Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Ketakutan


__ADS_3

Sakya bercerita setelah keesokan harinya. Tentu saja dengan ditemani Fateeh dan juga Arzhan. Dia mengatakan kalau mereka kabur saat Chana berpura-pura minta ke kamar mandi. Chana hanya diantar satu orang penculik karena mungkin tidak ingin mengundang perhatian banyak orang.


Mereka berhenti disebuah mini market, sementara Chana masuk ke mini market, Sakya yang memang tidak menyukai bau, muntah. Penculik yang ada di dalam mengeluarkan Sakya karena tidak mau mobilnya kotor.


Tanpa rasa takut, Chana pergi ke kasir yang di mana terdapat beberapa orang sedang mengantri untuk bayar.


"Pak, Bu, saya sedang diculik oleh Om ini. Kakak saya juga," ujar Chana sambil menunjuk Sakya yang sedang muntah.


Reaksi orang berbeda, ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada yang hanya diam seolah tidak perduli, begitu menurut Chana dengan bercerita memakai bahasanya sendiri.


Chana mencoba menguji penculik itu dengan berlari, penculik itu mengejar sambil menjambak Chana, itulah yang membuat perhatian banyak orang. Takut tertangkap, mereka pun melarikan diri dan meninggalkan anak-anak.


Kepolosan mereka yang sedang panik, membuat otaknya tidak bisa berpikir selain kata 'lari'.


Mereka berlari dengan tujuan menghindari sejauh mungkin tempat tadi. Padahal di sana banyak orang yang bisa membantu mereka. Nahasnya, anak-anak berlari ke arah yang sama dengan mobil penjahat itu pergi.


Chana dan Sakya melihat mobil itu sedang berhenti karena tertahan lampu merah, demi menghindarinya mereka kembali berlari menggunakan jalan lain dan bertemu dengan bapak-bapak yang membawa gerobak sampah.


Saat panik, kadang otak kita tidak berjalan degan baik. Ditambah dengan orang-orang yang kadang perduli hanya karena ingin ikut-ikutan saja. Tidak ada yang benar-benar membantu untuk mengejar mobil penjahat itu.


"Kalian anak-anak daddy yang hebat."


"Telapak kalian masih sakit? Sini Om kasih obat lagi."


Karena berlari tidak menggunakan sandal, kaki mereka lecet.


"Mom akan selalu ada di rumah mulai hari ini. Mom akan menjaga kalian 24 jam."


"Kamu gak kerja, Dek?"


"Aku mengundurkan diri. Sepertinya Papa gak nyaman aku ada di sana."


"Terus, biaya anak-anak dan hidup Lu, gimana? Tapi tenang, gue aja bantu."


"Aku ayah mereka, apa yang perlu dikhawatirkan."


Aku memang tidak perlu khawatir karena ada mereka yang begitu tulus mencintai anak-anak.


Saat kami sedang bercanda, Fateeh menerima telpon dari Papa. Wajahnya sangat tegang bercampur kebahagiaan.


"Ada apa, Kak?"


"Dalang penculikan Sakya dan Chana sudah ditangkap."


"Beneran? Siapa?"


Fateeh menatapku dengan serius.

__ADS_1


"Siapa?" tanyaku semakin penasaran.


"Ahtar."


Ahtar? Kenapa harus dia? Emm, maksudnya apa salahku sama dia?


Di kantor polisi, aku hanya bisa diam menatap Ahtar. Jika saja bisa, aku ingin menghajarnya habis-habisan.


"Kenapa?"


"Kesal."


"Katakan dengan jelas, bajingan!" Aku menggebrak meja.


"Kalau bukan karena pengaruh ayah kamu, kamu itu bukan siapa-siapa di kantor. Kamu pikir apa? Segampang itu kamu bisa jadi manajer? Aku! Aku butuh waktu lama agar bisa do posisi sekarang! Tapi kenapa? Kenapa mereka hanya membicarakan kamu, kamu, dan kebaikan kamu. Aku muak pada kemunafikan kamu. Merasa hebat karena sukses dengan satu produksi? Aku lebih dari sepuluh produksi!"


Mendengar alasannya, aku hanya bisa tersenyum tipis. Benar-benar tidak masuk akal.


"Jika karena itu, harusnya kamu tidak perlu bertindak sejauh ini. Saat anakku diculik, aku resmi mengundurkan diri dari kantor."


