
Pagi pertama aku bersekolah. Berangkat dari rumah mewah dengan pelayan khusu yang menyiapkan segala sesuatunya. Namun, sarapan kali ini dilakukan bersama.
Keluarga lengkap. Ada kedua orang tua dan juga dua kakak yang tampan. Sempurna sekali pemandangan pagi ini.
"Sayang, uang jajan kamu mau cash atau papa kasih kamu kartu saja?" tanya Papa Indra setelah kami selesai sarapan.
"Uang jajan dia biar aku aja, Pah, yang kasih. Gak seberapa juga 'kan?" timpal Arzhan.
"Begitu?"
"Papa siapkan biaya yang lainnya aja."
"Oke. Nanti papa kasih dia kartu kredit dan debit. Siapa tau dia mau pergi belanja kebutuhannya."
"Dia mau pergi sama siapa, Pah? Paling sama aku juga. Ujungnya aku juga yang bayarin semua belanjaan dia." Arzhan kembali menimpali.
"Jangan sampai pergi sama gue, ya. Kartu gue berbatas soalnya."
"Itu karena ulah kamu sendiri. Siapa suruh bayarin wanita-wanita gak karuan itu."
"Dia itu pacar aku, Pah. Masa ... sebagai pacar aku pelit, sih."
"Dia baru jadi pacar kamu. Belum tentu jadi istri. Royal boleh, tapi harus pada orang yang tepat. Kalau sudah jadi istri, baru boleh."
"Ya udah, aku nikah sambil kuliah aja. Boleh?"
"Jangan! Arzhan dulu baru kamu."
"Aku juga udah ada calon, Pah."
Semua tiba-tiba hening. Hanya aku yang masih asik makan anggur hijau.
"Serius?" Fateeh terlihat begitu kaget dan juga senang. Mungkin dia berpikir, jika Arzhan menikah maka dia pun akan mendapatkan izin untuk segera ke pelaminan.
"Kalian juga kenal dengan baik orangnya," ucap Arzhan sambil menatapku.
Uhuk!
"Nak, hati-hati." Mama menepuk punggung dan memberikan aku segelas air.
"Aku uda telat, ayo berangkat. Siapa yang mau anter aku ke sekolah?"
Aku mengalihkan pembicaraan. Segera berdiri dan menghampiri Mama untuk bersalaman. Pun dengan Papa Indra.
"Pah, mobilnya kapan datang?" tanyaku sambil memeluknya yang masih duduk di kursi.
"Pak Sam belum sempat beli kayaknya. Dia masih sibuk ngurusin kerjaan papa."
"Aku dianter supir aja pake mobil baru, ya?" Aku merayu.
"Kenapa? Kan ada Arzhan yang anter jemput kamu ke sekolah."
"Ya ... itu, Pah. Siapa tau barang kali kakak gak bisa 'kan?"
"Iya, terserah kamu aja. Ya udah, berangkat sana. Nanti kesiangan."
"Ya udah. Aku berangkat ya, Pah. Dah, Papah."
"Lama-lama aku dilupakan sama anakku sendiri." Mama cemburu. Papa segera merangkul mama dengan lembut dan penuh kasih.
Ah, Papa. Terimakasih karena begitu mencintai bidadariku.
__ADS_1
"Kenapa menatapku seperti itu? Gak nyaman tau. Ayo berangkat. Aku kesiangan nanti, Kak."
"Kenapa kamu minta sopir untuk anter kamu ke sekolah?"
"Kenapa emangnya?"
"Aku yang akan mengantar kamu ke mana pun."
"Kalau kakak pas lagi gak bisa, gimana? kalau kakak sakit, gimana?"
"Kamu sengaja menghindar lagi 'kan?"
"Kenapa? 'kan Kaka sendiri yang bilang kalau aku gak akan bisa menghindari kakak."
"Aku serius dengan ucapanku kemarin."
"Dan aku juga serius menolak."
Raut wajah Arzhan berubah masam.
"Kak, meski tiri, kita itu tetap sodara. Lagi pula, aku gak mau mengecewakan orang tua kita. Aku takut Papa tidak setuju dan ini akan menyakiti perasaannya."
"Itu artinya kalau Papa setuju, kamu mau 'kan?"
"Eh, ya, gak gitu juga, Kak."
"Oke, aku akan cari cara agar papa setuju."
Hah? astaga, kenapa dia maksa banget, sih?
Pelukan dan kecupan Arzhan saat di kantor Papa kemarin, berhasil membuat aku tidur larut malam.
Aku kadang tersenyum sendiri.
Gila! itu adalah aku yang sekarang.
