
Menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak dan suami sebisa mungkin aku menyempatkan diri. Meski kesibukan bertambah karena aku bekerja juga, tapi kewajiban utamaku adalah sebagai seorang istri dan ibu.
Setelah anak-anak dan suami berangkat, aku pun segera berangkat.
"Non, yang waktu itu berantem dengan Bu Alea masih inget gak?" tanya supirku.
Pak Raga yang duduk di depan melirikku ke belakang.
"Ya, kenapa?"
"Kenapa mereka terlihat akrab ya?"
"Maksudnya?" tanyaku heran dan penasaran.
"Tuan Arzhan waktu itu marah besar pada Bu Alea di depan. Saya tidak sengaja dengar. Tuan Arzhan bilang kalau Bu Alea keterlaluan. Yaaa, intinya Tuan Arzhan tidak suka Bu Alea tiba-tiba datang dan membuat keributan."
Benarkah? aku pikir ... astagfirullah, apa aku telah berburuk sangka pada suamiku sendiri?
"Tidak lama Tuan Arzhan pergi, wanita yang bertengkar waktu datang dan mereka terlihat akrab ngobrol sambil tertawa-tawa."
Mendengar pernyataan supir pribadiku, sungguh diluar dugaan. Aku syok mendengarnya.
"Ada apa dengan Alea? Di dalam dia terlihat membelaku meski aku sempat curiga saat dia memperkenalkan diri pada semua orang."
"Mungkin dia ingin mempermalukan Non, siapa tau."
Benarkah seperti itu? Kenapa?
"Jangan terlalu dipikirkan. Nanti akan saya urus semuanya. Sekarang fokus saja pada perusahaan."
Pak Raga benar. Sebaiknya aku harus fokus pada masalah yang ada di kantor.
"Kenapa bisa seperti ini? Apa perusahaan ini merekrut tim keamanan begitu gegabah sampai mereka tidak bisa menjaga cctv."
"Maaf, Bu."
"Bukan maaf yang ingin saya dengar sekarang. Jelaskan bagaimana data perusahaan bisa hilang semua."
"Ada yang merusak data utamanya. Yang bikin aneh adalah pas banget cctv nya mati. Apa itu masih bisa dibilang kebetulan?"
"Sekarang apa yang harus kita lakukan. Proyek tender dan mou kita ada di sana semua."
"Kami sedang berusaha memulihkan data, Bu."
Meeting dihentikan, kepalaku hampir pecah karena data perusahaan hilang semua. Tanpa ada rekaman cctv sungguh sangat mustahil untuk menemukan pelakunya.
Jelas bukan kerjaan hacker karena salah satu komputer utama menyala dan jelas jika ini dilakukan secara manual. Pelaku sengaja meninggalkan jejak.
__ADS_1
Sistem data ada di salah satu ruangan khusus. Hanya ada beberapa orang yang bekerja di sana, semuanya kepercayaan Papa Indra. Yang bisa mengakses nya pun hanya orang-orang tertentu.
Mereka yang bersangkutan pun sudah diselidiki tapi mereka punya alibi kuat tersendiri.
"Kenapa bisa berkas di ruang kerja aku pun hilang semua!"
"Tenang lah, Non."
"Bagaimana aku bisa tenang, Pak Raga. Ada proyek yang sedang aku kerjakan. Jika aku tidak bisa menyelesaikannya, maka perusahaan akan kena finalty milyaran rupiah."
"Kita tanya siapa pegawai yang paling terakhir pulang dari kantor. Pukul berapa?"
"Pegawai data center namanya Marni, dia pulang sekitar jam sepuluh malam. Sisanya asa tiga orang dari bagian produksi dan keuangan. Mereka pulang antara pukul 9 sampai sebelas malam."
"Oke, berarti yang keluar terkahir adalah bagian keuangan pukul 23."
"Mau ke mana?" tanyaku saat Pak Raga pergi begitu saja.
"Beri saya waktu sampai jam kantor ini berakhir."
Entah apa yang akan dilakukan bodyguard satu itu. Yang jelas kepalaku pening bukan main.
