
Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya lemah tidak berdaya. Jagoan kecilku yang periang, kini hanya diam di atas tempat tidur.
"Apa dia akan segera sembuh? Aku kesepian tidak punya teman bermain."
"Baby girl, dia pasti sembuh. Mom akan menemani kamu di sini."
"Are you sure?"
"Yes!"
Dokter bilang anakku demam karena infeksi. Kemungkinan dia memakan sesuatu yang tidak steril alias kotor.
Papa memintaku agar tidak memarahi pengasuh dan penjaga mereka. Benar, ini semua salahku sebagai ibunya. Meninggalkan mereka karena ingin kembali ke rumah orang tua.
"Aku ingin tinggal di sini selamanya."
"Itu akan membuat orang-orang curiga. Arzhan terutama, dia tidak akan tinggal diam kali ini."
"Tapi, Pah."
"Bukan kamu yang akan tinggal di sini, tapi mereka yang akan kita bawa."
"Maksudnya?"
"Papa akan membelikan mereka rumah. Kamu juga bisa sering bertemu dengan mereka. Kamu tenang saja, Papa akan menambah pengasuh dan bodyguard untuk menjaga mereka."
Mendengar ucapan Papa, aku sangat senang. Aku tidak perlu jauh-jauh jika ingin bertemu dengan anak-anak.
Satu Minggu sudah my baby boy dirawat. Hari ini aku akan membawa mereka ikut bersamaku meski tidak tinggal satu rumah, tapi kami masih berada dalam kota yang sama.
Orang rumah tidak akan curiga karena Papa memberikan surat perintah kerja ke luar kota untukku.
"Mom, apa ini rumah kita?"
"Ya, kamu suka?"
Mereka berdua mengangguk bersamaan. Keduanya berlari menuju kamar tidur. Aku akan menemani mereka malam ini, besok baru pulang ke rumah Mama dan Papa.
"I'am so happy, Mom."
"Me too."
"Apa setiap malam kita akan tidur bersama?"
"Enggak, Nak. Mom harus kerja. Tapi Mom janji akan sering datang ke sini. Mom akan datang di akhir pekan untuk mengajak kalian jalan-jalan. Gimana?"
Mereka berdua bersorak bahagia.
"Udah malam, sekarang kalian tidur."
Mereka tidur di dadaku, kanan dan kiri. Sungguh kebahagiaan yang tiada duanya.
Waktu terasa sangat cepat berlalu saat menyadari bahwa mereka sudah besar saat ini.
Masa-masa di mana aku hampir depresi, sudah jauh tertinggal di belakang.
Menyusui dua bayi ternyata bukalah hal yang mudah. Saat yang satu sudah tertidur, yang satunya bangun minta asi, sementara tubuhku sudah sangat lelah ingin istirahat.
__ADS_1
Aku berharap mereka segera besar waktu itu, nyatanya rasa lelah itu semakin menjadi. Terlebih saat mereka mulai bisa merangkak. Mereka berkeliaran ke mana-mana. Mulai ingin bejalan, mereka belajar berdiri dengan memasang apa saja yang mereka anggap sebagai pegangan.
Entah berapa barang yang pecah karena ulah mereka. Entah berapa kali mereka terluka, dan itu membuat aku sangat bersih. Bayo sekecil itu terluka hingga mengeluarkan darah. Aku merasa menjadi ibu yang buruk.
Mereka mulai bisa berlari. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Rumah selalu ramai setiap waktu, tangisan dan tawa silih berganti menggema di seluruh rumah.
Namun, lihatlah kini. Mereka tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas. Kepintaran mereka melebihi anak-anak seusianya. Arti kehidupan pun sudah mereka pahami meski tidak seluruhnya.
Saat aku menangis, mereka tidak akan ikut menangis tapi mereka akan berkata, "Kuatlah, jangan menangis untuk hal yang tidak penting."
Mereka bilang aku harus bahagia tanpa memikirkan apa yang orang lain katakan padaku. Mereka juga tidak bersedih karena tidak pernah melihat daddy-nya.
"Jika Mom saja sudah cukup, kami tidak meminta daddy."
Benar kata orang, anak adalah penguat untuk kerapuhan orang tuanya. Pemberi kebahagiaan saat orang lain memberi luka.
"Mom."
"Ya. Kenapa belum bobo, Sayang?"
"Can i ask something?"
"What?"
