
"Pak Raga, malam ini pulang lah. Siapa tau keluarga butuh bapak."
"Saya ada anak dan istri, tapi mereka jauh, Non."
"Mau ambil cuti? Lagi pula ada dua orang yang menjaga saya."
"Kebetulan istri saya sedang hamil, Non. Mungkin nanti saya ambil cuti saat istri saya mau melahirkan."
"Oh, baiklah."
"Saya permisi."
Aku dan Arzhan mengangguk. Tidak lama setelah Pak Raga keluar, pintu kamar kembali terbuka.
"Dad." Chana berlari menghampiri Arzhan. Wajahnya terlihat sedih melihat wajah ayahnya babak belur. Tangan mungilnya mengusap wajah Arzhan perlahan.
"It's oke, Baby. Don't crying."
"Sakit?"
"No."
"Ini berdarah, Dad. Pasti sakit."
"Kenapa wajah daddy lebam, Mom?"
"Ayah habis berantem sama orang jahat buat melindungi Mom, Nak."
"Ayah super hero. Kalau udah gede aku juga mau jadi super hero yang jagain Chana sama Mom."
"Harus, dong. Kamu itu jagoan Daddy." Arzhan menarik tubuh Sakya dan memeluknya. Pun dengan Chana yang ikut masuk dalam pelukan Arzhan.
Pemandangan yang selalu aku inginkan setiap saat, setiap waktu, setiap hari sepanjang masa.
Berharap kebahagiaan itu akan segera datang setidaknya untuk anak-anak. Meski aku tahu, dosa yang pernah aku lakukan sangatlah besar, tapi aku percaya bahwa Allah maha pengampun. Entah sudah diampuni atau belum, kewajibanku hanya harus memperbaiki diri.
Hari ini Arzhan tidak berangkat bekerja karena luka-lukanya. Dia hanya menemani kami sarapan di bawah.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu?" tanya Arzhan setelah anak-anak berangkat ke sekolah.
"Hari ini seharusnya aku meeting dengan klien, tapi data perusahaan hilang dan aku kena finalty, Mas."
"Ini semua gara-gara Alea, dia itu mau apa sebenarnya. Di awal aja ngasih izin kalian nikah, kenapa sekarang tiba-tiba jadi begini coba."
"Mungkin karena dia cemburu. Lama bersama tidak menutup kemungkinan untuk timbulnya perasaan."
__ADS_1
"Khadijah?"
Kekasih Fateeh tiba-tiba datang. Sepagi ini. Entah apa yang akan dia lakukan kali ini. Akankah dia meminta Fateeh dan aku pisah rumah?
"Assalamualaikum, Kak." Dia menyapaku. Aku membalas degan senyuman seadanya.
"Apa saya mengganggu pagi kalian?" tanyanya.
Fateeh dan Arzhan menatapku bersamaan.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku barengan?" tanyaku pada mereka.
"Gak enak banget tau."
"Kebetulan aja kali. Gue, sih, gak ada maksud apa-apa. Lu, Kak?"
"Ya orang aku liat dia mau minta tolong ambilin buah, kenapa dia kesal?"
Aku membuang nafas kesal. Lalu berdiri untuk mengambil potongan buah.
"Sepertinya saya memang mengganggu."
"Tadinya enggak, cuma bisa gak, gak usah ngomong mengganggu terus. Maksudnya datang aja ke sini dengan santai dan gak perlu kaku. Kalau memang bertamu terlalu pagi membuat kamu merasa gak enak hati pada pemilik rumah, seharusnya ya memang datang agak siangan aja. Tapi berhubung sudah datang, ya sudah, nikmati saja. Mau sarapan?"
Khadijah menggelengkan kepala.
"Gue cuma mau bilang ngomongnya jangan panjang-panjang."
"Itu sayang. Bibirku masih perih, bisa tolong jangan masukan jeruk ke dalam potongan buah. Ambil yang lain aja."
Aku kembali berdiri dan mengambilkan potongan buah yang lain.
"Khadijah, kamu datang ke sini bukan tanpa tujuan, kan? Ada apa? Haruskah kita bicara berdua saja tanpa mereka."
