
"Kenapa, Pah?" tanyaku saat melihat Papah Indra kebingungan.
"Oh, ini. Papa hanya bingung mau ngambil apa. Biasanya mama yang menyiapkan dan papa tinggal makan aja."
"Apa mama masih di kamar itu?" tanyaku.
Papa mengangguk pelan.
Itu artinya mereka tidak tidur bersama.
"Re, tolong bilang pada mama, aku tidak sarapan pagi ini. Jadi, minta mama keluar untuk melayani papa."
"Baik, Non."
"Sayang, sarapan dulu."
"Aku bisa sarapan di kantin sekolah, Pah."
"Aku antar." Arzhan bangun dari duduknya.
"Gak perlu. Kalian biasakan lah untuk membuat aku bisa mandiri. Aku sudah cukup besar untuk bisa melakukan apa-apa sendiri."
"Tidak. Aku antar kamu ke sekolah hari ini." Arzhan menggenggam erat tanganku dan membawaku ke dalam mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya saat kami sudah di tengah perjalanan. Aku diam.
"Sebentar, aku akan telpon dulu." Arzhan menerima panggilan dari seseorang. Dia adalah seorang wanita. Aku bisa mendengar dengan jelas karena dia sengaja menyambungkannya dengan audio di dalam mobil.
"Zhan, lagi di mana?"
"Di jalan nganter sekolah adik aku, kenapa?"
"Owh, ya udah hati-hati di jalan. Kamu udah sarapan belum? nanti kayak waktu di pameran, lupa makan jadinya kamu sakit. Untung ada aku, kalau enggak? Kamu repot ngurus diri sendiri."
Jadi mereka pergi bersama?
"Basa-basi yang basi."
Arzhan melirik saat aku berbisik sendiri.
"Iya, terimakasih, ya. Aku bersyukur karena ada kamu yang menjaga waktu itu. Sebagai gantinya aku akan membelikan kamu sesuatu."
"Waaah, apa?"
"Kejutan, dong. Nanti kamu akan tahu sendiri."
"Ya udah, makasih, ya, Zhan. Aku tunggu di galeri."
"Oke. See you."
Tidak lama setelah pembicaraan itu selesai, mobil berhenti di depan gerbang. Tanpa menunggu lagi, aku segera membuka pintu mobil dan keluar.
"Si, tunggu. Iksia." Arzhan menarik tanganku hingga langka kaki ini terhenti.
"Apa?"
"Uang jajan kamu."
"Gak perlu. Aku udah minta sama Kak Fateeh."
"Tunggu dulu. Hei ...." Arzhan kembali menarik tangan saat aku membalikkan badan.
"Apa lagi?"
__ADS_1
"Pulang sekolah aku jemput, ya."
"Terserah!"
"Neng ayo masuk." Satpam memanggil yang kebetulan cuma ada aku di sana. Siswa lain sudah masuk semuanya.
Kali ini aku harus belajar dengan serius. Meski suasana hatiku sedang tidak karuan, jangan sampai mengganggu aktivitas belajar dan mengecewakan Mama.
"Aku duluan, ya, Iksia." Hilda melambaikan tangan sebelum berlari menuju angkot. Kini tinggal aku sendiri menunggu jemputan.
Sekali lagi aku melirik jam tangan. Sudah 20 menit dari kepergian Hilda tadi. Panas dan juga pegal kaki membuat aku merasa sangat kesal.
"Iksiaaa ...." Arzhan melambaikan tangan. Aku melangkahkan kaki untuk menghampirinya. Namun, mata ini melihat seseorang yang tengah duduk di sebelahnya. Seorang wanita.
Kaki ini aku tarik kembali ke belakang, dan memilih untuk menaiki angkot ketimbang ikut dengannya.
Gue harus jadi obat nyamuk gitu? sorry, ya!
Aku melihat mobil Arzhan melaju ke arah yang berlawanan, mungkin dia sedang memutar arah agar bisa menyusul angkot yang aku naiki.
"Mang berhenti." Aku segera memberikan uang pada sopir dan cepat berlari menjauh dari jalan. Tidak perduli sopir angkot memanggilku untuk mengambil kembalian.
Aku masuk ke pemukiman warga. Menelusuri gang demi gang. Entah hendak ke mana, aku pun tidak tahu. Bagiku saat ini adalah menghindar dari Arzhan.
Ponselku berbunyi berkali-kali, panggilan dan pesan darinya. Aku abaikan tentu saja. Tidak ingin terus diganggu, aku memblokir nomornya.
Tidak lama kemudian, ada panggilan dari nomor baru. Mungkin Arzhan menggunakan ponsel wanita yang sedang bersamanya. Aku memblokirnya lagi.
