Retaknya Mahkota

Retaknya Mahkota
Trauma masa lalu


__ADS_3

"Mau langsung pulang?" tanya Arzhan setelah lama kami diam.


"Iya, aku mau istirahat, Kak."


"Oke."


Hanya itu.


Rasanya benar-benar canggung. Bingung mau membahas apa, atau mungkin grogi karena hal lain, entahlah. Aku bahkan tidak bisa memikirkan apapun saat ini.


Mobil berjalan perlahan saat mendekati sebuah pagar tinggi berwarna hitam. Setelah membunyikan klakson, pintu pagar itu terbuka. Terlihat seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam muncul dari balik pagar.


"Itu security di rumah ini. Ada tiga, mungkin yang lainnya jaga siang."


"Oh."


Mataku melebar saat memasuki halaman rumahnya. Bangunan penuh dengan ukiran menghias dindingnya membuat rumah ini terlihat sangat mewah. Melihat rumah itu dari bawah aku merasa seperti semut kecil.


Mobil memutar ke belakang rumah, dan aku kembali membelalakkan mata. Di belakang rumah terdapat bangunan lain yang mungkin ini adalah garasi mobil karena banyak mobil lain terparkir di sana.


"Itu mobil kamu yang di siapkan Papa." Arzhan menunjukkan sebuah mobil yang hanya memiliki dua pintu berwarna purple.


"Ungu?"


"Mama bilang kamu suka ungu."


"Apa mobilnya harus ungu juga?"


"Sepertinya Papa begitu mencintai kamu dan Mama."


"Kalau kakak?"


Astaga! ngomong apa coba akuuu huhu ....


Langkah kaki Arzhan terhenti saat mendengar pertanyaan dariku. Dia memutar badannya hingga kami saling berhadapan. Untuk menyamakan tinggi kami, dia membungkukkan badan.


"Kamu mau aku seperti apa?"


"Hah?"


Udah, pura-pura bego aja, Iksia.


Arzhan tersenyum tipis. Lalu dia kembali berjalan dan aku mengekor di belakang. Terlihat seperti anak bebek, ke manapun induknya melangkah, aku akan ikut.


Takut, dan gelisah membuat aku tidak melihat sekeliling dan menundukkan kepala sampai Arzhan berhenti di depan pintu setelah kami menaiki anak tangga yang cukup banyak.


Aku mendongakkan kepala, menatap Arzhan yang hanya tersenyum menakutkan.


"Apa?" tanyaku gak jelas.


"Ini kamarku. Kamu mau ikut masuk juga?"


"Ya?"


Akhirnya kesadaranku kembali. Aku melihat sekeliling dan entah ini ada di mana. Hanya ada ruangan dengan tiga pintu termasuk pintu kamar yang ada di hadapanku.


Di ruangan ini ada televisi yang super besar dengan sofa yang tidak kalah besar di depannya. Lemari kaca yang penuh degan guci-guci cantik. Karpet tebal, juga lukisan yang menghiasi dinding.


"Kamar kamu ada di bawah."


"Ya mana aku tau."


Aku membalikkan badan, berjalan kembali menuruni tangga.


"Gimana aku bisa tau kamarku ada di mana. Ini kan pertama kalinya aku masuk ke rumah ini. Gak jelas banget jadi orang. Harusnya langsung aja nganterin aku ke kamar, bukan malah membawaku ke kamar dia. Menyebalkan! ternyata lebih baik berhadapan dengan Fateeh ketimbang yang satu ini."


Menggerutu tidak hentinya membuat aku tambah bingung karena tidak tau harus berhenti di lantai berapa.


"Nah, kan! Aku di mana lagi sekarang. Kamar aku ada di mana coba? aduuuhhh!" aku mengacak rambut dengan kasar.


Bruk!

__ADS_1


Aku membalikkan badan dan menabrak seseorang. Badanku terjengkang ke belakang dan hampir saja menghantam lantai jika Arzhan tidak segera menangkap tubuhku. Dia segera menarik tubuhku dan kini kami terlihat seperti orang yang sedang berpelukan.


Deg! Deg! Deg!


Tunggu, itu bukan suara jantungku.


Aku memiliki tinggi badan yang begitu mungil. Saat disamakan dengan Arzhan, kepalaku hanya sebatas dada dia. Telingaku bisa dengan jelas mendengar detak jantungnya yang saat ini tidak karuan.


Sadar apa yang sedang terjadi, aku segera melepas diri dari pelukan Arzhan. Namun, tangan dia kembali menarik tubuhku ke dalam pelukannya.


"Biarkan sebentar saja."


Apa? Kenapa ....


Dalam pelukannya aku bisa mendapatkan rasa nyaman. Tubuhnya yang besar dan baunya yang harum membuat aku betah berlama-lama di sana.


"Kak." Aku kembali berusaha melepaskan diri. Kali ini dia tidak menahannya.


"Ayo." Arzhan menggenggam tanganku dan kami kembali menaiki anak tangga.


Bukan hanya wajah, tapi aku merasa sekujur tubuhku memanas.


"Ini kamar kamu. Ini lantai dua. Di lantai atas kamarku dan kamar Fateeh."


"Oh. Tunggu, apa aku di sini cuma sendirian?"


"Mau aku temani?"


"Bu-bukan itu maksudnya, Kak."


"Mama dan Papa juga di sini. Ayo." Arzhan kembali menggenggam tanganku dan mengajakku berjalan mengelilingi lantai dua.


