Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
5 Tahun sudah


__ADS_3

"Selamat datang kembali, Nonaaaa ...." Remi menangis terharu saat kami: aku, Mbok Darmi, Remi, Pak Sam, Bodyguard dan sopir, tiba di rumah lama kami, Rumah Papa dan Mama.


Mbok Darmi yang sudah sepuh, kini berada di kursi roda yang aku dorong. Dia terjatuh hingga kakinya sakit dan tidak bisa bejalan. Dioperasi pun umurnya sudah rentan dan Mbok Darmi sendiri menolaknya. Dia bilang lebih baik mati di rumah ketimbang di meja operasi di rumah sakit.


"Akhirnya kita pulang, Non." Pak Sam bernafas lega.


"Adeeeek!" Terdengar suara teriakan dari dalam rumah. Aku melihat dia begitu kencang berlari menghampiri. Aku menyerahkan kursi roda pada Remi agar bisa menyambut dia.


Brukkk!


Fateeh memelukku dengan erat. Sangat erat seperti dia tidak ingin melepaskan aku lagi. Dadanya bergemuruh. Nafasnya ngos-ngosan.


"Aku pulang, Kak."


Fateeh melepaskan pelukannya. Menatapku seperti tidak percaya bahwa aku benar-benar ada di hadapannya. Dia mencium pipi Kakan kiri, dan kencingku.


"Jangan pergi lagi, Dek." Dia kembali memelukku.


"Enggak, Kak. Aku akan di sini sampai kakak nikah nanti."


"Astagaaa, aku bahkan tidak percaya hari ini akan tiba."


Aku tersenyum. "Aku ada di sini sekarang."


"Ya, aku tahu. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi."


"Udah dong pelukannya." Mama datang.


"Ma ...." Aku menghampiri Mama dan memeluknya.


"Kamu pasti capek, ayo masuk. Mama sudah siapkan makan."


"Hmm." Aku mengangguk.


"Ma, Kak Arzhan ada di mana?"


"Sejak menikah, dia tinggal di rumah istrinya."


Perih itu masih terasa sama.


"Kakak udah jadi dokter sekarang? Kerja di rumah sakit mana?" tanyaku mengalihkan perasaan.


"Dia punya klinik sendiri."


"Wah, hebatnya kakak aku yang ini."


Dia membusungkan dadanya dengan bangga.


"Tapi, Dek. Sekarang kamu banyak berubah, ya. Kamu terlihat jauh lebih dewasa. Aku merasa sedih karena kehilangan adik kecilku. Kalau sekarang, mana bisa kita gulat lagi, kan?"


"Hey! Kamu berhenti bertengkar mulai saat ini. Mama dan Papa udah tua, masa masih mau menyaksikan kalian ribut terus? Mama mau tenang. Mama hanya ingin rumah ini ramai oleh suara cucu mama saja."


"Ehemm."


Mama melirikku.


"Itu tandanya kakak harus segera menikah. Mama udah gak sabar pengen punya cucu."


"Kamu sendiri gimana? Udah punya anak belum?"


Hah? Apa maksudnya?


"Mereka sudah cerai, Fateeh. Berhentilah menggoda adikmu."


Cerai?


Mama mengedipkan matanya beberapa kali padaku.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku sudah cerai karena dia tidak bertanggung jawab dan malah numpang hidup pada biaya yang papa berikan padaku."


"Kenapa nikah gak ngundang kami? Kenapa juga pergi secara tiba-tiba?"


"Fateeh, biarkan adik kamu tenang. Dia baru saja keguguran."


Keguguran? Anakku sehat semua.


Lagi-lagi mama mengedipkan matanya.


"Iya, Kak." Aku pura-pura bersedih. Fateeh segera mendekat dan merangkulku.


"Sabar, ya. Masih banyak laki-laki yang mau sama kamu. Kamu anak bungsu keluarga kami. Siapa yang bisa menolak?"


"Iya, Kak."


"Ehemm. Iksia, kamu pergilah ke kamar. Istirahatlah."


"Iya, Ma."


Aroma wangi rumah ini, suasananya membuat aku rindu. Kehangatan itu kembali aku rasakan. Menaiki tangga yang sama saat aku berlari dulu dari kejaran Fateeh.


Bagaimana Arzhan menggendongku menuju kamar. Lelahnya aku saat pulang sekolah, semuanya kembali terpampang jelas di dalam ingatan.


Kamar ini masih sama seperti dulu. Kamar khas anak belasan tahun. Pernak pernik anak remaja. Poster Bangtan dan banyak lagi poster Yoongi khususnya.


Kasur ini, sofa itu, semua masih aku ingat. Setiap detail kenangannya tidak pernah bilang dari hatiku terutama kenangan bersama Arzhan.


"Aku harus melupakannya. Dia sudah menjadi milik orang lain sekarang."


Nyaman banget.


