Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Baby Twins


__ADS_3

Mbok Darmi tak henti-hentinya menangis, pun dengan dua pelayanku. Sementara Pak Sam terlihat sibuk menelpon.


Tidak aku hiraukan rasa sakit yang meremukkan seluruh kekuatan yang aku punya selama ini. Dalam hati aku hanya berdoa, Selamatkan kedua bayiku.


"Kalian berhenti lah menangis. Ini tidak akan menyelesaikan masalah." Pak Sam sedikit berteriak pada Mbok dan Darmi dan Remi.


"Non, tahan, ya. Yang kuat. Non harus bersabar demi si kembar." Mbok Darmi menggenggam erat jemari tanganku, seolah ingin memberikan kekuatan padaku.


Dia memang tegas dan mungkin terlihat galak, tapi nyatanya dia memang baik. Selama hamil besar, kakiku bengkak dan dialah yang selalu rajin membuat minyak kelapa sendiri untuk membalur kaki dan memijatnya perlahan.


Setiap sore saat hendak tidur, dan setiap pagi saat bangun tidur.


Kini, dia menangis saat perutku mengalami kontraksi. Bukan karena sedih melihatku kesakitan, tapi karena usia kandunganku masih belum cukup umur.


Rasa sedih yang berlebih saat mendengar berita pertunangan Arzhan, membuat kandunganku terkena dampaknya. Aku mengalami kontraksi hebat yang diikuti dengan rembesan air ketuban.


Lelah yang berkepanjangan dan juga kondisi fisik serta psikis yang tidak memungkinkan untukku melakukan persalinan secar normal, aku tidak memiliki tenaga untuk mengedan, akhirnya dokter menyarankan agar aku melakukan persalinan secar sesar.


"Pak Sam tolong tanda tangan. Selamatkan bayiku segera."


Pak Sam segera menanda tangani surat persetujuan. Aku dibawa ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan emergency. Detak jantung janinku lemah. Aku pun demikian, akhirnya dengan deraian air mata, Pak Sam menandatangani surat agar dokter menyematkan janinku terlebih dahulu jika ada kemungkinan yang terjadi di luar dugaan.


Perlahan aku membuka mata. Berat, sangat berat. Nyeri di sekujur tubu, dan perih di bagian perut. Aku mendengar suara mesin detak jantung. Oksigen yang berembus masuk ke rongga hidung, alat yang menempel di dada, jari tangan dan kaki.


Sedikit demi sedikit aku bisa melihat sekeliling. Hanya aku seorang diri dengan berbagai alat yang menemani.


Haus. Itu yang pertama kali aku rasakan. Ingin berteriak tapi aku merasa sangat lemah untuk membuka mulut.

__ADS_1


Suara pintu terdengar terbuka, sepertinya ada seseorang yang masuk. Benar saja, itu seorang perawat.


"Syukurlah anda sudah sadar, tunggu sebentar saya panggilkan dokter."


Suster, tunggu! Ambilkan saya minum. Ya Allah, kenapa dia pergi lagi.


Tidak lama kemudian pintu kembali terbuka, kali ini terdengar lebih ribut dari sebelumnya. Banyak suara langkah kaki dan suara isak tangis seseorang.


Itu Mama. Iya, itu Mama.


"Iksia." Mama histeris melihatku. Dia langsung menghampiri dan hendak memeluk, akan tetapi dokter melarangnya.


"Saya periksa dulu, Bu. Tunggu sebentar."


Dokter memeriksa dari atas sampai bawah. Memeriksa mata, hidung, mulut dan semuanya.


Aku mengedipkan mata dua kali.


"Anda mengenal orang ini?" Dia menunjuk Mama. Aku kembali mengedipkan mata.


"Lalu ini anda tau siapa beliau?"


Aku kembali mengedipkan mata.


"Alhamdulillah, anak ibu dan bapak baik-baik saja. Hanya saja dia baru siuman jadi jangan terlalu diganggu. Bagaimana pun juga sudah dua Minggu ini dia koma. Berikan sedikit waktu untuk dia bisa menyeimbangkan dirinya."


"Baik, Dokter."

__ADS_1


"Beri dia minum tapi perlahan saja. Jangan terlalu banyak juga."


"Tentu dokter. Terimakasih atas perawatan yang anda berikan untuk putri saya."


"Sama-sama, Pak. Ini sudah menjadi kewajiban kami. Kalau begitu saya tinggal. Sus, tolong pantau kondisi umum dan tanda vitalnya."


Satu orang perawat menemani di sini bersama mama dan papa. Selang oksigen yang awalnya memakai masker cembung, kini digantikan dengan selang yang memiliki dua saluran masuk ke dalam lubang hidungku.


"Minum perlahan, Nak." Mama memberikan aku minum dengan menggunakan sendok.


Ingin sekali aku langsung meneguknya langsung habis satu gelas, hanya saja aku benar-benar tidak memiliki tenaga.


"Iksia, kamu ingin melihat bayi kamu? Dia sehat dan sangat lucu. Meski belum cukup bulan, berat badan mereka normal."


Aku mengedipkan mata dua kali.



Air mataku luruh. Malaikat kecil itu benar-benar lahir dari rahimku. Mereka terlihat begitu lucu.


Ada sesuatu yang merayap masuk ke dalam hati, hangat dan damai. Perasaan yang membuat aku merasa sangat bahagia.


"Kamu hebat, Nak. Sekarang kamu seorang ibu dari dua anak yang manis itu. Lihat, itu perempuan dan laki-laki. Kamu memiliki sepasang anak kembar." Mama memelukku hati-hati.


Sorot mata itu tidak lagi menyimpan amarah dan kebencian untukku. Semuanya sirna. Hanya ada kebahagiaan yang terpancar dari wajah Mama dan Papa.


"Kamu sudah punya nama untuk mereka?"

__ADS_1


Ya, aku sudah punya nama untuk mereka berdua.


__ADS_2