"If one day i meet dad, apakah dia akan mengenaliku? Bahkan saat aku tidak memberitahu siapa aku."
"Sure. Dia akan mengenalimu dari namamu sendiri."
"Why?"
"Karena dia yang memberikan nama itu."
"Tidurlah."
Anak laki-lakiku kembali memeluk dan memejamkan matanya.
Keesokan harinya aku kembali meninggalkan mereka. Aku harus menjalani hidup dengan dua kehidupan di satu dunia. Resiko karena memiliki anak dari jalur dosa. Aib yang aku buat, harus diterima anak-anakku akibatnya.
Selalu disembunyikan bahkan dari keluarga sendiri.
Setelah pulang kerja, aku membersihkan diri di kamar. Menelpon sebentar pada baby twin. Memastikan bahwa mereka baik-baik saja.
"Sopir pribadi Lu gak jemput lagi pagi ini?"
"Berisik!"
Gak tau ada apa dengan manusia yang satu ini, seneng banget usil.
"Mau ini, Mas?" tanya Alea. Arzhan menggelengkan kepala.
"Ini? atau mau ini?" Alea menawarkan berbagai macam makanan tapi selalu ditolak oleh Arzhan.
Ada apa dengannya?
"Kak sakit?" tanyaku. Dia hanya melirik sekilas.
Arzhan menepis tangan Alea saat tangannya hendak memegang kening Arzhan.
__ADS_1
Apa mereka sedang bertengkar?
"Aku berangkat duluan. O, iya. Papa mana? Mama juga gak keliatan."
"Tuan sedang meeting pagi ini di ruang kerjanya," jawab pelayan pribadi papa jika sedang di rumah, Pak Johar namanya.
"Meeting di rumah? Sama siapa?"
"Pak Ahtar."
"Apa?" Fateeh terkejut. Kemudian dia tertawa meledekku.
"Tumben, gak biasanya Papa ngajak orang meeting di rumah. Gue gak yakin dia ngomongin kerjaan. Emmm, apa jangan-jangan mereka sedang menjalin hubungan yang lain? Menantu dan mertua misalnya."
Pakkkkk!
Aku memukul kepala belakang Fateeh. Kali ini dia tidak membalas dan hanya tertawa puas.
"Sebentar lagi akan ada acara pernikahan kedua di rumah ini."
"Kak, bener-bener ya!" Aku meraih tangannya untukku gigit. Dia menariknya, menghindar.
Seperti biasa, dia berlari sambil mengejekku. Aku mengejar dan tidak akan aku lepaskan begitu saja.
Fokus ingin mendapatkan Fateeh, aku tidak melihat jika lantai di rumah kami naik sekitar 10 cm, aku tersandung.
Aku memejamkan mata karena takut terbentur pada meja. Namun, aku merasa wajahku terdampar di tempat yang wangi.
Saat membuka mata, aku melihat dasi berwarna navy motif garis miring.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya. Aku menengadahkan kepala, dan melihat wajah Ahtar.
"Tidak apa-apa." Aku melepaskan diri dari dekapannya.
Lagi-lagi Fateeh mengejekku dengan berdehem. Masih kesal, aku kembali berlari mengejarnya.
Pranggggg!
Aku langsung menghentikan langkah saat mendengar suara pecahan piring. Pun degan Fateeh.
Saat menoleh, ternyata Arzhan melemparkan piring berisi makanan yang disiapkan oleh Alea untuknya.
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin apa-apa."
Kami semua terdiam melihat mereka.
"Kalian, biasakan kalian diam dan bersikap sesuai umur kalian!" Arzhan membentak.
Aku berjalan pelan mendekati Fateeh. Aku ketakutan melihat marahnya Arzhan untuk pertama kalinya.
Alea mematung dengan tangan yang gemetar.
Arzhan tampak pucat, aku yakin dia tidak baik-baik saja. Dengan mengumpulkan keberanian, aku mendekat dan berdiri di hadapannya.
Dia menatapku dengan mata memerah dan berlinang air mata. Tubuhnya sempoyongan seperti kehilangan tenaga.
"Aku lelah," bisiknya sebelum dia ambruk. Dia jatuh dalam pelukanku. Tubuhku yang kecil tidak cukup kuat menopang tubuhnya yang tinggi besar, beruntung Fateeh sadar dan langsung berlari membantuku.
__ADS_1
Kamu kenapa, Arzhan?