"Ini kamar Mama dan Papa. Di sini juga ada dapur kecil, siapa tau kalau malam mau masak mie instan atau bikin makanan."


Kecil dari mana? ini dapur gede banget. Mana lengkap pula.


"Nah, ini taman. Biasanya kami melakukan barbeque atau sekedar kumpul di sini. Itu juga ada kolam. Bisa dingin bisa juga hangat."


"Adeeek ...."


Byurrrrrrr!


Fateeh tiba-tiba datang, lalu menggendong dan melemparku ke kolam renang.


Bagaimana ini? Tolooong ....


Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berteriak dalam hati.


Mama ....


Dadaku mulai sesak karena terlalu banyak menelan air.


Byurrrrrrr!


Aku melihat seseorang ikut masuk ke dalam kolam.


Tolooong ....


Aku kembali berteriak dalam hati. Kepalaku mulai pusing dan nafasku mulai habis.


Aku melihat Arzhan sedang mendekat. Dia segera merangkul tubuhku dan membawanya ke atas.


"Dek ... Adek." Fateeh mendekat. Aku tahu dia pasti cemas dan merasa bersalah. Sementara Arzhan menggosok-gosok punggungku.


"Ayo atur nafasnya yang bener!" Arzhan membentak.


Sungguh, aku kesulitan mengatur nafas yang hampir berhenti. Hingga aku memutuskan untuk berteriak.


Lega. Aku merasa sangat lega bisa mengeluarkan sesuatu yang sepertinya menyumpal aliran nafasku.


Aku menangis meraung-raung.

__ADS_1


"Sudah, kamu aman sekarang." Arzhan memelukku dengan erat, dan aku masih saja menangis.


"Bawa dia ke kamar, Kak. Ganti bajunya."


Arzhan menggendongku. "Urusan kita belum selesai." Dia berbisik kesal pada Fateeh. "Panggil pelayan ke sini buat ganti baju Iksia."


"I-iya, Kak."


Aku melingkar tangan pada leher Arzhan dan memeluknya erat.


Nyaman.


Arzhan mendudukanku di sebuah kursi di depan meja rias yang ada di kamar. Dia berjalan tergesa dan kembali dengan membawa handuk.


Dengan hanya berlutut di depanku, tinggi kami sama padahal aku jelas duduk di kursi. Dengan lembut dia menyeka air yang ada di wajah, rambut dan badanku.


"Apa yang kamu rasakan sekarang?"


Aku menggelengkan kepala.


"Apa masih sesak nafas? Kepala kamu pusing? Mana yang sakit?"


Tangisan adalah jawaban dari semua pertanyaan yang Arzhan berikan. Dia kembali memelukku.


"Sudah, kamu aman sekarang. Jangan takut."


Pintu terbuka dengan kasar. Papa dan Mama muncul.


"Iksiaaa ...." Mama menghampiri dengan begitu cemas dan suaranya terdengar gemetar.


Arzhan segera melepas pelukannya agar Mama bisa memelukku.


"Mama ...," tangisanku pecah. "Aku takut, Ma."


"Iya, Sayang. Mama ada di sini. Kamu jangan takut lagi, ya, Nak. Mama ada di sini sekarang."


"Kalian itu sudah dewasa! Apa becanda seperti ini masih dibilang wajar, ha!?"


Papa berteriak. Di saat yang bersamaan, Fateeh dan pelayan datang.


"Kamu? apa kamu yang membuat kekacauan seperti ini? astaga fateeeeh, kamu itu sudah dewasa!"


"Aku minta maaf, Pah." Fateeh terlihat sangat takut dan menyesal.


"Kalau Iksia kenapa-kenapa, apa hanya cukup dengan kata maaf!?"


"Sudah, Mas. Mereka juga tidak tau kalau Iksia tidak bisa berenang. Selain itu juga ... Iksia punya trauma sendiri pada air."


"Kamu tau? dia pernah--"


"Mas, cukup! Jangan lanjutkan di sini."


"Dulu, ayah pernah menenggelamkan kepalaku di bak air sampai aku kehabisan nafas. Dia marah karena aku memecahkan akuarium dan ikan kesayangan ayah mati."


Mama terlihat lemas dan ambruk di lantai mendengar ucapanku.


Siapa yang tidak sakit, aku dan Mama memang sangat menderita saat hidup bersama ayah. Dia yang seharusnya melindungi dan menjagaku, nyatanya dialah yang paling menyakitiku secara fisik dan psikis.


"Sejak saat itu aku sangat takut pada air dan juga gelap. Yang paling menakutkan adalah saat ayah memasukkan aku ke dalam kardus yang hanya muat untuk tubuhku. Itupun kakiku ditekuk begitu kuat."


Mama segera memelukku dan meminta agar aku diam. Tangisannya yang kini menggema di kamar.


"Sudah, cukup. Hentikan, Nak." Ucapnya sambil menangis kencang. Papa menghampiri kami dan ikut memelukku. Berkali-kali dia mencium kepalaku.


"Papa janji, Papa akan membahagiakan kamu mulai saat ini. Apa pun, Nak. Apa pun yang kamu inginkan akan papa berikan." Sekali lagi Papa Indra mencium kepalaku.


Fateeh yang semula berdiri kini duduk di atas lantai. Mungkin bagi dia yang hidup bergelimang harta dan kasih sayang, sangat syok mendengar kisah hidupku yang menakutkan.


Sementara Arzhan hanya menatapku nanar. Rahangnya terlihat mengeras dan tangannya mengepal begitu kuat.


Terimakasih kasih karena kini aku berada di lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2