Hari ini kecuali bagian produksi, semua diberhentikan. Kami yang bekerja mendesain, keuangan, terutama data utamaku sudah tidak ada. Pekerjaan kamu semua berpatok pada itu.
Jam pulang kantor dimajukan lebih awal. Hanya beberapa dari kami yang memang sibuk berusaha memulihkan data dibantu dengan seorang ahli.
"Non." Pak Raga datang berlari setelah lama aku menunggunya.
"Iya, terus ada apa dengan orang-orang ini?"
"Lihat jam nya dan lihat jumlah orangnya."
Sekali lagi aku memperhatikan tayangan video dari ponsel Pak Raga.
"Ini rekaman dari mana?"
"Kantor itu." Pak Raga menunjuk kantor yang ada di depan kantorku.
Benar, mereka pasti punya cctv di depan halaman mereka. Siapapun yang keluar dari halaman kantorku, maka akan terdeteksi cctv mereka. Halaman kami menyatu.
Kenapa aku tidak berpikir sampai ke sana?
"Jika karyawan kita jujur, maka orang yang pulang terkahir itu lebih satu orang, Non."
"Kalau begitu, ayo kita cari dia yang tidak jujur itu."
Pak Raga memanggil dua bodyguard lainnya untuk mendampingiku. Aku tahu orang yang tidak jujur itu masih ada di dalam kantor.
__ADS_1
Melihatku datang dengan tiga orang bodyguard menyita perhatian orang-orang yang masih ada di perusahaan.
Dia yang tidak jujur itu terlihat sibuk dengan tim data yang sedang berusaha memulihkan data kami.
"Apa kamu sedang memastikan sesuatu, Maria?"
Wanita yang dulu aku anggap paling baik itu menoleh. Wajahnya terlihat heran saat melihatku dengan pengawalku.
"Ada apa, Bu?"
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa?"
"Maksudnya?"
"Kenapa kamu tidak jujur, Maria?"
"Jujur apa, Bu?"
"Kamu kenapa tidak bilang kalau kamu pulang larut kemarin?"
Maria mengernyitkan dahi.
"Loh, saya pulang terkahir kok, Bu. Waktu itu saya dan Dinar memang sedang ada pekerjaan, kami lembur. Saya gak ada pas tadi ada interogasi. Tapi saya udah bilang sama Dinar kalau saya juga ada di sana malam itu."
"Dinar bilang kalau dia ...." Pak Raga menyentuh tanganku. Memberi isyarat agar aku tidak melanjutkan ucapanku.
"Di mana Dina sekarang?" tanya Pak Raga.
"Baru saja keluar."
"Ayo."
Pak Raga berlari terlebih dahulu diikut aku dan dua bodyguard lainnya. Langkah kaki terhalang high'heels, maka aku melepaskannya dan berlari tanpa alas kaki.
Langkahku tertinggal jauh oleh mereka bertiga, selain kaki ini memang mungil dan imut, gamis yang aku pakai pun cukup menghambat, tapi tidak mungkin juga jika aku menyingkapnya.
Dari jauh aku melihat sebuah mobil sedang dihadang Pak Raga, sementara itu Dinar terlihat berontak dari cengkraman dua bodyguard lainnya.
Dengan nafas ngos-ngosan, aku meminta Pak Raga agar orang di dalam mobil itu membuka kaca mobilnya.
"Buka!"
Namun kaca mobil itu tidak juga terbuka. Berkali-kali Pak Raga meminta pemilik mobil agar membuka kaca mobilnya, tapi tidak digubris.
Dengan terpaksa, Pak Raga membuat kaca mobil dengan paksa. Dengan tangannya yang kekar, Pak Raga memecahkan kaca mobil itu.
Meski demikian, orang yang ada di dalam mobil tetap diam. Hingga pak Raga kembali memecahkan kaca sampai benar-benar pecah seutuhnya.
__ADS_1
Orang yang duduk di dalam sambil menutup dirinya karena ketakutan akan pemecahan kaca, membuat aku dan Pak Raga terkejut. Kami sama-sama syok.
Salah apa aku sampai dia bertindak sejauh ini, bahkan perusahaan pun dia ganggu.