Susah payah aku menyembunyikan fakta bahwa berlama-lama berdua bersamanya membuat aku ingin menjerit kegirangan. Aku ingin waktu berhenti sampai di sini saja. Menunggu pagi agar bisa bertemu dengannya adalah hal yang menjengkelkan!
Tapi ....
"Sudah sampai." Arzhan mengacak-acak rambutku.
"Ish!" aku menepis tangannya.
"Eh, uang jajannya gimana?" tanya dia saat aku buru-buru keluar. Terpaksa aku kembali masuk.
"Mana?" aku menengadahkan tangan.
"Ambil sendiri di dompet."
Aku mengambil dompetnya yang dia simpan di tempat penyimpanan dekat dengan tangannya.
Saat aku membuka dompetnya, tidak sengaja aku melihat sebuah foto. Penasaran, aku semakin mendekatkan dompet itu ke wajah agar bisa melihat lebih jelas foto wanita yang terlihat familiar.
"Ini ...."
"Itu cinta pertamaku. Ayo ambil berapapun yang kamu mau. Gerbang sekolahnya udah mau tutup."
"Oh, iya. Aku ambil satu aja."
__ADS_1
Begitu turun, aku segera berlari menuju gerbang yang hampir ditutup oleh penjaga.
Konsentrasiku buyar. Aku tidak memperhatikan semua guru yang memberikan materi hari ini.
"Woiii, guru akuntansi gak masuk. Kita diberi tugas." Ketua kelas kami berteriak kegirangan, dan disambut riang oleh semua temanku.
"Yeeee bisa pulang duluan."
Sekolahku memang bukan sekolah bagus dan disiplin. Kami yang tidak ada gurunya di jam terakhir bisa pulang lebih dulu.
Haruskah aku memberitahu Arzhan?
"Iksia. Mau ke mana kita? Kamu pulang ke rumah?" tanya Hilda.
"Rumah?"
Ah, benar. Sebaiknya aku pulang ke rumah lama.
"Aku mau ke rumah lama. Ayo kita pulang bareng."
"Benarkah? Wah, aku kangen naik angkot bareng kamu lagi."
Aku segera memakai sweater, sejak pagi udara begitu dingin dan langit pun mendung. Sepertinya akan turun hujan. Ya, Oktober sudah mulai pergantian cuaca. Tidak bisa diprediksi akan panas atau akan turun hujan.
Saat kami berjalan di lorong sekolah, tetesan air dari langit mulai turun meski masih belum deras. Teman-teman banyak yang mengeluh. Mungkin mereka punya tujuan untuk pergi ke suatu tempat, atau punya rencana tersendiri.
"Ayo kita kembali ke kelas."
"Ngapain?" Bukannya menjawab, Hilda menarik tanganku dan kembali ke kelas.
"Kita main hujan-hujanan. Simpan saja buku kita di sini biar gak kebasahan."
"Waaah, ide bagus."
Aku dan Hilda segera mengeluarkan buku dan alat tulis lainnya. Setelah selesai, aku dan Hilda berlarian seperti anak kecil. Menerobos hujan yang mulai deras.
Bermain di bawah guyuran hujan adalah hal yang membuat aku nyaman. Bau tanah kemarau yang tersiram air adalah bau yang aku sukai di dunia ini.
Dan tentu saja bau ... Arzhan.
"Arzhan?"
"Kenapa?" tanya Hilda. "Kamu mau dijemput kakak kamu itu?"
"Ayo." Aku menarik tangan Hilda dan berlari keluar gerbang. Langkah panjang kamu terhenti di depan tiang lampu pinggir jalan, tempat aku dan Hilda menunggu angkot.
"Hilda, aku ngerasa ini pernah terjadi sebelumnya."
"Dejavu maksudnya?"
Aku mengangguk kepala cepat. "Aku merasa pernah berdiri di sini dan--"
"Dan ada yang merhatiin kita dari sana." Hilda menunjuk ke sebrang jalan. "Waktu itu di sana ada mobil putih. Orang itu membuka jendelanya di tengah hujan. Dia merhatiin kita."
Benarkah?
Ingatanku memang buruk. Jangankan kejadian yang sudah tahunan. Kejadian minggu lalu pun aku akan dengan mudah melupakannya. Apa lagi hal itu tidak terlalu menjadi fokus perhatianku.
Aku berusaha mengingat dengan menatap tempat yang ditunjuk Hilda. Tidak lama kemudian, sebuah mobil hitam datang dan berhenti tepat di sana.
Kaca mobil itu terbuka dan aku bisa melihat pengemudi di dalamnya. Dia menoleh dan menatapku dari sana.
__ADS_1
"Arzhan," bisikku pelan.