
Kesal dan malu, juga bingung saat Shaka benar-benar tidak mengenalnya. Dheo, Tek Na dan Shaka, semua orang yang terlibat dalam remedial sama sekali tidak merasa pernah mengalami kejadian yang sama.
Mima pernah mendengar cerita tentang mati suri, tapi dia lebih memilih percaya tentang kesempatan memperbaiki hidup yang Tuhan beri. Malam saat dia tersadar sudah kembali, Mima mendirikan rakaat-rakaat panjang pertaubatan, menghadirkan Tuhan ke dalam hidupnya, membawa nilai-nilai remedialnya.
Membunuh Tuhan-Tuhan logika yang dia ciptakan selama ini.
Dan syukurnya belum berhenti, takdir mempertemukannya dengan Shaka tepat satu bulan setelah malam terburuknya di hotel itu. Setidaknya clue yang pernah Shaka sebutkan tentang pertemuan ini ada dan terjadi, Tapi Logika macam apa yang membenarkan adanya pertemuan di dimensi lain?
“Ya Allah, Aku yakin Engkau yang mempertemukan kami, di alam apapun itu, semua petunjuk baik adalah dari-Mu kan? Tolong ya Allah, buat Shaka ingat sesuatu tentang aku.” Matanya terpejam saat mengucapkan kalimat ini.
Saat membuka mata di depannya sudah berdiri orang yang tadi namanya dia besitkan dalam doa. Mima terperanjat.
“Nona Mima, koper anda masih di bangku sebelah, mari saya bantu masukkan ke atas, mungkin ada penumpang yang akan naik di stasiun berikutnya.”
Mima menyerahkan koper itu dan memperhatikan gerak-gerik Shaka dengan seksama.
“Shaka, kamu beneran nggak ingat sama aku?” tanya Mima saat Shaka selesai meletakkan kopernya.
Shaka melihatnya dan menggeleng, dia benar-benar tidak punya ingatan apapun tentang gadis ini, namun ucapan Mima terdengar tulus dan berani, belum pernah Shaka berinteraksi dengan penumpang seunik ini.
“Maaf, tapi saya memang ngga ingat. Atau coba kamu sebutkan dulu sekolah di mana? Atau pernah ikut Pendidikan PT KAI angkatan berapa? Barangkali ada yang bisa saya ingat.”
Sekarang giliran Mima yang menggeleng pasrah. Perkenalan kemarin terlalu nggak mungkin dijelaskan sekarang, perjalanan spiritual dengan tujuan remedial yang mempertemukannya dengan sepotong kisah bersama manusia di hadapannya ini.
“Oh, okay. Ya sudah, kalau begitu … gimana kalau kita kenalan aja sekarang?” tawarnya mengulurkan tangan.
__ADS_1
Mima hanya menatap uluran tangan itu, dia sedang di kehidupan nyata, Shaka mungkin suami masa depan, tapi bukan berarti jadi muhrimnya kan?
“Ah, Sorry. Nama saya Shaka, nama kamu Mima kan? sekarang kita saling kenal. Sampai ketemu lagi ya, Mima.” Telapak tangan kanannya dia tempelkan di pundak kiri sebagai salam perkenalan paling sopan.
***
Tidak ada yang aneh selama perjalanan menuju stasiun kota Padang, kereta berjalan secepat semestinya, tidak salah jalur, Mima sadar sebentar lagi dia akan tiba di pemberhentiannya ketika mendengar announcement.
Bapak dan Ibu, dalam beberapa menit kita akan tiba di pemberhentian akhir, stasiun sibinuang kota Padang, untuk semua penumpang yang akan mengakhiri perjalanan, Harap siapkan barang-barang Anda, kami mengingatkan Anda untuk tetap di kursi Anda sampai kereta berhenti, terimakasih.
Mima masih menahan langkahnya, dia sengaja ingin jadi penumpang terakhir yang meninggalkan kabin. diperhatikannya dengan seksama gerak-gerik kondektur yang begitu professional melayani semua penumpang turun denga aman dari perjalanan kereta yang dia pimpin.
Gerbong hampir kosong, Mima akhirnya berdiri mengambil kopernya dan berharap bisa melanjutkan perkenalannya dengan kondektur di sana, dia tersenyum saat menyadari Shaka melihat keberadaanya dan berjalan menuju ke arahnya lagi.
Mima yang merasa kondektur akan menghampirinya seketika dipermalukan dirinya sendiri, senyum sumringah itu surut dari bibirnya, dia menjengah ke bangku belakang.
“Ibu, tidak apa-apa?” tanya Shaka pada wanita paruh baya itu.
“Sepertinya keram, sakit buat bangun, sebentar ya, Kondektur, nanti kalau sudah enakan saya turun.”
“Di bawah ada yang jemput, Bu?” tanya Shaka lagi.
Si Ibu menggeleng pelan. “Saya mau naik taksi, anak saya menunggu di Sawahan atas.” Si Ibu menyebutkan salah satu nama daerah di sana.
“Oke, saya bantu antarkan ke pemberhentian taksi ya.” Shaka mengambil tangan si Ibu dan meletakkan di pundaknya.
__ADS_1
“Ng … nggak usah, Nak,” tolak Ibu itu.
“Tidak apa-apa, Ibu. Nanti akan ada pergantian shift, takutnya rekan saya tidak lihat masih ada penumpang di sini, kalau jadwal kereta sudah jalan dan Ibu belum bisa turun nanti malah ikut balik lagi kan? pegangan, yuk!”
Dengan satu Gerakan wanita paruh baya itu digendongnya dengan sigap, sebelah tangannya tak lupa menjinjing tas yang lumayan besar.
"Bismillah," lirih Shaka.
Mima tertegun menyaksikannya, Shaka tidak semenyebalkan itu, rasa yang tadi kesal menjadi damai melihat aksinya sampai tidak sempat bersembunyi saat Shaka melihatnya.
"Mba Mima, belum turun?"
“Ini … ini … ini juga mau turun kok!”
“Oh, iya, Silakan. Hati-hati di jalan, sampai ketemu lagi, ya,” ucapnya tetap formal.
Mau tidak mau Mima meninggalkan kereta dan petugas misterius itu, dia melangkah cepat berharap Shaka tidak melihat ekspresinya yang terlanjur malu.
***
Dari kaca belakang taksi yang Mima tumpangi, tepat di belakangnya seorang lelaki begitu lembut memperlakukan wanita paruh baya yang tadi satu gerbong dengannya. Membuka pintu taksi, membantu wanita itu duduk di dalamnya, menutup kembali pintu taksi bahkan melambaikan tangan.
Ya Allah, jika perjalanan kemarin sungguh petunjuk untukku, apakah Shaka juga bagian dari clue? bener ngga dia adalah wujud suami masa depan? dia kah malaikat subuh itu? Kami sudah berkenalan seperti yang dia bilang waktu remedial, selanjutnya terserah Engkau saja ya Allah gimana caranya, yang penting kami masih bisa ketemu kan?
Mima melipat kedua telapak tangannya di dada dan memejamkan mata, ingin rasanya meminta taksi ini berhenti saja.
__ADS_1