
"Ini di simpan di mana, Non?"
"Di sebelah sana saja. Itu, Mas tolong buahnya disusun rapi, ya. Sama itu juga, susyi nya belum datang juga?"
"Sedang dalam perjalanan, Non."
"Oke."
Kesibukan untuk menyambut tamu sudah aku rasakan sejak pagi. Chef di rumah tidak bisa mengurus semuanya sendiri, untuk itulah aku memesan beberapa jenis makanan dari luar.
"Dek, mungkin besok tamunya gak cuma Khadijah doang yang datang. Keluarga mereka pun ada beberapa yang mau ikut," ucap Fateeh sebelum aku masuk ke kamar.
"Tenang aja, Kak. Aku akan urus semuanya besok pagi. Kakak gak usah khawatir."
"Thanks, ya." Ada sorot mata haru dan juga bangga dala mata Fateeh saat menatapku.
Ya, sejak Mama pergi, dan Mbok Darmi pulang kampung, semua keperluan di rumah ini aku yang mengatur. Aku anggota keluarga satu-satunya menjadi pengganti ibu di sini.
Di rumah kami ad sebuah aula kecil di belahan rumah. Biasanya dipakai untuk acara syukuran atau acara apa pun. Kini, kami menyambut tamu pun di lakukan di sana. Tidak perlu dihias karena gedung itu memang sudah indah tanpa dekorasi apa pun juga.
Kini sudah pukul lima sore hari. Semuanya sudah siap tanpa kurang apapun.
"Papa, bajunya udah siap? Sini aku pilihin." Aku mulai melihat pakaian Papa di walk ini closet. Aku lebih memilih pakaian batik ketimbang setelan tuxedo. Biar lebih terlihat santai dan bersahabat. Setelah selesai menyiapkan pakaian Papa, aku ke kamar anak-anak, dibantu suster aku mendandani mereka.
"Sayang, sudah belum?" Arzhan menyusulku ke kamar anak-anak.
Aku tersenyum lalu segera kembali ke kamarku untuk membantu dia berpakaian.
"Yakin gak mau pakai batik saja?"
"Aku takut terlihat tua di mata kamu."
"Usia bukan hal yang bisa membuat aku tidak mencintai kamu, Mas."
Arzhan memelukku, "Aku lihat kamu sibuk banget dari pagi. Lelah?"
Aku menggelengkan kepala.
"Dek!" Fateeh mengetuk kamar kami, tanpa dipersilahkan pun dia langsung menerobos masuk.
"Ganggu aja!"
"Sorry, Kak. Dek, menurut kamu aku pakai baju ini atau ini?"
Dia membawa tiga stel pakaian ke kamarku.
"Kak, pakai saja pakaian yang disukai Khadijah."
Fateeh tampak berpikir.
"Baiklah." Dia kembali ke kamarnya.
Menyiapkan semuanya mulai dari makanan, anak-anak, suami, Papa, kini giliranku yang membersihkan diri. Setelah salat magrib, aku baru berdandan tipis agar tidak terlihat pucat dan kusam.
Aku dan keluarga menunggu sambil kembali mengecek makanan, takut ada yang terlupakan.
__ADS_1
"Lu mau jumatan?"
Aku yang sedang memeriksa makanan langsung menoleh pada suara Arzhan. Di sana aku juga melihat Fateeh dengan celana hitam dan baju koko putih lengan panjang.
Apa itu baju yang disukai Khadijah? Seperti apa sebenarnya wanita itu?
"Kak." Aku melambaikan tangan pada Fateeh.
"Ada apa?"
"Cek lagi, deh. Ada yang kurang gak? Apa ini tidak membuat kakak malu? Barang kali kurang mewah atau kurang banyak."
Fateeh bukannya menjawab malah memelukku.
"Ada apa?"
"Gue sedih aja rasanya. Lu udah gede, udah dewasa. Kadang gue kangen kita gelud kayak dulu."
Rasa haru itu menyeruak dalam dada. Benar, sudah lama rasanya kami tidak berprilaku seperti Tom and Jerry lagi.
Banyak hal yang terjadi, banyak duka yang kami lewati, dan banyak cobaan yang harus dihadapi perlahan membuat semuanya berubah.
"Non, tamu sudah datang." Pak Raga memberitahuku. Kami segera melepaskan pelukan satu sama lain.
"Assalamualaikum ...." Seorang pria yang sepertinya umurnya jauh di atas Papa menyapa. Papa segera menyambut uluran tangannya.
Dengan penuh tawa dan suka cita, mereka kamu persilakan masuk dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Obrolan basa-basi dan juga perkenalan antara keluarga, setelah itu kami semua mengambil makanan. Semua pergi ke tempat makanan sesuai dengan yang mereka inginkan.