Sudah cukup lama aku berjalan, aku melihat ada mobil berlalu lalang di depan. Mungkin itu jalan raya.
Aku harus gimana sekarang? Bisa saja Arzhan melintas di sana.
"Bu, ada air mineral dingin?" tanyaku pada pemilik warung yang berada dua rumah sebelum jalan raya.
Pemilik warung itu memberikan pesananku. Perut terasa lapar, sejak pagi aku belum makan apapun.
"Makan ini aja, ah." Aku mengambil roti.
Drrrtttt....
"Halo, Kak."
"Lu di mana, Dek? Tumben belum nyampe rumah."
"Lagi jalan sama Kak Arzhan. Jangan khawatir."
"Gue tanya Lu di mana sekarang?" Fateeh membentak.
"Sedang makan roti di warung pinggir jalan sendirian. Puas?"
"Sayang, Nak. Pulang, ya. Mama minta maaf kalau udah keterlaluan sama kamu."
"Mama?"
"Kenapa pergi naik angkot tadi?"
Arzhan. Oh, apa mereka semua sedang berkumpul bersama?
Aku mematikan ponsel dan memblokir nomor semua orang rumah. Kecuali Papa Indra.
Mereka pasti akan mengadu pada Papa, sebentar lagi Papa Indra pasti menghubungiku.
Beberapa menit aku menunggu, Papa Indra tidak juga menelpon.
__ADS_1
"Apa mereka belum ngomong sama papa? ah, coba aku telpon dulu aja."
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
"Wah, kenapa nomor Papa gak aktif?"
Aku menghabiskan air mineral yang tinggal sedikit. Makan roti yang sudah keras membuat tenggorokan seret dan harus minum berkali-kali.
"Makasih, Bu."
Setelah mendapatkan kembalian, aku melangkah keluar. Memberanikan diri menuju jalan raya. Toh, Arzhan ada di rumah. Tidak mungkin dia akan melintas di sini.
Warna langit sudah mulai berubah warna. Cerah menjadi abu-abu pekat. Mungkin hujan akan kembali turun sore ini.
Pinggang terasa pegal karena terlalu lama duduk di batu yang ada di pinggir jalan. Debu terasa menusuk memenuhi rongga dada. Suasana bising dari kendaraan membuat telinga terasa pengang.
Angin mulai berembus lebih dingin dari sebelumnya. Orang-orang berjalan dan menjalankan kendaraan lebih cepat. Warung-warung tenda pinggir jalan memeriksa ikatan tenda mereka.
Rasa pegal membuat aku memilih untuk berdiri di dekat tiang listrik. Tiang listrik yang cukup besar karena ada papan iklan pemilik toko di belakangku.
Saat mata sedang asik melihat aktifitas orang-orang di sekitar sini, aku melihat mobil hitam. Itu Arzhan.
Sedang apa dia di sini?
Aku menyembunyikan tubuh serapi mungkin agar tidak terlihat. Mataku mengintip dari celah kecil. Mobilnya berhenti di depan warung, dia turun lalu berbicara pada pemilik warung tersebut. Selang berapa lama dia kembali naik ke dalam mobil. Dan itu dia lakukan lagi pada warung setelahnya.
Apa dia bertanya pada semua pemilik warung pinggir jalan? Yang benar aja!
Dia terlihat putus asa saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Kakak." Aku melambaikan tangan padanya. Wajahnya terlihat senang saat melihatku. Dia segera masuk dan melajukan mobil dengan cepat.
"Kamu gak apa-apa, kan?" tanyanya sambil memastikan keadaan tubuhku.
"Enggak."
"Syukurlah. Ayo kita pulang."
Aku menggelengkan kepala.
"Kenapa?"
"Jok mobil kakak kotor. Aku gak mau duduk di sana."
Arzhan menyipitkan matanya.
"Oh, iya. Kalau gitu, aku telpon orang rumah minta sopir bawa mobil kamu ke sini."
"Itu lebih bagus ketimbang duduk di jok kotor."
"Kenapa? marah?" tanyaku saat melihat dia mengusap rambutnya.
"Ya. Aku marah sama kamu. Kalau kesal atau sedang marah, ngomong aja. Gak usah kabur kayak anak kecil gini.
"Emangnya aku udah dewasa? Aku emang anak kecil yang nyebelin, gak bisa bikin orang tua bangga, gak secantik wanita yang kakak bawa, dan mungkin gak sebijak dia." Aku meluapkan amarah sembari menahan air mata.
"Bukan gitu maksudnya, Iksia."
"Udah, ah!" Aku berlari saat mobilku datang.
Benar-benar menyebalkan!
__ADS_1