Aku merebahkan tubuh di atas kasur. Tiba-tiba bayangan itu muncul begitu nyata. Bayangan wajahnya saat aku sakit dulu. Dia berada tepat di depan wajahku saat aku tertidur. Menatapku penuh kasih. Senyuman manisnya selalu membuat hatiku mencair bahkan hanya dengan membayangkan saja.


Aku segera menggelengkan kepala, berharap bayangan itu segera pergi.


Ponselku berbunyi. Aku begitu senang saat melihat siapa yang meminta untuk melakukan video call.


****


"Kamu sudah siap bekerja di kantor Papa?" tanya Papa saat kami sarapan.


"Lu kerja di sana ,Dek?"


"Aku butuh untuk membiayai dua ...."


Upssss!


"Dua apa?" tanya Fateeh.


"Dua kehidupan berikutnya. Aku harus nabung biar gak bergantung pada Papa dan Mama lagi."


"Kalau di sana gak nyaman, kerja di klik gue aja. Jadi asisten pribadi gue."


"Asisten? Aku bukan tenaga medis."


"Kan bisa menyiapkan teh buat gue."


"Dikata babu kali." Aku memukul bahu Fateeh cukup keras.


"Sakit tau!" Fateeh menjitak kepalaku. Aku membalasnya dengan sebuah tendangan. Dia tidak mau kalah dan menjambak rambutku.


"Ya ampuuun." Papa berdiri meninggalkan meja makan, pun dengan Mama. Sementara aku masih bergulat dengan Fateeh.


"Hentikan kalian, Tuan, Non. Berhentilah." Remi memisahkan kami berdua. Dengan nafas yang ngos-ngosan, kami saking menatap cukup lama lalu tertawa terbahak-bahak.


Rambutku acak-acakan, pakaian Fateeh pun sama.

__ADS_1


"Selalu di tempat yang sama." Fateeh melihat tangannya yang aku gigit. "Ternyata Lu masih asik gue yang dulu."


"Aku gak akan berubah meski penampilanku tidak seperti dulu, Kak."


Fateeh mengangguk. Matanya berkaca-kaca.


"Terimakasih karena masih sama seperti dulu."


Aku merangkak untuk bisa mendekatinya, memeluknya dengan erat. Kami larut dalam kesedihan. Dipisahkan selama lebih dari 5 tahun membuat Fateeh begitu takut kehilanganku untuk yang kedua kalinya.


"Rapikan lagi rambutmu, jangan sampai ke kantor Papa seperti habis kena badai."


Kami berdua tertawa.


Kini, aku sudah siap dengan pakaian yang baru. Rapi dan aku rasa tidak akan membuat Papa malu. Rasanya takut, takut tidak bisa mengerjakan apa-apa dan membuat mereka membicarakan aku di belakang.



"Ini manajer produk kita, Nak."


Papa mengenalkan aku pada seorang pria yang mungkin umurnya tidak jauh berbeda dengan Fateeh.


Manajer? Semuda ini?


"Senang berkenalan dengan ...."


"Panggil saja saya Iksia."


"Iya, Bu Iksia. Saya Ahtar, jangan sungkan kalau butuh sesuatu."


Aku melepaskan jabatan tangannya sambil tersenyum sopan.


"Perlakukan saya seperti karyawan lain. Saya tidak ingin diperlakukan istimewa karena anak Pak Indra."


"Ha? Pak?"


"Ini kantor, Papaaa ...." Aku berbisik.


"Baguslah kalau begitu, itu artinya anda orang yang profesional. Saya suka bekerja dengan orang profesional."


"Saya juga."


Ini orang kenapa judes banget, sih, tatapannya. Aku salah pake kostum atau gimana?


"Iksia, ikut ke kantor saya sebentar."


"Baik, Pak." Aku mengikuti langkah Papa menuju ruangannya.


"Papa gak suka!"


Aku terkejut hingga mundur beberapa langkah karena nada suara Papa yang tinggi.


"Papa kenapa, sih? Kaget tau, Pah."


"Pak?"


"Ya ampun, Papa. Itu cuma kalau di depan bawahan Papa aja. Di sini mah kan enggak." Aku segera berlari dan memeluknya manja.


"Kamu itu baru datang, sudah lama kita tidak bertemu, banyak waktu yang kita lewatkan. Rasanya papa sakit hati dipanggil Pak."


"Biarkan Iksia mandiri dan dewasa. Iksia juga mau sukses karena usaha Iksia sendiri. Papa juga mau Iksia sukses kan?"


"Iya, Sayang. Papa hanya merasa aneh saja."


"Papa telpon baby Twins aja gih biar gak darah tinggi."


"Ibunya yang bikin ulah, anaknya yang menenangkan. Ya sudah sana, papa mau video call cucu kesayangan papa dulu."

__ADS_1


"Nah, gitu. Kalau udah sama cucunya, anaknya dilupakan."


Papa mengabaikan aku dan pergi menuju sofa. Dia mengambil ponsel dan terlihat asik ngobrol dengan baby Twins.


__ADS_2