
Sebisa mungkin Mama tersenyum dan mengucapkan selamat pada Alea dan Arzhan. Sebagai orang tua, memang diharuskan untuk bersikap lebih bijak lagi. Meski tidak terlalu suka, mereka tetap harus menjaga keharmonisan apalagi ini di tempat umum.
Kami semua mengucapkan selamat dan Alea terlihat bahagia.
Kenapa Arzhan diam saja?
"Banyak banget berkah hari ini. Selain akan mendapatkan anggota keluarga baru, kita juga berbahagia karena Iksia berhasil tanpa bantuan Papa."
Mendengar ucapan Papa, Alea tersenyum sinis seolah dia merendahkan aku.
Kurang ajar! Akan aku beri pelajaran nanti.
"Cuma aku, ya, Pah yang gak ngasih apa-apa."
"Kakak hidup bahagia pun sesuatu yang membahagiakan untuk kami. Jika menikah nanti, ingat tentang etika, ya, Kak. Pastikan istri kakak memiliki hati yang cantik, bukan hanya parasnya saja."
Alea sepertinya tersinggung. Senyuman ejekan itu berubah menjadi kebencian padaku.
"Kamu nyindir aku?"
"Emang paras kamu cantik? Aku rasa B aja, tuh. Gak usah kesinggung."
"Apa kamu bilang?"
"Kurang jelas? Aku bilang--"
"Tolong, Iksia. Diamlah." Mama memintaku untuk tidak melanjutkan perdebatan ini.
"Jika kebebasanku di sini menjadi pengacau, aku pamit." Dia berdiri lalu mengambil tas dan pergi.
"Dari tadi kek!" Aku sedikit berteriak. Tidak perduli orang melihatku.
Setelah Alea pergi, kami semua diam.
"Papa masih lapar, makan, ah!"
Papa terlihat bahagia, dia mengambil beberapa makanan untuk dia lahap. Fateeh tertawa cekikikan. Sementara Mama melotot meski akhirnya tertawa bersama Papa.
"Saya permisi, Non." Pak Raga berpaling padaku.
"Dia mau ke mana?" tanya Fateeh.
"Entahlah. Biarin aja, sih. Kalau dia mau pipis, gimana? Dia juga punya kebutuhan jasmani dan rohani, biarkan saja."
Fateeh mengangguk-angguk, lalu kembali makan, sementara aku sibuk dengan ponselku.
Malam semakin larut, kami segera pulang setelah mampir ke kedai kopi pinggir jalan. Hanya untuk bersantai dan agar bisa berbicara banyak hal bersama.
"Kalian pulang ke rumah, Mama dan Papa pulang ke rumah lama."
"Iya, Ma."
Mama dan Papa sering berkunjung ke rumah lama kami, mereka bilang kalau tidak ditempati rumah akan cepat rusak.
"Aku pulang bareng Kak Arzhan ya, Kak."
"Ya udah, hati-hati di jalan. Jangan terlalu malam pulangnya."
__ADS_1
"Lah, emang kami langsung pulang."
"Gak yakin gue. Udah, ah. Gue balik duluan."
"Ishhhh!"
Malam ini cerah. Beberapa bintang muncul menampakkan diri meski tidak terlalu banyak. Angin berembus cukup kencang, bau akut yang khas dan diiringi suara deburan ombak.
Kami berdua duduk di bangku dengan kedua sisinya diterangi lampu taman. Gesekan daun kelapa yang tertiup angin menjadi satu-satunya suara yang kami dengar saat ini.
Arzhan mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kemasan rokok. Belum sempat dia menikmatinya, segera aku remas, lalu aku buang ke tempat sampah.
Setelah itu kami kembali saling diam.
Tiga puluh menit sudah kami di sini, saling membisu dan sibuk dengan pikiran masingmasing. Entah apa yang dipikirkan Arzhan, sementara aku sendiri membayang bagaimana rasanya jika kami : aku, Arzhan dan anak-anak pergi ke pantai dan bermain pasir bersama.
Aku menghembuskan nafas berat.
"Ada apa?" tanya Arzhan.
"Apa?"
Arzhan kembali diam.
"Aku yakin anak yang di dalam perut Alea bukan anak Kakak."
"Aku tahu."
"Apa?" aku begitu kaget.
"Sejak kamu pergi tanpa kabar, aku memutuskan untuk tidak memiliki anak dengan wanita manapun. Tidak perduli aku menikah dengan wanita mana pun. Termasuk Alea."