"Lihatlah! Arogan sekali bukan? Begitu mendapat jabatan, dengan entengnya kamu lepaskan begitu saja. Harusnya sejak awal kamu tidak pernah ada di sana."


"Dan lihatlah dirimu sekarang, hanya karena penyakit hati, karir yang kamu bangun hancur dalam sekejap. Aku kasian sama kamu."


"Tidak perlu mengasihaniku. Kasihanilah anak-anak kamu yang lahir diluar pernikahan. Dasar anak-anak haram!"


Arzhan yang tiba-tiba datang dari belakang, menghajarnya hingga dia tersungkur jatuh dari kursi.


Tidak cukup sampai di sana, Arzhan juga menendang beberapa kali. Jika bukan karena petugas polisi yang menahan Arzhan, Ahtar sudah pasti mati saat itu.


"Minggir kalian semua! lepaskan!"


Arzhan memberontak dari bekalan beberapa anggota kepolisian.


"Bangsat! berani Lo menghina anak gue, mati Lo! lepaskan!"


Ahtar tertawa meski mulutnya penuh dengan darah. Tak nampak lagi gigi putihnya. Semua menjadi merah.


"Wow wow wow. Ternyata dia adalah anak dari kakak ibunya. Ck ck ck! Apa kalian tidak bisa menahan birahi kalian hingga harus menghasilkan anak dari hubungan persodaraan. Heh, Iksia. Gatelnya gak bisa tahan, ya? Sini, gue ikut garuk juga."


"Kurang ajar!" tiga orang polisi tidak mampu menahan Arzhan. Dia menghampiri Ahtar lalu kembali menghajarnya hingga Ahtar tidak sadarkan diri.


Kini, hampir semua polisi yang ada di ruangan itu menarik tubuh Arzhan. Sementara sisanya segera membawa Ahtar entah ke mana.


"Tenang, Pak. Kalau begini, bapak bisa ikut masuk penjara kalau dia membuat laporan."


"Peduli setan! Masuk penjara ya masuk asal dia mampus di tangan gue!"

__ADS_1


"Kakak, udah." Aku memeluk tubuh Arzhan yang terus saja berkontak karena berusaha mengejar Ahtar.


"Sudah, Kak. Cukup! Kalau kakak masuk penjara, bagaimana denganku dan anak-anak? Siapa yang akan melindungi dan menjaga kami nanti?" Aku menangis.


Stelah beberapa lama, akhirnya Arzhan mulai tenang. Wajah dia terlihat masih marah, dadanya masih turun naik menahan gejolak emosi.


"Kakak dari mana aja, sih?" tanyaku saat Fateeh baru tiba.


"Udah ketemu penjahatnya? Kita harus segera pergi." Dia terlihat panik. Aku dan Arzhan saking melirik.


"Ada apa?" tanyaku yang ikut panik.


"Mama masuk rumah sakit. Kita semua diminta ke sana."


Aku dan Arzhan berdiri secara bersamaan.


*Ada apa? kenapa?


Jika mama masuk rumah sakit, kenapa kami semua diminta ke sana? Bukankah mama sedang marah dan tidak ingin bertemu denganku?


Ya Tuhan, ada apa ini? Tolong ... jaga Mama. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya*.


Aku tidak henti-hentinya berdoa di dalam hati saat dalam perjalanan. Begitu sampai di rumah sakit, aku kaget karena anak-anak sudah ada di sana.


"Pak Raga, mana Mama?" tanyaku.


"Ada di dalam sedang diperiksa dokter."


"Aku mau masuk."


Pak Raga menghadang langkahku, dia menggelengkan kepalanya memberi tanda agar aku tetap diam.


Ada apa?


"Mom, omah kenapa?" tanya Chana. Karena panik, aku sampai lupa menyapa mereka.


"Omah sakit, Nak." Aku berlutut agar tinggi kami setara. Chana dan Sakya terlihat cemas.


Pintu ruangan terbuka, beberapa dokter dan perawat keluar dari sana.


"Kalian masuk lah."


Tanpa menunggu lagi, aku segera menerobos ke dalam. Langkahku terhenti saat melihat Mama yang sangat kurus terbaring lemah. Papa terlihat menangis sambil menggenggam tangannya.


"Ma ...."


Mama menoleh dengan sangat lambat, dia tersenyum saat melihatku. Aku mempercepat langkah dan segera memeluknya. Mencium kaki, tangan dan keningnya.

__ADS_1


Maaf, Ma.


__ADS_2