"Tidak perlu, Kak. Saya datang ke sini ingin berpamitan pada kalian."
"Pamitan? Memangnya mau ke mana?"
"Saya ingin meminta maaf, itu yang pertama. Waktu itu sodara saya telah membuat keributan di rumah ini. Saya juga mau mengucapkan terimakasih karena sambutan kalian waktu itu sangat luar biasa. Saya dan keluarga benar-benar tersanjung dan merasa dihormati, tapi ...."
Khadijah dan Fateeh saling menatap.
"Oh, apa aku harus berpisah rumah dengan Kak Fateeh karena kami buka muhrim?"
Tak!
__ADS_1
Satu buah anggur hijau mendarat tepat di jidatku.
"Fateeh." Arzhan menekankan suaranya.
Aku memejamkan mata sambil mengatur nafas agar tidak meledak dan berkelahi dengannya. Bisa habis diceramahi Khadijah nanti.
"Lanjutkan, Khadijah." Aku mempersilakan dia untuk melanjutkan ucapannya.
"Kami tidak bisa melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius lagi."
What?
Aku dan Arzhan sama-sama terkejut mendengar ucapan Khadijah.
"Meski kalian bukan sodara kandung, tapi bagi Fateeh kak Iksia adalah segalanya. Saya meminta dia menjaga jarak tapi Fateeh menolak. Dia bilang kalau kak Iksia adalah wasiat terakhir Mama, jadi demi siapapun dia tidak akan pergi jauh dari Kak Iksia."
Panas. Hatiku terasa panas mendengar ucapan Khadijah. Bukan marah atau kesal, tapi aku terharu dan merasa bahagia.
Fateeh yang selalu saja membuat aku kesal, ternyata dia ....
"Untuk itu saya memilih untuk mundur. Saya tidak ingin memutuskan ikatan kalian, hanya saja ada aturan yang harus kita taati saat kita memutuskan untuk menjadi seorang wanita muslimah. Saya merasa interaksi kalian salah, tapi saya juga tidak memaksa jika kalian tidak bisa merubahnya. Tidak ingin terus-terusan melihat hal yang sama, maka dari itu saya mundur."
"Jangan!"
Fateeh, Arzhan dan Khadijah pun terkejut dengan perkataanku yang spontan.
"Wanita sebaik kamu, rasanya akan sayang jika dilepaskan begitu saja. Khadijah, mungkin saya memang masih bodoh dalam ilmu agama, makanya saya belum bisa membatasi apa-apa saja yang boleh dan mana yang tidak boleh. Seiring berjalanya waktu, insya Allah kami bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Hanya saja butuh waktu tapi bukan berarti tidak bisa."
"Maksud Lu?"
"Kak, Khadijah wanita baik. Anak-anak kakak nanti butuh ibu seperti ini. Kita menjaga jarak bukan berarti tidak bisa saling menyayangi kan? Kita masih bisa saling mendukung tanpa melakukan kontak fisik. Lagi pula nanti kita pasti akan berpisah rumah pada akhirnya entah dengan siapapun kakak menikah, tapi melepaskan wanita sebaik Khadijah adalah kesalahan besar."
"Dek?"
"Aku butuh wanita sebaik Khadijah untuk mengurus kakak kelak. Aku harus memastikan kalau wanita itu adalah wanita yang jauh lebih baik dariku atau pun Mama. Dia yang bisa menuntun kakak ke arah yang lebih baik."
Fateeh menunduk. Pundaknya bergerak turun naik seiring dengan isakan tangisnya.
"Khadijah, katakan pada orang tua kamu kalau kami akan datang membawa lamaran. Secepatnya kalian akan menikah."
Mata Khadijah berkaca-kaca, sementara tangisan Fateeh semakin terdengar.
"Sebagai gantinya, biarkan saya yang memeluk kakak. Saya yang akan menggantikan peran Fateeh untuk menjaga wasiat terakhir Mama."
Khadijah menghampiri dan memelukku. Kami menangis dalam suasana kebahagiaan. Sebentar lagi anggota keluarga baru akan datang.
__ADS_1
Mama ... anak kedua mama akan menikah. Mungkin rasanya akan berbeda jika mama masih ada.