
"Kamu siapa?" tanya seseorang wanita cantik dengan tatapan matanya yang tidak bersahabat.
"Aku Iksia."
"Saya gak tanya nama kamu. Saya tanya kamu siapa?"
Sebenarnya punya masalah apa, sih, cewek ini?
"Nanya yang jelas dong, Mba. Nanyain 'kamu siapa ' itu, nanya namanya atau statusnya atau--"
"Galeri ini gak bisa dimasuki sembarangan orang. Apalagi hanya siswa sekolah kayak kamu."
"Kenapa? Kok gak ada aturan tertulisnya di depan. Harusnya ada tulisan yang gede biar semua orang bisa tahu, dia termasuk kriteria orang yang bisa masuk ke sini atau enggak."
"Keluar gak?"
"Enggak."
"Mau saya panggilkan keamanan biar kamu diusir?"
"Panggil aja, itupun kalau Mba mau bertanggung jawab jika keamanan itu kehilangan pekerjaannya."
Wanita itu menaikan satu alisnya.
"Mba pegawai di sini juga?"
"Saya pemiliknya. Kenapa?"
"Loh, bukannya pemilik galeri ini Kak Arzhan, ya?"
"Darimana kamu tahu Arzhan?"
"Kami ada di dalam kartu keluarga yang sama. Kenapa?" tanyaku merasa puas.
"Oh, kamu adik tirinya Arzhan ternyata. Segini doang? Cih!"
Eh, apa coba maksudnya?
Pengalaman pertama ikut ke galeri Arzhan sungguh menyebalkan. Ini semua gara-gara dia menjual semua mobil miliknya. Sekarang terpaksa kami harus berbagi mobil. Setiap hari aku diantar dan dijemput ke sekolah olehnya.
Kebetulan, hari ini dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, terpaksa aku ikut dia kerja.
"Lagian, kenapa dia menjual ke empat mobilnya coba. Buat apa?" Aku mendumel sendiri.
Ruang utama galeri ini berisi dengan patuh pahatan. Ada beberapa jenis yang masih bisa aku kenali seperti : patung hewan, manusia, dan jenis makhluk hidup lainnya. Sisanya sungguh tidak tergapai oleh otakku.
Saat aku hendak memasuki ruangan berikutnya, tidak sengaja aku mendengar seseorang sedang mengobrol. Karena penasaran, aku menguping lebih jauh.
"Oh, itu? Ternyata cantik banget, ya."
"Iya. Pantas Pak Arzhan bucin banget, sampe katanya dia buru-buru ke sini demi dia loh."
"Udah cantik, modis, kayak lagi."
"Jadi siapa yang beruntung? Pak Arzhan atau Bu Aysila?"
"Yang jelas bukan kita."
Mereka tertawa-tawa sambil meneruskan obrolan yang sudah tidak ingin aku dengar.
Aku memutuskan untuk pergi ke kedai pinggir galeri Arzhan.
Sejak awal aku merasa kalau Arzhan memang aneh. Tidak mungkin dia menyayangiku sebagai wanita. Meski dia menjelaskan alasannya kalau dia jatuh cinta padaku sejak lama, tapi bagiku ini tetaplah ganjil.
Lihatlah aku. Seorang gadis yang lahir dari keluarga biasa. Memiliki ayah yang selalu menyiksa istri dan anaknya. Tidak cantik, dan tidak juga putih.
Wanita pendek yang mungkin sedikit beruntung karena memiliki ayah tiri super baik dan kaya raya.
Seharusnya aku sadar diri sejak awal. Menyingkirkan rasa sedini mungkin. Bukan berharap lebih yang justru menyakiti diri sendiri.
Tapi kenapa aku tidak bisa mengontrol hati ini?
Gimana bisa aku gak suka pada Arzhan. Bagiku dia laki-laki sempurna dari segala aspek.
"Dia bahkan meminta aku untuk menahan lapar karena tidak ingin telat bertemu dengan wanita tadi."
__ADS_1
Sedih tapi sulit untuk menangis, itu jauh lebih sakit. Rasanya sesak.
Dari dalam sini, aku melihat Arzhan dan wanita itu keluar dari galeri dengan bergandengan mesra.
Wanita itu tampak manja pada Arzhan. Bahkan Arzhan berkali-kali membelai kepalanya.
Dia melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam mobil. Namun, dia kembali lagi untuk memeluk Arzhan.
Anak rambut yang menghalangi wajah wanita itu dirapikan oleh Arzhan. Sementara tangan yang satunya memegang pinggang wanita itu.
Jika dilihat lagi, mereka berdua memang terlihat sangat serasi.
Mobil yang dinaiki wanita itupun kini benar-benar telah pergi. Aku melihat Arzhan mengambil ponsel.
Drrrtttttt.
Arzhan meneleponku.
"Menoleh lah ke kiri," ucapku. Hanya satu kalimat itu dan panggilan berakhir. Dia tampak kaget, atau merasa bersalah ... atau apa aku tidak mengerti.
"Kenapa di sini?"
"Takdir."
"Mau makan?"
"Udah."
"Mau pulang?"
"Hmm."
"Hei," Arzhan membelai kepalaku.
"Kalau aku bilang tangan kakak kotor, apa kakak akan menjual tangan kakak? Sama seperti aku bilang kalau jok mobil kakak kotor. Kakak jual mobil karena itu bukan?"
