
Dokter bilang datang tinggi Mama kambuh, dan menyebabkan struk ringan. Meski masih bisa digerakkan, tapi sebelah sebelah tubuh Mama menjadi kaku jika bergerak.
"Kenapa kakak harus mengatakannya? Kalaupun jujur, tidak seperti sekarang?"
"Cepat atau lambat kita tetap harus memberitahu mereka. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan anak kita, hah?"
"Kalian pergilah dari sini."
"Jangan memperkeruh suasana, Fateeh."
"Memperkeruh? Kalian tau siapa penyebab semua ini terjadi? Jika saja aku tahu kalian akan sejauh ini, aku akan mencegahnya sejak dulu."
"Kenapa tidak kamu lakukan?" tanya Arzhan kesal.
"Karena aku percaya sama kakak. Aku kira kakak tidak akan merusak Iksia. Cinta itu menjaga, Kak. Bukan merusak wanitanya."
"Kak, udah." Aku menghalangi Fateeh yang maju beberapa langkah ke arah Arzhan.
"Aku juga salah dalam hal ini."
"Ya! kamu juga sebagai wanita tidak bisa menjaga harga diri dan martabat kamu sendiri. Haruskah aku meyebut kamu murahan?"
Bughhh!
Arzhan mendorong tubuhku menyingkir dari hadapan Fateeh, lalu memukul wajahnya hingga tersungkur.
"Kakak." Aku membantu Fateeh berdiri kembali.
"Jaga ucapan kamu!" Arzhan murka.
"Kalian, please! ini rumah sakit, jangan menambah beban orang tua kita. Sekarang bukan waktunya saling mengalahkan, kita tetap fokus pada kesehatan Mama dulu."
"Gue gak mau kehilangan ibu untuk yang kedua kalinya," ucap Fateeh lirih, dia duduk di kursi dengan menundukkan kepala. Dia menangis.
Aku menghampiri dan memeluknya dari samping.
"Aku juga tidak ingin kehilangan Mama, Kak. Aku akan hidup sebatang kara kalau itu terjadi."
Kami berdua menangis.
Satu Minggu Mama dirawat di rumah sakit, hari ini Mama akan pulang. Ada satu hal yang membuat hatiku sakit meski rasa sakit itu tidak sebanding dengan yang Mama rasakan, pastinya.
Mama akan pulang ke rumah, tapi aku yang harus keluar.
Aku pikir Arzhan pun diusir tapi ternyata tidak, mungkin Mama tidak berani karena dia anak Papa Indra, sementara aku anak kandung Mama yang bisa Mama perlakuan semaunya.
Niat membawa Sakya dan Chana ke rumah ini adalah agar mereka bisa tinggal bersama keluarganya, tapi kenyataan pahit yang malah mereka terima.
__ADS_1
Mereka buka anak bodoh, sedikit banyak mereka tahu situasinya. Bagaimana Mama menghajarku, mereka tau aku salah. Bagaimana Mama pingsan sampa berhari-hari di rumah sakit, mereka juga mengerti.
Aku pun merapikan pakaian dan barang-barang yang dirasa perlu untuk aku bawa.
Nampak kesedihan dari kedua wajah anakku. Itulah yang membuat aku semakin sakit hati. Akibat kebodohan yang aku lakukan, mereka harus menerima dampaknya.
"Boleh masuk?" tanya Fateeh yang sudah ada di ambang pintu sambil tersenyum.
Aku mengangguk mengiyakan.
Di tangan Fateeh terdapat kotak robot, dan yang satunya lagi boneka beruang berwarna pink.
"Ini, om belikan ini untuk kalian."
Kebanyakan anak akan senang jika diberi hadiah, tapi tidak dengan mereka. Sakya dan Chana hanya menerima sambil mengucap terima kasih degan wajah tanpa senyuman sama sekali.
"Loh, kenapa wajah kalian murung? Gak suka, ya, hadiahnya?"
"Kami sedih karena harus pergi."
Aku pura-pura tidak memperdulikannya dan melanjutkan aktivitas mengemas barang-barang. Aku tahan sekuat mungkin agar air mata tidak keluar.
