangkan tangan kanannya di depan Mima dan menyerahkan sebuah kuncir rambut hitam dengan hiasan bunga matahari.


“Sepertinya ini milik kamu!”


Mima reflek memegang kepala bagian belakang, pantas saja terasa semakin gerah dan mengembang, ternyata rambutnya tergerai karena kuncir itu merosot dari tempatnya.


Dasar, Mima!


Tapi tadi apa? Ay .. ayumna?”


“Jatuh barusan aja, nih!” katanya lagi, senyumnya seperti sengaja membuat lawan jenisnya tidak bisa mengedipkan mata.


"Saya kondektur Shaka, em ... tadi kita kenalan di kereta."


Iya tau ... saya, tau! kan saya yang ngajak kenalan!


“Eh, iya, terimakasih, Mas Kondektur,” jawab Mima malu sambil mengambil benda itu dari tangan Shaka.


“Panggil Shaka saja.”


“Thanks, Shaka!” ulang Mima, dia jadi harus repot-repot menunduk karena salah tingkah.


“Sama-sama, delay ya? kamu mau ke mana?”


“Em, iya… delay, saya mau balik ke Jakarta. kamu, sejak kapan di sini? Mau berangkat juga?”


Shaka menggeleng, sesekali mengusap hidungnya dengan jari jempol dan telunjuk. Jelas saja dia bingung kenapa dia ada di bandara saat itu.


“Kalau aku bilang aku penasaran dan mau ketemu kamu, kamu percaya?” jawabnya jujur.


Percaya… aku percaya


Mima hanya mampu menjawab dari dalam hati. Dia butuh waktu beberapa detik untuk menerima kalimat tak terduga itu, malu, ragu, tidak percaya menjadi satu membuatnya semakin gugup.


“Penasaran soal?”


“Soal istri masa depanku!”


Kilatan petir di langit semakin menyala, hujan sepertinya semakin deras namun Mima bisa dengar dengan jelas kalimat Shaka.


_____________________________________________

__ADS_1


Selamat membaca, Teman-teman.


__ADS_2