"Aku ingin kamu bisa pergi denganku lagi."
"Ayo kita pulang. Aku lelah."
Aku berjalan mendahuluinya dan langsung menuju mobil, sementara Arzhan pamit untuk mengambil barang-barangnya.
"Arzhan, kenapa kamu suka banget bikin aku marah-marah."
"Ya?"
"Bisakah kita langsung pergi aja?"
"Iksia, dengarkan dulu penjelasanku."
"Untuk apa? Kenapa kakak harus ngasih penjelasan padaku? Aku ini hanya adik tiri yang tidak perlu tau urusan sodara sambungnya."
Arzhan menyalakan mobil, dia tampak marah bahkan memacu mobil dengan cepat. Aku tidak berani bertanya karena tidak ingin membuat dia semakin kesal.
Takut? Tentu saja. Cukup sekali saja aku merasakan ketegangan saat menuju kantor Papa, kenapa harus terulang lagi sekarang.
Tunggu, ini bukan menuju rumah. Ke mana Arzhan akan membawaku?
Kami sampai di sebuah gedung yang sangat tinggi. Ada tiga gedung yang sama dengan jarak berdekatan.
Arzhan membawaku menaiki lift, kamu berhenti di lantai 14. Menelusuri lorong dengan banyak pintu di samping kanan dan kiri. Langkah kaki terhenti di depan pintu. Dia menekan angka di dekat gagang pintu.
Loh, itu 'kan tanggal lahir aku?
Pintu terbuka.
"Ini di mana, Kak?"
"Apartemen."
"Kenapa kita di sini?" tanyaku sambil melihat-lihat isi apartemen Arzhan. Rapi. Itu sudah pasti. Wangi, sudah tentu.
"Mau minum?"
"Hmm."
__ADS_1
Aku duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Sementara Arzhan sibuk di dapur sedang menyiapkan minum.
"Ini." Dia membawa nampan dengan dua gelas jus jeruk di atasnya.
"Aku mau bicara serius sama kamu."
"Tentang?"
"Aku sudah jelas mengatakan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya, sekarang--"
"Aku gak percaya."
"Kenapa?"
"Yaaa, aku merasa kalau kakak hanya sedang mempermainkan aku doang."
"Kenapa kamu memiliki pemikiran seperti itu?"
"Banyak kejanggalan soalnya." Aku mengambil gelas, lalu memalingkan wajah karena tidak ingin melihat tatapannya.
"Iksia, dengar ... wanita tadi memang pernah menjalani hubungan denganku, dia masa lalu yang sudah aku lupakan. Kami hanya dekat sebagai teman. Tidak lebih."
"Dia sendiri menganggap kakak apa?"
"Kenap harus memperdulikan itu?"
"Haruslah. Kak, cara kakak memperlakukan dia, bahkan membuat aku yang melihat saja mengira kalau kalian itu pasangan kekasih. Bagaimana cara dia manja sama kakak, menatap kakak, sudah jelas kalau dia tidak menganggap kakak sebagai temen doang. Kakaknya juga malah membalas sikap dia seolah kakak cowoknya. Ngeselin tau!"
"Kamu kesal?"
"Iyalah. Mesra-mesraan di bawah panas matahari. Norak!"
"Kenapa kamu kesal?"
"Ya karena ...."
Haduh, ngomong apa aku.
"Iksia, lihat aku." Arzhan menarik tubuhku semakin dekat dengannya. Kami saling berhadapan dan menyatukan pandangan.
"Apa alasan kamu kesal melihatku dengan wanita tadi?"
Aku menggelengkan kepala cepat.
"Ya, dia memang masih berharap kami bisa kembali. Aku hanya bisa meminta dia untuk menunggu. Jika aku tidak mendapat kepastian dari kamu, maka aku akan memastikan jika dia akan menjadi Kaka ipar kamu, Si."
Kakak ipar? wanita tadi?
"Ya udah, jadikan dia kakak iparku aja."
Arzhan menatapku semakin tajam. Tangan yang semula memegang lenganku, dia tarik perlahan.
"Baiklah, aku akan membicarakan masalah ini dengan Mama dan Papa nanti malam."
Cepet banget. Apa dia benar-benar akan melamar wanita tadi?
Sesak dan ragu. Aku bingung harus berbuat apa sekarang.
Arzhan bangun dari sofa dan pergi menuju dapur. Dia membuka lemari es entah apa yang sedang dia lakukan.
Kenyataan bahwa aku memang memiliki perasaan untuknya tidak bisa aku abaikan. Semakin aku berusaha menguburnya, rasa itu semakin keras memberontak.
"Kak." Aku berdiri di belakangnya. Dia memutar badan dan kini kami saling berhadapan.
"Jangan bilang apa-apa sama Mama dan Papa tentang niat kakak menjadikan wanita tadi sebagai kakak iparku."
"Kenapa?"
"Aku ... aku ...."
Duh, gimana caranya ngomong sama dia kalau aku juga mencintai Arzhan. Lagian ini cowok gak ngerti apa gimana sih?
"Tidak ada alasan jelas, maka aku pun tidak punya alasan untuk--"
"Berisik!"
__ADS_1
Aku menarik tengkuk Arzhan. Menutup mulutnya dengan mulutku.