"Dengar, omah hanya sedang kesal karena mom kalian nakal, tapi nanti juga akan baikan lagi. Kalau omah sudah gak marah, om akan jemput kalian buat balik ke rumah ini lagi. Oke?"
Mereka tidak menjawab.
Fateeh mengatakan apa yang tidak pernah anak-anak rasakan. Itulah kenapa mereka langsung antusias.
"Yeeey, kita akan main pasir."
"Om kita berenang juga kan?"
"Aku mau ke kebun binatang."
"Aku mau ke taman dinosaurus."
Mereka bergantian mengungkapkan keinginan mereka yang hanya bisa mereka lihat di YouTube.
"Oke, sip! Kalau Om libur kerja, kita akan pergi ke manapun kalian mau. Bagiamana kalau besok om ke rumah kalian, kita akan menyusun jadwal liburan kita. Gimana? Kalian setuju?"
"Setujuuu ...." Mereka menjawab dengan kompak.
"Sepertinya mom udah hampir selesai merapikannya barang-barangnya. Let's go kita turun. Om yang akan antar kalian ke rumah."
"Gendong, Om."
"Aku juga."
__ADS_1
"Semua? Tukang Om bisa patah kalau gini."
"Nanti ganti pake tulang dinosaurus aja biar kuat."
Mereka tertawa sambil berjalan keluar dari kamar. Tangisanku pecah.
Kepala terasa sakit karena memikirkan banyak hal. Aku sampai tidak tahu memikirkan apa.
Memiliki Mama yang tidak juga mau memaafkan aku. Memikirkan sedihnya kebahagiaan anak yang cuma sesaat. Sedih karena Fateeh ternyata menyayangi keponakannya, mungkin lebih tepatnya terharu.
Setidaknya aku harus bersyukur karena Fateeh tulus. Membenciku tapi tidak pada Sakya dan Chana.
Remi, Pak Raga, dan dua suster membantuku membawa barang-barang ke bawah. Berat sekali rasanya harus meninggalkan rumah untuk yang ke dua kalinya.
Dulu mama bisa memaafkan dan mau mengurusku saat bersalin, tapi entah sekarang. Sepertinya rasa kecewa yang dulu harus kembali disayat lebih dalam. Akankah luka itu akan sembuh atau tidak, aku tidak tahu.
"Banyakin sabar. Aku tau ini tidak mudah, tapi aku yakin kamu bisa."
"Alea, kenapa kamu berubah baik seperti ini. Jujur aku merasa takut."
Dia tertawa.
"Aku tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang tapi tidak direstui. Apakah nasib anakku akan sama seperti Sakya dan Chana, aku tidak tahu. Mereka lahir dari ibu dan memiliki ayah secara tidak sah."
Kami melakukan dosa yang sama. Tentu saja bisa saling memahami. Meski Alea beruntung karena ada Arzhan di sisinya. Setidaknya anaknya akan terdaftar secara resmi sebagai anak yang memiliki ayah dan ibu.
"Aku pergi."
"Jika ada masalah, jangan sungkan memberitahu Arzhan. Aku tidak akan marah."
"Bukan marah atau tidak, tapi pantas atau tidak."
"Kalian sodara, apa salahnya meminta bantuan pada kakak sendiri."
"Aku punya Fateeh."
Alea menoleh pada Fateeh yang sedang bermain kejar-kejaran dengan anak-anak.
"Fateeh begitu menyayangi keponakannya. Mungkin akan berbeda jika anakku yang lahir nanti."
Aku dan Alea sama-sama menatap Fateeh dan anak-anak. Benar, dunia ini memang adil jika kita bisa memandang semua dari segi positif. Meski mereka tidak memiliki ayah yang sah, tapi mempunyai paman dan kakek yang begitu mencintainya. Sementara Alea, anaknya memiliki ayah sah secara negara, tapi tidak akan dicintai Fateeh dan Papa Indra.
Mungkin juga Arzhan tidak akan mencintai anak Alea karena anak itu bukan anak biologisnya.
Apa yang bisa dilakukan manusia selain menerima semua takdir yang diberikan pemilik semesta ini.
Kesalahan yang dilakukan harus ditebus dengan berbagai hukuman. Meski hukuman itu tidak menyiksa fisik, tapi batin kami menangis.
__ADS_1