Khadijah, ternyata dia wanita muslimah dengan baju dan hijab serba lebar. Parasnya sangat cantik, kulitnya putih kemerahan. Matanya indah dengan mulut yang mungil. Hanya saja dia lebih tinggi dariku.
Fateeh, Papa dan ayah perempuan sibuk ngobrol, sementara Khadijah sedang asik bercanda dengan Sakya dan Chana.
Syukurlah jika anak-anak menyukai Khadijah.
Aku melihat seseorang wanita tinggi dengan pakaian tertutup namun tidak memakai hijab, menghampiri Khadijah dan anak-anak.
Awalnya dia terlihat baik dan sopan menyapa anak-anakku, tapi aku mendengar ucapan yang tidak enak didengar.
"Orang tua kalian baru nikah, kenapa kaliannya udah gede, ya. Pasti pakai obat pupuk yang bagus," tanyanya sinis.
Panas rasanya dada ini, aku melangkah hendak menegur wanita itu, akan tetapi wanita itu terjerembab ke lantai.
"Jaga mulutnya ya jika bicara dengan anak-anak, Mba!"
Alea? sedang apa dia di sini?
Arzhan dan aku saling menatap, kami berjalan bersamaan menghampiri keributan yang terjadi.
__ADS_1
Suster dan pak Raga segera membawa anak-anak menjauh.
"Kurang ajar!" Wanita itu berdiri hendak menampar Alea, namun segera dihalangi Arzhan.
"Minggir! Kurang ajar dia berani mendorongku hingga jatuh ke lantai."
Wanita itu berusaha mendekati Alea namun selalu gagal karena Alea bersembunyi di belakang Arzhan.
"Jangan sentuh istri saya!"
Teriakan Arzhan membuat semua orang terdiam. Termasuk aku. Entah apa itu namanya, hanya saja dadaku sesak mendengarnya.
Astagfirullah ya Allah, ampuni hamba.
"Istri? Loh, bukannya...." Wanita itu menoleh padaku.
Alea berjalan dan berdiri di depan Arzhan, dia tidak lagi bersembunyi di belakang punggung suamiku.
"Aku menantu pertama di rumah ini. Aku istri sah Arzhan." Dengan bangganya Alea memperkenalkan diri.
Wanita itu tertawa.
"Maksudnya... Arzhan punya dua istri? Dan istri mudanya sedang hamil, begitu?"
"Aku istri pertamanya asal kamu tau."
Wanita itu terlihat heran.
Beberapa orang terlihat berbincang sambil sesekali melirik padaku. Tatapan itu sungguh tidak nyaman dan membuat aku ingin menghilang dari bumi ini.
"Tunggu, sebentar. Arzhan itu anak pertama keluarga ini bukan, sih? Terus itu," wanita lainnya menunjuk padaku. "bukankah itu anak tiri keluarga ini? Apa maksudnya mereka menikah? Adik kakak menikah?"
Pertanyaan itu selalu berhasil membuat aku down.
Fateeh menghampiriku. Dia tau aku lemah jika soal anak-anak dan hubunganku dengan Arzhan.
"Tolong, kita ke sini untuk berkenalan secara baik-baik. Lagi pula, kenapa Mba nya muncul tiba-tiba. Bukankah tadi gak ada di sini?" tanya seseorang yang tidak lain bibinya Khadijah.
Lama saling diam, sibuk dengan pemikiran dan penilaian masing-masing.
"Ayo, kita pergi dari sini." Arzhan merangkul Alea dan meninggalkan aula.
Sakit tapi tidak berdarah. Hatiku selalu saja merasa perih melihat mereka, padahal seharusnya itu tidak terjadi. Bagaimanapun juga, Alea pernah menjalin hubungan dengan Arzhan. Kini, dia menjadi istrinya.
"Dek, kamu yang sabar ya." Fateeh merangkul dan memelukku agar tenang.
"Mas, maaf. Tapi sebaiknya kalian tidak melakukan kontak fisik. Bagaimanapun juga, kalian bukan sodara kandung. Bukan muhrim," ucap Khadijah.
Aku hanya tersenyum tipis saat melihat raut wajah Fateeh.
...🌺🌺🌺...
**Halooo ... terimakasih ya pada kalian yang selalu mengikuti kisah Arzhan dan Iksia. Semoga kalian suka, ya.
Bantu juga author dengan cara like, vote, dan berikan selalu dukungan agar semakin semangat lagi untuk terus update ceritanya.
Yuk, follow juga dan masuk ke grup agar kita bisa saling menyapa.
__ADS_1
Thank you for reading**.