"Ya."
"Astaga!"
"Biarkan saja Alea hamil oleh laki-laki lain, aku juga bersalah karena dengan sengaja tidak membiarkan dia hamil anakku."
"Tapi itu artinya dia mengkhianati pernikahan kalian, Kak. Ini gak bener."
"Aku hanya sejak awal berkhianat padanya, Iksia. Aku menikahi dia tapi hatiku pergi ke tempat lain." Arzhan menatapku.
"Aku tidak pernah jatuh cinta padanya, dan dia tau itu. Dia tau aku mencintai wanita lain sejak awal."
"Kalau dia tau kakak mencintai wanita lain, kenapa dia mau menikah dengan kakak?"
"Apa bedanya denganku? Aku mencintaimu tapi menikah dengan Alea. Iksia, kami punya masalah yang sama. Jatuh cinta pada orang yang tidak bisa kami nikahi."
"Maksudnya Alea suka pada kakak tirinya?"
Arzhan menggelengkan kepala.
"Dia mencintai laki-laki yang tidak direstui oleh orang tuanya, hanya karena laki-laki itu bukan dari keluarga kaya."
Masih ada hal seperti itu? Kenapa? Roda kehidupan itu berputar, dia miskin siapa tau nantinya jadi orang kaya.
"Apa itu artinya kakak tidak akan bercerai dengannya?"
__ADS_1
"Setidaknya sampai anak dia lahir. Bagaimanapun juga, dia harus lahir dengan seorang ayah di sampingnya."
Lalu bagaimana dengan anak kita? Dia lahir tanpa kamu, Arzhan. Mereka bahkan tidak tahu kalau kamu ayahnya.
Air mataku menetes mengingat betapa sedihnya nasib anak-anakku.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa aku salah? Aku minta maaf." Arzhan mengusap air mataku.
"Aku iri pada Alea."
Arzhan menatap heran.
"Ayo kita pulang, Kak. Udah malem banget soalnya. Nanti Kak Fateeh marah." Aku berdiri.
"Dia tahu hubungan kita, Iksia."
Bagaimana disambar petir di siang hari.
"Dia tahu sejak awal. Dia bisa melihat sikap kamu padaku berbeda. Mungkin karena dia laki-laki, dia tahu bagaimana perempuan bersikap pada laki-laki yang mereka suka ... meski kita bersembunyi di balik hubungan persodaraan."
"Kakak tahu darimana?"
"Dia sendiri yang bertanya dan aku menjawabnya dengan jujur."
Malu, kesal dan entah ... semua perasaan bercampur menjadi satu. Aku bahkan bingung saat ini, bagaimana aku harus bersikap saat bertemu dengannya nanti.
"Apa Alea tahu siapa wanita yang kakak cintai?"
Arzhan menggelengkan kepala, "tapi jika sikapmu seperti ini, dia juga akan menyadarinya."
"Maksudnya?"
Arzhan ikut berdiri dan menatapku dalam.
"Perhatian kamu, marahnya kamu tidak seperti seorang adik pada kakaknya. Tapi seperti wanita yang sedang cemburu."
"Cemburu? Yang benar saja." Aku memalingkan wajah, dan membelakangi Arzhan.
"Apa aku salah?" tanyanya sambil memelukku.
Aku tersentak kaget, ingin melepaskan diri tetapi Arzhan menahanku. Dia mendekap lebih erat lagi.
"Aku merindukanmu, Iksia." Dia berbisik dai telingaku.
"Kak."
"Aku bahkan tidak peduli bagaimana hidupku saat kamu pergi. Melihatmu setelah sekian lama, aku seperti mendapatkan roh ku kembali."
"Kakak, tapi sekarang semuanya berbeda. Meski dalam hati kita masih saling mencintai, tapi kakak sudah menikah sekarang. Tidak enak rasanya jika hubungan kalian rusak karena aku. Apa yang akan orang katakan nanti?"
"Haruskah aku menceraikan Alea?"
"Apa?"
Arzhan melepaskan pelukannya, dia memutar tubuhku agar kami bisa saling berhadapan. Arzhan merapikan rambutku yang berantakan menghalangi wajah karena tiupan angin.
Dia mengecup keningku cukup lama.
__ADS_1
"Iksia, mari kita jujur pada Mama dan Papa."
Apa?