
Pagi ini aku memilih sarapan di kamar, rasanya benar-benar tidak nyaman harus makan satu meja dengan Arzhan.
Sebenarnya gak nyaman melihat interaksi dia dengan istrinya. Hatiku perih.
Turun ke bawah saat akan berangkat kerja, pulang sengaja agak larut agar terhindar dari makan malam bersama keluarga.
Malam ini pun aku sengaja pulang agak telat. Hanya ada aku, Maria, dan Iman yang masih di kantor.
Aku memilih membantu maria mengerjakan pekerjaannya. Dia bilang ingin cepat pulang karena ada bayi yang menunggunya, tapi dia harus menyelesaikan pekerjaan hari ini juga.
"Maaf, ya, kamu jadi ikut lembur."
"Gak apa-apa, sekalian aku belajar juga. Males sebenarnya kalau kerja hanya memberi cap, membereskan kertas-kertas, dan juga mengerjakan pekerjaan calon istri Bos!"
Maria tertawa. "Dia bukan tunangan Pak Ahtar. Mereka menjalin hubungan tapi aku rasa hanya wanitanya saja yang bersemangat."
"Benarkah? Ck! Aku rasa aneh juga sih kalau mereka menjalin hubungan. Gak cocok aja rasanya."
"Bukan kamu aja yang punya penilaian seperti itu. Kami semua juga sama."
Aku dan Maria tertawa kecil.
Aku melirik jam di pergelangan tangan, sudah pukul 21.30.
"Kalau mau pulang duluan, pulang aja."
Aku menggelengkan kepala cepat.
Hari ini aku belum mengabari baby twins. Apa mereka baik-baik saja?
"Suami Mba kerja juga?"
Maria menoleh.
"Maaf, kalau terlalu pribadi gak perlu di jawab, kok."
"Kerja. Anakku diurus pengasuh di rumah. Mungkin sekarang suamiku sudah di rumah."
"Oh, senang, ya, mengurus anak bersama suami. Apa kalian selalu pergi liburan di akhir pekan?"
"Tentu saja. Itu Quality time kami setelah lima hari kerja."
Kasian baby twins, mereka harus melewati semua yang anak lain alami.
"Kamu sudah punya anak?"
"Aku?"
Maria menoleh sambil tersenyum.
"Maria."
Kami kompak melihat ke belakang.
"Pak."
"Kamu punya bayi kenapa masih kerja? Pulang. Berikan itu pada karyawan baru. Biar dia sekalian belajar."
"Tidak perlu, Pak. Saya akan kerjakan ini semua. Sebentar lagi."
"Mba, Pak Ahtar benar. Biar saya saja. Berikan saya kesempatan untuk mengerjakan hal lain selain mengurus kertas."
"Kamu yakin?"
"Hmm."
"Baiklah, terimakasih ya."
Maria pun pergi. Dia terlihat senang karena akan segera pulang dan bertemu dengan bayinya.
Sudah setengah jam aku mengerjakan pekerjaan Maria, mataku lelah karena terus menatap layar monitor.
"Pake ini." Ahtar memberikan sapu tangan yang berbahan handuk.
"Apa ini?"
"kompres matamu dengan ini agar tidak lelah."
Aku mengambilnya. Terasa dingin.
__ADS_1
"Lumayan. Mataku menjadi segar."
Aku memberikan sapu tangan kecil itu pada Ahtar.
"Apa ada yang sulit?"
"Lumayan."
"Coba aku lihat."
Aku hampir tidak bisa bernafas saat Ahtar melihat layar komputernya dari belakang kursi yang sedang aku duduki. Jika aku menoleh sedikit saja padanya, maka bibirku akan menempel di pipi Ahtar.
"Seharusnya ini ke sini. Lalu yang ini pindahkan saja ke sini." Ahtar mengarahkan mouse komputer yang sedang aku pegang.
Ini cowok tanganya lembut banget.
Jangankan fokus memperhatikan, aku sibuk dengan pikiran dan perasaan sendiri saat ini.
"Nah, ini sudah cukup lumayan."
"Terimakasih, Pak."
"Hmm?"
"Aku bingung harus menyapa apa."
"Tidak ada orang di sini. Jangan formal-formal banget."
"Baiklah, Ahtar."
"Sudah malam, ayo pulang."
Setelah merapikan tas dan mematikan komputer, aku mengikuti Ahtar menaiki lift menuju baseman.
"Jangan nyetir malem-malem, bahaya. Aku antar kamu pulang."
"Gak apa-apa, kok. Aku bisa sendiri."
"Kamu bisa nyetir dan baru dapat sim bukan? Bagaimana kalau di perjalanan bertemu dengan begal atau penjahat? Kamu bisa karate atau semacamnya?"
Aku menggelengkan kepala.
"Aduh, mari ternyata."
Ahtar menyodorkan ponselnya padaku. Aku mengambil ponselnya untuk memberitahu Papa.
"Ya, halo, Ahtar. Ada apa malam-malam begini telpon. Apa kamu ada di kantor? Tolong cek, apa Iksia ada di sana? Saya telpon dia berkali-kali tapi ponselnya tidak aktif."
"Pah, gak sopan angkatan telpon orang langsung ngasih pertanyaan banyak banget."
"Iksia?"
"Iya, Pah. Tadi aku lembur. Sekarang mau pulang di--"
"Jangan pulang sendiri. Mana coba, kasih ponselnya ke Ahtar."
"Papa, ih! Aku belum selesai ngomong juga. Aku pulang dianter Ahtar. Papa tenang aja. Jangan nungguin, aku pulang telat soalnya mau makan dulu."
Tanpa menunggu jawaban darinya, aku memutus obrolan, dan memberikan ponsel pada pemiliknya.
"Siapa yang mau nganter kamu makan?"
"Aku bisa pulang naik taksi."
Langkahku terhenti saat Ahtar menarik tanganku. Mungkin tujuannya hanya menghentikan langkah, tapi dia menarik terlalu kuat hingga tubuhku menabrak tubuhnya.
Untuk sesaat kami diam saling menatap.
"Sorry." Ahtar seger melepaskan tangannya dan menjauh dariku.
Di dalam mobil, suasana kami semakin canggung. Aku seperti sedang mencuri yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik pemiliknya.
Kami berhenti di warung tenda yang menjual ayam goreng.
"Kamu tidak apa-apa kan makan di sini?"
"Kenapa memangnya?"
"Yaaa, takutnya anak Pak Indra tidak biasa makan di warung pinggir jalan."
__ADS_1
"Yang penting bukan di tengah jalan."
Ahtar menoleh, lalu di tertawa sekilas.
"Terimakasih tumpangannya."
Ahtar mengangguk. Aku melambaikan tangan saat dia pergi.
"Eh, ngapain juga aku melambaikan tangan?" Aku segera menurunkan tanganku.
"Astaga!" Aku sangat terkejut saat membalik badan. Arzhan sudah berdiri di belakangku.
"Kakak ini, kaget tau!"
Arzhan tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatap tajam dengan rahang mengeras.
Apa kamu cemburu, Arzhan? Itulah yang aku rasakan saat melihatmu dengan Alea. Setiap hari, Arzhan.
"Aku masuk dulu."
Arzhan menarik tanganku saat melewati dirinya. Aku berusaha melepaskan tapi cengkraman tangannya semakin kuat.
"Lepas, Kak!"
Arzhan tidak merespon.
"Kalau ada yang melihat, gimana?"
"Dulu kamu sering bersikap mesra di hadapan semua orang dengan bersembunyi di balik hubungan persodaraan."
"Itu dulu. Sekarang situasinya berbeda, Kak."
"Kenapa?" Arzhan menarik tanganku hingga tubuhku menempel pada tubuhnya. Dia mencengkram lengan atas ku dengan kedua tangan nya.
Dia menatap tajam dengan penuh amarah.
"Kenapa? Apa yang berbeda? Kamu tetap adikku bukan?"
"Apa sikap seorang kakak harus seperti ini? Orang akan menilai lain, Kak."
"Memang lain. Kita bukan adik kakak, kita adalah sepasang kekasih. Kita bahkan tidur berkali-kali. Kenapa?"
"Hentikan!" Aku menekankan suaraku.
"Lupakan semuanya, Kak. Kakak sudah punya Alea sekarang. Ingat, kakak sudah menikah. Tidak ada ruang lagi untuk hubungan kita."
"Aku akan membuat ruang itu ada."
"Jangan bodoh, Kak!"
"Aku memang bodoh. Aku sangat bodoh karena mencintai kamu terlalu dalam."
"Kak, aku ...." Aku melihat seseorang sedang bejalan di dalam rumah, dia berjalan menuju pintu keluar.
Kreppp
Aku memeluk Arzhan erat.
"Kakak, ya, aku mohon. Pokoknya besok kakak harus anterin aku, titik!"
Arzhan hendak melepaskan pelukannya.
"Ada Alea di belakang."
"Kalian kenapa malah berpelukan di sini, sih? Gak masuk?"
"Kakak, ya, Kak." Aku merengek manja dalam pelukan Arzhan.
"Ada apa, sih?" tanya Alea.
"Kak Alea, Kak Arzhan tidak mau mengantar aku pergi nonton besok. Katanya dia mau ngajak kakak diner. Upppps!" Aku menutup mulutku pura-pura terkejut karena keceplosan.
Alea terlihat senang saat mendengar ucapanku. Dia mendekati Arzhan. Aku segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Aku mendengar mereka berbicara, tidak ingin terluka terlalu dalam, aku mempercepat langkah kaki agar segera jauh dari mereka.
Penasaran apa yang sedang mereka lakukan, reflek aku membalikan badan. Mata Arzhan bertemu dengan mataku, kami saling menatap cukup lama. Namun, apa yang tejadi berikutnya membuat aku kesulitan untuk menahan air mata agar tidak jatuh.
Sadar aku masih ada di sana memperhatikan mereka berdua, Arzhan terlihat semakin ganas mencium istrinya.
__ADS_1
Apa kamu sengaja, Arzhan?